Udara Subuh Kota Bandung tidak pernah main-main dalam menyiksa pendatang dari Jakarta. Apalagi jika pendatang itu tidur beralaskan karpet tipis di emperan teras Masjid Pasar Induk Caringin, hanya berbekal jaket parasut tipis yang ritsletingnya macet.
Hanif membuka matanya perlahan. Tulang punggungnya terasa seperti baru saja dipukul menggunakan tongkat bisbol.
Perjalanan melintasi Tol Cipularang sore kemarin bersama truk sayur Kang Maman benar-benar menguras sisa tenaganya. Mereka tiba di Pasar Caringin sesaat setelah azan Maghrib berkumandang (Hari ke-18). Setelah berbuka puasa seadanya dengan teh manis hangat dan bala-bala di warung pasar, Hanif langsung tepar tak berdaya. Dia numpang tidur di sudut masjid pasar sementara Kang Maman mengurus bongkar muat barang.
Sekarang, jarum jam di dinding masjid menunjukkan pukul 04.30 WIB (Hari ke-19). Suara selawat tarhim dari speaker masjid bersahutan dengan riuhnya aktivitas pasar induk yang justru sedang berada di puncak kesibukannya.
Hanif bangkit dengan susah payah. Dia berjalan gontai menuju tempat wudhu. Air kran yang menyentuh wajahnya terasa sedingin es batu, sukses membuat matanya terbelalak seketika.
Setelah menunaikan sholat Subuh berjamaah bersama para kuli panggul dan pedagang sayur—sebuah pemandangan spiritual kelas pekerja yang kembali menghangatkan hatinya—Hanif berjalan keluar area masjid menuju los parkir truk.
Di sana, di bawah sorot lampu jalan yang kekuningan, Kang Maman sedang sibuk mengikat terpal di atas bak truknya. Bak yang kemarin kosong saat berangkat dari Jakarta, kini sudah terisi penuh oleh berkarung-karung kubis, tomat, dan wortel segar dari Lembang yang siap dikirim kembali ke Ibukota.
"Kang Maman!" sapa Hanif, setengah berlari menghampiri pria berkaos oblong yang sedang menarik tali tambang itu.
Kang Maman menoleh, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang melingkar di leher. Senyum lebar khasnya langsung merekah.
"Eh, Jang Hanif! Udah bangun euy? Nyenyak tidurna di masjid?" tanya Kang Maman sambil mengikat simpul mati di besi bak truk.
"Nyenyak banget, Kang. Sampe mimpi dikejar Debt Collector juga lupa," canda Hanif, memaksakan senyum meski tubuhnya masih pegal-pegal. "Kang, saya mau pamit. Makasih banyak ya Kang, udah ngasih tumpangan gratis sampe Bandung, udah ngajarin saya banyak hal di jalan kemaren."
Hanif mengulurkan tangannya, menjabat tangan Kang Maman yang kasar, kapalan, dan berbau tanah basah—tangan seorang pria jujur yang bekerja keras menghidupi keluarganya tanpa perlu memoles citra di Instagram.
"Ah, biasa wae atuh, Jang. Namanya juga sasama musafir," Kang Maman menepuk bahu Hanif dengan kuat. "Sing lancar nya urusanna. Sing panggih jeung lanceukna (Semoga lancar urusannya. Semoga ketemu sama kakaknya). Inget pesen Akang kemaren di tol... ngahadepan keluarga nu keur ruksak mah, ulah pake emosi, tapi pake hate (menghadapi keluarga yang sedang rusak itu jangan pakai emosi, tapi pakai hati)."
Hanif mengangguk mantap. Matanya sedikit berkaca-kaca. "Pasti, Kang. Hati-hati di jalan balik ke Jakartanya."
Kang Maman melompat naik ke kursi kemudi, menyalakan mesin diesel truknya yang bergemuruh memecah udara pagi. Truk itu perlahan bergerak mundur, meninggalkan kepulan asap hitam tipis, lalu melaju pergi membawa sang "Filsuf Jalan Tol" kembali ke kerasnya Ibukota.
Hanif berdiri di pinggir jalan pasar yang becek, menatap kepergian truk itu hingga hilang di tikungan.
Sekarang, dia benar-benar sendirian di kota kelahirannya. Tanpa kendaraan, tanpa rencana yang jelas, dan dengan isi dompet yang sangat mengkhawatirkan.
"Wow. Estetik banget lo, Bos," suara Q memecah udara dingin.
Setan itu duduk bersila di atas tumpukan karung kentang, menggigil secara teatrikal sambil memeluk dirinya sendiri. Rantai emas di dadanya yang sudah putus sebagian itu berbunyi kling-kling pelan.
"Gue baru tau kalau setan terbuat dari api itu bisa kedinginan," Hanif bergumam sinis, merapatkan ransel laptop ke dadanya untuk mencari sedikit kehangatan.
"Gue kedinginan liat masa depan lo, Nif," balas Q, turun dari karung kentang dan melayang di sebelah Hanif. "Coba lo ngaca di genangan becek itu. Rambut lo lepek bau solar. Muka lo kusem kayak belum dicuci dari zaman Megalitikum. Baju lo bau kol busuk. Lo pulang kampung bukan kayak anak rantau sukses, lo lebih mirip buronan gembong curanmor yang baru kabur dari sel."
