Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #27

SERAGAM TERAKHIR

Jika ada yang bilang bahwa perang paling mengerikan di dunia terjadi di Timur Tengah, maka orang itu belum pernah menginjakkan kaki di Pasar Tradisional Dayeuhkolot pada H-2 Lebaran.

Pukul setengah tujuh pagi. Udara Bandung yang seharusnya sejuk, kini terasa sumpek, dipenuhi uap napas ribuan manusia, aroma anyir darah ayam potong, bau tajam bumbu dapur yang digiling dadakan, dan lumpur becek yang menodai aspal pasar.

Di tengah lautan ibu-ibu berdaster yang sedang mode berseker (mengamuk) berburu diskon daging, berdirilah dua pria beda generasi: Bapak dan Hanif.

Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus menegangkan. Membahagiakan karena Ibu akhirnya diizinkan pulang dari rumah sakit untuk menjalani rawat jalan di rumah. Menegangkan karena Bapak berkeras ingin memasak opor ayam spesial untuk menyambut kepulangan Ibu, dan Hanif ditugaskan menjadi "pengawal dompet" agar pengeluaran mereka tidak jebol.

"Pak, pelan-pelan jalannya, licin!" Hanif setengah berteriak, memegangi lengan ayahnya saat mereka melintasi lorong los daging ayam yang lantainya digenangi air cucian ayam bercampur darah.

Hanif mengenakan kaos oblong hitam pudar, celana training lusuh, dan sandal jepit jepit Swallow beda warna (kiri hijau, kanan biru, hasil pinjam dari marbot masjid). Penampilannya sudah menyatu sempurna dengan kasta terendah ekosistem pasar. Tidak ada lagi sisa-sisa eksekutif agensi Sudirman di tubuhnya.

Bapak, yang memakai peci hitam dan kemeja safari tuanya, memegang dompet kulit hitamnya erat-erat di depan dada layaknya memeluk kitab suci.

"Ayam dua kilo, Nif. Kemarin Bapak tanya tetangga, harganya udah naik jadi empat puluh lima ribu sekilo," gumam Bapak, matanya memindai deretan pedagang ayam yang sibuk memotong daging di atas telenan kayu raksasa.

"Tenang, Pak. Serahin urusan negosiasi ke ahlinya," Hanif menepuk dadanya dengan bangga.

"Alah, gaya lo, Bos," Q mendadak muncul. Setan itu tidak melayang gagah seperti biasa. Dia merangkak keluar dari tumpukan karung bawang merah, tubuh astralnya mengecil hingga seukuran anak balita, bajunya compang-camping, dan pendaran matanya sangat redup.

Sejak Hanif dan keluarganya melepaskan gengsi dan berdamai dengan kenyataan di rumah sakit tempo hari, Q benar-benar kehilangan asupan gizi kesombongan. Iblis itu sedang sekarat.

"Lo biasa negosiasi kontrak buzzer miliaran pake slide PowerPoint," rutuk Q dengan suara parau dan lemah, duduk ngemper di atas keranjang tomat. "Sekarang lo mau negosiasi harga ati ampela pake bahasa Sunda belepotan? Kena mental lo nanti diomelin emak-emak tukang ayam."

Hanif mengabaikan hantu kurang gizi itu. Dia menarik Bapak menuju lapak seorang ibu pedagang ayam yang wajahnya terlihat lelah namun garang, dengan golok daging besar di tangannya.

Trak! Trak! Trak! Golok itu membelah tulang ayam dengan sangat presisi.

"Bu, ayam potong sekilo sabaraha? (Bu, ayam potong sekilo berapa?)" tanya Hanif ramah, memasang senyum Customer Service level maksimal.

"Lima puluh rebu, Kasep! Rek meuli sabaraha kilo? (Lima puluh ribu, Ganteng! Mau beli berapa kilo?)" jawab Ibu itu cepat, tanpa menoleh, tangannya sibuk menimbang daging untuk pembeli lain.

Hanif dan Bapak saling berpandangan. Harga pasar sudah meroket jauh melewati perkiraan intelijen tetangga kemarin.

"Buset, lima puluh ribu?" bisik Hanif ke Bapak. "Duit pegangan Bapak yang kemaren sisa berapa?"

"Sisa seratus dua puluh ribu, Nif. Buat beli ayam dua kilo, bumbu opor, santan, sama ketupat jadi. Kalau ayamnya cepek (seratus ribu), nggak cukup buat beli bumbu," Bapak berbisik balik, raut wajahnya panik.

Hanif mengambil napas panjang. Insting Crisis Management-nya berbunyi. Ini adalah krisis likuiditas tingkat rumah tangga. Dia harus memutar otak agar Bapak tidak kecewa dan opor ayam tetap tersaji di meja makan.

