Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #18

TANGISAN DI BALIK MESIN EKG

Menjadi gelandangan ibukota mengajarkan Hanif satu keahlian baru yang tidak pernah diajarkan di kelas Public Relations mana pun: Manajemen Baterai Ekstrem.

Bagi seorang manusia modern yang rumahnya adalah jalanan, smartphone bukanlah alat komunikasi. Itu adalah nyawa. Itu adalah peta, dompet, dan satu-satunya tali pusar yang menghubungkannya dengan sisa-sisa peradaban. Ketika indikator baterai menyentuh angka 15% berwarna merah, kepanikan yang muncul jauh lebih mengerikan daripada melihat deadline presentasi klien.

Pukul delapan pagi di Hari ke-18 Ramadan. Hanif duduk bersila di salah satu bangku semen Taman Suropati, Menteng.

Udara pagi Jakarta masih menyisakan sedikit kesejukan sebelum berubah menjadi oven raksasa di siang bolong. Di depannya, seutas kabel charger putih melintang, menghubungkan HP-nya dengan sebuah stopkontak umum yang tersembunyi di balik tiang lampu taman. Dia menemukannya berkat insting survival dan bocoran info dari seorang tukang sapu taman.

Hanif menatap layar HP-nya yang sedang diisi daya. Angka baterai baru menyentuh 12%. Semalaman dia sengaja mematikan ponselnya untuk menghemat daya.

"Fase keempat Startup Gembel: Daily Stand-Up Meeting," gumam Hanif pelan, mencoba menghibur dirinya sendiri dengan istilah korporat.

Dia menekan tombol Power lama-lama hingga logo pabrikan muncul di layar.

Begitu smartphone itu menyala dan sinyal 4G tertangkap, rentetan getaran notifikasi menyerang telapak tangan Hanif seperti senapan mesin. Pesan WhatsApp masuk beruntun. Panggilan tak terjawab (Missed Calls) berbaris memenuhi layar notifikasi.

Jantung Hanif mencelos.

Ada tujuh belas panggilan tak terjawab. Semuanya dari satu nama kontak yang sama: Bapak - Bandung.

Selain itu, ada lima pesan suara (Voice Note) dan belasan pesan teks dari Bapak yang dikirim sejak pukul dua pagi tadi. Bapak tidak pernah menerornya seperti ini seumur hidup. Bapak adalah tipe pria stoik generasi Baby Boomer yang menganggap menelepon anak laki-laki lebih dari dua menit adalah sebuah pemborosan kata-kata.

Tangan Hanif bergetar saat dia membuka room chat WhatsApp Bapaknya. Dia tidak langsung menelepon balik, takut dengan apa yang akan dia dengar. Dia memilih memutar Voice Note pertama yang dikirim jam 02.15 WIB.

Hanif mendekatkan speaker HP ke telinganya.

"Nif... kamu di mana? Angkat telepon Bapak, Nak..." Suara di seberang sana membuat darah di pembuluh nadi Hanif membeku seketika. Itu adalah suara Bapak, tapi terdengar sangat asing. Suara itu parau, pecah, dan penuh dengan keputusasaan. Di latar belakangnya, terdengar bunyi ritmis yang sangat familiar dari sinetron-sinetron rumah sakit: Tit... tit... tit... tit... Bunyi mesin EKG (Elektrokardiogram) pemantau detak jantung di ruang HCU.

Hanif menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca. Dia memutar Voice Note kedua.

"Ibumu... Ibumu ngigau terus, Nif," suara Bapak kini diiringi isak tangis tertahan. "Dari tadi sore kesadarannya naik turun. Tensi darahnya nggak mau stabil. Dokter bilang pendarahan di otaknya nambah. Dan dia... dia terus-terusan manggil nama A’ Hafiz. Ibumu nyariin kakakmu, Nif."

Dada Hanif terasa ditikam pedang berkarat.

Bahkan di saat nyawanya sedang ditarik ulur oleh malaikat maut, yang diingat oleh Ibu tetaplah si Anak Emas. Bukan Hanif yang mengorbankan seluruh THR-nya untuk deposit ruang HCU itu. Bukan Hanif yang hancur karirnya demi menutupi aib keluarga. Tetap A’ Hafiz. Sang Idola yang kini kabur entah ke mana.

Udara di taman itu mendadak terasa membekukan tulang. Q sudah duduk diam di samping Hanif. Tidak ada lagi tarian mengejek atau tawa sarkas yang melengking. Setan itu hanya menatap lurus ke depan, wajahnya sedingin marmer.

"Dengerin suara EKG itu, Nif," bisik Q pelan dan kelam, suaranya seolah membawa hawa kematian yang menembus pori-pori Hanif. "Tiap detaknya dibiayain dari dosa-dosa kakak lo."

Hanif memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan satu tetes air mata keputusasaan jatuh menetes ke layar HP-nya. Dia tidak merespons provokasi gelap Q. Egonya untuk merasa diakui sudah mati sejak dia memakan nasi rendang dari tangan pemulung kemarin sore. Yang tersisa di hatinya sekarang hanyalah rasa kasihan yang tak terhingga kepada orang tuanya.

Dia memutar Voice Note terakhir yang dikirim menjelang Subuh.

"Bapak udah hubungin Rina," cerita Bapak, suaranya terdengar sangat lelah, seolah dia menua sepuluh tahun dalam satu malam. "Rina malah marah-marah, Nif. Dia bilang ke Bapak, 'Anak Bapak itu penipu! Dia ninggalin utang di mana-mana! Rumah ini mau disita bank! Suruh dia ceraiin saya kalau dia berani pulang!'... Bapak kaget, Nif. Bapak nggak ngerti apa maksud Rina. Utang apa? Bapak pusing."

Terdengar helaan napas berat dari Bapak di ujung rekaman.

"Nif, kalau kamu baca pesan ini... Bapak mohon, Nak. Cuma kamu yang Bapak punya sekarang yang akalnya masih sehat. Bapak nggak bisa ninggalin Ibumu di HCU. Tolong... cari kakakmu, Nif. Cari dia sampai dapet. Seret dia ke rumah sakit. Kalau Ibumu harus pergi... setidaknya biarkan dia melihat Hafiz untuk yang terakhir kali."

Rekaman suara berhenti. Meninggalkan keheningan panjang yang hanya diselingi kicau burung gereja di Taman Suropati.

Hanif menatap layar HP-nya dengan pandangan nanar.

Semua topeng keluarga harmonis itu telah hancur berkeping-keping. Aib utang puluhan juta itu akhirnya bocor ke telinga mertua dan Bapak. Rumah tangga idaman  A’ Hafiz dan Teh Rina yang selalu dipamerkan di Instagram, kini sedang dieksekusi oleh penyitaan aset. Dan A’ Hafiz, ustadz panutan keluarga itu, memilih menjadi pengecut kelas kakap dengan melarikan diri dari medan perang yang dia ciptakan sendiri.

Hanif mencabut kabel charger-nya. Baterai 25% sudah cukup. Dia harus bergerak sekarang juga.

Dia langsung membuka aplikasi pemesanan tiket kereta api, KAI Access. Jari-jarinya dengan cepat mencari rute Gambir - Bandung atau Pasar Senen - Kiaracondong untuk keberangkatan hari ini.

Layar memunculkan hasil pencarian.

Lihat selengkapnya