Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #22

AUDIT SANG RATU FLEXING

Dua hari telah berlalu sejak pertemuan emosional di lorong High Care Unit RSUD Al-Ihsan.

Kondisi Ibu mulai menunjukkan sedikit kemajuan. Meski sebagian tubuh sebelah kirinya masih kaku akibat pendarahan otak, mata wanita renta itu akhirnya terbuka. Dan hal pertama yang Ibu lihat saat sadar adalah wajah Hafiz, anak sulungnya, yang sedang berlutut di samping ranjang sambil menangis membasuh kakinya dengan air mata penyesalan.

Hafiz tidak lagi kabur. Pria itu telah menjelma menjadi cangkang kosong yang kehilangan seluruh kesombongannya. Dia tidak berani menatap mata ayahnya, apalagi Hanif. Pekerjaannya sekarang hanyalah menjaga Ibu 24 jam penuh, memandikan Bapak di toilet rumah sakit, dan makan dari sisa jatah makanan pasien. Sang Anak Emas sedang menjalani masa hukumannya di bumi.

Sementara itu, Hanif mengambil alih peran sebagai Kepala Keluarga Darurat.

Di hari ke-22 Ramadan ini, Hanif memiliki satu misi pembersihan terakhir. Lintah darat Pinjol memang sudah dilunasi bunganya, namun sisa utang pokok 28 juta masih menggantung. Ditambah biaya rumah sakit Ibu yang terus membengkak menembus angka belasan juta.

Solusinya hanya satu: Honda HR-V putih yang terparkir di kosan kumuh Cimahi.

Pagi itu, Hanif membawa kunci kontak mobil tersebut di sakunya. Dia tidak akan membiarkan Hafiz menjualnya ke makelar pasar gelap dengan harga rongsokan. Hanif akan menjual mobil itu ke dealer resmi kenalan teman SMA-nya dengan harga yang pantas untuk menutup semua lubang finansial keluarga.

Tapi sebelum mobil itu dijual, Hanif harus membereskan satu "kanker" yang menjadi akar dari semua kebangkrutan ini. Seseorang yang masih hidup dalam gelembung ilusinya dan terus menyalahkan orang lain.

Kakak iparnya. Teh Rina.

Pukul 09.30 WIB. Hanif berdiri di depan sebuah rumah berdesain Scandinavian Minimalist di dalam perumahan Cluster Pesona Emerald, kawasan Buah Batu.

Perumahan ini adalah tipikal hunian kelas menengah ngehe idaman kaum urban. Gate masuknya dijaga satpam 24 jam dengan access card, jalanannya di- paving block rapi, dan faset rumahnya didominasi warna putih, abu-abu, dan aksen kayu estetik.

"Wah, gila. Ini mah vibes-nya Cipete Core banget, Bos," Q melayang di atas pagar tembok pendek bernuansa batu alam, menatap rumah dua lantai di depannya dengan siulan kagum.

Setan itu melipat tangan di dadanya yang masih berlubang akibat rantai putus. "Liat tuh pintunya pake Smart Lock Fingerprint. Liat tuh pot tanaman Monstera Janda Bolong di teras yang harganya bisa buat ngasih makan anak yatim sekampung. Kakak ipar lo emang taste-nya mahal. Sayang aja bayarnya pake ginjal suami."

Hanif hanya diam. Kemeja flanelnya sudah dicuci di laundry kiloan dekat rumah sakit kemarin, jadi dia terlihat sedikit lebih manusiawi hari ini, meski wajahnya tetap setajam pisau lipat.

Dia menekan bel nirkabel di samping pintu. Ting-tong. Bunyinya sangat elegan, bukan bunyi bel tet-tot murahan.

Semenit kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam. Pintu kayu jati solid itu terbuka.

Teh Rina berdiri di ambang pintu. Penampilannya pagi itu adalah definisi dari "Depresi yang Di- styling". Dia memakai piyama sutra asli bermotif floral warna navy. Rambutnya dicepol berantakan yang sengaja dibikin gaya messy bun estetik. Matanya sembab, tapi alisnya tetap disulam rapi. Bau reed diffuser beraroma Lavender & Vanilla langsung menguar dari dalam ruang tamu, menabrak hidung Hanif.

Melihat siapa yang datang, raut wajah Rina yang tadinya sayu langsung berubah mengeras dan sinis.

