Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #1

Kontrak Terlarang di Akihabara

Malam di Akihabara tidak pernah benar-benar gelap.

Bahkan ketika jarum jam telah melewati pukul sepuluh, jalanan masih bermandikan cahaya papan reklame yang berdesakan di antara gedung-gedung tinggi. Lampu neon merah muda, biru elektrik, dan ungu menyala di atas trotoar yang dipenuhi orang-orang berjaket tebal, kelompok wisatawan yang sibuk memotret poster anime, serta para pekerja kantoran yang berjalan cepat menuju stasiun. Dari pengeras suara sebuah toko elektronik, suara penyanyi idola mengalun terlalu nyaring. Tak jauh dari sana, sebuah mesin penjual otomatis berdengung di bawah bayang-bayang gedung, sementara aroma takoyaki, kopi kaleng, dan aspal yang masih menyimpan kelembapan setelah hujan sore bercampur menjadi satu.

Akihabara adalah tempat di mana seseorang bisa membeli dunia impiannya dengan beberapa lembar uang.

Patung-patung karakter perempuan dengan senyum sempurna berjajar di balik kaca toko. Poster-poster idola menjanjikan kebahagiaan dalam kemasan warna-warni. Di sebuah persimpangan, seorang gadis berkostum kelinci melambaikan tangan kepada orang-orang yang melintas, mengajak mereka memasuki kafe tempat para pelayan akan menyambut setiap pelanggan seolah-olah mereka adalah pangeran yang baru pulang dari medan perang.

Dan di lantai dua sebuah gedung sempit di gang belakang jalan utama, Miyauchi Mai sedang tersenyum kepada pelanggan terakhirnya malam itu.

“Terima kasih banyak sudah datang, Tuan! Semoga mimpi indah malam ini, nyan!”

Mai membungkuk dengan sudut yang tepat, kedua tangan terlipat di depan celemek putihnya. Ujung renda pada rok pendeknya bergerak ketika ia menundukkan kepala, sementara dua pita merah muda yang menghiasi rambutnya bergoyang kecil mengikuti gerakannya.

Di hadapannya, seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun yang mengenakan kemeja bergambar karakter gim tersenyum lebar. Ia masih memegang kartu poin kafe yang telah dipenuhi stempel berbentuk hati.

“Mei-chan, hari ini juga lucu sekali! Aku datang lagi minggu depan, ya!”

“Ehehe, Mei-chan akan menunggu dengan penuh cinta!”

Mai mengangkat kedua tangan di dekat pipi, membentuk pose telinga kucing yang telah ia latih ratusan kali di depan cermin. Ia memiringkan kepala sedikit ke kanan, mengerucutkan bibir, lalu mengedipkan mata dengan ketepatan yang nyaris mekanis.

“Jangan lupa makan teratur dan tidur cukup, Tuan! Kalau Tuan sampai sakit, Mei-chan akan menangis, lho!”

Pria itu tertawa senang.

“Kalau begitu, aku harus menjaga kesehatan demi Mei-chan!”

“Un! Itu janji, ya!”

Bel kecil di atas pintu berdenting ketika pelanggan tersebut akhirnya keluar. Sesaat kemudian, suara langkahnya lenyap ditelan kebisingan jalanan.

Mai masih mempertahankan senyumnya selama dua detik.

Tiga detik.

Empat.

Barulah setelah memastikan tidak ada pelanggan lain yang memperhatikannya, ia membiarkan kedua tangannya jatuh lemas di sisi tubuh.

“Aduh…”

Senyum di wajahnya menghilang begitu cepat seolah seseorang baru saja mematikan sakelar.

Ia mengembuskan napas panjang, kemudian menyandarkan punggung ke dinding dekat pintu masuk. Sepasang sepatu berhak rendah yang dikenakannya terasa semakin menyiksa. Telapak kakinya berdenyut, sementara betisnya menegang akibat berdiri hampir tujuh jam tanpa kesempatan duduk lebih dari beberapa menit.

Di bawah lampu kafe yang hangat, penampilan Mei-chan tetap nyaris sempurna. Riasan matanya tidak luntur. Rambutnya masih tersisir rapi. Lipstik merah mudanya tidak meninggalkan noda pada gigi. Bahkan celemeknya hanya memiliki satu lipatan kecil yang mungkin tidak akan disadari siapa pun.

