Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #15

GEMBEL METROPOLITAN

Bagi seorang budak korporat, dipanggil ke ruangan Direktur Utama di pagi hari adalah ekuivalen dari dipanggil menghadap Malaikat Maut sebelum sempat bertobat. Ruangan itu kedap suara, berlapis karpet tebal yang bisa meredam jeritan, dan suhu AC-nya selalu disetel beberapa derajat lebih dingin dari ruangan luar.

Pagi ini, di hari ke-15 Ramadan, Hanif berjalan menuju "Ruang Jagal" itu dengan langkah yang sangat ringan.

Di luar kaca ruangan Pak Bram, suasana lantai 12 Stratosphere Agency terasa seperti rumah duka pasca-bencana alam. Tidak ada yang berani berbicara dengan nada normal. Semua orang mengetik dengan gerakan slow-motion, seolah takut suara keyboard mereka akan memicu ledakan baru. Mata-mata mencuri pandang ke arah Hanif, diiringi bisik-bisik yang berdengung seperti kawanan lalat.

Mereka tahu. Tim Audit IT eksternal yang dibayar mahal semalam suntuk oleh Pak Bram telah menyelesaikan tugasnya di subuh hari. Jejak IP Address, log VPN, dan cache browser tidak bisa dibohongi. Algoritma selalu meninggalkan sidik jari.

Hanif memutar kenop pintu kayu jati itu dan melangkah masuk.

Pemandangan di dalam ruangan itu suram. Pak Bram duduk di kursi kebesarannya, kemejanya kusut dan dasinya sudah dilonggarkan. Kantung matanya hitam pekat. Asbak di depannya penuh dengan puntung rokok yang menggunung—batal puasa tampaknya adalah hal terakhir yang dipikirkan sang Direktur saat perusahaannya di ambang kebangkrutan.

Dan di sudut ruangan, duduk Mbak Sarah.

Penampilan Senior Account Manager itu pagi ini sangat menyedihkan. Blazer kuning mustard-nya yang kemarin terlihat begitu berkuasa, kini tampak kusam. Wajahnya pucat tanpa make-up, matanya bengkak parah. Dia menatap Hanif dengan kebencian murni yang bisa membakar kertas HVS menjadi abu.

"Duduk, Hanif," suara Pak Bram serak dan rendah, berbeda dengan raungannya kemarin sore. Ini adalah suara seorang predator yang sudah kehabisan napas tapi masih bisa menerkam.

Hanif menarik kursi kulit itu dan duduk dengan tenang. Tidak ada keringat dingin. Tidak ada detak jantung yang berpacu.

Brak!

Pak Bram melempar sebuah map tebal ke atas meja. Kertas-kertas di dalamnya berhamburan, menampilkan deretan angka, baris kode log IT, dan cetakan screenshot dari email "PenyesalanKorporat@proton.me" yang kini sudah viral di seluruh platform media sosial Indonesia.

"Kamu tau apa ini, Hanif?!" suara Pak Bram naik dua oktaf, urat di lehernya kembali menonjol. "Ini adalah bukti forensik digital! Tim IT udah ngelacak semuanya. Mac Address dari laptop kantor kamu cocok. Timestamp modifikasi script bot cocok. Kamu yang ngebunuh kampanye kita, dan kamu yang ngirim file rahasia perusahaan ke pelacur internet itu!"

Hanif hanya menatap tumpukan kertas itu dengan ekspresi datar. "Namanya Nisa, Pak. Bukan pelacur internet. Dan ya, saya yang ngelakuin semuanya."

Pengakuan frontal tanpa sedikit pun pembelaan itu membuat seisi ruangan terdiam selama dua detik. Bahkan pengacara perusahaan yang sudah menyiapkan seribu satu argumen jebakan, terlihat tertegun.

"BANGSAT KAMU, NIF!"

Mbak Sarah tiba-tiba melompat dari kursinya. Wanita itu menerjang maju, tangannya mengayun keras dan—PLAK! Sebuah tamparan mendarat telak di pipi kiri Hanif. Sangat keras hingga kepala Hanif terpaling ke kanan dan telinganya berdenging. Rasa panas menjalar di kulit wajahnya, meninggalkan bekas kemerahan berbentuk lima jari. Mbak Sarah menamparnya dengan kecepatan kilat, napas wanita itu memburu, matanya berkaca-kaca menahan air mata amarah.

"Saya naruh kepercayaan ke kamu, Hanif! Saya kasih kamu bonus puluhan juta! Dan kamu ngehancurin karir saya, hidup saya, semuanya!" desis Sarah, suaranya pecah bergetar. Dia menunjuk wajah Hanif yang sedikit memerah. "Apartemen saya bakal ditarik bank bulan depan karena pemutusan kontrak ini! Adik-adik saya di kampung gagal bayar uang kuliah! Kamu ngerasa pahlawan sekarang, hah?!"

Hanif menahan rasa kebas di pipinya. Dia tidak membalas. Dia menundukkan kepala, menerima tamparan itu sebagai ganjaran yang memang pantas dia dapatkan atas penderitaan yang dia timbulkan pada teman kerjanya. Kemarin dia menganggap Sarah hanya peduli pada kopi mahal, tapi kini dia melihat realita yang sebenarnya.

