Pukul 05.00 pagi, alarm digital di atas nakas berbunyi dengan nada lembut yang terdengar seperti seseorang sedang mengetuk pintu peti mati.
Miyauchi Mai membuka sebelah mata. Selama beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit berwarna putih gading, mencoba memahami mengapa kasurnya terasa begitu empuk sampai tubuhnya seolah tenggelam ke dalamnya. Tirai sutra berwarna krem menjuntai di depan jendela setinggi dua meter, menyisakan celah kecil tempat cahaya kebiruan menjelang fajar menyelinap masuk. Pendingin ruangan berdengung nyaris tanpa suara. Di sudut kamar, sebuah vas berisi bunga lili putih menguarkan aroma lembut yang sama sekali tidak membantu mengusir kantuknya.
Lalu, ingatannya kembali.
Kediaman Kisaragi. Kontrak 365 hari. Identitas palsu. Kisaragi Kanade.
Mai mengembuskan napas panjang dan menjatuhkan wajahnya kembali ke bantal.
"Ah, benar. Aku sudah bukan manusia bebas."
Tangannya meraba-raba nakas sampai menemukan alarm, lalu menekannya dengan gerakan yang terlalu keras untuk benda sekecil itu. Setelah menguap lebar, ia menarik selimut sampai menutupi kepala. Kasur ini, pikirnya, pasti dirancang oleh seseorang yang memahami cara terbaik untuk membuat manusia melupakan semua kewajibannya. Kalau ia tidur lima menit lagi, mungkin dunia akan berubah pikiran dan membatalkan kontrak itu.
Ketukan terdengar dari pintu.
Tok. Tok. Tok.
"Nona Kanade."
Suara pria itu datar, tegas, dan tidak mengandung sedikit pun simpati terhadap nasib orang yang baru saja bangun tidur.
Mai membeku di balik selimut.
"Anda memiliki waktu lima menit untuk bersiap. Agenda pagi dimulai pukul lima lewat lima belas."
Ia mengenali suara tersebut. Saito Kazuma. Pria berusia empat puluh dua tahun yang mampu mengucapkan kalimat sesederhana selamat pagi dengan intonasi seolah sedang membacakan surat tuntutan.
"Baik, Sa—"
Mai nyaris menyebut namanya dengan nada kesal. Ia menggigit ujung lidah, kemudian segera mengoreksi dirinya.
"Baik, Pak Saito! Saya segera bersiap!"
"Bagus. Saya tunggu di ruang belajar."
Langkah kaki menjauh. Mai baru berani mengeluarkan kepalanya setelah suara sepatu pantofel itu menghilang di balik koridor.
Ia melirik jam digital.
05.01.
"Empat menit untuk bersiap. Luar biasa. Bahkan pegawai restoran punya waktu lebih manusiawi untuk menyambut kiamat."
Mai bangkit, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu melangkah menuju kamar mandi. Rambutnya yang hitam sebahu mencuat ke berbagai arah. Ia menyikat gigi sambil menatap bayangannya sendiri di cermin, mengamati mata yang masih sembap dan kulit pucat akibat kurang tidur. Di atas meja rias, pakaian rumah yang disediakan untuknya telah dilipat dengan sempurna: blus putih, kardigan berwarna merah muda pucat, dan rok panjang sederhana yang sesuai dengan citra seorang gadis dari keluarga terpandang.
Tidak ada satu pun benda di kamar ini yang benar-benar terasa miliknya.
Selesai berpakaian, Mai kembali ke meja belajar. Sebuah map kulit hitam tergeletak di tengah permukaan kayu mahoni, terlalu tebal untuk disebut buku panduan biasa. Di sampingnya terdapat pena, penanda halaman berwarna-warni, serta sebuah kartu kecil yang memuat jadwal kegiatan hari itu.
Ia duduk, membuka map, dan langsung terdiam.
Seratus halaman.
Bukan seratus halaman berisi peraturan kerja yang bisa dipahami dengan membaca sekilas. Dokumen itu dipenuhi kronologi masa kecil, kebiasaan keluarga, preferensi makanan, percakapan yang konon pernah terjadi, tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi, hingga detail yang terdengar terlalu remeh untuk diingat oleh manusia normal.
Di bagian atas halaman pertama tercetak judul dengan huruf kapital.
PROTOKOL KONTINUITAS IDENTITAS: KISARAGI KANADE
Di bawahnya terdapat subjudul yang lebih kecil.
