Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #14

KIAMAT DI LANTAI 12

Sepuluh menit sebelum bom waktu itu meledak, suasana di lantai 12 gedung Stratosphere Agency adalah perwujudan sempurna dari surga kaum kapitalis.

Udara sore yang biasanya dipenuhi aroma keputusasaan dan kopi basi, kini tergantikan oleh wangi kebahagiaan sintetik bernama Tunjangan Hari Raya (THR). Suara keyboard yang diketik tidak lagi menghasilkan draf press release atau copywriting penipuan, melainkan bunyi klik-klik antusias dari para karyawan yang sedang memasukkan barang idaman mereka ke keranjang belanja e-commerce.

Di kubikel sebelah kanan, Rian si desainer grafis sedang bersenandung kecil. Layar monitornya yang seharga dua bulan gaji UMR itu menampilkan perbandingan spesifikasi VGA Card terbaru. Di seberangnya, Mbak Tati dari divisi Finance sedang melakukan panggilan video call tanpa suara dengan anaknya, memamerkan gambar baju koko sutra yang baru saja dia checkout.

Bahkan Mbak Sarah, Account Manager bertangan besi itu, terlihat sedang memoleskan hand cream beraroma vanilla ke tangannya sambil tersenyum menatap layar smartphone. Dia mungkin sedang mengecek saldo rekeningnya, membayangkan pelunasan cicilan apartemennya, atau sekadar menikmati ilusi kekuasaannya.

Semua orang di ruangan open space ini merasa aman. Mereka merasa menang. Mereka merasa bahwa bulan puasa ini telah memberikan berkah yang berlimpah, mengabaikan fakta bahwa berkah mereka dibayar lunas oleh penderitaan seorang gadis influencer dan ayahnya yang sedang meregang nyawa di rumah sakit.

Di tengah lautan kebahagiaan yang semu itu, Muhammad Hanif duduk membatu di kursinya.

Dia tidak membuka e-commerce. Dia tidak mengecek saldo. Lagipula, apa yang mau dicek? Saldonya sudah kembali ke titik nadir, Rp 460.000, setelah seluruh THR dan uang pinjaman PayLater-nya dia kuras habis untuk membayar deposit ruang HCU Ibunya di Bandung.

Hanif hanya menatap layar monitornya yang menampilkan jam digital di pojok kanan bawah.

15:55 WIB.

Lima menit lagi.

"Gue masih nggak habis pikir sama jalan pikiran lo, Bos," suara Qarin memecah keheningan di dalam kepala Hanif.

Setan itu sedang duduk bersila di atas meja Hanif, melayang beberapa sentimeter dari tumpukan kertas revisi. Wajah Qarin yang identik dengan Hanif itu kini tidak lagi menyiratkan ejekan sarkas, melainkan sebuah kebingungan kosmik yang sangat dalam. Rantai emas di dadanya bergetar pelan, memancarkan hawa tidak nyaman.

"Lo miskin, Hanif. Lo melarat tingkat dewa sekarang," bisik Qarin, mencoba mencari logika dari tindakan manusia di depannya. "Lo baru aja diteken sama keadaan. Nyokap lo masuk rumah sakit, kakak idola lo minggat bawa utang. Harusnya, insting manusia normal itu ngamanin posisi. Lo harusnya ngejilat pantat Sarah dalem-dalem, pastiin kampanye kotor Bunda Lisa sukses, dapet bonus tambahan, dan ngamanin karir lo di agensi ini."

Qarin mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke manik mata Hanif.

"Tapi lo malah milih buat neken tombol bunuh diri. Lo ngirim bukti transfer perusahaan lo ke cewek yang karirnya baru aja lo ancurin. Lo masang baris kode shadowban buat ngebunuh pasukan bot agensi lo sendiri. Lo ngelakuin sabotase korporat level dewa, yang hukumannya bukan cuma pecat, tapi penjara, Hanif! Pen-ja-ra!"

Hanif tidak merespons. Dia hanya menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang sangat ringan.

"Buat apa, Nif?" cecar Qarin, suaranya kini terdengar sedikit frustrasi. Setan itu benci pada sesuatu yang tidak bisa dia prediksi. "Buat nebus dosa? Lo pikir dengan ngehancurin karir lo dan ngebongkar aib bos lo, dosa lo nyebar fitnah kemaren bakal keapus gitu aja? Lo pikir malaikat bakal ngasih lo medali pahlawan kesiangan?"

"Gue nggak nyari medali, Q," Hanif akhirnya bersuara, sangat pelan hingga nyaris tak terdengar. Matanya tetap terkunci pada pergerakan detik di jam monitor. "Gue cuma nyari... tidur yang nyenyak. Udah lama gue nggak tidur nyenyak."

