Malam telah merayap turun di atas Kediaman Kisaragi, membungkus bangunan megah itu dengan kegelapan yang nyaris sempurna. Dari luar, rumah tersebut tampak seperti sesuatu yang dipetik dari halaman majalah arsitektur: dinding putih yang diterangi lampu-lampu hangat, jendela tinggi berbingkai hitam, dan taman luas dengan pepohonan yang dipangkas sedemikian rapi hingga setiap cabangnya seolah-olah tumbuh mengikuti perintah seseorang. Tidak ada satu pun bagian yang terlihat dibiarkan berjalan dengan kehendaknya sendiri.
Bahkan kesunyian di dalamnya terasa terencana.
Di lantai dua, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Miyauchi Mai duduk bersila di atas tempat tidur berukuran besar. Rambutnya yang hitam tergerai hingga melewati bahu, sementara piyama putih yang dikenakannya terasa terlalu halus di kulit. Pendingin ruangan berdengung pelan. Di atas meja samping tempat tidur, segelas air putih yang disediakan staf rumah tangga masih utuh, begitu pula sepiring kecil potongan buah yang sejak sore tadi tidak disentuhnya.
Mai tidak lapar.
Atau, lebih tepatnya, ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa memikirkan makanan.
Ponsel yang tergeletak di antara kedua tangannya memancarkan cahaya kebiruan ke wajahnya. Ibu jarinya bergerak perlahan di atas layar, menggulir galeri foto yang sudah berulang kali ia buka sejak beberapa malam terakhir.
Foto pertama menampilkan seorang gadis dengan rambut hitam yang dihias pita putih, berdiri di depan papan nama sebuah maid café kecil di Akihabara. Gadis itu mengenakan gaun maid berwarna hitam-putih, lengkap dengan celemek renda dan hiasan kepala yang sedikit miring. Kedua tangannya membentuk tanda hati di depan dada. Senyumnya lebar, matanya menyipit, dan salah satu kakinya terangkat sedikit ke belakang.
Di bawah foto itu, ada tulisan yang ditambahkan oleh salah seorang rekannya.
Mei-chan, hari ini juga paling moe! Jangan lupa traktir kami kalau sudah jadi idola terkenal! ♡
Mai menatap tulisan tersebut cukup lama hingga sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.
“Idola terkenal, katanya.”
Suaranya begitu pelan sampai nyaris tenggelam dalam dengung pendingin ruangan.
Ia menggeser layar ke foto berikutnya.
Kali ini, ia sedang berdiri di antara dua rekan kerja. Di sebelah kirinya ada Yui, seorang gadis berambut cokelat yang selalu mengikat rambutnya dengan dua jepit berbentuk bintang. Di sebelah kanannya ada Rina, yang memiliki kebiasaan tertawa begitu keras hingga pelanggan di meja sebelah sering ikut tersenyum. Ketiganya berdesakan di depan cermin ruang ganti yang sempit, mengenakan kostum kerja dengan wajah lelah setelah sif panjang.
Yui menjulurkan lidah ke arah kamera. Rina mengacungkan dua jari di atas kepala Mai, membuatnya tampak memiliki telinga kelinci.
Sementara Mai sendiri sedang tertawa.
Bukan senyum yang sudah ia latih di depan cermin selama berjam-jam. Bukan pula ekspresi manis yang harus ia pertahankan agar sesuai dengan citra seorang adik perempuan dari keluarga konglomerat.
Ia tertawa dengan mulut terbuka, pipi memerah, dan mata yang hampir tertutup. Rambutnya berantakan. Pita di kepalanya nyaris terlepas. Tidak ada yang memedulikan apakah ia terlihat anggun atau pantas.
Foto itu buruk menurut standar keluarga Kisaragi.
Bagi Mai, foto itu adalah salah satu hal paling berharga yang pernah ia miliki.
“Yui-chan...” bisiknya.
Ibu jarinya berhenti di atas layar.
