Jika ada yang pernah berkata bahwa perjalanan darat (road trip) adalah sarana terbaik untuk menyembuhkan luka batin, orang itu pasti belum pernah menumpang truk sayur Mitsubishi Colt Diesel keluaran tahun 2005 di siang bolong bulan Ramadan.
Kabin truk itu adalah sebuah ekosistem penyiksaan yang dirancang dengan sangat presisi oleh neraka.
Tidak ada pendingin ruangan (AC). Kaca jendela di sisi Hanif harus dibuka separuh agar mereka tidak mati keracunan karbon monoksida, namun sebagai gantinya, angin panas bercampur debu aspal dan asap knalpot bus malam menghajar wajah Hanif tanpa henti. Mesin diesel yang berada tepat di bawah jok tempat Hanif duduk memancarkan radiasi panas yang membuat bokong dan paha kirinya seolah sedang dipanggang di atas teflon.
Setiap kali truk kuning itu menghantam lubang di jalan Tol Jakarta-Cikampek, suspensi per daun ( leaf spring ) yang sudah mati itu mengirimkan getaran kejut langsung ke tulang ekor Hanif, membuat giginya bergemeretak.
"Selamat datang di Kelas Eksekutif Neraka Jahanam, Bos," sapa Q yang sedang duduk bersila di atas dashboard truk, persis di sebelah pajangan boneka anjing berkepala goyang yang warnanya sudah pudar.
Q terlihat sangat menikmati penderitaan fisik Hanif. Setan itu merentangkan tangannya, seolah sedang berjemur di pantai tropis.
"Fasilitas in-flight entertainment-nya mantap kan? Angin puting beliung mini, aroma terapi bau solar campur keringat, plus pijat refleksi tulang punggung tiap lima menit. Lo nggak bakal dapet experience kayak gini di Argo Parahyangan gerbong Priority," ledek Q sambil tertawa renyah, suara tawanya nyaris tenggelam oleh raungan mesin diesel yang dipaksa melaju di gigi tiga pada jalanan menanjak.
Hanif tidak punya energi untuk membalas sarkasme iblis itu. Dia bersandar lemas di jok yang robek-robek hingga busa kuningnya menyembul keluar. Kemeja flanelnya sudah basah kuyup oleh keringat, menempel lengket di punggungnya. Ransel laptop yang berisi sisa hidupnya dia peluk erat di dada sebagai perisai dari panasnya mesin di bawah jok.
Di sebelahnya, sang sopir truk—yang dari perkenalan singkat tadi diketahui bernama Kang Maman—tampak sangat santai.
Pria paruh baya dengan kulit gelap terbakar matahari itu menyetir hanya menggunakan sebelah tangan. Tangan kirinya memegang setir bundar raksasa yang dibalut lakban hitam, sementara tangan kanannya sibuk mengganti persneling dengan gerakan kasar namun sangat akurat. Sebatang rokok kretek tak pernah lepas dari jepitan bibirnya, abunya beterbangan tertiup angin jendela dan sesekali mengenai wajah Hanif.
Bagi Kang Maman, neraka siang bolong ini adalah kantornya sehari-hari.
"Hampura, A (Maaf, A). AC-na mah alami ti Gusti Allah wungkul (AC-nya alami dari Allah aja)," kata Kang Maman setengah berteriak agar suaranya terdengar mengalahkan deru mesin. Dia melirik Hanif yang tampak pucat pasi dan sesekali memejamkan mata menahan mual.
"Nggak apa-apa, Kang. Tiasa numpang wae abdi mah tos alhamdulillah (Bisa numpang aja saya udah alhamdulillah)," balas Hanif dengan suara serak. Tenggorokannya terasa seperti dilapisi kertas pasir.
Kang Maman melirik jam digital murahan yang ditempel di dashboard. Pukul dua siang. Kemacetan panjang mulai terlihat di depan mata menjelang Gerbang Tol Cikampek Utama. Ribuan kendaraan pribadi plat B tampak merayap seperti barisan semut yang kelelahan. Arus mudik awal sudah mulai terasa meskipun Lebaran masih sepuluh hari lagi.
