Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #23

MENJUAL BERHALA 1500CC

Ada sebuah ironi yang sangat puitis melihat bagaimana sebuah benda mati bisa mendikte kebahagiaan manusia.

Dua tahun yang lalu, saat Honda HR-V putih itu pertama kali tiba di garasi rumah kontrakan Mas Hafiz, benda itu diperlakukan layaknya pusaka suci turun-temurun. Kaca depannya dipasang kaca film termahal agar orang dari luar tidak bisa melihat ke dalam, tapi anehnya, kaca jendelanya selalu diturunkan separuh saat Hafiz melewati kerumunan tetangga agar semua orang tahu siapa yang menyetir. Bodinya di-coating nano keramik hingga lalat pun akan terpeleset jika hinggap di atas kap mesinnya.

Mobil itu adalah mahkota kebesaran Muhammad Hafiz. Benda bermesin 1500cc yang membuktikan kepada dunia—dan terutama kepada keluarga istrinya—bahwa dia adalah PNS muda yang sukses dan mapan.

Tapi siang ini, di bawah terik matahari Jalan Soekarno-Hatta Bandung yang menyengat, "berhala" beroda empat itu sedang dikuliti harga dirinya di halaman dealer mobil bekas berukuran besar.

"Gila lo, Nif. Lama nggak ada kabar, tiba-tiba nongol bawa ginian minta dicairin hari ini juga. Muka lo juga kenapa kusem amat kayak belum mandi tiga hari?"

Dimas, teman sekelas Hanif waktu SMA yang kini menjadi Purchasing Manager di dealer "AutoTrust" itu, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memeriksa kap mesin HR-V tersebut dengan senter kecil. Dimas mengenakan kemeja seragam dealer yang rapi, sangat kontras dengan kemeja flanel Hanif yang lecek.

"Lagi banyak pikiran, Dim," jawab Hanif bersandar di tiang kanopi dealer. Keringat menetes dari pelipisnya. "Gue butuh tolongan lo banget. Mobil ini atas nama kakak gue. Ini surat kuasa dari dia, fotokopi KTP, sama mutasi cicilan leasing-nya. Masih ada sisa cicilan tiga tahun lagi."

Dimas menutup kap mesin. Dia masuk ke dalam kabin, mengecek odometer, dan memastikan tidak ada bekas banjir atau tabrakan. Sebagai teman, Dimas memang bersedia membantu, tapi sebagai profesional, dia tetap harus menghitung angka dengan presisi.

Di atas atap mobil HR-V itu, Q duduk bersila. Setan itu menggunakan kacamata hitam gaib, menirukan gaya inspektur kendaraan.

"Sedih ya, Nif, ngeliat dewa yang dulu lo sembah-sembah sekarang lagi diinjek-injek harganya," Q mengoceh, menepuk-nepuk atap mobil itu.

"Dulu, kakak lo rela nahan lapar demi bayar asuransi All-Risk ni mobil. Dia rela ngutang Pinjol berbunga gila demi flexing liburan pake mobil ini. Dan sekarang? Dewanya lagi dinilai harganya berdasarkan seberapa tipis kampas remnya. Hahaha! Kapitalisme emang pemecah berhala paling efisien di abad 21."

Hanif mengabaikan setan itu. Dia fokus menatap Dimas yang kini sedang menekan-nekan kalkulator di layar HP-nya.

"Gini, Nif," Dimas bersandar di pintu mobil, menatap temannya dengan raut wajah bisnis. "Kondisi mobil kakak lo emang mulus. Pajak hidup. Harga pasarannya sekarang kalau jual cash ke pemakai itu sekitar 245 juta. Tapi karena lo jual ke dealer dan butuh proses buyout (pelunasan dipercepat) ke pihak leasing hari ini juga, gue berani angkat di angka 235 juta. Itu udah harga temen banget. Kalau ke makelar pinggir jalan, lo paling ditawar 210 juta."

Hanif mengangguk. Dia tahu Dimas tidak berbohong.

"Oke, 235 juta," sahut Hanif. "Sisa utang pokok di leasing kakak gue itu sekitar 180 juta. Berarti kembalian bersih (net equity) yang bisa gue pegang berapa, Dim?"

Dimas kembali mengetik di HP-nya. "Dikurangi biaya administrasi pelunasan dipercepat dan penalti leasing, anggaplah sisa pelunasan 183 juta. Berarti, dealer gue bakal transfer pelunasan 183 juta langsung ke bank, dan sisa uang tunainya... Rp 52.000.000 bakal gue transfer ke rekening lo sekarang juga. Deal?"

