Pagi pertama Kisaragi Ren setelah koma dimulai dengan suara yang tidak dikenalnya.
Tit.
Tit.
Tit.
Bunyi itu datang dari suatu tempat di sebelah kirinya, teratur dan nyaris tanpa perubahan nada. Setiap jeda di antara dua bunyi terasa sama panjangnya, seolah-olah seseorang telah mengatur waktu dengan penggaris dan memerintahkan dunia untuk mematuhinya. Di antara bunyi-bunyi tersebut, terdengar desis halus dari pendingin ruangan, diselingi suara gesekan kain dan langkah kaki yang sesekali bergerak di atas lantai.
Ren ingin membuka mata.
Ia tidak tahu mengapa.
Keinginan itu muncul begitu saja, samar-samar, seperti dorongan untuk menarik tangan dari permukaan yang terlalu panas. Kelopak matanya terasa berat. Tenggorokannya kering. Ada sesuatu yang menempel pada punggung tangannya, sesuatu yang menarik kulitnya setiap kali ia mencoba menggerakkan jari.
Ia mengerahkan tenaga.
Cahaya putih menyusup ke dalam pandangannya.
Ren segera memejamkan mata kembali.
Terlalu terang.
Kepalanya berdenyut ketika ia mencoba memahami apa yang baru saja dilihatnya. Ia menarik napas pendek, kemudian napas berikutnya terdengar lebih kasar. Dadanya terasa sesak, meskipun tidak ada sesuatu yang benar-benar menindihnya.
Di suatu tempat dekat ranjang, seseorang berbicara.
“Respons pupil mulai membaik. Ren-san, apakah Anda bisa mendengar suara saya?”
Ren tidak menjawab.
Ia mencoba mengingat suara itu.
Tidak ada apa-apa.
“Ren-san?”
Sebuah tangan menyentuh pergelangan tangannya, memeriksa denyut nadi. Sentuhan itu tidak kasar, tetapi Ren langsung menegang. Otot-otot lengannya mengeras di bawah seprai, dan jari-jarinya bergerak gelisah mencari sesuatu yang tidak ia ketahui.
“Jangan memaksakan diri. Anda baru saja sadar.”
Baru saja sadar?
Ren berusaha menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti dilapisi debu.
Ia membuka mata sekali lagi, kali ini sedikit lebih lama.
Langit-langit putih.
Lampu tersembunyi di balik panel.
Tirai berwarna krem.
Dinding dengan permukaan halus yang tidak memiliki satu pun noda.
Ia menggeser pandangan ke kiri.
Sebuah monitor elektronik berdiri di samping ranjang, menampilkan garis hijau yang bergerak naik turun. Kabel-kabel tipis menghubungkan alat tersebut dengan sensor di tubuhnya. Di dekat kaki ranjang, sebuah tiang infus berdiri tegak, sementara layar kecil pada perangkat lain menampilkan angka-angka yang tidak dapat dipahaminya.
Di sebelah kanan, seorang pria berjas putih berdiri sambil memegang tablet medis. Usianya mungkin sekitar lima puluh lima tahun. Rambutnya telah memutih di bagian pelipis, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya. Di belakang pria itu, seorang perawat berseragam pucat sedang memeriksa catatan pada papan klip.
Keduanya menatap Ren.
Tidak ada seorang pun yang tersenyum.
Ren mencoba mengangkat kepala, tetapi rasa sakit tajam segera menjalar dari tengkuk ke belakang matanya. Ia mengerang pelan dan kembali menjatuhkan kepala ke bantal.
“Jangan bergerak dahulu,” kata dokter itu. “Anda masih terlalu lemah.”
Ren menatapnya.
Ia mengenali kata-katanya.
Ia memahami bahasa yang digunakan pria tersebut.
Namun, ada jarak yang aneh antara memahami kalimat dan memahami situasi. Seperti membaca sebuah buku yang ditulis dalam bahasa sendiri, tetapi menemukan bahwa semua tokohnya berasal dari kehidupan yang tidak pernah ia jalani.
“Di mana…?”
Suaranya begitu serak hingga ia sendiri nyaris tidak mengenalinya.
Dokter mendekat satu langkah.
“Anda berada di kamar pemulihan medis Kediaman Kisaragi.”
Kediaman Kisaragi.
Ren mengulangi nama itu di dalam kepalanya.
Tidak ada gambar yang muncul.
