Sore hari di Kediaman Kisaragi memiliki keheningan yang berbeda dari pagi.
Jika pagi membawa suara burung dari taman dan cahaya matahari yang perlahan merambat melewati jendela, sore justru menyelimuti rumah besar itu dengan warna keemasan yang dingin. Bayangan pepohonan memanjang di atas halaman, sementara tirai-tirai tinggi di ruang keluarga bergerak pelan terkena embusan pendingin ruangan. Jam antik di dinding berdetak dengan irama teratur, mengisi ruang kosong yang terlalu luas untuk sekadar dihuni oleh beberapa orang.
Di salah satu ruangan di sisi timur kediaman, Kisaragi Ren duduk bersandar pada sofa panjang berwarna abu-abu muda. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk bertahan duduk tegak dalam waktu lama. Sebuah selimut tipis menutupi kakinya, dan gelas air hangat diletakkan di meja kecil di sampingnya. Di balik kerah bajunya, kabel sensor menempel pada kulit, terhubung ke perangkat pemantau portabel yang sesekali mengeluarkan bunyi pendek.
Ren sedang memandangi sebuah buku.
Setidaknya, begitulah kelihatannya.
Halaman yang terbuka di pangkuannya tidak pernah berubah selama hampir sepuluh menit. Matanya bergerak menyusuri baris-baris tulisan, tetapi pikirannya tidak benar-benar menangkap maknanya. Setiap kali ia mencoba memusatkan perhatian, sesuatu yang samar muncul dari balik kepalanya—sebuah pintu yang tertutup, suara langkah kaki, dan perasaan bahwa ia sedang menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang.
Ia tidak tahu apakah itu kenangan atau sekadar mimpi.
Ia hanya tahu bahwa setiap kali mencoba meraihnya, dadanya terasa sesak.
Ren menurunkan buku, kemudian menekan telapak tangannya pada bagian tengah dada. Detak jantungnya terasa normal untuk sesaat, meskipun ada kegelisahan kecil yang tidak kunjung hilang. Ia menarik napas perlahan, menghitung sampai empat seperti yang diajarkan dokter kepadanya, lalu mengembuskannya melalui mulut.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia mencoba lagi.
Pintu ruangan terbuka sedikit.
Ren mengangkat kepala.
Mai muncul dari balik pintu dengan membawa nampan kecil berisi secangkir teh hangat dan semangkuk potongan buah. Rambut hitamnya diikat longgar di belakang kepala, sementara beberapa helai jatuh di dekat pipi. Ia mengenakan kardigan merah muda pucat di atas blus putih, pakaian yang membuatnya terlihat seperti siswi biasa yang baru saja pulang sekolah—seandainya bukan karena rumah tempat ia berada begitu besar hingga suara langkahnya sendiri terdengar asing.
"Onii-chan, aku membawa camilan."
Senyumnya muncul bahkan sebelum ia selesai memasuki ruangan. Ia menutup pintu menggunakan siku, lalu berjalan hati-hati agar teh di dalam cangkir tidak tumpah.
Ren menoleh kepadanya.
"Terima kasih, Kanade."
Mai meletakkan nampan di atas meja. "Dokter bilang kamu tidak boleh terlalu lama membaca. Jadi, aku berpikir kita bisa beristirahat sebentar."
Ren melirik buku di pangkuannya, kemudian mengangkatnya sedikit.
"Aku baru membaca beberapa halaman."
Mai memandangi buku itu. Sampulnya memuat judul tentang sejarah ekonomi modern, lengkap dengan diagram dan tabel yang memenuhi hampir setiap halaman. Ia tidak tahu apakah Ren benar-benar membaca isinya atau hanya mencoba membuktikan bahwa dirinya sudah cukup sehat untuk kembali melakukan kegiatan biasa.
"Beberapa halaman yang sama selama sepuluh menit?" tanyanya.
Ren berkedip.
Mai membeku.
