Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #13

PENGKHIANATAN SANG BUDAK KORPORAT

Air dingin dari keran wastafel toilet pria lantai 12 itu mengalir membasahi wajah Hanif. Dia menangkupkan air itu berulang kali ke mukanya, mencoba membilas sisa-sisa cairan asam lambung di bibirnya, dan yang lebih penting, mencoba membilas keputusasaan yang menempel pekat di otaknya.

Hanif menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai stainless steel itu.

Wajahnya pucat pasi. Kantung matanya menghitam seperti orang yang habis digebuki. Rambutnya berantakan. Ini bukanlah wajah seorang Junior PR Consultant yang baru saja memenangkan proyek puluhan juta. Ini adalah wajah seorang pembunuh bayaran yang baru saja menyadari bahwa target yang dia tembak mati adalah orang yang salah.

Gambar Nisa (GlowGuru) yang sedang menggenggam tangan ayahnya yang kurus kering di ranjang rumah sakit dengan selang cuci darah, terus berkedip-kedip di layar retinanya. Bagaikan pop-up ads dari neraka yang tidak bisa di-close.

Ting. HP Hanif di saku celananya berbunyi. Pesan WhatsApp dari Mbak Sarah. "Hanif? Kamu pingsan di toilet? Buruan keluar. Bunda Lisa nungguin draft serangan gelombang kedua. Jam 4 sore ini wajib trending!"

Hanif menarik napas panjang. Udara berbau pewangi ruangan rasa lemon sintetis itu mengisi paru-parunya.

"Gue nggak bisa lari," gumam Hanif pelan kepada bayangannya di cermin. "Kalo gue nolak sekarang, Sarah bakal curiga. Dia bakal nyuruh anak lain buat eksekusi buzzer itu. Fitnahnya bakal tetep jalan, bapaknya Nisa bakal tetep nggak bisa cuci darah."

Tiba-tiba, suhu di dalam toilet itu anjlok drastis. Bulu kuduk Hanif berdiri.

Dari pantulan cermin, Hanif melihat Q muncul tepat di belakangnya. Setan itu tidak melayang santai seperti biasanya. Dia berdiri tegak, wajahnya sangat serius, menatap Hanif dari cermin. Rantai emas di dadanya yang retak terlihat sedikit berkarat di bagian pinggirnya.

"Lo mau main gila, Nif?" suara Q menggema, mengalir langsung ke gendang telinga Hanif tanpa melewati udara. "Lo mikir mau nyabotase kerjaan lo sendiri? Gue peringatin ya. Lo lagi berhadapan sama uang miliaran. Klien lo itu OKB yang lagi panik, bos lo itu wanita karir yang lagi kepepet cicilan apartemen. Kalau mereka tau lo main dua kaki... mereka bakal giling lo idup-idup. Lo bisa dipidanain pake UU ITE. Lo bisa masuk penjara, Nif!"

Hanif memutar keran air sampai tertutup rapat. Bunyi gemericik air berhenti, menyisakan keheningan yang tegang.

"Gue udah di penjara, Q," jawab Hanif datar, menatap tepat ke mata iblisnya di cermin. "Sejak gue bohongin diri gue sendiri demi keliatan sukses di Jakarta, gue udah di penjara. Dan sekarang, gue mau jebol sel gue."

Hanif mengambil beberapa lembar tisu kertas, mengeringkan wajahnya dengan kasar, membuang tisu itu ke tempat sampah, lalu melangkah keluar dari toilet tanpa menoleh lagi ke arah Q. Di belakangnya, setan itu memukul pinggiran wastafel dengan marah, namun tangannya hanya menembus porselen itu tanpa suara.

Hanif kembali ke mejanya. Rian, si desainer grafis di kubikel sebelah, sedang asyik mendengarkan musik EDM lewat headphone-nya sambil mengedit banner diskon Ramadan.

Hanif duduk, membuka kunci layar komputernya. Mbak Sarah kebetulan sedang tidak ada di belakangnya, mungkin sedang berkoordinasi dengan Accounting.

Ini adalah momennya. Jendela waktu ( window of opportunity ) yang sangat sempit.

