Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #16

CEO TROTOAR

Meninggalkan gedung perkantoran ber-AC dengan kepala tegak bak pahlawan adalah satu hal. Tapi menghadapi kenyataan aspal Jakarta yang suhu permukaannya bisa dipakai merebus telur puyuh, adalah hal yang sama sekali berbeda.

Hanif berdiri di pinggir jalan raya Sudirman sambil memeluk kardus bekas air mineral berukuran sedang. Di dalam kardus itu terdapat seluruh sisa peradabannya: mug Arsenal yang pinggirannya gompel, charger HP, botol parfum minimarket yang isinya tinggal seperempat, dan beberapa alat tulis.

Tidak ada ojek online yang bisa dia pesan. Ingat, saldo Mobile Banking-nya hanya tersisa Rp 460.000. Nominal itu harus dia regangkan seperti karet gelang demi bisa makan dan minum sampai... entah sampai kapan. Gaji tidak ada. THR amblas ke rumah sakit. Pesangon hanyalah mitos.

"Gimana, Pahlawan Kebenaran? Udah ngerasain silanya aspal Sudirman?"

Q muncul dari balik tiang lampu merah. Setan itu melayang santai dengan posisi berbaring miring di udara, sebelah tangannya menopang kepala. Penampilan Q sedikit berbeda hari ini. Tiga mata rantai di dadanya yang putus akibat taubat Hanif kemarin, membiarkan jubah gaibnya sedikit terbuka di bagian dada, memperlihatkan kekosongan gelap di dalamnya. Tapi mulutnya tetap setajam silet.

"Gue tau lo lagi mikir mau naik TransJakarta," Q menunjuk halte busway di seberang jalan dengan dagunya. "Tapi gue ingetin, Bos. Saldo e-Toll lo sisa tiga rebu perak. Mau top-up? Sayang duit. Jalan kaki aja sana sampai kosan. Kan itung-itung bakar kalori dosa."

Hanif hanya mendengus kasar. Dia merapatkan kardusnya ke dada, lalu mulai melangkah menyusuri trotoar menuju stasiun MRT terdekat, berniat mencari rute termurah dengan sisa uang tunai di dompetnya. Sepatu pantofel hitamnya yang sudah mulai tipis solnya beradu dengan paving block trotoar yang tidak rata.

Perjalanan dari Sudirman menuju kosannya di daerah Setiabudi memakan waktu hampir satu jam karena dia mengkombinasikan KRL, ojek pangkalan (yang ditawar sadis), dan jalan kaki melewati gang-gang sempit.

Pukul satu siang, Hanif tiba di depan pintu pagar besi kosannya. Kos-kosan bercat hijau telur asin yang sudah mengelupas di sana-sini.

Dan di teras depan, duduklah bos terakhir ( Final Boss ) dari segala rintangan anak kos Jakarta: Ibu Marni.

Wanita paruh baya dengan daster corak macan tutul dan rambut dicepol asal-asalan itu sedang mengipas-ngipas wajahnya dengan majalah hidayah bekas. Di sebelahnya ada buku folio bergaris tebal yang menjadi buku catatan maut para penyewa kamar.

Melihat Hanif datang menenteng kardus di jam kerja, radar insting Ibu Marni langsung berdenging kencang.

"Tumben jam segini udah balik, Mas Hanif? Bawa kardus pula. Kena layoff (PHK) dari kantor?" tembak Ibu Marni tanpa basa-basi, suaranya melengking menembus panasnya siang bolong.

Hanif menelan ludah. Ludahnya terasa seperti ampelas. "Eh, Ibu. Iya nih Bu, lagi ada... restrukturisasi internal di perusahaan. Saya mutusin buat resign aja." Hanif menggunakan insting PR-nya untuk memperhalus istilah "Dipecat dengan Tidak Hormat".

Ibu Marni menutup majalahnya. Dia menatap Hanif dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Halah, bahasa Jaksel lo restrukturisasi. Dipecat mah dipecat aja, Mas," cibir Ibu Marni, menembus tameng PR Hanif dengan telak. "Gini ya, Mas Hanif. Saya mah orangnya nggak mau ribet. Bulan ini kan jatuh tempo bayar kosan tanggal 10. Ini udah tanggal 16. Udah telat seminggu."

Ibu Marni membuka buku folionya, menunjuk nama Hanif yang di- stabilo warna merah.

