Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #25

SURAT UNTUK MALAIKAT

Dua hari berlalu sejak peristiwa tangisan massal di bangsal Kelas Tiga itu.

Hari ini adalah hari ke-26 Ramadan. Ibu sudah dipindahkan dari bangsal pengawasan ke ruang perawatan biasa. Separuh wajahnya masih kaku, bicaranya masih sedikit cadel, tapi nafsu makannya mulai membaik. Bapak nyaris tidak pernah meninggalkan sisi ranjang Ibu, membacakan selawat sambil menyuapi bubur rumah sakit yang rasanya hambar seperti kardus basah.

Sementara itu, Hafiz telah menjelma menjadi perawat pribadi kelas VVIP untuk ibunya.

Mantan PNS kebanggaan yang dulu gengsi menyentuh kain pel itu, kini dengan cekatan memandikan ibunya menggunakan waslap, mengganti pispot tanpa rasa jijik sedikit pun, dan memijat kaki ibunya yang kaku setiap dua jam sekali. Hafiz menemukan kembali fungsi tangannya, bukan untuk memegang setir mobil HR-V, melainkan untuk melayani kunci surganya.

Di sisi lain, Hanif duduk bersila di salah satu kursi beton di taman kantin rumah sakit.

Kantin malam itu cukup sepi. Hanya ada beberapa keluarga pasien yang sedang membeli kopi saset atau mie instan seduh untuk mengganjal perut menjelang berbuka nanti.

Hanif menatap layar smartphone-nya. Kuota datanya tersisa 150 MB. Saldo di M-Banking-nya menetap di angka Rp 850.000. Dia adalah definisi nyata dari kemiskinan urban. Dia tidak punya pekerjaan untuk kembali ke Jakarta sehabis Lebaran nanti. Kosannya pasti sudah diisi oleh mahasiswa Depok seperti kata Ibu Marni. Motor Vario-nya sudah jadi milik orang lain.

Tapi anehnya, malam ini, Hanif merasa sangat kaya. Sangat merdeka.

Tidak ada lagi bayang-bayang Pak Bram yang mengawasinya. Tidak ada instruksi fitnah dari Mbak Sarah. Kepalanya kosong dari target KPI ( Key Performance Indicator ) dan timeline buzzer.

"Tampang lo sekarang literally kayak orang gila yang baru keluar dari RSJ, Nif,"

Q muncul. Setan itu tidak melayang turun dari langit atau muncul dari balik bayangan. Dia berjalan gontai, menyeret kakinya di atas paving block taman kantin, lalu duduk di sebelah Hanif dengan susah payah.

Penampilan Q sangat menyedihkan. Tanpa satupun rantai emas yang tersisa di dadanya, tubuh astral Iblis itu mengecil. Jika dulu dia terlihat seukuran Hanif dengan aura yang mendominasi, kini Q hanya terlihat sebesar anak SMP yang kurang gizi. Baju gaibnya robek-robek parah, dan pendaran api di matanya nyaris padam, hanya menyisakan bara merah yang redup.

Hanif menoleh, tersenyum mengejek melihat nasib setan pendampingnya itu.

"Sakit, Q? Kok nggak terbang lagi?" ledek Hanif santai.

"Diem lo, Bajingan Syariah," rutuk Q parau, memegangi dadanya yang kosong. "Lo nyabut semua sumber energi gue. Ego lo mati. Iri hati lo ke kakak lo udah ilang. Ambisi duniawi lo hancur. Gue mau makan dari mana, hah?! Iblis itu butuh kesombongan manusia buat bernapas! Ini mah gue kelaparan tingkat kosmik namanya!"

Hanif tertawa pelan. Tawa yang sangat renyah. Dia akhirnya menyadari bagaimana cara mengalahkan setan. Bukan dengan membacakan ayat kursi seribu kali sambil ketakutan, melainkan dengan berhenti memberinya makan berupa "gengsi" dan "kebohongan". Iblis tidak takut pada ayat suci yang diucapkan oleh bibir pendosa yang sombong. Tapi Iblis mati kutu di hadapan manusia miskin yang ikhlas.

"Nikmatin aja masa pensiun dini lo, Q," kata Hanif, kembali menatap layar HP-nya.

Hanif menyalakan mobile data-nya. Dia ingin mengecek sisa-sisa peradaban yang dia tinggalkan di Jakarta seminggu yang lalu.

Dia membuka aplikasi X (dulu Twitter). Hal pertama yang dia lihat adalah Trending Topic Indonesia.

Bulu kuduk Hanif langsung berdiri seketika.

Di urutan pertama, bercokol sebuah tagar yang sangat tebal: #TangkapBundaLisa. Di urutan kedua: #StratosphereTutup. Di urutan ketiga: #KeadilanUntukGlowGuru.

Jantung Hanif berpacu lebih cepat. Dia mengklik tagar kedua, #StratosphereTutup.

Layar HP-nya langsung dibanjiri oleh ribuan cuitan, foto, dan link berita dari berbagai portal media nasional bergengsi. Hanif mengklik salah satu tautan berita dari Kompas.com yang diunggah dua jam yang lalu.

[HEADLINE: Bareskrim Polri Segel Kantor Stratosphere Agency, Diduga Terlibat Sindikat Buzzer Hitam & Pencucian Uang]

Hanif menahan napasnya. Matanya bergerak cepat membaca paragraf demi paragraf.

Berita itu melaporkan bahwa penggerebekan lantai 12 Gedung Cyber dilakukan secara tiba-tiba oleh tim siber Bareskrim Polri pada siang hari. Penggerebekan ini adalah buntut panjang dari viralnya dokumen internal perusahaan yang dibocorkan ke publik seminggu sebelumnya oleh pihak anonim.

Dokumen tersebut tidak hanya mengungkap praktik "Black Campaign" terhadap seorang influencer kecantikan, tetapi juga membongkar mutasi rekening miliaran rupiah yang diduga kuat mengalir dari oknum politisi untuk membiayai operasi disinformasi publik. Hanif menggeser layarnya ke bawah. Ada sebuah foto yang disematkan oleh wartawan.

Foto itu menampilkan lobi utama gedung kantornya. Di sana, dikawal oleh dua petugas reserse berkemeja putih, terlihat sosok Pak Bram. Tangan bos besar yang arogan itu ditutupi jaket, menyembunyikan borgol besi yang melingkar di pergelangannya. Wajah Pak Bram tertunduk dalam, keringat membasahi kepalanya yang plontos. Tidak ada lagi auman singa. Tidak ada lagi ancaman memenjarakan orang. Leviathan korporat itu telah ditumbangkan.

Di foto lainnya, Hanif melihat Mbak Sarah. Mantan atasannya itu sedang digiring keluar sambil menutupi wajahnya dengan tas Hermes palsunya, menangis histeris mencoba menghindari kilatan blitz kamera wartawan.

Hanif membeku. Dia meletakkan HP-nya di atas meja beton taman kantin.

Otaknya memproses kehancuran epik yang baru saja dia saksikan. Kiamat lantai 12 yang dia mulai dengan satu klik email dari ProtonMail ber- password "MaafkanSaya1445H" itu, kini telah menelan penciptanya sendiri.

"Wah... wah... wah..." Q ikut mengintip dari balik bahu Hanif. Iblis kecil itu menggelengkan kepalanya dengan tatapan takjub bercampur ngeri.

Lihat selengkapnya