Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #17

NUZULUL QURAN DI KERASNYA ASPAL

Bangun tidur dengan tulang punggung yang terasa seperti baru digilas mesin penggilas aspal adalah alarm alami bagi para tunawisma.

Pukul setengah empat pagi, di hari ke-17 Ramadan, Hanif membuka matanya secara paksa. Langit-langit teras Masjid Cut Meutia masih gelap. Suara muadzin yang membangunkan sahur lewat pelantang suara terdengar seperti konser death metal yang diputar tepat di sebelah telinganya.

Hanif mencoba duduk. Krek. Sendi-sendi di pinggang dan lehernya berbunyi memprotes alas tidur marmer dan bantal ransel laptop yang sangat tidak ergonomis.

"Pagi, CEO Trotoar," sapa Q yang sudah bergelantungan terbalik di pilar masjid seperti kelelawar. "Gimana review hotel bintang seribu alias tidur beratapkan seribu bintang semalem? Kasurnya kurang empuk ya? Mau gue panggilin room service?"

Hanif hanya mengucek matanya yang penuh belek, mengabaikan sarkasme iblis pagi buta itu. Dia menoleh ke samping. Koper biru bututnya masih utuh. Ranselnya masih aman. Dan kardus Aqua yang dia tiduri semalaman sudah gepeng tak berbentuk.

Di sekelilingnya, barisan "Sirkel Takjil Kelas 3" (para musafir, ojol yang kemalaman, dan gelandangan sejati) mulai menggeliat bangun. Beberapa dari mereka mengeluarkan kresek berisi sisa makanan semalam.

Hanif teringat harta karunnya. Dia membuka ranselnya dan mengeluarkan kotak kardus berisi setengah porsi ayam bakar kecap dan nasi yang dia simpan dari buka puasa kemarin.

Makan sahur dengan ayam bakar sisa yang sudah dingin, nasinya mulai mengeras, dan tanpa dipanaskan microwave adalah sebuah tragedi kuliner bagi anak agensi yang biasa sahur dengan rice bowl pesan antar.

Hanif menggigit potongan ayam itu. Teksturnya alot seperti karet ban dalam. Bumbu kecapnya membeku menjadi gumpalan lemak putih.

"Kalo ini briefing dari klien, ini namanya campaign uji nyali lambung," gumam Hanif pelan, memaksa mengunyah nasi dingin itu dan mendorongnya masuk ke kerongkongan dengan air mineral sisa dari botol plastiknya.

Setelah memaksakan makan sahurnya habis agar lambungnya punya bahan bakar, Hanif beranjak menuju tempat wudhu umum. Air keran masjid di jam empat pagi terasa sedingin es dari kutub. Hanif mencuci wajahnya, berkumur, dan menyikat giginya menggunakan sikat gigi lipat yang untungnya selalu dia bawa di ransel.

Dia menatap cermin buram di atas wastafel tempat wudhu. Kemeja flanelnya sudah mulai bau apak. Celana bahannya kusut masai. Kantung matanya makin gelap.

Dalam dunia PR ( Public Relations ), image adalah segalanya. Tapi di jalanan, image adalah beban.

"Fase pertama Startup Gembel: Manajemen Aset," Hanif berbicara pada dirinya sendiri, otaknya mulai menggunakan istilah-istilah korporat untuk menutupi kenyataan tragisnya.

Dia tidak mungkin berjalan keliling Jakarta mencari pekerjaan serabutan sambil menyeret koper roda yang macet dan memeluk kardus gepeng. Dia harus menitipkan inventory-nya.

Selesai sholat Subuh berjamaah, Hanif melihat Pak Haji panitia masjid (yang kemarin dia bantu angkat kardus) sedang menyapu teras depan kantor DKM (Dewan Kemakmuran Masjid).

Hanif mendekat dengan sopan. "Assalamualaikum, Pak Haji."

"Waalaikumsalam. Eh, Mas Hanif yang rajin kemaren ya? Ada apa, Mas?"

"Gini, Pak Haji. Saya hari ini ada meeting... eh, maksudnya ada urusan keliling nyari kerjaan. Boleh nggak saya nitip koper saya di pojokan ruang marbot sampai sore nanti? Ransel sama laptop mah saya bawa. Kopernya aja, isinya cuma baju kotor."

Hanif merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu—uang yang sama leceknya dengan yang dia berikan pada pengemis buta beberapa hari lalu—lalu menyelipkannya ke tangan Pak Haji. "Ini buat beli kopi Pak Haji sama marbot."

Pak Haji itu tersenyum dan mendorong kembali tangan Hanif dengan lembut. "Nggak usah pake duit, Mas. Simpen aja buat ongkos. Taruh aja di dalem situ deket lemari sapu. Insya Allah aman. Masjid ini mah rumah Allah, bukan tempat penitipan berbayar."

Hanif tertegun. Di dunia agensinya yang lama, tidak ada yang gratis. Tanda tangan dokumen butuh uang pelicin. Masukin buzzer butuh uang sogokan. Tapi di sini, sepuluh ribu rupiahnya ditolak dengan keikhlasan murni.

"Makasih banyak, Pak Haji," ucap Hanif, hatinya menghangat. Dia meletakkan kopernya di sudut yang ditunjuk, merasa bobot hidupnya berkurang drastis.

Kini, dengan hanya membawa ransel hitam berisi laptop (satu-satunya aset bernilai jual tinggi yang dia punya) dan dompet berisi Rp 460.000, Hanif melangkah keluar dari gerbang masjid, siap menghadapi rimba aspal Jakarta.

Hanif memutuskan untuk berjalan kaki menuju kawasan perkantoran. Bukan untuk kembali ke Stratosphere Agency, melainkan untuk mencari warung kopi pinggir jalan atau minimarket yang menyediakan colokan listrik dan Wi-Fi gratis. Dia butuh akses internet untuk mengirimkan lamaran freelance copywriting via email. Sisa kuota HP-nya tinggal 500 MB, harus dihemat layaknya tetesan air di gurun Sahara.

Matahari hari ke-17 Ramadan mulai memanggang ubun-ubunnya.

Lihat selengkapnya