Ia baru menyadari bahwa kalimat itu terdengar terlalu lancang untuk seorang adik yang baru beberapa hari kembali menemani kakaknya setelah masa koma. Namun, sebelum ia sempat mengarang alasan, Ren justru menunduk dan memeriksa halaman bukunya.
"Oh."
Ia membalik satu halaman.
Lalu kembali ke halaman sebelumnya.
"Aku tidak sadar."
Mai menahan tawa kecil. "Tidak apa-apa. Buku itu tidak akan kabur."
Ren memandangnya, kemudian tersenyum tipis.
"Aku hanya ingin cepat pulih."
Senyum Mai mereda sedikit. Ia menarik kursi ke dekat sofa dan duduk, kemudian mengambil cangkir teh untuk memastikan suhunya tidak terlalu panas.
"Kamu tidak perlu terburu-buru."
Ren mengusap sampul bukunya dengan ibu jari.
"Ayah bilang aku sudah terlalu lama tertinggal."
Jari Mai berhenti pada pegangan cangkir.
Ia mengangkat mata. "Ayah mengatakan itu kepadamu?"
Ren mengangguk kecil.
"Katanya, ada banyak hal yang harus kupelajari lagi. Pelajaran sekolah, persiapan universitas, rapat perusahaan yang dulu biasa kuhadiri..." Ia berhenti, seolah-olah sedang mencoba mengingat sesuatu yang tidak berhasil muncul. "Aku tidak tahu kenapa semuanya terasa seperti sesuatu yang harus segera kuselesaikan."
Mai menatapnya tanpa menjawab.
Ia teringat isi dokumen SOP yang dibacanya pagi tadi. Kisaragi Ren, delapan belas tahun, siswa kelas tiga SMA, ahli waris tunggal keluarga Kisaragi. Pemuda dengan prestasi akademis luar biasa yang sejak kecil dibentuk untuk meneruskan bisnis keluarga.
Di atas kertas, kalimat-kalimat itu tampak seperti deskripsi seorang anak muda yang beruntung.
Namun, ketika Ren mengucapkannya dengan suara lemah sambil memandangi buku yang tidak benar-benar ia baca, semua itu terdengar seperti daftar kewajiban yang diletakkan di atas dada seseorang yang bahkan belum sanggup berdiri lama.
Mai meletakkan cangkir teh di meja.
"Kalau begitu, untuk sekarang, tugasmu hanya minum teh dan makan buah."
Ren menoleh.
"Hanya itu?"
"Hanya itu."
"Apakah itu juga tertulis di dalam aturan keluarga?"
Mai mengerjapkan mata, lalu tertawa kecil.
"Tentu saja. Aturan nomor satu: orang yang baru sembuh dari koma dilarang berdebat dengan adiknya mengenai camilan."
Ren tersenyum lebih lebar.
"Sepertinya aturan itu baru dibuat."
"Benar. Aku yang membuatnya."
"Kalau begitu, aku akan mematuhinya."
Mai mengangguk puas, lalu menyodorkan piring kecil berisi potongan apel. Ren mengambil satu potong dan menggigitnya perlahan.
Untuk beberapa menit, ruangan itu terasa lebih ringan.
Mai berbicara tentang taman di luar jendela, tentang bunga-bunga yang mulai bermekaran, dan tentang seekor burung kecil yang pagi tadi bertengger di pagar balkon. Ren sesekali menanggapi dengan pertanyaan sederhana. Ia bahkan sempat tertawa ketika Mai menggambarkan burung itu sebagai makhluk yang tampak lebih memahami kehidupan daripada seluruh anggota keluarga Kisaragi.
Mai hampir melanjutkan leluconnya.
Lalu terdengar langkah kaki dari koridor.
Bukan langkah kaki seorang perawat yang ringan dan terukur. Bukan pula langkah staf rumah yang berusaha bergerak tanpa menarik perhatian.
Langkah itu berat, mantap, dan tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
Mai menoleh ke arah pintu.
Ren berhenti mengunyah.