Tidak ada ingatan tentang pintu masuk, tangga, taman, atau kamar tidur. Tidak ada perasaan akrab ketika mendengar kata kediaman. Bahkan nama keluarga yang disebutkan dokter itu terasa seperti informasi yang seharusnya penting, tetapi kehilangan seluruh maknanya.
Ren memandang sekeliling sekali lagi.
“Kenapa saya di sini?”
Dokter dan perawat saling bertukar pandang.
Pertukaran itu berlangsung singkat, hanya sepersekian detik. Namun, Ren melihatnya.
Ada sesuatu yang mereka ketahui.
Sesuatu yang belum diberitahukan kepadanya.
“Nama Anda Kisaragi Ren,” kata dokter dengan suara hati-hati. “Anda berusia delapan belas tahun. Anda telah menjalani perawatan intensif selama beberapa waktu, dan sekarang kami sedang memastikan bahwa kondisi Anda cukup stabil setelah kembali sadar.”
Delapan belas tahun.
Kisaragi Ren.
Ren mencoba menyusun kedua informasi itu di dalam benaknya.
Namanya terasa asing.
Akan tetapi, ketika ia mendengarnya, ada semacam respons kecil di dalam dirinya. Bukan ingatan yang jelas, melainkan sensasi bahwa nama itu memang seharusnya menjadi miliknya.
Ia menunduk menatap tangannya.
Kulitnya pucat. Selang infus menempel pada punggung tangan kirinya. Di bawah seprai, tubuhnya terasa lemah, seolah-olah otot-ototnya telah lama berhenti digunakan.
“Berapa lama saya tidur?”
Dokter menarik napas perlahan.
“Cukup lama.”
“Berapa lama?”
“Kami akan menjelaskan kronologi perawatan Anda secara bertahap. Untuk saat ini, saya perlu memastikan fungsi kognitif Anda terlebih dahulu.”
Ren memandang dokter tanpa berkedip.
Ia tidak menyukai jawaban itu.
Bukan karena jawaban tersebut tidak jelas, melainkan karena pria itu berbicara seolah-olah Ren adalah sebuah perangkat yang baru saja dihidupkan kembali dan harus menjalani pemeriksaan sebelum boleh digunakan.
“Apakah saya sakit?”
“Anda sedang dalam pemulihan.”
“Apakah saya terluka?”
“Ada beberapa kondisi yang perlu kami evaluasi.”
“Apakah saya melakukan sesuatu?”
Pertanyaan terakhir itu membuat tangan dokter berhenti bergerak.
Ren tidak tahu mengapa ia mengatakannya. Kata-kata tersebut keluar begitu saja, didorong oleh kegelisahan yang semakin memenuhi dadanya.
Apakah saya melakukan sesuatu?
Pertanyaan itu terasa jauh lebih penting daripada semua pertanyaan sebelumnya.
Ia tidak tahu apa yang sedang dicarinya. Ia hanya memiliki perasaan samar bahwa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang sangat buruk, dan semua orang di dalam kamar itu sedang berusaha menghindari pembicaraan tentangnya.
Dokter meletakkan tablet di atas meja kecil.
“Ren-san, saya ingin Anda menjawab beberapa pertanyaan sederhana. Apakah Anda mengetahui tanggal hari ini?”
Ren menatapnya.
Tidak.
Ia bahkan tidak mengetahui tahun berapa sekarang.
“Tidak.”
“Apakah Anda tahu di kota mana kita berada?”
Ren terdiam.
“Tokyo,” jawabnya akhirnya, dengan nada ragu.
“Benar. Bagus. Apakah Anda mengenali saya?”
Ren mengamati wajah pria itu.
Rambut memutih di pelipis.
Kacamata tipis.
Lipatan kecil di antara alis.
Tidak ada satu pun bagian dari wajah tersebut yang memicu ingatan.
“Tidak.”
“Tidak apa-apa. Apakah Anda mengingat nama anggota keluarga Anda?”
Ren membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Anggota keluarga.
Kata-kata itu seharusnya memiliki isi. Seharusnya ada wajah-wajah yang muncul, suara yang dikenali, atau setidaknya satu bayangan samar tentang orang-orang yang pernah berada di dekatnya.
Namun, ketika ia berusaha mencarinya, pikirannya hanya dipenuhi ruang kosong.
Ren merasakan jantungnya berdegup semakin cepat.
