Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #30

SECANGKIR SURGA DI HARI KEMENANGAN

Pagi 1 Syawal selalu memiliki aroma yang spesifik. Di Bandung Selatan, ia adalah campuran dari kabut tipis yang turun dari pegunungan, wangi embun di dedaunan mangga, dan kepulan asap dari tungku-tungku yang memanaskan opor ayam serta sambal goreng kentang.

Cahaya matahari pagi mengintip malu-malu dari celah ventilasi rumah kecil keluarga Hanif, menyorot debu-debu yang menari di udara ruang tengah.

Hanif berdiri di depan cermin lemari pakaian peninggalan zaman Orde Baru di kamarnya. Dia sedang mengancingkan baju koko berwarna putih tulang. Baju itu adalah baju Lebaran yang dia beli tiga tahun lalu di Pasar Tanah Abang. Warnanya sudah mulai pudar di bagian kerah, dan kainnya terasa sedikit kebesaran di tubuh Hanif yang kehilangan lebih dari lima kilogram berat badannya selama sebulan terakhir.

Di sebelahnya, Hafiz sedang menyisir rambut cepaknya. Dia mengenakan kemeja koko berlengan pendek warna abu-abu kusam dan sarung tenun. Di pergelangan tangannya, tidak ada lagi jam tangan Chronograph seharga jutaan rupiah. Yang melingkar di sana hanyalah sebuah karet gelang biasa untuk mengikat kantong plastik nanti.

"Gimana, Nif? Udah pantes jadi marbot masjid belum Aa?" canda Hafiz, berputar sedikit memamerkan penampilannya yang sangat merakyat.

Hanif tersenyum lebar melihat pantulan kakaknya di cermin. "Kurang peci miring doang, A'. Sama bawa gulungan karpet di pundak."

Hafiz tertawa renyah. Tawa yang menggetarkan dada, tawa yang benar-benar lepas dari sangkar gengsi.

Dua pria yang bulan lalu masih menjadi "Eksekutif Ibukota" dan "PNS Elit Mertua" itu kini menatap diri mereka sendiri dengan penuh penerimaan. Kantung mata mereka menghitam, wajah mereka kusam karena kurang tidur dan stres, namun mata mereka... mata mereka memancarkan pendaran cahaya yang luar biasa terang. Cahaya dari jiwa yang merdeka.

"Ayo, Kasep! Bisi katinggaleun sholat Ied! (Ayo, Ganteng! Takut ketinggalan sholat Ied!)" panggil Bapak dari ruang tengah.

Hanif dan Hafiz keluar dari kamar.

Bapak sudah siap dengan setelan kemeja batik terbaiknya dan peci hitam yang disikat bersih. Di atas kasur lantai, Ibu duduk bersandar pada tumpukan bantal. Ibu memakai mukena putih bersih, meski beliau tidak bisa ikut ke lapangan sholat karena kondisinya, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang paripurna melihat suami dan kedua anak laki-lakinya siap berangkat.

"Bapak pamit ka lapangan heula nya, Bu. Doakeun (Bapak pamit ke lapangan dulu ya, Bu. Doakan)," Bapak mencium kening Ibu dengan lembut.

"Iya, Pak. Aa, Nif, sing khusyuk sholatna (Iya, Pak. Aa, Nif, yang khusyuk sholatnya)," pesan Ibu, tersenyum dengan separuh wajahnya yang masih kaku.

Hanif dan Hafiz mencium tangan Ibu secara bergantian.

"Assalamu'alaikum," ucap ketiganya serempak.

Mereka bertiga melangkah keluar pagar rumah, bergabung dengan arus manusia yang mengalir menuju lapangan sepak bola desa yang disulap menjadi tempat Sholat Ied.

Berjalan kaki ke lapangan di pagi Lebaran adalah sebuah ujian sosial (Social Gauntlet) bagi masyarakat Indonesia. Ini adalah runway Fashion Week versi akar rumput, di mana setiap keluarga memamerkan pencapaian finansial mereka setahun terakhir melalui baju seragam sutra, perhiasan emas yang gemerincing, hingga mobil baru yang sengaja diparkir sedekat mungkin dengan shaf sholat.