Sesuatu berubah pada wajahnya.
Senyum yang tadi tersisa di bibirnya perlahan menghilang. Jari-jarinya yang memegang potongan apel menjadi kaku, sementara bahunya naik sedikit seolah-olah tubuhnya sedang bersiap menghadapi sesuatu yang belum sempat dipahami pikirannya.
Langkah kaki itu semakin dekat.
Ren meletakkan apel di piring.
"Kanade?"
Mai menoleh kepadanya. "Ya?"
Ren tidak segera melanjutkan. Matanya terpaku pada pintu, dan ia menelan ludah dengan susah payah.
"Aku..."
Ia menyentuh bagian tengah dadanya.
"Entah kenapa, aku merasa tidak enak."
Mai mengamati perubahan pada wajahnya. Warna kulit Ren tampak lebih pucat daripada beberapa menit sebelumnya. Napasnya yang semula teratur mulai memendek, dan ujung jari yang bertumpu pada sofa bergerak kecil tanpa sadar.
Mai mengikuti arah pandang Ren.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu.
Tidak ada ketukan.
Gagang pintu berputar.
Dan kedua orang tua Ren masuk seolah-olah ruangan itu memang tidak pernah memiliki hak untuk menolak kedatangan mereka.
Kisaragi Souichiro berjalan paling depan.
Pada usia lima puluh tahun, kepala keluarga Kisaragi itu memiliki postur tegak dan bahu lebar yang membuat setelan jas gelapnya tampak seperti bagian dari tubuhnya sendiri. Rambutnya disisir rapi dengan sedikit uban di dekat pelipis. Wajahnya menunjukkan garis-garis ketegasan yang tidak banyak berubah, bahkan ketika ia tersenyum di hadapan kamera atau menyambut para pemegang saham.
Namun, sore itu ia tidak tersenyum.
Matanya menyapu ruangan dengan gerakan singkat, memeriksa buku di pangkuan Ren, gelas air di atas meja, dan perangkat pemantau yang terpasang di tubuh putranya. Ia tidak tampak seperti seorang ayah yang mengunjungi anaknya setelah masa koma.
Ia tampak seperti seorang direktur yang datang untuk memeriksa laporan kemajuan.
Di belakangnya, Kisaragi Reiko memasuki ruangan dengan langkah anggun. Usianya empat puluh delapan tahun, tetapi penampilannya tetap terjaga dengan ketelitian yang hampir tidak manusiawi. Rambutnya tertata dalam sanggul sederhana, anting mutiara menghiasi telinganya, dan gaun berwarna biru kelabu jatuh sempurna mengikuti tubuhnya. Aroma parfum mahal mengiringi setiap langkahnya.
Reiko memandang Ren sekilas.
"Jadi, kau sudah bisa duduk di ruang keluarga."
Tidak ada kelegaan dalam suaranya. Tidak ada kelembutan seorang ibu yang melihat putranya kembali sadar setelah berminggu-minggu terbaring tak berdaya.
Hanya sebuah pengamatan.
Ren berusaha bangkit dari sofa.
Gerakannya terlalu cepat untuk tubuh yang belum pulih. Telapak tangannya menekan bantalan sofa, tetapi siku kirinya bergetar ketika ia mencoba mengangkat badan. Mai segera berdiri dan menyentuh bahunya.
"Onii-chan, tidak perlu buru-buru."
Ren berhenti setengah berdiri.
Souichiro mengamati mereka.
"Duduklah, Ren. Tidak perlu membuat pertunjukan."
Kalimat itu membuat Ren langsung kembali ke sofa.
Ia menurunkan tubuhnya dengan hati-hati, kemudian merapikan bagian depan kardigannya. Gerakan itu tampak begitu refleksif sehingga Mai tidak bisa tidak memperhatikannya. Ren bahkan tidak sempat mempertimbangkan apakah dirinya perlu berdiri atau tidak. Begitu ayahnya memberi perintah, tubuhnya langsung menurut.