Kang Maman meraih sebuah botol air mineral ukuran besar dari celah di samping kursinya. Botol itu berembun, menandakan isinya sangat dingin karena sebelumnya disimpan di dalam kotak styrofoam berisi es batu di belakang jok.
Dia membuka tutup botol itu, menenggak airnya dalam-dalam hingga jakunnya naik turun. Tetesan air dingin mengalir dari sudut bibirnya, jatuh membasahi kaos oblongnya. Kang Maman tidak puasa. Bagi kuli aspal jalanan lintas provinsi yang menguras tenaga fisik tanpa ampun, puasa seringkali menjadi kemewahan yang sulit dijangkau. Agamanya adalah menafkahi keluarga agar asap dapur tetap mengepul.
Kang Maman menyodorkan botol yang masih berembun itu ke arah Hanif.
"Sok, A. Batalan heula weh. Musafir ieuh, halal da. Karunya akang ningalina, pias kitu rarayna (Silakan, A. Batalin dulu aja. Musafir ini, halal kok. Kasihan akang lihatnya, pucat gitu mukanya)," tawar Kang Maman dengan tulus.
Hanif menatap botol air mineral itu. Embun dingin yang menempel di plastik botol itu terlihat seperti tetesan air dari surga. Otaknya yang sudah kekurangan oksigen dan glukosa langsung memerintahkan tangannya untuk meraih botol itu.
Logika syariah membenarkan. Dia sedang dalam perjalanan jauh (musafir). Dia memenuhi syarat untuk rukhsah (keringanan) membatalkan puasa dan menggantinya di hari lain. Secara hukum fikih, dia tidak berdosa jika meminum air itu sekarang.
"Nah, ini dia! Ambil, Nif! Ambil!" Q melompat dari dashboard, wajahnya mendekat ke telinga Hanif dengan mata berbinar-binar penuh antisipasi.
"Ayolah, jangan nyiksa diri lo sendiri. Lo bukan Nabi. Lo cuma cecunguk pengangguran yang lagi kena musibah. Tuhan juga maklum kalau lo minum sekarang. Haus kan? Tenggorokan lo rasanya kayak gurun pasir kan? Tenggak aja, Nif! Dingin banget tuh airnya!" goda Q, terus mengipasi botol itu ke arah Hanif.
Tangan Hanif bergetar. Dia mengangkat tangannya pelan... lalu dengan lembut mendorong botol itu kembali ke arah Kang Maman.
Hanif menggelengkan kepalanya pelan, memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya yang pecah-pecah.
"Nuhun, Kang. Nanggung sakedap deui (Makasih, Kang. Nanggung sebentar lagi)," tolak Hanif lirih.
Kang Maman menatap Hanif dengan alis terangkat, sedikit kagum dengan keteguhan pemuda kantoran di sebelahnya ini. Dia mengangguk pelan, lalu menyimpan kembali botol itu ke tempatnya. "Kuat nya tekad teh, A. Sing janten pahala ageung (Kuat ya tekadnya, A. Semoga jadi pahala besar)."
Q menjambak rambut gaibnya sendiri dengan frustrasi. Setan itu meronta-ronta di udara seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
"Lo bener-bener bodoh, Hanif! Bodoh kuadrat!" rutuk Q kesal. "Lo punya alasan yang syar'i buat batal! Lo musafir! Kenapa lo milih menderita, hah?!"
Hanif menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang bergetar hebat. Matanya menatap sayu ke arah rentetan mobil mewah yang terjebak macet di lajur kanan.
"Gue tau gue musafir, Q," batin Hanif, menjawab setan itu di dalam kepalanya. "Tapi puasa gue hari ini bukan cuma soal nahan haus."
Hanif menarik napas panjang, menghirup udara panas yang membakar rongga dadanya.