Namun, di balik semua itu, pergelangan tangan kanannya terasa nyeri karena terlalu sering membawa nampan, dan kulit di sekitar tumitnya mulai lecet.

Mai menatap pantulan dirinya di kaca pintu.

Gadis dalam pantulan itu tampak manis. Matanya besar, pipinya sedikit merona, dan senyumnya—ketika ia kembali memasangnya dengan sengaja—mampu membuat orang merasa bahwa dunia adalah tempat yang baik untuk ditinggali.

Ia mengangkat satu jari, menyentuh sudut bibirnya, lalu menariknya sedikit ke atas.

“Baiklah, Miyauchi Mai. Senyum lagi.”

Ia menatap pantulannya sendiri.

“Besok masih harus bayar listrik.”

Senyum itu mengendur.

“Dan cicilan.”

Ia memejamkan mata sebentar.

“Dan biaya rumah sakit.”

Kalimat terakhir itu keluar lebih pelan daripada dua kalimat sebelumnya.

Mai menurunkan tangannya.

Di luar, suara orang-orang yang tertawa melewati jendela. Seseorang berseru gembira ketika berhasil mendapatkan barang dari mesin capit. Dari lantai bawah terdengar bunyi pintu lift yang terbuka, disusul suara dua perempuan yang membicarakan acara kolaborasi anime terbaru.

Dunia terus berjalan.

Tagihan juga terus datang.

“Mai! Jangan melamun di situ. Bantu bereskan meja nomor tiga sebelum pulang!”

Suara manajer memecah pikirannya.

“Siap!”

Mai segera meluruskan punggung. Ia menyentakkan kedua tangannya ke atas, memasang kembali senyum cerah yang sudah menjadi bagian dari seragamnya.

“Mei-chan, mode kerja, nyan!”

Ia berputar menuju ruang makan.

Tak seorang pun di kafe itu perlu mengetahui bahwa gadis yang mampu membuat puluhan pelanggan pulang dengan senyum bahagia tersebut sering menghitung sisa uang di dompetnya sebelum memutuskan apakah ia boleh membeli makan malam.

Tak seorang pun perlu tahu bahwa beberapa malam terakhir, ia sengaja memilih menu termurah di minimarket dan menunggu sampai larut agar makanan diskon mulai dijual.

Dan tentu saja, tidak ada seorang pun di antara para pelanggan yang membayangkan bahwa Mei-chan, pelayan favorit mereka yang begitu lihai mengingat nama, pesanan, serta karakter anime kesukaan setiap orang, sebenarnya baru berusia enam belas tahun.

Bagi mereka, Mei-chan adalah fantasi kecil yang bisa dikunjungi setelah hari yang melelahkan.

Bagi Mai sendiri, menjadi Mei-chan adalah pekerjaan.

Pekerjaan yang mengharuskannya tersenyum bahkan ketika ia ingin menangis, menghafal percakapan bahkan ketika kepalanya berdenyut, dan membuat orang lain merasa istimewa meskipun ia sendiri tidak pernah merasa istimewa bagi siapa pun.

Namun, pekerjaan tetaplah pekerjaan.

Selama uangnya dibayar tepat waktu, ia akan bertahan.

Setidaknya, itulah yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.

Pukul sebelas lewat dua puluh menit, kafe akhirnya tutup.

Lampu ruang makan diredupkan, papan menu elektronik dimatikan, dan musik latar yang sejak sore mengiringi percakapan para pelanggan berhenti dengan bunyi klik kecil. Tanpa musik dan tawa, ruangan itu mendadak tampak jauh lebih sempit. Meja-meja yang sebelumnya dipenuhi gelas dan piring kini hanya menyisakan bekas lingkaran air di atas permukaan kayu.

Mai memasuki ruang belakang sambil membawa tumpukan celemek yang telah dikumpulkan dari para pelayan lain.

Ruang ganti itu tidak lebih besar daripada gudang kecil. Loker-loker logam berjejer di sepanjang dinding, sebagian pintunya penyok, sementara sebuah kipas angin tua berputar dengan suara berderit yang teratur. Aroma deterjen, hairspray, dan sisa makanan dari dapur bercampur menjadi bau khas ruangan yang digunakan terlalu banyak orang setiap hari.