Lima puluh dua juta rupiah. Angka itu sudah lebih dari cukup untuk menebus semua kekacauan ini.

"Deal, Dim. Pake rekening gue aja sesuai surat kuasa," Hanif menjabat tangan Dimas erat-erat. "Gue ngutang budi banget sama lo. Nanti kalau urusan keluarga gue kelar, gue traktir lo ngopi."

"Santai aja, Bro. Kayak sama siapa aja," Dimas menepuk bahu Hanif. "Gue urus administrasinya ke dalem bentar. Lo tunggu di ruang tunggu yang ada AC-nya gih."

Setengah jam kemudian, proses administrasi dan serah terima kendaraan selesai. HP Hanif bergetar. Notifikasi M-Banking masuk. Saldo yang tadinya hanya Rp 400.000, kini meledak dengan nominal Rp 52.400.000.

Hanif tidak membuang waktu satu detik pun untuk bersuka ria dengan uang itu.

Dia keluar dari ruang tunggu dealer, mencari tempat sepi di dekat parkiran. Dia langsung membuka aplikasi "Pinjaman Syariah Berkah" (Pinjol lintah darat yang menyamar) di HP-nya. Aplikasi yang telah meneror keluarganya, membuat Ibunya koma, dan meruntuhkan mental kakaknya.

Dia masuk ke menu Pelunasan Penuh ( Early Repayment ). Total tagihan pokok: Rp 28.500.000.

Hanif memasukkan PIN-nya. Processing... Layar HP itu memunculkan animasi centang hijau besar yang sangat norak.

[STATUS: LUNAS. Terima kasih telah menggunakan layanan kami.]

Hanif memencet tombol Screenshot. Mengabadikan momen kematian sang monster digital.

Setelah itu, dia mentransfer Rp 15.000.000 ke rekening pendaftaran RSUD Al-Ihsan untuk menutupi seluruh tagihan HCU Ibu selama beberapa hari ke depan, beserta deposit obat-obatannya. Terakhir, dia mentransfer Rp 8.000.000 ke rekening Bapak, sebagai dana operasional darurat dan persiapan Lebaran, agar Bapak tidak perlu pusing memikirkan biaya makan sehari-hari.

Sisa saldonya kini Rp 900.000. Kembali ke angka UMR yang pas-pasan, tapi Hanif tidak peduli.

Dalam waktu kurang dari lima menit, selisih uang dari penjualan "Sang Berhala" itu telah didistribusikan ke pos-pos penyelamatan nyawa dan kewarasan keluarganya.

Hanif berjalan kaki meninggalkan dealer mobil bekas yang megah di Jalan Soekarno-Hatta itu. Tanpa motor, tanpa mobil, dan dia harus menumpang angkot jurusan Baleendah. Tapi langkahnya... langkahnya adalah langkah seorang pria yang baru saja memerdekakan negaranya dari penjajahan. Sangat ringan. Sangat merdeka.

Matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat jingga di langit Kabupaten Bandung. Angin sejuk berhembus melintasi kompleks rumah sakit yang luas itu.

Hanif berjalan menyusuri selasar yang menghubungkan gedung perawatan dengan masjid rumah sakit. Matanya mencari-cari sosok kakaknya.

Sejak insiden di lorong HCU tiga hari lalu, Hafiz tidak berani pulang ke Cimahi, tidak berani pulang ke rumah Bapak, apalagi ke rumah istrinya. Pria itu hidup seperti pesakitan di rumah sakit. Dia tidur di mushola kecil dekat bangsal, mandi di toilet umum pasien, dan menghabiskan sisa waktunya duduk di kursi tunggu, melamun menatap lantai.

Hanif menemukan Hafiz sedang duduk sendirian di undakan tangga teras masjid rumah sakit.

Hafiz mengenakan kaos oblong partai berwarna putih yang sudah menguning di bagian ketiaknya (entah dapat dari mana), sarung kotak-kotak kusam, dan sepasang sandal jepit karet. Di tangannya terdapat sebuah sikat lantai dan botol pembersih porselen. Rupanya, untuk membunuh waktu dan rasa bersalahnya, mantan "PNS Idaman" itu menawarkan diri membantu marbot masjid menyikat tempat wudhu.

Lihat selengkapnya