Ia menatap dokter, kemudian perawat, lalu pintu kamar yang tertutup rapat.
“Siapa saya sebenarnya?”
Pertanyaan itu keluar dengan suara yang jauh lebih kecil daripada sebelumnya.
Untuk sesaat, tidak ada yang menjawab.
Bunyi monitor jantung berubah sedikit lebih cepat.
Tit. Tit. Tit. Tit.
Dokter segera mengambil stetoskop dari saku jasnya.
“Ren-san, tarik napas perlahan. Anda sedang mengalami kebingungan pascabangun dari koma. Kondisi ini bisa terjadi, dan kami akan membantu Anda melewatinya.”
“Tapi saya tidak ingat apa-apa.”
“Jangan memaksakan diri.”
“Saya bahkan tidak tahu wajah saya sendiri!”
Suara Ren meninggi pada akhir kalimat.
Ia berusaha bangkit, tetapi tubuhnya tidak mematuhinya. Siku kanannya bergetar ketika ia menekan kasur. Napasnya memburu, dan kabel sensor yang menempel pada dadanya tertarik hingga perawat segera mendekat untuk memastikan posisinya tidak berubah.
“Ren-san, tenang dahulu.”
“Jangan sentuh saya!”
Ren menepis tangan perawat secara refleks.
Gerakannya lemah, tetapi cukup membuat perempuan itu mundur setengah langkah.
Ren membeku.
Ia menatap tangannya sendiri, lalu wajah perawat yang kini berusaha mempertahankan ekspresi profesional.
“Aku…”
Kata-katanya tersangkut.
Ia tidak tahu apa yang hendak dikatakannya.
Ia ingin meminta maaf, tetapi tidak mengetahui mengapa permintaan maaf itu terasa begitu mendesak. Ia ingin bertanya apakah dirinya biasanya berperilaku seperti ini, tetapi pertanyaan tersebut justru membuatnya semakin takut.
Bagaimana jika jawabannya adalah ya?
Bagaimana jika ia memang seseorang yang mudah marah, seseorang yang menyakiti orang lain, seseorang yang telah melakukan sesuatu yang begitu buruk hingga semua orang harus merawatnya di kamar penuh peralatan medis ini?
Ren mencengkeram seprai.
“Aku tidak mengerti…”
Dokter memberikan isyarat kecil kepada perawat untuk menjaga jarak.
“Tidak apa-apa. Tidak ada yang akan memaksa Anda melakukan apa pun sekarang.”
Kalimat itu terdengar menenangkan.
Namun, Ren tidak mampu mempercayainya.
Sebab, di dalam kepalanya, ada sebuah ruang kosong yang terlalu besar.
Dan di balik ruang kosong itu, ia merasakan sesuatu yang menakutkan sedang menunggunya.
Kamar pemulihan medis Kediaman Kisaragi tidak pernah dirancang untuk terlihat seperti kamar tidur biasa.
Luasnya hampir setara dengan sebuah apartemen kecil. Ranjang elektrik berlapis seprai putih ditempatkan di tengah ruangan, menghadap jendela besar yang dilapisi tirai tipis. Di sebelah kiri terdapat meja medis dengan perangkat pemantau, sementara di sisi kanan berdiri lemari kaca berisi perlengkapan kesehatan yang ditata berdasarkan ukuran dan fungsi.
Sebuah sofa panjang ditempatkan dekat jendela. Di atas meja rendah di depannya terdapat vas berisi bunga putih yang diganti secara berkala oleh staf rumah tangga. Aroma antiseptik yang samar bercampur dengan wangi bunga dan kayu dari panel dinding, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan.
Namun, tidak ada sesuatu pun di ruangan itu yang terasa seperti milik Ren.
Ia memandangi tirai.
Ia memandangi sofa.
Ia memandangi jam digital di dinding.
Setiap benda tampak terlalu rapi, terlalu bersih, dan terlalu jauh dari jangkauan kehidupannya sendiri.
Dokter keluarga, yang memperkenalkan dirinya sebagai Dokter Takamura, memeriksa respons pupil Ren dengan senter kecil. Setelah itu, ia meminta Ren mengikuti gerakan jarinya, menggenggam tangannya, dan menjawab beberapa pertanyaan sederhana tentang orientasi waktu serta tempat.
Ren berusaha menjawab semuanya.