Di atas meja rias, lampu-lampu kecil mengelilingi cermin besar. Beberapa pelayan masih sibuk menghapus riasan, mengganti sepatu, atau memeriksa ponsel mereka.

“Mai, kamu benar-benar tidak mau ikut makan ramen?” tanya seorang pelayan senior bernama Rina sambil menarik ikat rambutnya. “Kita bisa pergi ke tempat yang buka dua puluh empat jam. Aku yang traktir minum.”

Mai sedang melepaskan pita merah muda dari rambutnya. Mendengar tawaran itu, tangannya sempat berhenti.

“Wah, godaan macam apa itu? Ramen tengah malam dengan minuman gratis? Kak Rina ingin membuat Mei-chan jatuh cinta, ya?”

“Berhenti bicara seperti karakter gim romantis selama lima menit saja bisa, tidak?”

“Tidak bisa. Ini sudah penyakit akibat pekerjaan.”

Rina tertawa.

Mai ikut tertawa, tetapi kemudian menggeleng sambil meraih sisir dari tas kecilnya.

“Maaf, aku harus langsung pulang. Ada yang perlu kuurus besok pagi.”

“Kamu selalu punya sesuatu untuk diurus.”

Senyum Mai sedikit menegang.

“Yah, begitulah kehidupan orang dewasa.”

“Kamu bahkan belum dewasa.”

“Justru itu. Aku sedang latihan.”

Rina mengangkat kedua tangannya, menyerah.

“Baiklah, baiklah. Jangan lupa makan sesuatu sebelum tidur.”

“Siap, Kak!”

Percakapan berakhir di sana. Rina kembali mengobrak-abrik lokernya, tidak menyadari bahwa Mai telah menundukkan kepala lebih lama daripada yang diperlukan.

Jangan lupa makan sesuatu.

Kalimat sederhana itu seharusnya tidak membuatnya merasa sesak.

Namun, perhatian kecil kadang-kadang terasa lebih menyakitkan daripada teguran, terutama ketika seseorang sudah terlalu lama membiasakan diri untuk tidak mengharapkan apa pun.

Mai membuka lokernya dan mengeluarkan blus putih, rok gelap, serta kardigan tipis yang biasa dikenakannya ketika pulang. Ia meletakkan semuanya di atas bangku, kemudian mulai melepaskan kostum maid-nya satu per satu.

Renda putih.

Pita merah muda.

Celemek dengan sulaman nama Mei-chan.

Satu demi satu, semua itu terlepas dari tubuhnya.

Ketika akhirnya mengenakan pakaian biasa, Mai memandang seragam maid yang terlipat di atas bangku. Ada sesuatu yang aneh ketika ia melihatnya dari luar. Kostum itu tampak seperti milik orang lain, padahal beberapa jam sebelumnya ia telah bergerak, tertawa, dan berbicara seolah-olah tidak ada bagian dari dirinya yang terpisah dari identitas tersebut.

Ia mengambil ponselnya.

Dua pesan belum dibaca dari nomor yang disimpannya sebagai Administrasi Rumah Sakit.

Mai membuka pesan pertama.

Pembayaran berikutnya jatuh tempo pada tanggal 15. Mohon segera melakukan konfirmasi.

Pesan kedua berisi pengingat mengenai jumlah tunggakan yang belum diselesaikan.

Ia membaca angka-angkanya sekali.

Kemudian sekali lagi.

Ibu jarinya berhenti di atas layar. Ia membuka aplikasi perbankan, memeriksa saldo, lalu menutupnya kembali tanpa melakukan apa pun.

Jumlahnya tidak berubah hanya karena ia berharap angka itu bertambah.

Mai memasukkan ponsel ke dalam tas.

“Tidak apa-apa,” bisiknya.

Ia mengucapkannya dengan suara yang biasa ia gunakan ketika pelanggan terlihat gugup setelah kalah dalam permainan di kafe.

“Besok akan ada jalan.”

Ketukan terdengar dari pintu ruang belakang.

Tok. Tok.

Mai menoleh.

“Ya? Sebentar!”

Ia mengira manajernya hendak membicarakan jadwal kerja pekan berikutnya. Karena itu, ia merapikan kardigan, mengikat rambutnya menjadi ekor kuda sederhana, lalu membuka pintu dengan senyum sopan.

