Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #29

ABSENNYA SANG IBLIS

Matahari terakhir di bulan Ramadan telah terbenam di ufuk barat, membawa serta seluruh dosa, rasa lapar, dan kepalsuan yang menggerogoti selama tiga puluh hari terakhir.

Sebagai gantinya, langit malam Bandung yang cerah disambut oleh gema suara yang menggetarkan dada. Suara bedug yang ditabuh bertalu-talu berpadu dengan lantunan kalimat takbir dari pengeras suara masjid di setiap penjuru kota.

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Laa ilaaha illallahu wallahu Akbar...

Di rumah kecil berdinding kusam itu, suasana malam takbiran terasa sangat berbeda.

Tahun lalu, di jam seperti ini, rumah ini sibuk oleh kepanikan kosmetik. Ibu akan mengomel menyuruh Bapak menggantung tirai baru berwarna emas. Teh Rina akan sibuk menyusun hampers nastar premium di ruang tamu untuk difoto. Hafiz sibuk memoles HR-V putihnya di garasi. Dan Hanif, duduk di sudut ruangan, sibuk mengarang template pesan broadcast Lebaran yang estetik untuk dikirimkan kepada ratusan kontak klien dan bosnya di Jakarta, berharap dibalas dengan emoticon jempol atau janji proyek baru.

Malam ini? Semua rutinitas beracun itu musnah tak berbekas.

Tidak ada tirai baru. Tidak ada nastar premium. Garasi depan kosong melompong. Dan Hanif bahkan mematikan koneksi data di smartphone-nya.

Hanif duduk di tepi kasur lantai di ruang tengah, menatap layar HP-nya yang layarnya sedikit retak. Saldo akhirnya: Rp 850.000.

Dia menarik napas panjang, lalu mengambil dompet kulit imitasi miliknya. Dia mengeluarkan empat lembar uang lima puluh ribu rupiah yang lecek, sisa dari pecahan yang dia ambil di ATM minimarket kemarin. Dua ratus ribu rupiah pas.

"A', ayo berangkat," panggil Hanif, bangkit berdiri dan memakai jaket parasutnya.

Hafiz muncul dari arah kamar mandi. Rambutnya yang baru dicukur pendek terlihat basah oleh air wudhu. Dia mengenakan baju koko putih pudar peninggalan lima tahun lalu dan sarung tenun yang warnanya sudah memudar di bagian lutut.

"Udah siap uang fitrahnya, Nif?" tanya Hafiz, berjalan menghampiri adiknya.

"Udah. Dua ratus ribu buat kita berempat. Bapak, Ibu, lo, sama gue. Pake beras yang standar aja, lima puluh ribu per kepala udah dapet kalau di masjid kampung kita," jawab Hanif, memasukkan uang itu ke saku jaketnya.

Mereka berdua berjalan menuju ruang tengah. Bapak sedang duduk di kursi plastik, menyuapi Ibu dengan beberapa suap opor ayam yang sengaja mereka makan lebih awal karena sudah tidak sabar menunggu besok pagi.

"Pak, Hanif sama Aa Hafiz pamit ke masjid depan dulu ya, mau bayar Zakat Fitrah keluarga kita sekalian ikutan takbiran bentar," pamit Hanif, mencium tangan ayahnya, diikuti oleh Hafiz.

Bapak tersenyum lebar, mengangguk pelan. "Iya, hati-hati. Bilang ke Pak Ustadz Somad, maaf Bapak nggak bisa ikut takbiran di masjid tahun ini, lagi nemenin Ibu."

"M-mangga, k-kasep... d-didoakeun s-salamet... (Silakan, ganteng... didoakan selamat...)" tambah Ibu dengan senyum hangat, bicaranya semakin hari semakin jelas meskipun otot wajahnya masih butuh terapi.

Dua bersaudara itu melangkah keluar rumah. Angin malam yang dingin langsung menyergap wajah mereka.

Jalanan gang komplek mereka sangat terang benderang dan ramai. Anak-anak kecil berlarian membawa obor bambu dan petasan banting, tertawa lepas menyambut hari kemerdekaan mereka dari puasa setengah hari. Ibu-ibu tetangga tampak sibuk mengangkut rantang dan bertukar makanan antar rumah.

Hanif dan Hafiz berjalan bersisian menyusuri gang paving block itu.

"Nif," panggil Hafiz pelan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku sarung menahan dingin.

"Hm?"

"Lo nyadar nggak sih, tahun lalu... gue bayar Zakat Fitrah pake transfer M-Banking ke lembaga amil zakat internasional," cerita Hafiz, senyum getir terukir di wajahnya. "Gue transfer sejuta. Terus screenshot bukti transfernya gue posting di Instagram Story pake caption 'Alhamdulillah, menunaikan kewajiban, semoga memberkahi harta keluarga kecil kami'."

Hafiz menoleh ke arah Hanif, matanya memantulkan cahaya dari lampu jalan. "Gue niatnya zakat, tapi di otak gue cuma mikirin berapa likes yang bakal gue dapet. Gue pengen orang tau gue dermawan. Gue pengen mertua gue liat. Ternyata harta gue malah nguap nggak bersisa ditarik Pinjol."

Hanif tersenyum tipis, memahami persis ironi tersebut.

"Sama aja, A'," balas Hanif santai. "Tahun lalu gue bayar zakat di booth mall elit di Senayan. Pake QRIS. Abis bayar zakat lima puluh ribu, gue malah nongkrong beli kopi seratus ribu. Zakat cuma jadi penggugur kewajiban administratif. Kayak bayar pajak tahunan aja rasanya. Nggak ada soul-nya (jiwanya)."

Mereka tiba di pelataran Masjid Jamie Al-Hidayah.

Masjid kampung itu sangat ramai. Suara takbir saling bersahutan dari bibir puluhan jamaah laki-laki yang duduk bersila di ruang utama. Di teras samping, terdapat meja panjang tempat Panitia Zakat Fitrah bertugas. Tumpukan karung beras berbagai merk menggunung di belakang mereka.

Hanif dan Hafiz ikut mengantre di barisan pembayar zakat. Di depan mereka, berbaris para tetangga yang penampilannya jauh lebih mentereng. Ada Mang Ujang, pemilik bengkel yang memakai baju koko sutra mengkilap. Ada Pak RT yang menenteng tas selempang kulit.

Lihat selengkapnya