Ia dapat mengikuti perintah.
Ia dapat memahami instruksi.
Ia juga mampu menyebutkan sejumlah fakta umum yang tampaknya masih tersimpan di dalam kepalanya. Ia mengetahui bahwa Tokyo adalah ibu kota Jepang, memahami cara kerja jam, dan dapat membaca tulisan yang ditunjukkan dokter kepadanya.
Akan tetapi, ketika Takamura meminta Ren menyebutkan nama teman terdekatnya, Ren hanya menatap kertas itu tanpa jawaban.
Ketika diminta mengingat tempat ia bersekolah, pikirannya kembali kosong.
Dan ketika dokter menanyakan hal terakhir yang diingatnya sebelum kehilangan kesadaran, Ren merasakan sakit tajam di belakang mata, disusul kilasan cahaya putih yang tidak dapat ia pahami.
Ia terengah.
“Berhenti,” katanya.
Takamura segera menurunkan kertas.
“Baik. Kita tidak perlu melanjutkannya sekarang.”
Ren memalingkan wajah.
“Apakah saya kehilangan ingatan?”
Dokter tidak langsung menjawab. Ia memeriksa beberapa angka pada monitor, lalu menatap Ren dengan ekspresi yang telah dipersiapkan untuk menghadapi pertanyaan sulit.
“Pemeriksaan awal menunjukkan gangguan ingatan yang luas. Sebagian informasi dasar masih dapat Anda akses, tetapi banyak ingatan autobiografis—pengalaman pribadi, hubungan, dan peristiwa dalam hidup Anda—belum dapat Anda ingat kembali.”
“Seberapa parah?”
“Kami belum dapat memastikan batasnya secara mutlak. Berdasarkan evaluasi awal, perkiraan sementara menunjukkan bahwa sekitar sembilan puluh persen ingatan pribadi yang kami uji tidak dapat Anda akses saat ini.”
Sembilan puluh persen.
Ren menatap dokter seolah-olah pria itu baru saja menyebutkan angka yang tidak masuk akal.
“Bagaimana cara menghitungnya?”
“Itu bukan berarti sembilan puluh persen otak Anda rusak atau seluruh ingatan tersebut telah terhapus. Angka itu menggambarkan perkiraan luasnya kesulitan mengingat dalam pemeriksaan awal. Kondisi Anda masih perlu dievaluasi secara berkala.”
Ren mencoba memahami penjelasan itu.
Sembilan puluh persen ingatan pribadinya.
Sebagian besar hal yang pernah ia alami, orang-orang yang pernah ditemuinya, tempat-tempat yang pernah didatanginya, dan peristiwa-peristiwa yang mungkin membentuk dirinya sebagai manusia kini tidak dapat ia temukan.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya semakin gelisah.
“Kalau saya tidak mengingat sesuatu,” tanyanya perlahan, “bagaimana saya tahu bahwa sesuatu itu benar-benar pernah terjadi?”
Takamura terdiam.
Pertanyaan tersebut tidak terdengar seperti pertanyaan pasien yang sekadar kebingungan. Ren mengucapkannya dengan kehati-hatian yang aneh, seolah-olah ia sedang berusaha membangun sebuah lantai di atas jurang dan membutuhkan kepastian bahwa setiap papan yang dipasang tidak akan runtuh.
“Untuk saat ini, kita akan menggunakan informasi yang dapat diverifikasi,” jawab Takamura. “Catatan medis, dokumen, serta keterangan orang-orang yang mengenal Anda. Kita tidak akan memaksa Anda menerima semua informasi sekaligus.”
“Orang-orang yang mengenal saya…”
Ren mengulang kalimat itu dengan suara lirih.
Ia memandang dokter dan perawat.
“Apakah mereka akan datang?”
Takamura melirik jam dinding.
“Ada beberapa anggota keluarga yang menunggu kabar mengenai kondisi Anda. Kami akan mengatur kunjungan ketika Anda cukup siap.”
Ren segera menoleh ke pintu.
Gerakan itu begitu cepat hingga monitor kembali mencatat peningkatan denyut jantung.
“Jangan dulu.”
Takamura mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa ia mendengar permintaan tersebut.
“Baik. Tidak ada yang akan masuk tanpa persiapan.”
Ren menatap pintu itu lebih lama.
Ia tidak tahu siapa yang mungkin berada di baliknya.
