Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #21

PERTEMUAN DI LORONG HCU

Pintu triplek tipis itu berderit pelan saat Hafiz membukanya sedikit lebih lebar, tangannya masih gemetar memegang kenop pintu.

Di ambang pintu, berdirilah Muhammad Hanif. Sang adik bungsu yang selama bertahun-tahun selalu berada di bawah bayang-bayangnya. Namun pagi ini, tidak ada lagi Hanif si budak agensi yang kikuk. Yang berdiri di sana adalah seorang pria yang telah dimatangkan oleh kerasnya aspal Jakarta, kelaparan, dan pengkhianatan korporat. Wajah Hanif kusam berdebu, kemejanya lecek dan berbau keringat jalanan, ransel butut menggantung di bahunya. Tapi sorot matanya setajam silet bedah.

"H-Hanif... k-kamu ngapain di sini?" suara Hafiz pecah, matanya bergerak liar ke kiri dan kanan, memastikan adiknya tidak datang bersama komplotan Debt Collector. "Koh Abun... mana Koh Abun?"

Hanif tidak menjawab. Dia mendesak maju, menggunakan bahunya untuk menabrak dada kakaknya hingga pintu itu terbuka lebar. Hafiz terhuyung mundur ke dalam kamar.

Hanif melangkah masuk, lalu menutup pintu kosan itu dengan bantingan keras dari belakang. Brak! Dia mengunci slot pintunya.

Udara di dalam kamar kos berukuran 3x3 meter itu seketika menampar hidung Hanif. Pengap. Bau keringat asam bercampur dengan aroma mie instan basi, asap rokok yang mengendap di bantal, dan bau anyir keputusasaan. Kamar itu berantakan luar biasa. Baju-baju kotor berserakan di lantai. Bungkus rokok kosong menumpuk di dekat asbak kaleng biskuit. Kipas angin tua berdengung putus asa memutar udara panas.

Di tengah kekacauan itu, Hafiz berdiri gemetar. "Si Anak Emas" keluarga yang selalu tampil necis dengan kemeja slim-fit dan parfum mahal, kini terlihat seperti gelandangan sungguhan. Jauh lebih parah dari Hanif. Kantung matanya menghitam legam, pipinya tirus, rambutnya acak-acakan penuh minyak, dan dia hanya mengenakan kaos kutang lusuh serta celana training kebesaran.

"Mana Koh Abun, Nif?!" panik Hafiz, suaranya naik setengah oktaf. "Aa... Aa butuh uangnya hari ini juga! Aa harus jual mobil itu, Nif! Kalau nggak, mereka bakal bunuh Aa!"

Hanif menatap kakaknya dengan tatapan muak yang tak bisa lagi disembunyikan.

Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan HP-nya, membuka aplikasi WhatsApp, dan menunjukkan layar room chat bertuliskan profil "Koh Abun Motor" tepat ke depan wajah Hafiz.

"Koh Abun nggak pernah ada, A'," desis Hanif dingin. "Koh Abun itu gue. Makelar motor dari Condet yang ngebeli Vario kesayangan gue buat nutupin utang sialan lo kemaren."

Mata Hafiz terbelalak menatap layar HP itu. Realita menghantamnya seperti palu godam. Dia baru saja ditipu, dilacak, dan disudutkan oleh adiknya sendiri menggunakan teknik penyamaran digital. Harapannya untuk mendapatkan 35 juta uang tunai hari ini hancur lebur menjadi debu.

Hafiz mundur beberapa langkah hingga menabrak tepi kasur busa yang tergeletak di lantai. Kakinya lemas. Dia jatuh terduduk, meremas rambutnya yang berminyak dengan kedua tangan.

"Hancur... hancur semuanya..." rintih Hafiz, air mata keputusasaan mulai menetes. "Aa udah nggak punya jalan keluar lagi, Nif. Utang pokok Aa sisa dua puluh delapan juta. Aa dipecat... Mbak Rina minta cerai... Aa mending mati aja, Nif. Aa bener-bener mau mati aja."

Di sudut langit-langit kamar yang berjamur itu, Q meringkuk tak bersuara. Setan yang biasanya cerewet dengan komentar sarkasnya kini membeku, merinding melihat aura mematikan yang memancar dari Hanif. Untuk pertama kalinya, sang iblis sadar bahwa amarah murni seorang manusia yang dikhianati jauh lebih buas dan mengerikan daripada godaan neraka mana pun.