Hanif membuka kembali dashboard aplikasi buzzer Twitter. Antarmuka ( interface ) hitam dengan ribuan baris kode dan akun anonim itu menunggunya untuk memasukkan perintah.

Instruksi asli dari Sarah: Buat narasi bongkar aib Nisa. Tuduh dia memalsukan sakit ayahnya untuk menggalang donasi palsu di Kitabisa. Gunakan tagar #GlowGuruTukangTipu.

Jari-jari Hanif mulai mengetik. Tapi bukan mengetik naskah fitnah. Dia sedang menulis ulang barisan script perintah untuk pasukan bot tersebut.

Sebagai orang yang merancang arsitektur kampanye ini, Hanif tahu persis letak titik butanya.

Alih-alih menyetel target ke akun baru Nisa dan menggunakan tagar hujatan, Hanif secara halus menyisipkan satu baris kode 'shadowban trigger'. Dia memasukkan puluhan kata-kata kasar dan tautan spam yang dilarang keras oleh algoritma internal Twitter (X).

Kemudian, dia mengatur agar ratusan akun buzzer berbayar itu me-mention akun-akun resmi kepolisian, Bareskrim, dan BPOM secara serampangan dalam satu waktu bersamaan.

Logikanya sederhana: Jika sebuah kampanye tagar tiba-tiba melonjak naik tapi isinya adalah spam yang melanggar Terms of Service (ToS) dan melakukan spamming ke akun penegak hukum, sistem Artificial Intelligence (AI) Twitter akan mendeteksinya sebagai aktivitas bot berbahaya. Tagar itu akan otomatis di-takedown secara global, dan ribuan akun buzzer agensinya akan terkena suspend (diblokir permanen).

Ini adalah bunuh diri campaign yang elegan. Terlihat seperti kecelakaan algoritma, bukan sabotase internal.

"Gila... lo bener-bener nekat," desis Q yang kepalanya menyembul dari bawah meja, menyaksikan jemari Hanif mengetik kode-kode kematian itu. "Kalo ketahuan, lo bukan cuma dipecat. Lo disuruh ganti rugi duit Bunda Lisa lima belas juta!"

Hanif tidak peduli. Keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Dia mengeklik [SAVE SCRIPT].

Lalu, dia membuka aplikasi pengolah kata, mengetik naskah dummy (palsu) yang terlihat meyakinkan untuk dilaporkan ke Mbak Sarah, menyembunyikan sabotase algoritmanya di balik tampilan luar yang seolah-olah berjalan normal.

"Mbak!" Hanif berdiri sedikit, memanggil Mbak Sarah yang baru keluar dari ruang pantry. "Draft gelombang kedua udah siap launching. Script-nya udah saya tanem di sistem, tinggal nunggu waktu optimal jam 4 sore buat nge- blast."

Sarah berjalan mendekat, melihat sekilas ke layar monitor Hanif yang menampilkan preview beberapa cuitan palsu yang isinya menyerang donasi Nisa.

"Bagus. Laporan performanya kasih ke saya jam 5 ya sebelum buka," kata Sarah puas, tanpa curiga sedikit pun bahwa anak buahnya baru saja memasang bom waktu di sistem agensinya sendiri. "Oh ya, sekalian cek mutasi rekening kamu, Nif. THR karyawan udah cair dari pusat lima menit yang lalu."

Mendengar tiga huruf ajaib itu—T-H-R—suasana kantor yang tadinya setegang ruang UGD langsung berubah menjadi seperti pasar malam.

Ting! Ting! Ting!

Suara notifikasi Mobile Banking berbunyi sahut-menyahut dari hampir semua meja di open space Stratosphere Agency.

Tunjangan Hari Raya. Hilal yang paling ditunggu oleh seluruh umat beragama di Indonesia, mengalahkan histeria hilal 1 Syawal itu sendiri.

"Alhamdulillah ya Allah! Baju Lebaran check out!" pekik Mbak Tati dari bagian Finance, langsung membuka aplikasi Shopee di layar monitor kantornya tanpa rasa bersalah.

Lihat selengkapnya