Ia tidak tahu apakah orang-orang yang menunggu tersebut akan menyambutnya dengan pelukan, tangisan, atau tatapan penuh kekecewaan.
Yang ia tahu hanyalah bahwa ia belum siap melihat seseorang yang mungkin mengenalnya lebih baik daripada dirinya sendiri.
Sebab, jika mereka memanggilnya dengan nama yang tidak terasa akrab, bagaimana ia harus menjawab?
Jika mereka menyebut kenangan yang tidak bisa ia ingat, bagaimana ia harus bereaksi?
Dan jika mereka bertanya mengapa ia melakukan sesuatu yang tidak mampu ia ingat pernah melakukannya, apa yang harus ia katakan?
Ren menunduk.
Jari-jarinya meremas tepi seprai sampai buku-bukunya memucat.
“Aku ingin sendirian.”
Takamura mengangguk kepada perawat.
“Kami akan berada di luar. Jika Anda membutuhkan sesuatu, tekan tombol panggil di sisi ranjang.”
Dokter memeriksa kembali sambungan sensor, memastikan posisi infus aman, lalu melangkah menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh.
“Ren-san, satu hal lagi.”
Ren mengangkat wajah.
“Anda tidak perlu mengingat seluruh hidup Anda hari ini.”
Dokter berbicara dengan suara tenang.
“Untuk saat ini, cukup beristirahat dan membiarkan tubuh Anda pulih. Kita akan menghadapi sisanya sedikit demi sedikit.”
Ren tidak menjawab.
Ia hanya memperhatikan ketika dokter dan perawat keluar, kemudian mendengar pintu tertutup perlahan.
Klik.
Suara itu kecil.
Namun, setelah pintu tertutup, ruangan terasa jauh lebih luas dan jauh lebih sunyi.
Ren menatap garis hijau pada monitor jantungnya.
Tit.
Tit.
Tit.
Ia mencoba mengatur napas mengikuti irama tersebut.
Tarik napas.
Tahan sebentar.
Buang perlahan.
Untuk beberapa detik, ia berhasil.
Kemudian matanya tertuju pada vas bunga putih di dekat jendela, dan entah mengapa, dadanya kembali terasa sesak.
Ada sesuatu yang salah dengan bunga-bunga itu.
Bukan bentuknya.
Bukan warnanya.
Melainkan kenyataan bahwa seseorang telah meletakkannya di sana seolah-olah ruangan tersebut sedang menunggu seseorang untuk pulih.
Ren menatap kelopak putih yang tersusun rapi.
Ia tidak tahu siapa yang memilih bunga itu.
Ia tidak tahu siapa yang menggantinya setiap pagi.
Dan ia tidak tahu mengapa, ketika melihatnya, ia merasa seperti seseorang yang telah gagal memenuhi sebuah janji.
Tangannya naik perlahan ke dada.
Jantungnya masih berdetak.
Namun, untuk pertama kalinya sejak membuka mata, Ren tidak yakin apakah ia benar-benar telah kembali ke kehidupan yang seharusnya menjadi miliknya.
Di balik pintu kamar pemulihan, Dokter Takamura berdiri di koridor bersama Saito Kazuma.
Koridor itu memiliki suasana yang sama seperti bagian lain dari Kediaman Kisaragi: lantai mengilap, dinding berwarna netral, dan pencahayaan lembut yang tidak menyisakan sudut gelap. Dua staf rumah tangga berdiri di dekat persimpangan koridor, menunggu instruksi tanpa berani mengganggu percakapan.
Takamura melepas kacamatanya dan membersihkan salah satu lensanya dengan kain kecil.
“Respons kesadarannya cukup baik,” katanya. “Fungsi bahasa dan kemampuan mengikuti instruksi relatif terjaga. Namun, kebingungan serta gangguan ingatan autobiografisnya cukup luas.”
Saito memeriksa jam tangannya.
“Apakah dia mengingat kejadian sebelum koma?”
“Belum ada ingatan episodik yang dapat kami konfirmasi dari periode tersebut. Saya tidak akan menyimpulkan bahwa semua ingatannya hilang, tetapi aksesnya terhadap informasi pribadi saat ini sangat terbatas.”
“Bagaimana dengan pemicu trauma?”
“Kami belum melakukan pengujian yang dapat menimbulkan tekanan emosional berat. Itu tidak akan bijaksana dalam kondisi seperti sekarang.”