Senyumnya berhenti sebelum terbentuk sempurna.

Seorang pria berdiri di koridor.

Usianya sekitar awal empat puluhan. Ia mengenakan setelan jas hitam yang potongannya begitu presisi hingga hampir tidak terlihat memiliki lipatan, kemeja putih dengan kerah kaku, dan dasi abu-abu gelap. Rambut hitamnya disisir ke belakang tanpa sehelai pun yang tampak keluar dari tempatnya. Sepatu kulitnya bersih, mengilap, dan sama sekali tidak sesuai dengan lantai koridor yang sedikit lengket akibat tumpahan minuman.

Pria itu memegang sebuah map hitam tipis.

Di belakangnya, melalui jendela kecil di ujung koridor, cahaya papan reklame Akihabara memantul pada kaca gedung di seberang.

“Apakah Anda Miyauchi Mai?”

Suaranya datar.

Mai secara refleks merapatkan kedua tangan di depan tubuh.

“Ya. Ada keperluan apa, Pak?”

“Nama saya Saito Kazuma. Saya mewakili tim hukum keluarga Kisaragi.”

Nama itu tidak langsung berarti apa-apa bagi Mai.

Akan tetapi, cara pria tersebut mengucapkannya membuat percakapan ini terasa jauh berbeda dari urusan administrasi biasa.

“Saya ingin berbicara dengan Anda secara pribadi. Sekarang.”

Mai melirik ke belakang. Beberapa pelayan masih berada di ruang ganti, tetapi tidak ada yang memperhatikan pintu. Manajer mereka sedang menghitung pemasukan di dekat dapur.

“Kalau soal pekerjaan, Bapak bisa menghubungi manajer kami terlebih dahulu.”

“Ini bukan mengenai pekerjaan Anda di kafe.”

Saito membuka map hitamnya.

“Dan saya sarankan agar kita berbicara di tempat yang tidak dapat didengar orang lain.”

Ada jeda pendek.

Mai memperhatikan map itu, lalu wajah pria tersebut.

“Maaf, apakah saya melakukan sesuatu yang salah?”

“Belum tentu.”

Jawaban itu justru membuat tengkuknya terasa dingin.

Saito mengeluarkan selembar dokumen dan memperlihatkannya tanpa menyerahkannya terlebih dahulu.

Pada bagian atas tercetak sebuah foto.

Foto seorang gadis berseragam sekolah, berambut panjang, dengan wajah lembut dan mata yang tampak tenang.

Mai tidak mengenali gadis itu.

Namun, ketika Saito menggeser dokumen tersebut sedikit lebih dekat, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat ganjil pada foto itu.

Bentuk wajahnya.

Jarak antara kedua mata.

Lengkungan hidung.

Bahkan garis bibirnya.

Untuk sesaat, Mai merasa seolah-olah sedang menatap foto dirinya sendiri yang diambil oleh seseorang tanpa sepengetahuannya.

“Siapa dia?” tanyanya.

Saito tidak segera menjawab.

“Kisaragi Kanade.”

Nama itu kelak akan mengubah hidup Mai.

Malam itu, nama tersebut masih sekadar bunyi asing yang keluar dari mulut seorang pria berjas hitam.

“Putri bungsu keluarga Kisaragi,” lanjut Saito. “Ia meninggal dunia dua bulan lalu.”

Mai mengalihkan pandangan dari foto itu.

“Oh.”

Hanya itu yang bisa ia katakan.

Ia tahu seharusnya ia menyampaikan belasungkawa. Ia tahu ada ungkapan-ungkapan sopan yang biasa digunakan ketika seseorang memberitahukan kematian anggota keluarga. Namun, sesuatu dalam nada bicara Saito membuat kata-kata tersebut tertahan di tenggorokannya.

Pria itu tidak terdengar seperti seseorang yang sedang membicarakan orang mati.

Ia terdengar seperti seseorang yang sedang menjelaskan sebuah masalah administratif.

“Dan apa hubungannya dengan saya?”

“Wajah Anda sangat mirip dengannya.”

Saito mengeluarkan foto kedua.

Kali ini, foto tersebut menampilkan Mai sendiri.

Bukan foto resmi dari kafe, melainkan gambar yang diambil dari jarak jauh ketika ia sedang berdiri di depan mesin penjual otomatis, masih mengenakan kostum maid. Wajahnya terlihat dari samping, tetapi kemiripan itu tetap jelas.