Qarin terdiam. Untuk kesekian kalinya dalam beberapa hari terakhir, iblis itu kehilangan kata-kata. Konsep mengorbankan diri sendiri demi kedamaian batin adalah bahasa asing yang tidak pernah diajarkan di neraka.

15:58 WIB.

Hanif membuka tab dashboard internal agensinya. Jendela command prompt berwarna hitam dengan tulisan hijau itu mulai berkedip-kedip, menandakan bahwa ratusan skrip komando sedang bersiap untuk dijalankan.

Di ruangan ujung, Mbak Sarah berdiri dari kursinya. Dia berjalan mondar-mandir dengan gaya arogan, memegang cangkir kopi americano-nya.

"Tommy! Hanif!" seru Sarah, suaranya membelah ruangan, menarik perhatian beberapa divisi lain. "Standby ya! Dua menit lagi gelombang kedua jalan. Tommy, pastikan server VPN kita aman. Hanif, pantau pergerakan hashtag. Saya mau jam empat lewat lima menit, #GlowGuruTukangTipu udah nongkrong di Trending Topic nomor satu. Kita kubur cewek itu hidup-hidup hari ini!"

"Siap, Mbak Sarah!" sahut Tommy, kordinator Buzzer dan SEO yang duduk tiga kubikel dari Hanif. Jari-jari Tommy sudah menari di atas keyboard-nya, bersiap memantau lalu lintas data.

"Siap, Mbak," jawab Hanif datar.

15:59 WIB.

Jantung Hanif berdetak dengan ritme yang aneh. Tidak terlalu cepat, tidak juga lambat. Hanya... mantap. Dia merasa seperti seorang konduktor orkestra yang sedang mengangkat tongkatnya, bersiap memimpin simfoni kehancuran yang paling megah.

16:00 WIB.

[SYSTEM ALERT: CRON JOB INITIATED. EXECUTING SCRIPT_WAVE_02.BAT]

Tulisan di layar Hanif bergerak secepat kilat. Ratusan baris kode tereksekusi. Pasukan bot anonim yang selama ini menjadi senjata rahasia Stratosphere Agency untuk memanipulasi opini publik Indonesia, kini terbangun dari tidurnya.

"Jalan, Mbak! Traffic mulai masuk!" lapor Tommy dengan semangat. "Seratus tweet pertama udah meluncur. Lima ratus retweet dalam sepuluh detik. Grafiknya naik tajam!"

Sarah tersenyum lebar. Dia menyesap kopinya dengan gaya elegan. "Bagus. Terus bombardir. Pake draft yang isinya nuduh bapaknya pura-pura sakit itu."

Satu menit pertama, semuanya terlihat berjalan sesuai rencana busuk Mbak Sarah.

Namun, Hanif tahu apa yang sedang terjadi di belakang layar. Di dalam script yang dia retas, pasukan bot itu tidak hanya mengetikkan fitnah yang ditugaskan. Di setiap akhir kalimat fitnah itu, Hanif telah menanamkan hyperlink tersembunyi yang mengarah ke situs-situs judi online dan pornografi Rusia—sebuah pelanggaran tingkat berat di algoritma Twitter.

Tidak berhenti sampai di situ, Hanif membuat setiap tweet fitnah itu melakukan tagging massal (menyebut akun) secara brutal ke akun @DivHumas_Polri, @BPOM_RI, dan @CyberCrimeID. Seribu akun bot men- spam akun penegak hukum secara bersamaan.

Bagi Artificial Intelligence sistem keamanan media sosial, ini bukan lagi kampanye biasa. Ini terdeteksi sebagai serangan siber terkoordinasi ( Coordinated Inauthentic Behavior ) yang sangat berbahaya.

16:02 WIB.

Tiba-tiba, suara ketikan Tommy berhenti.

"Eh? Bentar..." gumam Tommy. Dia memajukan wajahnya ke layar monitornya sampai hidungnya nyaris menyentuh kaca. Matanya menyipit bingung.

"Kenapa, Tom?" tanya Sarah, belum menyadari badai yang datang.

"Grafiknya... grafiknya patah, Mbak," suara Tommy mulai terdengar tidak yakin. Tangannya mengklik mouse dengan liar, me-refresh halaman browser berkali-kali. "Tadi rate-nya seribu tweet per menit. Sekarang tiba-tiba drop jadi nol. Nol mutlak."

Sarah mengerutkan dahi, meletakkan cangkir kopinya di meja terdekat, lalu berjalan cepat menghampiri kubikel Tommy.

Lihat selengkapnya