Pedoman perilaku, rekonstruksi memori, dan konsistensi narasi pascapemulihan Kisaragi Ren.
Mai menelan ludah.
"Rekonstruksi memori? Kalian mau aku menjadi adiknya atau mesin pencetak kenangan?"
Ia membalik halaman pertama.
DATA DASAR SUBJEK
Nama: Kisaragi Kanade.
Usia saat meninggal: 14 tahun.
Hubungan dengan Kisaragi Ren: adik kandung.
Karakteristik sosial: tenang, lembut, cenderung pemalu di hadapan orang asing, tetapi menunjukkan kedekatan emosional yang tinggi terhadap kakaknya.
Kebiasaan yang harus dipertahankan: memanggil Ren dengan sebutan Onii-chan; menyukai teh susu hangat; tidak menyukai makanan terlalu pedas; sering menyentuh ujung lengan baju Ren ketika merasa gugup.
Mai berhenti membaca.
Ia menunduk, memperhatikan ujung kardigannya sendiri, kemudian perlahan mencubit kain itu di antara ibu jari dan telunjuk.
"Jadi, bahkan cara memegang baju pun sudah diatur."
Ia membayangkan dirinya berjalan di sekolah dengan kepala dipenuhi catatan, mencoba mengingat apakah Kanade pernah menyukai puding vanila pada hari Selasa atau apakah ia lebih menyukai stroberi pada hari Jumat. Kalau ada ujian mendadak mengenai masa kecil seorang gadis yang sudah meninggal, Mai mungkin akan mendapatkan nilai sempurna. Sayangnya, hadiah untuk kelulusan ujian itu adalah kesempatan untuk terus berbohong.
Halaman berikutnya berisi kronologi hubungan kedua bersaudara.
Pada usia lima tahun, Kanade konon pernah menangis selama berjam-jam setelah Ren mengalami demam tinggi. Pada usia tujuh tahun, Ren mengajarinya melipat burung bangau dari kertas. Ketika Kanade berusia sembilan tahun, keduanya dikabarkan bersembunyi di gudang kebun untuk menghindari guru privat yang hendak memberikan pelajaran tambahan. Pada usia sebelas tahun, Ren berjanji akan menghadiri konser biola Kanade apa pun yang terjadi.
Mai membaca kisah-kisah itu dengan alis berkerut.
Semakin jauh ia membuka halaman, semakin banyak detail yang terasa tidak masuk akal. Ada nama boneka beruang, warna pita rambut, tempat duduk favorit di taman belakang, bahkan sebuah lelucon keluarga yang konon hanya dipahami oleh kedua bersaudara tersebut.
Di samping sejumlah paragraf terdapat tanda merah.
JANGAN MENGUBAH VERSI.
JANGAN MENGAKUI KETIDAKPASTIAN.
JANGAN MENCIPTAKAN MEMORI BARU TANPA PERSETUJUAN PENGAWAS.
Mai menatap kalimat terakhir cukup lama.
Menciptakan memori baru tanpa persetujuan pengawas.
Seolah-olah kenangan merupakan barang milik perusahaan yang harus diajukan melalui formulir tiga rangkap.
"Baiklah," gumamnya, meraih pena. "Mari kita lihat seberapa jauh aku bisa bertahan sebelum kepalaku meledak."
Pukul 05.17, Saito memasuki kamar Mai setelah mengetuk sekali.
Ia telah mengenakan setelan jas arang yang sama rapinya seperti hari sebelumnya. Rambutnya tersisir ke belakang tanpa sehelai pun menyimpang dari tempatnya. Sebuah tablet berada di tangan kirinya, sementara tangan kanan membawa gelas kopi hitam yang belum tersentuh.
Pandangan pria itu langsung tertuju pada dokumen yang terbuka di hadapan Mai.
"Sudah sampai halaman berapa?"
Mai menegakkan punggung. "Halaman dua belas, Pak Saito."
"Anda membaca atau menghafal?"
"Awalnya membaca. Sekarang mencoba menghafal."
"Jawaban yang tidak menjanjikan."
Mai menahan keinginan untuk memutar mata.
Saito menarik kursi di seberang meja dan duduk. Ia meletakkan tabletnya, membuka sebuah dokumen digital, lalu menggeser layar ke arah Mai.