Mai menarik napas pelan melalui hidung.
Jadi, begini cara mereka berbicara kepadanya.
Souichiro berjalan mendekati sofa, lalu berhenti beberapa langkah di depan Ren. Ia tidak duduk. Reiko memilih berdiri di dekat jendela, mengamati taman seolah-olah kunjungan ini hanyalah jeda singkat di antara agenda-agenda pentingnya.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Souichiro.
Ren mengangkat wajah.
"Lebih baik, Ayah."
"Dokter mengatakan bahwa kondisi fisikmu mulai stabil. Namun, stabil bukan berarti pulih."
Ren mengangguk.
"Ya."
"Bagaimana dengan ingatanmu?"
Ren terdiam sesaat.
"Aku masih belum bisa mengingat banyak hal."
"Berapa banyak?"
Ren mengerutkan dahi, mencoba mencari angka yang masuk akal.
"Aku tidak tahu."
Souichiro mengembuskan napas melalui hidung.
"Kau seharusnya bisa memberikan jawaban yang lebih jelas."
Ren menunduk.
"Maaf."
Mai merasakan jemarinya mengencang di sisi rok.
Permintaan maaf itu keluar begitu cepat, begitu otomatis, seolah-olah Ren sudah terbiasa menganggap ketidakmampuannya memenuhi harapan sebagai kesalahan pribadi. Bahkan ketika ia tidak bisa mengingat sebagian besar kehidupannya sendiri, ia masih merasa perlu meminta maaf kepada orang yang menuntutnya.
Reiko akhirnya berpaling dari jendela.
"Dokter menyarankan agar kita tidak membebanimu dengan terlalu banyak pertanyaan," katanya. Ia berhenti sebentar, kemudian menambahkan, "Tetapi kami juga tidak bisa membiarkanmu beristirahat tanpa batas."
Mai menatapnya.
Kata kami terdengar aneh. Tidak ada nada kepedulian dalam kalimat itu, hanya pernyataan bahwa keputusan tentang waktu istirahat Ren berada di tangan orang tuanya.
Souichiro membuka sebuah map tipis yang dibawanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan melihatnya sekilas.
"Semester terakhir di Akademi Seiwa akan segera dimulai. Kau harus menyelesaikan seluruh kewajiban akademismu sebelum ujian akhir. Setelah itu, persiapan universitas tidak boleh tertunda lagi."
Ren memandangi kertas-kertas tersebut.
"Aku mengerti."
"Selain itu, ada beberapa materi perusahaan yang harus kau pelajari kembali. Divisi strategi telah mengirimkan laporan terbaru. Aku ingin kau mulai membacanya begitu dokter mengizinkanmu kembali bekerja."
Ren mengangkat mata sedikit.
"Kembali bekerja?"
"Jangan berpura-pura tidak memahami maksudku. Kau sudah terlibat dalam beberapa pembahasan internal sebelum kejadian itu. Ada tanggung jawab yang harus kau lanjutkan."
Ren menelan ludah.
"Aku baru saja sadar, Ayah."
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Souichiro menurunkan mapnya.
"Aku tahu."
Nada suaranya tidak berubah, tetapi cara ia memandang Ren membuat Mai merasa seolah-olah pemuda itu baru saja melakukan kesalahan besar.
"Justru karena itu, kau harus segera memulihkan dirimu. Waktu tidak akan menunggumu hanya karena kau kehilangan beberapa minggu."
Ren mengalihkan pandangan.
Di atas meja, perangkat pemantau jantung mengeluarkan bunyi yang lebih cepat daripada sebelumnya.
Bip.
Bip.
Bip-bip.
Ren menatap alat itu dengan sudut mata. Ia tidak tahu mengapa bunyi tersebut membuat tengkuknya menegang. Tidak ada ancaman yang terlihat. Tidak ada seorang pun yang mengangkat tangan kepadanya. Ayahnya hanya berdiri di depan sofa, memegang beberapa lembar dokumen.