Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #24

BANGSAL KELAS TIGA

Perpindahan pasien dari ruang HCU ( High Care Unit ) menuju ruang perawatan biasa adalah sebuah proses birokrasi yang memakan waktu dan menguras kesabaran. Namun bagi keluarga pasien, itu adalah berita paling membahagiakan di dunia, karena artinya sang pasien telah lolos dari cengkeraman maut.

Pagi itu, di hari ke-24 Ramadan, dokter spesialis saraf akhirnya memberikan lampu hijau untuk memindahkan Ibu. Pendarahan di otaknya telah berhenti, tekanan darahnya stabil, dan kesadarannya mulai pulih perlahan, meski separuh tubuh sebelah kirinya masih kaku akibat serangan stroke ringan.

Hanif berdiri di depan meja bagian administrasi rawat inap. Di sebelahnya, Bapak berdiri dengan wajah tegang, memegang map berisi berkas-berkas rekam medis.

"Untuk ruangan perawatannya, Bapak mau ambil kelas berapa?" tanya petugas administrasi berseragam hijau, tangannya bersiap mengetik di keyboard komputer. "Kebetulan ruang VIP Bunga Mawar kosong satu, Kelas 1 kosong, dan Kelas 3 di Bangsal Melati juga ada bed (tempat tidur) kosong di dekat jendela."

Bapak berdeham, merapikan kerah kemeja batiknya. Sisa-sisa insting kebanggaan masa lalunya otomatis bekerja. Di keluarga mereka, pantang hukumnya terlihat susah di depan orang lain, apalagi jika menyangkut fasilitas kesehatan.

"VIP Bunga Mawar fasilitasnya apa saja, Sus? Kalau nggak salah ada sofa buat penunggu sama TV kabelnya ya?" tanya Bapak, nadanya diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti pensiunan yang masih memiliki banyak simpanan.

Bapak kemudian menoleh ke arah Hanif dan berbisik pelan, "Nif, kita ambil VIP aja ya buat Ibumu. Kasihan Ibumu kalau di tempat rame. Nanti kalau keluarga besan (keluarga Rina) atau temen-temen Bapak nengok ke mari, masa Ibumu dirawat di Kelas 3? Malu kita, Nif."

Hanif menghela napas panjang. Dia menatap ayahnya dengan pandangan lelah namun tegas. Penyakit kronis keluarga ini ternyata belum benar-benar sembuh. Gengsi itu masih mengakar kuat di kepala Bapak, sebuah ilusi yang menolak untuk mati meskipun rumah mereka sudah nyaris rata dengan tanah.

"Pak," Hanif meletakkan tangannya di bahu ayahnya. "Sisa uang dari jual mobil Mas Hafiz kemaren udah Hanif transfer semua buat nutup sisa Pinjol, bayar deposit obat HCU, sama pegangan Bapak di rumah. Saldo Hanif di ATM sekarang sisa delapan ratus lima puluh ribu."

Hanif menunjuk layar monitor petugas administrasi.

"Biaya VIP itu tujuh ratus ribu semalam, di luar obat. Kalau Ibu dirawat seminggu, dari mana kita bayarnya? Besan Bapak yang mantan pejabat itu nggak bakal peduli dan nggak bakal bayarin sepeser pun. Temen-temen Bapak yang dateng nengok cuma bakal bawa parsel buah seharga seratus ribu, terus pulang ninggalin kita sama tagihan rumah sakit puluhan juta."

Bapak terdiam. Wajah keriputnya memerah, tertampar oleh rasionalitas yang sangat brutal dari anak bungsunya.

Hanif menoleh ke petugas administrasi dan tersenyum ramah. "Mbak, kami ambil Bangsal Melati Kelas 3 aja ya. Tolong di-booking yang bed deket jendela biar sirkulasi udaranya bagus buat Ibu saya."

Petugas itu mengangguk dan mulai memproses data. Bapak hanya bisa menundukkan kepala, memandangi ujung sandal jepitnya.

"Gila lo, Nif. Brutal banget eksekusi lo," Q melayang di atas meja pendaftaran, bersiul mengapresiasi tindakan Hanif. "Lo literally baru aja menyembelih ego bapak lo sendiri di tempat umum. Mantap. Turun kasta dari VIP ke Bangsal Rakyat. Mari kita nikmati aroma keringat dan rengekan bayi tetangga!"

Tiga puluh menit kemudian, ranjang Ibu didorong oleh dua perawat memasuki Bangsal Melati.

Ini adalah bangsal kelas tiga yang khas di rumah sakit pemerintah daerah. Ruangannya luas memanjang, berisi enam tempat tidur pasien yang hanya dipisahkan oleh tirai kain berwarna hijau pudar. Kipas angin besar menempel di dinding, berputar malas membelah udara yang pengap oleh bau karbol, minyak kayu putih, dan aroma makanan sisa dari rantang-rantang yang dibawa keluarga penunggu.