Hanif mengusap wajahnya yang kasar oleh debu jalanan. Q benar. Penampilannya sangat mengenaskan.
"Sekarang apa rencana lo, Pak Sutradara?" Q mulai menginterogasi, mengikuti langkah Hanif yang tertatih-tatih mencari jalan keluar dari pasar induk. "Lo mau langsung ke rumah sakit Al-Ihsan? Jenguk nyokap lo pake outfit gembel estetik gini? Bapak lo bisa stroke di tempat liat anak bungsunya berubah jadi gembel ibukota."
Langkah Hanif terhenti di pinggir jalan raya Soekarno-Hatta yang masih diselimuti kabut tipis. Adzan Subuh baru saja berkumandang dari masjid terdekat, menggema di antara gedung-gedung pabrik dan gudang.
"Gue nggak bisa ke rumah sakit sekarang," jawab Hanif, suaranya pelan tapi dipenuhi tekad baja. "Kalau gue ke sana sekarang, Bapak bakal nanya mana A’ Hafiz. Bapak bakal nanya kenapa gue begini. Gue belum punya jawaban buat nyembuhin patah hati Bapak."
Hanif menatap deretan lampu jalan yang memendarkan cahaya kuning temaram.
"Gue harus nemuin A’ Hafiz dulu. Gue harus seret dia ke rumah sakit. Ibu butuh liat anak emasnya sebelum... sebelum hal buruk terjadi. Dan Bapak butuh tau kebenaran soal siapa yang selama ini ngerusak keluarga kita."
Q bertepuk tangan pelan, sebuah tepukan sarkas khas iblis yang sedang menikmati drama.
"Gagasan yang sangat heroik, CEO Trotoar! Standing ovation buat lo!" seru Q. "Tapi mari kita bahas logistiknya. Kakak lo itu buronan Pinjol. Dia dikejar Debt Collector (DC) yang badannya segede pintu kulkas. Dia matiin HP. Dia kabur dari istrinya. Dia kabur dari kantor dinasnya. Bandung itu luas, Bos. Lo mau nyari dia pake apa? Pake telepati ikatan batin abang-adik? Saldo lo tinggal 400 rebu, lo sewa angkot seharian keliling Bandung aja nggak bakal nutup."
Hanif terdiam. Kepalanya yang pusing kekurangan glukosa dipaksa berputar ekstra keras.
Bagaimana cara menemukan seseorang yang sengaja menghilangkan jejak dari internet dan dari keluarganya? Orang awam mungkin akan lapor polisi, atau bertanya pada teman-teman terdekatnya.
Tapi Hanif bukan orang awam. Hanif adalah mantan PR Consultant yang selama bertahun-tahun mencari nafkah dengan cara melacak jejak digital influencer, memanipulasi algoritma, dan mencari celah dari setiap krisis. Dia tahu betul satu prinsip fundamental di era modern ini: Tidak ada manusia yang bisa benar-benar hilang selama dia masih butuh uang.
"Gue nggak butuh telepati," Hanif bergumam, matanya mulai menyipit, insting predator digitalnya bangkit dari tidur. "Gue butuh koneksi Wi-Fi, colokan listrik, dan kopi... eh, gue puasa. Gue butuh Wi-Fi sama colokan doang."
Pukul 06.30 WIB. Matahari mulai naik, perlahan mengusir embun dari aspal kota Bandung.
Hanif duduk di kursi plastik merah di teras sebuah minimarket 24 jam di kawasan Leuwipanjang. Ini adalah satu-satunya tempat "kantor" gratis yang buka sepagi ini. Dia meminta izin pada kasir untuk numpang duduk, dan kasir yang mengantuk itu hanya mengangguk malas melihat penampilan Hanif yang menyedihkan.
Laptop Lenovo tuanya yang sudah penuh goresan kini terbuka di atas meja plastik. Berbekal koneksi internet dari tethering hotspot HP-nya (yang kuotanya sisa 300 MB), Hanif memulai operasi perburuannya.
"Fase Kelima Startup Gembel: Open Source Intelligence (OSINT) alias Stalking Tingkat Dewa," Hanif merapalkan mantranya.
Q duduk bersila di atas layar laptop, menatap kursor yang bergerak liar. "Oke, Detektif Conan jalur UMR. Coba jelasin ke gue, gimana cara lo nemuin orang yang HP-nya mati dan ATM-nya kosong?"
Hanif mengetikkan nama lengkap kakaknya di mesin pencarian, lalu masuk ke berbagai platform media sosial.
"Orang kalau lagi panik dan kepepet utang, logika pertamanya adalah liquidate assets (mencairkan aset jadi uang tunai)," Hanif menjelaskan sambil menggulir layar dengan cepat.
"A’ Hafiz itu PNS. Gaji dan tunjangannya udah dipotong habis sama sistem perbankan buat bayar KPR rumah istrinya. Duit di ATM-nya mungkin sisa seiprit. Dia nggak bisa pinjol lagi karena datanya udah masuk daftar hitam (blacklist OJK) gara-gara macet puluhan juta."