Mai merasa jemarinya mendingin.

“Bapak memotret saya?”

“Kami melakukan investigasi pendahuluan.”

“Itu bukan jawaban atas pertanyaan saya.”

Untuk pertama kalinya, sesuatu yang menyerupai ketertarikan melintas di mata Saito. Bukan keterkejutan karena seorang gadis enam belas tahun berani membantahnya, melainkan penilaian singkat terhadap sesuatu yang baru saja ia temukan.

“Benar,” katanya. “Kami memotret Anda.”

Ia menyelipkan kembali foto tersebut ke dalam map.

“Sekarang, apakah Anda bersedia meluangkan waktu selama tiga puluh menit untuk mendengarkan sebuah tawaran pekerjaan?”

Mai menatapnya lama.

Naluri pertamanya adalah menolak.

Ia tidak mengenal pria itu. Ia tidak mengenal keluarga Kisaragi. Dan ia sama sekali tidak menyukai kenyataan bahwa seseorang telah menyelidiki kehidupannya tanpa izin, lalu datang ke tempat kerjanya seolah-olah ia berhak menuntut waktu dan perhatian Mai.

Namun, matanya kembali tertuju pada map hitam tersebut.

Tawaran pekerjaan.

Tiga puluh menit.

Mai memikirkan saldo rekeningnya.

Kemudian tunggakan rumah sakit.

Lalu pesan-pesan yang selama ini ia hindari dengan mematikan notifikasi ponsel.

“Tempatnya di mana?” tanyanya akhirnya.

Saito menutup map.

“Kantor hukum kami. Mobil sudah menunggu di bawah.”

Perjalanan menuju kantor hukum keluarga Kisaragi memakan waktu sekitar dua puluh menit.

Mobil hitam yang menjemput Mai begitu senyap hingga ia hampir tidak menyadari bahwa kendaraan tersebut telah meninggalkan kawasan Akihabara. Tidak ada suara mesin yang mengganggu percakapan, tidak ada getaran berarti dari jalan, dan tidak ada musik yang diputar melalui sistem audio. Di dalam kabin, udara dingin mengalir perlahan dari ventilasi, membawa aroma kulit, kayu cedar, dan sesuatu yang menyerupai parfum mahal.

Mai duduk di kursi belakang dengan tas dipangku.

Ia tidak menyentuh apa pun.

Bahkan ketika pengemudi menawarkan air mineral, ia hanya menggeleng sopan.

Di sebelahnya, Saito membuka sebuah tablet. Cahaya layar memantul pada kacamatanya, sementara jemarinya bergerak cepat melewati beberapa dokumen.

Mai memperhatikan pantulan kota yang berlari mundur di balik jendela.

Akihabara perlahan menghilang.

Toko-toko elektronik berganti dengan gedung perkantoran. Poster-poster anime dan papan reklame berwarna cerah tergantikan oleh fasad kaca yang seragam, lobi-lobi berlantai marmer, serta lampu-lampu putih yang menyinari jalan tanpa memberi kesan hangat.

Seolah-olah mereka sedang melewati perbatasan menuju dunia lain.

“Pak Saito.”

“Ya?”

“Kalau ini benar-benar tawaran pekerjaan, kenapa Bapak harus menyelidiki saya terlebih dahulu?”

Saito tidak mengangkat kepala dari tablet.

“Karena pekerjaan yang akan kami tawarkan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang.”

“Pekerjaan apa yang mengharuskan seseorang memotret calon pekerjanya diam-diam?”

“Pekerjaan yang konsekuensinya cukup besar untuk membuat kami berhati-hati.”

Mai menoleh kepadanya.

“Bapak selalu menjawab seperti ini?”

“Seperti apa?”

“Seperti sedang membaca klausul kontrak.”

Saito akhirnya mengalihkan pandangan.

“Jawaban yang tidak menyenangkan tetap dapat menjadi jawaban yang benar, Miyauchi-san.”

Mai mengerucutkan bibir, lalu kembali melihat ke luar jendela.

“Kalau begitu, saya harap bayarannya juga benar-benar menyenangkan.”

Tidak ada tawa.

Tidak ada senyum.

Saito hanya kembali menatap tabletnya.