"Bu," Hanif mencondongkan tubuhnya ke meja lapak yang basah, sedikit merendahkan suaranya agar terdengar lebih intim. "Pami meser dua kilo, pasna sabaraha atuh, Bu? Sing karunya ka abdi, ieu teh kanggo Ibu abdi nu nembe kaluar ti rumah sakit. Hoyongeun pisan opor damelan Bapak. (Kalau beli dua kilo, pasnya berapa dong, Bu? Kasihanilah saya, ini buat Ibu saya yang baru keluar dari rumah sakit. Pengen banget opor buatan Bapak)."

Ibu pedagang ayam itu akhirnya menghentikan ayunan goloknya. Dia menatap Hanif, lalu menatap Bapak yang berdiri di belakang dengan wajah memelas yang sangat natural (karena memang sedang tidak punya uang).

Raut garang di wajah ibu pedagang itu sedikit melunak. "Euleuh, karunya teuing... Gering naon Ibuna, Kasep? (Aduh, kasihan sekali... Sakit apa Ibunya, Ganteng?)"

Umpan dimakan. Hanif langsung melancarkan storytelling yang menyentuh hati.

"Stroke ringan, Bu. Alhamdulillah nembe sadar dua dinten kapengker. Matakna ieu Bapak abdi bela-belain ka pasar hoyong nyenangkeun Ibuna. Tapi artosna pas-pasan ditarik kanggo nebus obat. (Stroke ringan, Bu. Alhamdulillah baru sadar dua hari yang lalu. Makanya ini Bapak saya bela-belain ke pasar pengen nyenengin Ibunya. Tapi uangnya pas-pasan ditarik buat nebus obat)."

"Ya Allah... sing enggal damang atuh Ibuna nya (Ya Allah... semoga lekas sembuh ya Ibunya)," Ibu pedagang itu mengusap dadanya. Sifat keibuannya langsung terpanggil mengalahkan jiwa kapitalis pasar menjelang Lebaran.

Ibu itu membungkus dua ekor ayam utuh, lalu dengan cepat menambahkan lima pasang ati ampela dan beberapa ceker ayam ke dalam kantong plastik kresek merah itu.

"Tah, ieu dua kilo lebih saeutik. Ati ampela jeung cekerna mah bonus ti ibu, khusus kanggo neng Ibuna nu nuju udur. Dalapan puluh lima rebu weh duanana. (Nih, ini dua kilo lebih sedikit. Ati ampela dan cekernya bonus dari ibu, khusus buat nengokin Ibunya yang lagi sakit. Delapan puluh lima ribu aja dua-duanya)."

Hanif tersenyum sangat lebar. Deal ditutup dengan diskon nyaris lima belas persen plus bonus merchandise (ati ampela).

"Nuhun pisan, Bu! Mugi ieu janten amal jariyah kanggo Ibu! Laris manis daganganna! (Makasih banget, Bu! Semoga ini jadi amal jariyah buat Ibu! Laris manis dagangannya!)" seru Hanif kegirangan, sementara Bapak dengan tangan gemetar penuh haru menyerahkan lembaran uang ke pedagang itu.

Sisa uang tiga puluh lima ribu rupiah cukup untuk memborong kelapa parut, bumbu opor kuning giling, dan sepuluh bungkus ketupat dari anyaman janur.

Misi logistik Lebaran berhasil diselesaikan tanpa harus mencairkan sisa saldo Rp 850.000 milik Hanif (yang sengaja dia simpan rapat-rapat sebagai dana darurat kesehatan Ibu paca-lebaran).

Di sudut pasar, Q hanya bisa menepuk jidatnya. "Gila lo, Nif. Lo bener-bener PR Consultant yang underrated. Lo literally baru aja pake sob story buat ngejatuhin harga ayam di pasar tradisional. Kalo lo terapin skill manipulasi simpati ini di bursa saham, lo udah jadi Wolf of Wall Street versi syariah."

"Gue nggak manipulasi. Gue ngomong fakta, nyokap gue emang baru keluar rumah sakit," Hanif tersenyum bangga, menenteng kresek merah berisi daging ayam dengan gaya layaknya membawa tas Gucci edisi terbatas. "Ini namanya keajaiban komunikasi antarpribadi yang berbasis empati. Lo mana ngerti, Q."

Bapak dan anak itu berjalan pulang menuju rumah dengan hati yang jauh lebih ringan daripada saat mereka berangkat. Meskipun dompet Bapak benar-benar kosong melompong menyisakan uang logam lima ratus perak, tapi senyum di wajah pria tua itu sangat merekah.

Ini adalah kali pertama sejak Mas Hafiz merantau jadi PNS, Bapak pergi ke pasar berdua saja dengan Hanif tanpa membanding-bandingkan pencapaian anak-anaknya.

Rumah itu terasa berbeda hari ini. Bukan karena perabotannya yang berubah—cat dindingnya masih kusam, sofa ruang tamunya masih kempes di bagian tengah, dan TV tabungnya masih butuh dipukul pelan agar layarnya tidak bergaris.

Lihat selengkapnya