"Kita mulai dengan evaluasi dasar. Anggap Kisaragi Ren bertanya kepada Anda tentang kejadian ketika kalian berusia tujuh tahun. Apa yang harus Anda lakukan?"
Mai mengerjapkan mata, kemudian melihat catatannya.
"Menjawab bahwa Onii-chan mengajari Kanade melipat burung bangau dari kertas."
"Berapa banyak burung bangau yang dibuat?"
Mai menatap halaman.
Tidak ada informasi tentang jumlahnya.
"Tidak disebutkan."
"Dan?"
Mai mengangkat pandangan. "Saya tidak boleh mengarang detail baru tanpa persetujuan Bapak."
"Benar. Lalu bagaimana jika Ren mengingat kejadian tersebut secara berbeda?"
"Saya harus mempertahankan narasi yang telah ditetapkan dalam protokol."
Saito mengangguk tipis.
"Jangan terlalu cepat. Anda perlu memahami perbedaannya. Tujuan Anda bukan sekadar menghafal dokumen ini. Tujuan Anda adalah menjaga agar respons Anda tidak menciptakan kontradiksi yang dapat mengganggu kondisi psikologis Ren."
Mai melirik tablet di hadapannya. "Jadi, kalau dia mengingat sesuatu yang tidak ada di dokumen, saya harus bagaimana?"
"Alihkan pembicaraan secara wajar. Jangan membantah secara langsung. Jangan pula mengiyakan sesuatu yang bertentangan dengan catatan yang sudah ditetapkan."
"Kalau dia terus bertanya?"
"Hubungi saya."
"Kalau Bapak sedang tidak ada?"
"Gunakan penilaian Anda."
Mai menatapnya tanpa berkedip.
"Penilaian saya?"
"Ya."
"Penilaian saya yang tidak boleh menciptakan memori baru tanpa persetujuan Bapak?"
Saito mengangkat mata dari tablet. Untuk sesaat, keduanya saling memandang dalam keheningan yang cukup panjang untuk membuat dengung pendingin ruangan terdengar semakin jelas.
"Anda tampaknya memiliki kemampuan memahami instruksi secara harfiah," ujar Saito akhirnya.
"Terima kasih. Itu hasil latihan bertahun-tahun menghadapi pelanggan yang menganggap diskon berlaku untuk seluruh isi toko."
"Apa?"
"Tidak ada, Pak."
Mai segera menunduk, pura-pura mempelajari dokumen.
Saito tidak mengejar penjelasan itu. Ia justru membuka bagian lain dari protokol dan mulai mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik. Minuman favorit Ren. Makanan yang harus dihindari. Cara Kanade menyapa kakaknya ketika baru pulang sekolah. Reaksi yang seharusnya ditunjukkan ketika Ren mengalami mimpi buruk. Kata-kata yang konon biasa digunakan Kanade untuk menghiburnya.
Mai menjawab sebisanya. Beberapa kali ia benar. Beberapa kali ia keliru menyebutkan detail kecil. Setiap kesalahan disambut koreksi singkat dari Saito, tanpa bentakan atau kemarahan, tetapi justru karena itulah setiap koreksi terasa seperti goresan tipis pada permukaan kulit.
"Anda harus menguasai bagian yang menyangkut kondisi Ren sebelum mempelajari detail sosial lainnya," kata Saito. "Ia baru sadar dari koma. Ingatannya tidak utuh. Anda tidak boleh memaksanya mengingat sesuatu yang belum siap ia hadapi."
Mai memegang pena lebih erat.
"Kalau dia tidak mengingat Kanade sama sekali?"
"Itu bukan sesuatu yang bisa Anda kendalikan."
"Kalau dia mengingatnya, lalu menyadari saya bukan Kanade?"
Kali ini, Saito tidak segera menjawab.
Pria itu merapikan ujung lengan jasnya, sebuah gerakan kecil yang selalu ia lakukan ketika hendak menyampaikan sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Karena itulah Anda dibayar untuk mengikuti protokol."
Mai merasakan ujung penanya menekan kertas hingga meninggalkan titik hitam yang sedikit melebar.
"Tentu," jawabnya pelan.
Ia tahu sejak awal bahwa pekerjaan ini bukan pekerjaan biasa. Ia tahu ada risiko, aturan, dan konsekuensi yang tidak akan selesai hanya dengan mengundurkan diri. Namun, melihat seluruh hidup seorang gadis yang telah meninggal diubah menjadi dokumen operasional membuat perutnya terasa seperti diikat simpul.
