Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #28

KARDUS INDOMIE & PERPISAHAN

Pagi di H-1 Lebaran (sehari sebelum Idul Fitri) biasanya diwarnai oleh hiruk-pikuk kebahagiaan. Suara takbiran mulai sayup-sayup terdengar dari kaset-kaset bajakan yang diputar di pinggir jalan. Aroma ketupat dan rendang mengudara dari ventilasi dapur setiap rumah. Anak-anak kecil berlarian memamerkan baju koko baru yang masih tercium bau plastiknya.

Tapi di rumah keluarga Hanif di Bandung Selatan, waktu sahur itu dimulai dengan persiapan sebuah ekspedisi pembersihan sisa-sisa reruntuhan.

Hanif sedang menyeruput teh tawar hangat di ruang tengah, duduk bersila di atas karpet. Di depannya, Hafiz baru saja selesai melipat selembar kardus bekas mi instan—kardus Indomie Kaldu Ayam—dan melakbannya bagian bawahnya agar kuat.

"Udah siap, A'?" tanya Hanif, meletakkan gelas tehnya.

Hafiz mengangguk pelan. Dia mengenakan kaos oblong hitam polos, celana jeans pudar, dan topi baseball lamanya. Pakaian paling sederhana yang bisa dia temukan di lemari.

"Udah, Nif. Semalem Rina nge-WA Aa. Hari ini Bapak ibunya dateng dari Jakarta buat ngejemput dia sama Kenzo. Mereka bakal Lebaran di Pondok Indah, terus rumah di Buah Batu itu bakal langsung dikosongin buat diserahin ke pihak bank bulan depan," jelas Hafiz datar. "Rina ngasih waktu dua jam pagi ini buat Aa ngambil baju-baju sama sisa barang pribadi Aa sebelum mereka berangkat."

Hanif menghela napas. "Gue temenin."

"Nggak usah, Nif. Aa bisa sendiri. Kamu di rumah aja jagain Ibu."

"Ibu lagi tidur abis minum obat, dijagain Bapak," Hanif berdiri, mengambil jaket parasut kusamnya. Dia menatap kakaknya dengan tatapan tajam yang tak terbantahkan. "Lo pikir gue bakal biarin lo masuk ke kandang singa sendirian? Mertua lo itu mulutnya lebih tajem dari silet. Kalo lo down lagi di sana, siapa yang mau nyeret lo pulang? Udah, bawa kardusnya. Kita naik angkot."

Hafiz tersenyum tipis, sebuah senyum penuh rasa syukur. Dinamika baru di mana adik bungsunya menjadi pelindung mentalnya ini masih terasa asing, namun sangat menenangkan.

Setelah semua persiapan beres, mereka berdua berjalan keluar dari gang rumah, menuju jalan raya untuk mencegat angkot jurusan Buah Batu.

Di udara, Q melayang mengikuti mereka. Penampilan Iblis itu pagi ini adalah definisi dari "gelandangan astral". Tubuhnya semakin mengecil, transparan, dan jubah gaibnya compang-camping seperti kain pel usang. Pendaran cahaya di matanya nyaris mati. Tanpa adanya gengsi dan iri hati untuk diisap dari dua bersaudara itu, Q benar-benar berada di ambang kepunahan.

"Pemandangan yang sangat estetik," suara Q terdengar parau dan lemah, seperti siaran radio yang kehilangan sinyal. Setan itu menunjuk kardus mi instan yang dijinjing Hafiz.

"Mantan PNS elit dan mantan eksekutif Jakarta, mudik bawa kardus Indomie. Ini kalau difoto terus masuk cover majalah hidayah, judulnya 'Azab Menantu Tukang Flexing, Pulang Kampung Cuma Bawa Kardus Kaldu Ayam'."

Hanif hanya melirik setan itu sekilas tanpa minat membalas. Ejekan Q sudah tidak memiliki bisa lagi. Ketika manusia sudah menerima kenyataan bahwa dirinya memang berada di titik nol, tidak ada lagi hinaan yang bisa melukai harga dirinya.

Perjalanan menggunakan angkot memakan waktu hampir satu jam karena jalanan Bandung sudah mulai dipadati oleh pemudik lokal. Bau bensin campur keringat penumpang di dalam angkot sama sekali tidak mengganggu Hafiz. Pria itu menatap lurus ke luar jendela dengan wajah tenang. Ketenangan seorang pria yang bersiap berjalan menuju tiang eksekusi masa lalunya.

Pukul 09.15 WIB. Mereka tiba di depan gerbang Cluster Pesona Emerald.