Hanif melempar ranselnya ke lantai dengan kasar. Dia melangkah maju, mencengkeram kerah kaos kutang kakaknya dengan kedua tangan, lalu menarik Hafiz berdiri secara paksa. Tenaga Hanif yang habis karena puasa dan jalan kaki entah bagaimana digantikan oleh letupan adrenalin.

"LO MAU MATI?!" bentak Hanif tepat di depan wajah kakaknya. Suaranya menggelegar di ruang sempit itu. "Lo mau lari lagi?! Dengerin gue baik-baik, Bangsat!"

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Hanif menggunakan kata makian terkasar kepada kakak tertuanya. Sesuatu yang dulu haram hukumnya di keluarga mereka.

Hafiz tersentak, matanya melebar ketakutan melihat kilat amarah di mata Hanif. Dia tidak pernah melihat adiknya sebuas ini.

"Lo pikir lo doang yang hancur?!" teriak Hanif, mencengkeram kerah kakaknya makin kuat hingga napas Hafiz sedikit tercekat.

"Gue dipecat dari kerjaan gue! Gue diusir dari kosan gue di Jakarta karena nunggak! Gue jual Vario gue, gue jual PC gue, gue kirim semua uang THR gue cuma buat bayarin utang lintah darat lo! Gue tidur di jalanan, A'! Gue jadi gembel, numpang di bak truk sayur berjam-jam, kelaparan dari Jakarta ke mari, cuma buat nyari lo!"

Air mata kemarahan mengalir deras dari mata Hanif, membasahi wajah kusamnya.

"Gue ngorbanin nurani gue, gue ngefitnah anak orang yang bapaknya lagi cuci darah, cuma biar lo nggak dipenjara sama Debt Collector! Dan lo... lo dengan gampangnya bilang mau mati?!"

Hafiz terisak keras, tubuhnya bergetar hebat di bawah cengkeraman adiknya. Dia tidak tahu menahu soal pengorbanan Hanif. Dia pikir adiknya mendapatkan uang 30 juta kemarin dengan mudah dari bonus kantor. Dia tidak tahu bahwa adiknya baru saja turun dari neraka demi dirinya.

"Maafin Aa, Nif... Aa pengecut... Aa nggak tau kamu sampe kayak gitu..." tangis Hafiz tersedu-sedu, air matanya bercampur dengan ingus, sama sekali tidak ada lagi wibawa seorang kakak. Dia terlihat sangat menyedihkan. Pria dewasa yang cangkangnya telah diremukkan oleh realita.

Hanif mendorong tubuh kakaknya dengan kasar hingga Hafiz terjerembap kembali ke atas kasur.

"Air mata lo itu nggak ada harganya lagi buat gue," ucap Hanif dingin, menyeka air matanya sendiri. Dadanya naik turun dengan cepat. "Dan lo nggak berhak mati, A'. Lo nggak punya hak buat mati, sebelum lo sujud cium kaki Ibu."

Mendengar kata 'Ibu', tangisan Hafiz tiba-tiba mereda. Dia mendongak menatap Hanif, matanya memancarkan kebingungan dan ketakutan yang baru.

"I-ibu? Ibu kenapa, Nif?"

Hanif menatap kakaknya dengan tatapan kosong yang mematikan.

"Ibu koma. Masuk HCU rumah sakit Al-Ihsan. Pembuluh darah otaknya pecah," Hanif memenggal setiap kalimatnya seperti algojo yang sedang membacakan vonis mati. "Ibu syok waktu Debt Collector dateng ke rumah, dan Mbak Rina ngamuk ke Bapak nyariin lo. Selama di ruang gawat darurat, yang dipanggil-panggil dari mulut Ibu cuma nama lo. Anak kesayangannya yang ternyata penipu."

Mata Hafiz membelalak ngeri. Wajahnya yang pucat mendadak menjadi abu-abu pias. Mulutnya terbuka lebar, mencoba menghirup oksigen, tapi seolah ada batu raksasa yang menyumbat tenggorokannya.

"Ibu... Ibu koma... gara-gara Aa...?" bisik Hafiz dengan suara yang nyaris hilang, seakan jiwanya baru saja ditarik paksa dari raganya.

Lihat selengkapnya