"Mas Hanif janji mau bayar pas THR turun kan? Nah, berhubung situ bawa kardus dan ngaku dipecat, saya mau nanya kepastiannya aja. Ada duitnya nggak sejuta setengah buat bulan ini? Kalau nggak ada, mending kita putus hubungan baik-baik hari ini juga. Soalnya ada anak kuliahan dari Depok mau masuk ke kamar situ ntar sore."

Hanif membeku. Dia merogoh saku celananya. "Bu, THR saya kepake buat... buat biaya darurat rumah sakit Ibu saya di Bandung. Ibu saya masuk HCU. Saya beneran lagi blank sekarang. Kasih saya waktu tiga hari aja, Bu. Buat nyari kerjaan freelance."

Ibu Marni terdiam sejenak. Sorot matanya sedikit melembut mendengar kata 'rumah sakit'. Di balik daster macan tutulnya, dia masih punya hati nurani.

"Sakit apa ibunya, Mas?" tanyanya agak pelan.

"Pembuluh darah pecah, Bu. Kritis."

Ibu Marni menghela napas panjang. "Ya Allah, sing sabar ya, Mas. Saya doain cepet sembuh ibunya." Wanita itu merapikan dasternya, berdiri dari kursi plastiknya.

Hanif merasa ada secercah harapan. Mungkin, hukum karma baik dari taubatnya sedang bekerja lewat kebaikan hati seorang ibu kos.

"Makasih banyak, Bu. Jadi saya boleh minta waktu tiga hari buat nunggak..."

"Oh, nggak bisa dong, Mas!" potong Ibu Marni cepat, nada suaranya kembali ke settingan pabrik: ketus dan tegas. "Doa mah doa, Mas. Tapi kontrakan rumah ini kan belinya pake duit, bukan pake Alfatihah! Saya juga harus bayar PBB, bayar iuran RT. Kalau saya kasihan sama semua anak kos yang ibunya sakit, saya yang ujung-ujungnya ngegembel di Monas!"

Harapan Hanif hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

"Bu, tolonglah. Saya mau tidur di mana malam ini?" Hanif memelas, membuang sisa-sisa gengsinya.

"Mas Hanif kan orang agensi, masa nggak punya temen buat numpang tidur sehari dua hari?" Ibu Marni melipat tangannya di dada. "Sana masuk. Saya kasih waktu setengah jam buat packing baju-baju situ. Masukin koper, kasihin kuncinya ke saya. Ini saya ada lebihan lauk buka puasa kemaren, kolak pisang. Nanti situ bawa aja buat bekal di jalan."

Diusir, lalu disogok pakai kolak pisang sisa kemarin. Ini adalah bentuk penghinaan paling sempurna yang pernah Hanif terima.

Tiga puluh menit kemudian, Hanif kembali berdiri di trotoar jalan raya. Kali ini, tidak hanya memeluk kardus Aqua, tapi dia juga menyeret sebuah koper kain berwarna biru dongker yang rodanya macet satu, ditambah sebuah tas ransel hitam berisi laptop tuanya. Dan tentu saja, kantong plastik keresek putih berisi sekotak kolak pisang dingin dari Ibu Marni.

Dia resmi menjadi gelandangan. Gembel ibukota. Homeless.

"Gue bakal cari masjid," gumam Hanif pelan, mulai menyeret kopernya yang berbunyi krek-krek-krek karena rodanya terseret aspal. "Di masjid aman. Nggak ada yang ngusir orang iktikaf di bulan puasa."

Berjalan kaki berkilo-kilometer menyeret koper dengan perut kosong di bawah sengatan matahari Jakarta adalah siksaan fisik yang tak terbayangkan. Bibir Hanif pecah-pecah. Tenggorokannya terasa seperti disumpal kapas kering. Kakinya lecet karena pantofelnya tidak didesain untuk hiking di trotoar beton.

Di tengah kelelahan yang menyiksa itu, Q melayang mundur tepat di depan wajah Hanif, menghalangi pandangannya. Di tangan gaib Q, entah dari mana, terdapat sebuah gelas plastik es kopi susu Starbucks yang berembun dingin.

Setan itu berpura-pura menyeruput es kopi susu itu perlahan lewat sedotan hijaunya, lalu meniupkan aroma kopi bercampur gula aren yang sangat wangi tepat ke hidung Hanif yang sedang kelaparan dan kehausan.

Lihat selengkapnya