Hanif dan Hafiz berjalan kaki melewati pos satpam. Satpam yang biasanya memberi hormat pada mobil HR-V putih milik Hafiz, kini menatap mereka berdua dengan dahi berkerut, seolah melihat dua orang kuli bangunan yang salah alamat.

"Pagi, Pak," sapa Hafiz sopan, menundukkan kepalanya sedikit pada satpam itu. Satpam itu hanya membalas dengan anggukan kaku yang canggung.

Mereka tiba di depan rumah bergaya Scandinavian Minimalist itu.

Di carport yang dulu menjadi singgasana HR-V putih, kini terparkir sebuah Toyota Alphard hitam mengkilap dengan plat nomor "B" Jakarta. Supir pribadi berseragam safari tampak sedang mengelap kaca mobil itu dengan kanebo.

Pintu depan rumah terbuka lebar. Dari luar, Hanif bisa melihat beberapa koper besar bermerek Samsonite sudah tertumpuk rapi di ruang tamu.

Hafiz menarik napas panjang, menatap pintu rumah yang pernah menjadi saksi bisu keangkuhan dan penderitaannya. Dia melangkah maju. Hanif mengekor selangkah di belakangnya, bersiap menjadi bumper (penahan benturan) jika mertua kakaknya mulai melancarkan serangan verbal.

"Assalamualaikum," ucap Hafiz pelan di ambang pintu.

Suara obrolan dari dalam rumah mendadak berhenti.

Dari arah dapur, muncul tiga sosok. Teh Rina, mengenakan dress kasual mahal dan kacamata hitam yang diangkat ke atas kepala. Di sebelahnya berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja polo Ralph Lauren dan jam tangan Rolex emas berkilau—Bapak Mertua. Dan di belakangnya, Ibu Mertua yang memakai hijab berbahan sutra berkilau dengan tas Chanel tersampir di lengan.

Melihat kedatangan Hafiz yang kusam menenteng kardus mi instan, raut wajah Bapak Mertua langsung mengeras.

Pria Jakarta itu melangkah maju, membusungkan dadanya yang buncit. Matanya menatap Hafiz dari atas sampai bawah dengan tatapan jijik yang sama sekali tidak disembunyikan.

"Berani juga kamu nampakin muka di sini, Hafiz," suara Bapak Mertua menggelegar, bariton yang berat dan penuh arogansi kekuasaan. "Saya pikir kamu udah mati loncat dari jembatan gara-gara dikejar Pinjol."

Hafiz menundukkan pandangannya. "Maafkan saya, Pak. Saya datang cuma mau ambil sisa baju-baju saya. Habis itu saya langsung pergi."

"Ambil sampah-sampah kamu di kamar belakang! Rina udah bungkusin semuanya di kantong kresek hitam!" bentak Bapak Mertua, menunjuk ke arah lorong dengan jari telunjuknya yang dihiasi cincin batu zamrud.

Pria paruh baya itu melangkah mendekati Hafiz, jarak mereka kini hanya tinggal setengah meter.

"Kamu tau, Hafiz?" desis Bapak Mertua dengan nada merendahkan yang sangat tajam. "Dari awal kamu ngelamar anak saya, saya udah curiga sama kamu. Pemuda kampung, PNS golongan rendahan, gaji nggak seberapa, tapi berlagak sok suci. Saya izinkan Rina nikah sama kamu karena saya pikir kamu punya potensi. Ternyata? Kamu ini parasit! Kamu bikin malu nama keluarga saya di depan kolega-kolega saya di Jakarta!"

Hafiz hanya diam. Tangannya memegang pinggiran kardus mi instan itu erat-erat.

"Mobil ditarik! Rumah disita bank! Terus saya denger dari Rina, kamu dipecat dengan tidak hormat gara-gara kasus utangmu itu?!" Bapak Mertua tertawa sinis, tawa meremehkan yang mengiris udara. "Laki-laki macam apa kamu ini, hah? Laki-laki pecundang! Kamu pikir saya bakal biarin Rina sama Kenzo hidup melarat makan batu sama pengangguran cacat mental kayak kamu?!"

Hanif, yang berdiri di belakang kakaknya, mulai merasakan darahnya mendidih. Urat di lehernya menonjol. Dia bersiap membuka mulutnya untuk melancarkan serangan balasan ala PR Crisis, tapi sebelum suara Hanif keluar, tangan kanan Hafiz terangkat ke belakang, menahan dada adiknya.

Hafiz memberikan isyarat pada Hanif untuk diam.

Lihat selengkapnya