Dan ujian itu langsung menyapa mereka di ujung gang.

"Eh, Pak! Mas Hafiz! Mas Hanif! Minal Aidin wal Faizin!" sapa Mang Ujang si pemilik bengkel. Dia berdiri gagah di samping Yamaha NMAX putih terbarunya, mengenakan baju koko mengkilap bermotif bordir emas.

Mang Ujang menatap Hafiz dan Hanif dengan tatapan menilai. Dahinya berkerut melihat penampilan dua "anak sukses" itu yang sangat jauh dari ekspektasinya.

"Loh, Mas Hafiz naha jalan kaki? HR-V putihna di mana? Pamajikan jeung si Kenzo teu ngilu mudik ka dieu? (Loh, Mas Hafiz kok jalan kaki? HR-V putihnya di mana? Istri sama Kenzo nggak ikut mudik ke sini?)" tanya Mang Ujang dengan nada kepo khas tetangga yang siap menjadikan jawabannya sebagai bahan gosip di warung kopi nanti siang.

Di masa lalu, pertanyaan seperti ini akan membuat jantung Hafiz berhenti berdetak. Dia akan memutar otak, mengarang kebohongan yang rapi—"Mobilnya lagi masuk salon, Mang" atau "Istri lagi di luar negeri". Bapak juga biasanya akan menimpali dengan kesombongan yang dibuat-buat.

Namun pagi ini, sejarah baru diukir di jalanan kampung itu.

Hafiz tersenyum sangat lebar. Tanpa ragu sedetik pun, tanpa rasa malu, dan dengan suara yang sangat lantang, dia menjawab, "Mobilnya ditarik bank, Mang Ujang! Istri saya minta cerai minggu kemaren gara-gara saya ketahuan ngutang Pinjol. Jadi tahun ini saya mudik jadi pengangguran, jalan kaki aja hitung-hitung olahraga!"

Jawaban itu dijatuhkan seperti bom atom di tengah kerumunan tetangga yang sedang berjalan ke lapangan.

Mang Ujang ternganga. Rahangnya nyaris menyentuh aspal. Ibu-ibu di belakangnya yang sedang berbisik-bisik mendadak mematung. Angin pagi seolah berhenti berhembus. Tidak ada satupun dari mereka yang siap menerima kejujuran sebrual itu di pagi Idul Fitri. Masyarakat kita terlalu terbiasa dengan kebohongan manis, sehingga kejujuran telanjang terasa seperti sebuah skandal.

"E-eh... oh... kitu nya... s-sing sabar nya, Mas... (E-eh... oh... gitu ya... yang sabar ya, Mas...)" Mang Ujang terbata-bata, nyalinya langsung ciut menghadapi orang yang tidak lagi memiliki harga diri untuk diinjak.

"Hatur nuhun, Mang! Motor barunya mantap euy, awas dicicil yang bener biar nggak kayak saya!" Hafiz tertawa lepas, menepuk bahu Mang Ujang, lalu kembali berjalan santai bersama Bapak dan Hanif.

Hanif menyikut tulang rusuk kakaknya. "Gila lo, A'. Jantung Mang Ujang nyaris copot tuh denger jawaban lo."

"Biarin aja," kekeh Hafiz, matanya berbinar. "Aa baru nyadar, senjata paling mematikan buat ngelawan tukang gosip itu adalah ngomongin aib kita sendiri lebih kenceng dari mereka. Kalau kita udah ngetawain diri kita sendiri, dunia nggak punya celah lagi buat ngetawain kita."

Bapak yang berjalan di depan mereka ikut tertawa hingga bahunya berguncang. Tiga pria itu berjalan membelah kerumunan dengan kepala tegak. Mereka adalah para pecundang secara materi, tapi mereka berjalan bak raja-raja penakluk dunia. Mereka telah menaklukkan musuh terbesar kemanusiaan: Takut pada penilaian orang lain.

Suasana di lapangan sepak bola itu sangat syahdu. Ribuan jamaah menggemakan takbir di bawah langit pagi yang cerah tak berawan.

Lihat selengkapnya