Di halaman tiga puluh satu, terdapat foto lama dua anak di taman. Seorang anak laki-laki berwajah tenang berdiri di samping gadis kecil berambut panjang yang tersenyum tipis. Ren dan Kanade. Mereka tampak begitu biasa dalam foto itu, begitu jauh dari segala istilah seperti kontinuitas identitas dan rekonstruksi memori.
Mai menyentuh sudut foto tersebut dengan ujung jarinya.
"Apakah dia benar-benar suka melipat burung bangau?" tanyanya sebelum sempat berpikir.
Saito mengikuti arah pandangannya.
"Menurut catatan keluarga, ya."
"Dan dia benar-benar pernah bersembunyi dari guru privat?"
"Ya."
Mai mengangguk perlahan.
"Kalau begitu, setidaknya ada beberapa hal yang memang pernah terjadi."
"Sebagian besar catatan ini didasarkan pada informasi keluarga."
Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi menyisakan ruang kosong yang cukup besar.
Sebagian besar.
Bukan semuanya.
Mai ingin bertanya siapa yang menulis kisah-kisah itu, siapa yang menentukan kenangan mana yang harus dipertahankan, dan apakah Kanade sendiri pernah memiliki kesempatan untuk menceritakan masa kecilnya dengan kata-katanya sendiri. Namun, ia sudah mulai mengenali batas yang tidak tertulis di antara dirinya dan Saito. Ada pertanyaan yang diperbolehkan karena membantu pekerjaan. Ada pertanyaan yang hanya akan membuatnya semakin terperosok ke dalam masalah.
Ia memilih menutup mulut.
Saito memeriksa jam tangannya.
"Anda memiliki waktu empat puluh menit sebelum sarapan. Setelah itu, Anda akan mendampingi Ren di ruang makan. Hari ini, kita mulai membiasakan interaksi keluarga dalam lingkungan domestik."
Mai mengangkat kepala. "Saya harus sarapan bersama dia?"
"Ya."
"Sebagai Kanade?"
"Tentu saja."
Mai melirik kembali tumpukan dokumen seratus halaman itu.
"Dan saya harus mengingat semua ini sambil tersenyum manis?"
"Anda tidak perlu tersenyum sepanjang waktu. Kanade bukan boneka."
Kalimat itu membuat Mai terdiam.
Untuk pertama kalinya pagi itu, suara Saito tidak terdengar seperti instruksi yang diambil dari sebuah formulir. Ada sesuatu yang menyerupai teguran di dalamnya, tetapi juga pengakuan bahwa gadis yang sedang ditirunya dahulu memiliki kepribadian sendiri.
Saito berdiri dan mengambil tablet.
"Satu hal lagi. Kamera pengawas di ruang makan akan merekam interaksi Anda. Jangan menganggapnya sebagai ujian akting. Anggaplah sebagai bagian dari pemantauan kondisi Ren."
Mai mendongak.
"Kamera?"
"Untuk keselamatan penghuni rumah."
"Begitu."
Saito melangkah menuju pintu, kemudian berhenti sejenak.
"Dan Nona Kanade?"
Mai refleks menegakkan tubuh.
"Ya, Pak?"
"Jangan menggunakan nama panggung Anda di dalam rumah ini."
Jari Mai yang memegang pena mendadak kaku.
Saito menatapnya lurus-lurus. Ia tidak perlu menyebut nama itu. Keduanya tahu persis nama apa yang dimaksud.
"Mei-chan tidak ada di sini," lanjutnya. "Yang ada hanya Kisaragi Kanade."
Pintu tertutup.
Mai tetap duduk dalam posisi yang sama selama beberapa detik. Ia kemudian menurunkan pandangan ke tangannya sendiri, memperhatikan bekas tekanan pena yang meninggalkan garis merah tipis pada jari telunjuknya.
"Baik, baik," bisiknya kepada kamar kosong. "Mei-chan libur. Kanade lembur."
Ia mencoba tertawa, tetapi suara yang keluar hanya embusan napas pendek.
Pukul 06.05, Mai berdiri di depan meja rias dengan kedua tangan bertumpu pada pinggang.