Di bawah setiap tempat tidur, terlihat keluarga pasien sedang duduk lesehan beralaskan tikar lipat atau kardus bekas. Ada yang sedang menyuapi pasien, ada yang tidur mendengkur, dan ada ibu-ibu yang asyik mengobrol sambil memotong kuku.

Bapak terlihat sangat canggung dan tidak nyaman memasuki ruangan itu. Ini adalah kali pertama seumur hidupnya dia "turun gunung" ke fasilitas kesehatan kelas bawah. Hafiz, yang membantu mendorong tiang infus Ibu dari belakang, juga terus menundukkan kepalanya dalam-dalam, topi kusamnya ditarik hingga menutupi alis.

"Sini, Pak. Di ujung deket jendela," Hanif mengarahkan rombongan kecil itu ke spot terbaik yang sudah dia klaim tadi.

Setelah perawat memindahkan Ibu dan memasang monitor standar, Hanif langsung mengeluarkan tikar plastik murahan yang tadi dia beli di minimarket depan rumah sakit seharga tiga puluh ribu rupiah. Dia menggelarnya tepat di kolong ranjang Ibu, membentang hingga ke samping lemari kecil.

"Udah, duduk Pak, A'. Nggak usah berdiri terus kayak Security bank," tegur Hanif, melepas sepatunya dan langsung duduk bersila di atas tikar.

Bapak dan Hafiz perlahan ikut duduk lesehan. Pemandangan tiga pria dewasa—yang biasanya sibuk dengan arogansi dan jarak di rumah mereka yang rapi di Bandung—kini berdesakan duduk di atas satu tikar sempit di bangsal rumah sakit, terlihat sangat menyedihkan namun di saat yang sama, sangat intim.

Hanif melihat Ibu yang berbaring di atas ranjang. Mata wanita itu masih tertutup, namun napasnya sudah jauh lebih teratur. Wajahnya yang damai membuat dada Hanif terasa sedikit lebih ringan.

"Bapak malu ya di sini?" tanya Hanif pelan, menatap ayahnya yang sedang memijat kaki Ibu.

Bapak menoleh, tersenyum getir. "Bohong kalau Bapak bilang nggak malu, Nif. Seumur hidup, Bapak kerja keras supaya keluarga kita nggak pernah ngerasain tidur ngampar di bangsal kayak gini."

"Ini bukan soal miskin atau kaya, Pak," Hanif menyandarkan punggungnya ke dinding keramik yang dingin. "Di ruang VIP yang mewah itu, pasien cuma sendirian. Nggak ada yang nemenin kecuali perawat yang dateng tiga kali sehari. Sepi. Dingin."

Hanif menunjuk ke sekeliling bangsal dengan dagunya. Di ranjang seberang, seorang bapak tua yang sedang sakit asma tampak tertawa pelan karena digoda oleh cucunya yang masih balita. Di ranjang sebelahnya lagi, dua ibu-ibu penunggu pasien sedang bertukar lauk pauk buka puasa dari rantang mereka.

"Di sini... di bangsal kumuh ini, manusianya masih pada hidup, Pak," lanjut Hanif, menggunakan filosofi jalanan yang dia pelajari dari bapak pemulung di Masjid Cut Meutia. "Orang-orang di sini nggak punya uang buat nyewa ruang privasi, jadi mereka ngebagi penderitaan mereka sama orang lain. Mereka saling nguatin. Ibu bakal lebih cepet sembuh di sini, Pak, karena dia dikelilingi sama kehidupan, bukan kesunyian."

Mendengar penjelasan itu, Bapak tertegun. Dia memandangi sekeliling ruangan dengan kacamata yang baru. Kesombongan yang sedari tadi menyumbat lehernya perlahan menguap. Bapak mengangguk pelan, air mata kembali menggenang di sudut mata tuanya.

"Kamu belajar dari mana bijaksana begini, Nif?" suara Bapak bergetar. "Padahal dulu... Bapak selalu mikir kamu anak yang paling nggak bisa diandelin."

"Dari jalanan, Pak," jawab Hanif singkat. Sebuah senyum pedih terukir di wajahnya. "Dan dari ngeliat hancurnya orang-orang yang terlalu sibuk keliatan sempurna."

Kalimat terakhir Hanif itu seakan menusuk jantung Hafiz yang duduk meringkuk di sudut tikar. Kakaknya itu semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di antara lututnya. Bahu Hafiz mulai bergetar pelan, menahan isak tangis yang kembali datang.

Lihat selengkapnya