Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #26

KOTAK PANDORA

Berita tumbangnya Stratosphere Agency masih mendominasi lini masa Twitter dan portal berita nasional di hari ke-27 Ramadan ini.

Hanif duduk di bangku taman rumah sakit sambil mengunyah cilok bumbu kacang yang dia beli dari pedagang keliling di luar gerbang. Kemarin, dia baru saja menerima email ucapan terima kasih dari Nisa (GlowGuru), dan hari ini, dia sibuk membaca rilis resmi dari Bareskrim Polri terkait penangkapan mantan bosnya, Pak Bram.

Sambil mengunyah cilok yang agak alot itu, logika Hanif merangkai puzzle kejadian di Jakarta.

Di Babak akhir pertarungannya di Ruang Direktur waktu itu, Hanif memang mengancam Pak Bram dengan Dead Man's Switch. Hanif berjanji tidak akan membocorkan data pencucian uang dan akun bot politik ke publik, asalkan Pak Bram menelan kerugian kasus Bunda Lisa dan membiarkan Hanif pergi. Hanif menepati janjinya. Dia tidak pernah menekan tombol 'Publish' untuk data-data rahasia negara itu. Yang dia kirim ke Nisa murni hanya dokumen briefing kampanye hitam Bunda Skincare.

Lalu, dari mana Bareskrim bisa menemukan data pencucian uang itu?

"Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menyita tiga unit server utama dari kantor Stratosphere Agency menyusul laporan dugaan pelanggaran UU ITE terkait kasus pencemaran nama baik yang viral minggu lalu," gumam Hanif membaca kutipan berita dari layar HP-nya.

Mata Hanif melebar saat membaca paragraf selanjutnya.

"Dari hasil forensik digital terhadap server yang disita tersebut, penyidik secara mengejutkan menemukan ribuan folder tersembunyi yang mengindikasikan adanya aliran dana kampanye ilegal dan manipulasi opini publik berskala nasional..."

"Hahaha! Kasihan banget si Botak," Q tiba-tiba menyela. Setan berukuran mini itu sedang bergelantungan santai di dahan pohon kamboja tepat di atas kepala Hanif. Rantai emasnya sudah musnah tak bersisa, digantikan oleh baju yang makin lama makin kusam dan tembus pandang.

"Pak Bram pikir dia bisa aman kalau lo tutup mulut," Q tertawa renyah, "Dia lupa kalau polisi itu prosedurnya nyita barang bukti fisik. Begitu server kantor lo diangkut ke Mabes Polri, semua 'kotoran' yang lo intip semalem itu otomatis kebongkar sama tim IT polisi. Lo cuma buka pintu depannya (kasus Skincare), tapi polisi ngebongkar seisi rumahnya. Classic Pandora's Box."

Hanif mengangguk pelan, rasa kagum pada cara kerja semesta merayap di dadanya.

"Karma emang seefisien itu ya, Q," gumam Hanif. "Gue nggak perlu repot-repot jadi whistleblower urusan politik. Hukum alam yang nyeret dia ke penjara. Sifat serakah dan arogansinya sendiri yang jadi bom waktu."

"Betul," sahut Q, turun melayang ke sandaran bangku taman. "Dan ngomong-ngomong soal bom waktu yang meledak... lo mending cek abang lo ke dalem gih. Kayaknya ada yang baru nerima paketan dari neraka."

Hanif mengerutkan dahi. Dia segera menghabiskan cilok terakhirnya, membersihkan tangan dengan tisu, dan berjalan cepat menuju bangsal perawatan tempat Ibunya dirawat.

Di lorong depan bangsal Kelas 3 itu, Hanif melihat Hafiz duduk sendirian di kursi tunggu stainless steel.

Postur kakaknya itu sangat menyedihkan. Hafiz duduk membungkuk ekstrem, siku bertumpu di lutut, dan wajahnya terkubur di kedua telapak tangannya. Ponsel pintar miliknya tergeletak begitu saja di lantai keramik di bawah kakinya, seolah barang mahal itu baru saja dilempar dengan penuh rasa frustrasi.

Hanif mempercepat langkahnya. Jantungnya berdebar. Apakah Sidang Kode Etik-nya dimajukan? Atau ada DC Pinjol yang datang ke rumah sakit?

"A'? Kenapa?" Hanif duduk di sebelah kakaknya, menepuk bahu Hafiz dengan hati-hati.

Hafiz tidak menjawab. Bahunya berguncang pelan, tapi tidak ada suara isakan yang keluar. Tangisannya tertahan di pangkal tenggorokan, jenis tangisan dari seorang pria yang dadanya terasa seperti dihantam beton bertulang.

Hanif membungkuk, mengambil ponsel Hafiz dari lantai. Layarnya masih menyala, menampilkan jendela obrolan WhatsApp dengan Teh Rina.

Hanif menelan ludah. Tanpa bermaksud lancang, matanya membaca pesan terakhir yang dikirim oleh kakak iparnya itu. Pesan yang sangat panjang, formal, dan dingin seperti es batu.

Teh Rina: "Fiz, surat gugatan cerai sudah masuk ke Pengadilan Agama. Pengacara Bapakku yang urus semuanya. Sidang pertama kemungkinan habis Lebaran. Aku nggak minta harta gono-gini, karena toh hartamu udah habis buat nutupin utang dan KPR rumah yang mau disita. Tapi satu hal yang harus kamu tahu: Aku menuntut Hak Asuh Penuh atas Kenzo."

Mata Hanif terpaku pada nama itu. Kenzo. Anak laki-laki Hafiz dan Rina. Keponakan kesayangan Hanif yang baru berusia lima tahun. Bocah kecil yang dulu sering Hanif belikan mainan robot-robotan setiap kali dia pulang kampung dari Jakarta.

Hanif melanjutkan membaca pesan itu. Kata-katanya semakin brutal.

"Kamu nggak punya pekerjaan tetap sekarang (skorsing). Kamu nggak punya tempat tinggal yang layak. Kamu mantan buronan Pinjol. Secara hukum negara dan hukum agama, kamu nggak punya kapasitas finansial maupun moral untuk membesarkan Kenzo. Jangan coba-coba memanipulasi keadaan atau playing victim di pengadilan nanti. Kenzo akan tetap sekolah di sekolah internasionalnya, dibiayai oleh Bapakku. Kamu cukup tanda tangani surat persetujuan hak asuhnya. Lebaran ini, Kenzo ikut keluarga besarku. Jangan datang menemui dia dengan kondisimu yang sekarang. Aku nggak mau Kenzo lihat bapaknya jadi gembel."

Hanif menahan napas. Kalimat terakhir itu sangat kejam. Jangan datang menemui dia. Aku nggak mau Kenzo lihat bapaknya jadi gembel.

Hanif menaruh ponsel itu di kursi. Dia mengusap punggung kakaknya perlahan.

Lihat selengkapnya