Di hadapannya, dua pilihan pakaian telah disiapkan oleh staf rumah. Ia memilih blus putih berlengan panjang dengan pita kecil berwarna biru muda di bagian kerah, dipadukan dengan rok lipit berwarna krem. Rambutnya diikat setengah ke belakang, menyisakan beberapa helai di dekat telinga.
Menurut catatan Saito, Kanade menyukai gaya sederhana dan tidak terlalu mencolok.
Mai memiringkan kepala, menatap bayangannya dari kiri dan kanan.
"Bagaimana? Apakah aku terlihat seperti putri keluarga konglomerat yang menghabiskan masa kecilnya dengan bermain piano dan minum teh di taman?"
Ia mengangkat kedua tangan, membentuk pose kecil di depan cermin.
"Tidak. Aku terlihat seperti orang yang sedang berusaha keras agar tidak lupa bahwa dirinya adalah orang lain."
Senyumnya menghilang perlahan.
Di atas meja rias, ada sisir perak, botol parfum mahal, dan sebuah kotak perhiasan yang belum pernah ia buka. Semuanya tampak indah, tetapi tidak satu pun memberikan rasa nyaman. Di tempat kerjanya dahulu, ia setidaknya tahu siapa dirinya. Ia tahu cara menyapa pelanggan, cara mengingat pesanan, cara menghadapi orang yang terlalu banyak bicara, dan kapan harus mengakhiri percakapan dengan senyum profesional.
Di sini, bahkan keheningan pun memiliki aturan.
Mai mengembuskan napas, kemudian mengangkat kedua sudut bibirnya di depan cermin.
"Selamat pagi, Onii-chan."
Ia mengatakannya dengan nada lembut.
"Terlalu formal."
Ia mencoba lagi, kali ini lebih ceria.
"Selamat pagi, Onii-chan!"
"Terlalu mirip pembawa acara televisi."
Ia menurunkan bahu, memejamkan mata sebentar, lalu membayangkan Ren yang baru terbangun dari koma. Wajah pucat, tubuh lemah, tatapan kosong yang sesekali berubah menjadi kebingungan. Ia teringat bagaimana pemuda itu menatapnya ketika pertama kali bertemu, seolah-olah kehadirannya adalah satu-satunya benda di ruangan yang tidak membuatnya takut.
Sesuatu di dalam dada Mai melunak.
Ia membuka mata.
"Selamat pagi, Onii-chan," ucapnya sekali lagi.
Kali ini, suaranya terdengar lebih alami.
Bukan karena ia berhasil menirukan Kanade.
Melainkan karena ia sungguh-sungguh berharap Ren bisa melewati pagi ini tanpa merasa sendirian.
Mai mengambil dokumen SOP, menyelipkan beberapa halaman catatan ke dalam map, lalu keluar dari kamar.
Ruang makan Kediaman Kisaragi terletak di sisi timur rumah, menghadap taman yang luas. Cahaya matahari pagi menyaring melalui jendela tinggi, jatuh di atas meja panjang dari kayu gelap yang dipoles hingga mengilap. Vas bunga segar berdiri di tengah meja. Peralatan makan dari porselen putih tersusun simetris, sementara sendok dan garpu perak memantulkan cahaya keemasan dari lampu gantung di langit-langit.
Ruangan itu cukup besar untuk menampung dua belas orang, tetapi hanya ada dua tempat duduk yang telah disiapkan.
Satu untuk Ren.
Satu untuk Kanade.
Mai berhenti di ambang pintu dan memandangi meja tersebut.
"Kalau hanya dua orang, kenapa mejanya sebesar lapangan futsal?"
Seorang pelayan yang sedang mengatur gelas menoleh.
"Maaf, Nona?"
"Tidak ada apa-apa."
Mai segera meluruskan punggung dan memasang senyum sopan. Ia masih harus membiasakan diri berbicara pelan di hadapan staf rumah. Kebiasaan lamanya adalah mengisi keheningan dengan celotehan, terutama ketika suasana terasa canggung. Di tempat ini, setiap komentar berpotensi dianggap tidak pantas.
Ia berjalan ke sisi meja yang telah disiapkan untuk Ren.
Sarapan pagi itu terdiri atas bubur nasi hangat, sup bening, sayuran rebus, roti panggang, serta omelet yang dipotong rapi menjadi beberapa bagian. Ada pula secangkir teh hangat yang mengepulkan uap tipis. Semuanya disusun dengan ketelitian yang hampir tidak masuk akal.
Mai mengamati omelet tersebut.