"Ngapain kamu ke sini, Nif?" tembak Rina tanpa basa-basi. Tidak ada kata 'silakan masuk' atau 'apa kabar'. Nada suaranya penuh dengan arogansi khas anak mantan pejabat yang merasa dikhianati oleh rakyat jelata.

"Pagi, Teh Rina," sapa Hanif datar, mengabaikan permusuhan di udara. "Boleh saya masuk? Ada urusan administrasi keluarga yang harus kita selesain."

"Saya nggak mau ada urusan apa-apa lagi sama keluarga penipu kayak kalian!" suara Rina naik satu oktaf, matanya melotot. "Mana Hafiz?! Suruh kakak kamu yang pengecut itu ke sini! Enak aja dia kabur ninggalin Debt Collector ngetok-ngetok rumah ini dua hari lalu! Bikin malu saya di depan tetangga satu cluster tau nggak?!"

"A’ Hafiz ada di rumah sakit. Jagain Ibu yang koma," potong Hanif dingin. Suaranya tidak keras, tapi mengandung gravitasi yang membuat Rina mendadak menutup mulutnya.

"Kalau Teteh masih punya sedikit aja rasa empati sebagai menantu, Teteh minimal pura-pura nanya kabar Ibu kek. Tapi ya udahlah, bukan itu tujuan saya ke sini."

Tanpa menunggu diizinkan, Hanif mendesak maju, melewati Rina yang mematung, dan melangkah masuk ke dalam ruang tamu rumah itu.

Interior rumah itu persis seperti yang sering dipamerkan Rina di Instagram Story-nya. Sofa velvet warna hijau zamrud, Smart TV 65 inchi yang menempel di dinding berpanel kayu HPL, meja marmer putih dengan vas bunga kering, dan sebuah kitchen set berpulau ( island ) di ujung ruangan. Semuanya terlihat seperti katalog majalah desain interior bergaya Kinfolk.

Tapi bagi Hanif yang mantan anak agensi, ruangan ini tidak terlihat seperti rumah. Ini terlihat seperti studio syuting ( set ) yang dibangun khusus untuk konten. Kosong. Tidak ada jiwanya.

"Heh! Kamu sopan dikit ya masuk rumah orang!" Rina berbalik, membanting pintu depan hingga tertutup, lalu berjalan menyusul Hanif ke ruang tamu. Wajah wanita itu merah padam menahan marah. "Kamu mau ngapain ke mari?! Bapak kamu nyuruh kamu buat minta maaf?! Minta maaf sana sama bapak saya! Hafiz udah ngerusak nama baik keluarga besar saya!"

Hanif memutar tubuhnya perlahan, berhadapan langsung dengan Rina. Dia berdiri di tengah karpet bulu IKEA yang tebal, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan yang sudah agak kedodoran di pinggangnya karena berat badannya turun drastis.

"Saya ke sini bukan buat minta maaf, Teh," Hanif memulai persidangannya. Suaranya setenang broadcaster radio tengah malam, namun menusuk seperti pedang samurai. "Saya ke sini buat ngambil BPKB sama kunci serep mobil HR-V. Mas Hafiz bilang dia nyimpen dokumennya di laci kamar utama."

Rina mengernyitkan dahi. "Kunci serep? BPKB? Buat apa?!"

"Buat saya jual hari ini juga," jawab Hanif tanpa keraguan sedikit pun. "Mobilnya udah saya amanin dari tempat persembunyian A’ Hafiz. Hari ini bakal masuk ke dealer bekas. Duitnya buat nutup sisa utang pokok Pinjol 28 juta, dan sisanya buat bayar tagihan HCU Ibu."

Mendengar kata "dijual", mata Rina membelalak sempurna. Rahangnya jatuh. Ilusi kebanggaan kelas menengahnya baru saja disentil dengan sangat keras.

"DIJUAL?!" jerit Rina histeris, suaranya melengking merobek keheningan cluster mewah itu. Dia maju selangkah, menunjuk wajah Hanif. "Kamu gila ya?! Itu mobil keluarga! Itu mobil yang dipake buat nganter anak saya ke sekolah internasional tiap pagi! Kamu mau anak saya naik angkot?! Harga diri saya ditaruh di mana di depan ibu-ibu POMG (Persatuan Orang Tua Murid) sekolah, hah?!"

Lihat selengkapnya