"Cukup, Sarah!" Pak Bram mengangkat tangannya pelan, menyuruh Account Manager-nya itu mundur..

Sarah melepaskan kerah Hanif sambil menangis tersedu-sedu, kembali ke sudut ruangan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Pak Bram menatap Hanif lekat-lekat. Pria paruh baya itu mencondongkan tubuhnya ke depan, memegang sebuah map merah.

"Kamu tau apa isi map merah ini, Hanif?" tanya Pak Bram pelan.

"Surat Pemutusan Hubungan Kerja Tidak Dengan Hormat, Pak," jawab Hanif datar. "Tanpa pesangon, tanpa surat referensi."

"Itu baru halaman pertama," Pak Bram tersenyum dingin. "Halaman keduanya adalah Draf Tuntutan Hukum. Pelanggaran Non-Disclosure Agreement (NDA), Pembocoran Rahasia Korporat, dan sabotase sistem elektronik berdasarkan UU ITE Pasal 30 dan 32. Tim pengacara saya sedang menghitung kerugian materiil agensi ini, yang nilainya mencapai 4.5 miliar rupiah akibat batalnya kontrak Bunda Lisa dan klien-klien lain yang ikut kabur pagi ini."

Pak Bram menyalakan rokoknya, mengisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke udara.

"Kamu ngerasa seperti pahlawan suci sekarang, Hanif?" Pak Bram mengulang pertanyaan Sarah, namun dengan kedalaman yang lebih menyakitkan. Matanya menatap Hanif dengan kelelahan seorang ayah yang harus menanggung nasib banyak orang.

"Saya bangun agensi ini dari nol. Dari ruko sempit beratap seng! Kamu pikir saya bangga ngerjain black campaign?! Kalau saya nggak ambil uang kotor Bunda Lisa kemaren, agensi ini kolaps! Seratus lima puluh karyawan saya, temen-temen kamu di luar sana... anak-anak mereka makan dan sekolah dari uang yang kamu sebut kotor itu!"

Pak Bram menggebrak meja dengan sisa tenaganya. "Dan kamu, pemuda sombong yang baru kerja dua tahun, menghancurkan periuk nasi ratusan orang cuma demi moralitas sempit kamu untuk satu cewek di internet! Kamu itu egois, Hanif! Jangan pernah kamu sebut dirimu pahlawan!"

Kata-kata itu menembus pertahanan batin Hanif. Dadanya sesak memikirkan Rian, Mbak Tati dan rekan-rekan kerjanya. Konsep kebenaran mutlak ternyata hanyalah ilusi. Di dunia orang dewasa, kebenaran yang satu selalu menuntut pengorbanan nyawa di sisi yang lain. Dia nyaris menunduk penuh penyesalan

Hanif menarik napas panjang. Dia menatap mata Pak Bram yang memerah. Rasa bersalah memang ada, tapi dia tidak akan membiarkan agensi ini terus memakan korban demi alasan "kesejahteraan karyawan". Dia tidak akan membiarkan ayah Nisa dan korban-korban lain dikubur hidup-hidup oleh sistem kotor ini.

"Saya memang bukan pahlawan, Pak," ucap Hanif memecah keheningan. Suaranya sedikit bergetar. "Tapi periuk nasi karyawan Bapak juga nggak seharusnya diisi dari darah bapaknya Nisa yang lagi nungguin cuci darah gara-gara fitnah kita."

Pak Bram mencondongkan tubuhnya ke arah Hanif. Matanya menyipit mematikan. Pria plontos itu mengeluarkan aura predator puncak yang sedang bersiap mencabik mangsanya. Di detik berikutnya, topeng kepedulian Pak Bram retak. Arogansi alaminya sebagai konglomerat metropolitan mengambil alih mulutnya yang sedang dikuasai amarah.

"Kamu pikir saya bangun agensi ini pake daun?!" suara Pak Bram tiba-tiba meninggi, memukul meja dengan emosi yang meledak. Urat di lehernya menonjol. "Valuasi perusahaan saya hancur pagi ini! Investor dari Singapura barusan nelpon mau narik dana mereka! Kamu tau berapa kerugian pribadi saya?! Rencana ekspansi saya ke SCBD batal! Cicilan Mercedes S-Class saya bulan ini kacau gara-gara klien pada kabur denger berita ini!"

Pak Bram menunjuk wajah Hanif dengan telunjuk gemetar.

"Kita ini cuma fasilitator, Hanif! Klien yang bayar, kita yang kerjain! Kalau Bunda Lisa mau black campaign, ya kita kasih! Kenapa kamu sok jadi malaikat?! Ini bisnis! Orang miskin kayak Nisa itu collateral damage (korban wajar) dalam dunia bisnis! Kamu nggak ada hak menghancurkan aset miliaran saya cuma karena kasihan sama orang susah!"

Hanif, yang sedari tadi menunduk penuh rasa bersalah, mendadak mengangkat kepalanya. Matanya menatap tajam ke arah Pak Bram.

Lihat selengkapnya