Namun, untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, Mai merasa sedikit lega karena setidaknya ia masih bisa mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti dirinya sendiri.

Kantor hukum Kisaragi menempati lantai dua puluh tiga sebuah gedung perkantoran di kawasan bisnis Tokyo.

Lobi utamanya begitu luas hingga langkah kaki Mai menggema di antara dinding batu pucat. Di balik meja resepsionis, sebuah logo perusahaan terukir pada panel logam berwarna perak. Tidak ada tanaman hias yang berlebihan, tidak ada lukisan yang mencolok, dan tidak ada suara percakapan selain salam singkat para pegawai yang melintas.

Semuanya terlihat mahal.

Semuanya juga terasa dingin.

Mai mengikuti Saito melewati gerbang keamanan, kemudian masuk ke dalam lift khusus yang hanya dapat diakses menggunakan kartu identitas. Angka pada panel digital terus bertambah. Ketika pintu terbuka di lantai dua puluh tiga, mereka disambut koridor panjang berkarpet abu-abu gelap.

Seorang sekretaris membungkuk kepada Saito.

“Dokumen yang Anda minta sudah disiapkan, Pak.”

“Letakkan di ruang rapat kecil.”

“Baik.”

Sekretaris itu melirik Mai sekilas. Pandangannya tidak terang-terangan merendahkan, tetapi cukup lama untuk membuat Mai menyadari perbedaan antara pakaian sederhananya dan lingkungan tempat ia berdiri.

Ia merapatkan tali tasnya.

Bukan karena malu.

Setidaknya, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itulah alasannya.

Saito membukakan pintu sebuah ruang rapat.

Di dalamnya terdapat meja panjang berwarna hitam, enam kursi kulit, layar presentasi yang terpasang pada dinding, dan jendela besar yang menghadap ke hamparan lampu kota. Sebuah jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh delapan menit.

Di atas meja telah tersedia dua gelas air dan sebuah map tebal.

“Silakan duduk.”

Mai memilih kursi yang paling dekat dengan pintu.

Saito menyadarinya, tetapi tidak berkomentar.

Ia duduk di seberang Mai, membuka map, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Pertama-tama, saya perlu menjelaskan situasi keluarga Kisaragi.”

“Bukankah tadi Bapak bilang ini tawaran pekerjaan?”

“Penjelasan mengenai situasi tersebut merupakan bagian dari tawaran.”

Mai menghela napas kecil.

“Baiklah. Silakan.”

Saito menekan sebuah tombol pada pengendali layar. Lampu ruang rapat meredup, dan layar di dinding menyala.

Foto pertama yang muncul memperlihatkan sebuah rumah besar bergaya modern dengan taman yang tertata sempurna. Bangunan itu berdiri di atas lahan luas, dikelilingi pepohonan dan pagar tinggi. Bahkan melalui gambar, Mai dapat melihat bahwa rumah tersebut memiliki lebih banyak kamar daripada seluruh lantai tempat tinggalnya.

Di sudut bawah layar tertera tulisan: Kediaman Kisaragi, Distrik Setagaya.

Foto berikutnya menampilkan seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun, mengenakan setelan gelap dengan ekspresi tegas. Rambutnya telah dihiasi beberapa helai uban, tetapi posturnya tetap tegak dan sorot matanya tajam.

“Kisaragi Souichiro,” kata Saito. “Kepala keluarga dan direktur utama kelompok usaha Kisaragi.”

Mai pernah mendengar nama itu.

Siapa yang tidak?

Kelompok usaha Kisaragi memiliki kepentingan di sektor properti, teknologi, layanan keuangan, dan pendidikan swasta. Nama mereka muncul dalam berita ekonomi, daftar orang terkaya, serta laporan mengenai yayasan pendidikan yang menyediakan beasiswa bagi siswa berprestasi.

Bagi sebagian orang, keluarga Kisaragi adalah simbol kesuksesan.

Bagi sebagian lainnya, mereka adalah contoh bagaimana uang mampu membuka hampir semua pintu.

Saito mengganti gambar.

Kali ini, layar menampilkan seorang perempuan dengan wajah cantik dan ekspresi tenang.

“Kisaragi Reiko. Istri Souichiro.”

Lalu sebuah foto keluarga.

Lihat selengkapnya