Ia teringat bagaimana Yui selalu menyelinapkan permen ke saku celemeknya ketika manajer sedang tidak melihat. Ia teringat Rina yang suka mengeluh tentang pelanggan menyebalkan, tetapi akan menjadi orang pertama yang membela rekan kerjanya jika seseorang bertindak keterlaluan. Ia juga teringat suara bel kecil di pintu masuk kafe, bunyi mesin kopi, aroma wafel yang baru matang, serta riuh percakapan pelanggan yang bercampur dengan musik anime dari pengeras suara.
Semua hal itu dahulu terasa biasa.
Terkadang melelahkan. Terkadang menjengkelkan. Terkadang membuatnya ingin menjatuhkan tubuh ke kasur begitu sampai di kamar kos.
Namun, di tempat itu, Mai bisa menjadi dirinya sendiri.
Ia boleh tertawa terlalu keras. Ia boleh mengeluh ketika kakinya pegal. Ia boleh menyukai lagu-lagu yang tidak dianggap pantas untuk seorang putri dari keluarga terpandang. Ia boleh menghabiskan waktu istirahat dengan duduk di lantai ruang ganti sambil makan roti murah dari minimarket.
Dan yang terpenting, ketika seseorang memanggil namanya, ia tidak perlu bertanya-tanya apakah orang itu sedang memanggil Miyauchi Mai, Mei-chan, atau seorang gadis mati bernama Kisaragi Kanade.
Mai mematikan layar ponselnya.
Kamar yang semula diterangi cahaya biru itu kembali tenggelam dalam pencahayaan kuning temaram dari lampu meja.
Ia menunduk, memperhatikan pantulan samar wajahnya sendiri pada layar yang gelap.
“Kalau saja aku bisa pulang sebentar.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Mai segera menggigit bibir bawahnya, seolah-olah kata-kata tersebut merupakan pelanggaran yang harus segera ditarik kembali. Ia melirik pintu kamar, lalu ke sudut langit-langit tempat sebuah kamera kecil terpasang dengan posisi yang nyaris tidak mencolok.
Lensa hitam itu menghadap ke sebagian besar ruangan.
Ia tahu kamera tersebut tidak pernah benar-benar tidur.
Bahkan ketika lampu kamar dimatikan, bahkan ketika ia berganti pakaian di balik sekat yang disediakan, bahkan ketika ia hanya duduk sendirian dan mencoba mengingat kehidupan lamanya—keberadaan kamera itu selalu terasa seperti sepasang mata tambahan yang tidak bisa ia hindari.
Mai menarik selimut yang terlipat di sebelahnya, lalu bangkit dari tempat tidur.
Ia tidak ingin duduk di sana lebih lama lagi.
Malam itu, ia membutuhkan udara.
Pintu kaca menuju balkon terbuka dengan bunyi gesekan halus. Udara malam yang lebih dingin segera menyentuh wajah Mai, membawa aroma rumput basah dan tanah yang baru disiram. Ia melangkah keluar, kemudian menutup pintu di belakangnya tanpa membiarkannya berbunyi keras.
Balkon kamar itu cukup luas untuk menampung sebuah meja kecil, dua kursi besi, dan beberapa pot tanaman hias yang tersusun rapi di sepanjang pagar. Dari sana, Mai dapat melihat taman depan, jalan masuk yang melengkung menuju gerbang utama, serta sebagian atap bangunan lain di dalam kompleks kediaman.
Lebih jauh lagi, di balik pagar tinggi dan deretan pepohonan, cahaya kota hanya terlihat sebagai garis-garis samar di kejauhan.
Tokyo berada di luar sana.
Akihabara juga berada di luar sana.
Namun, keduanya terasa seperti bagian dari kehidupan orang lain.
Mai mendekati pagar balkon. Ia menyandarkan kedua siku di atas permukaannya yang dingin, kemudian mengangkat ponsel kembali. Layar menyala setelah ia memasukkan kode sandi, menampilkan foto Mei-chan yang tadi belum selesai ia lihat.
Ia menekan ikon aplikasi pesan.
Nama Yui masih ada di sana.
Percakapan terakhir mereka sudah berbulan-bulan lamanya. Sebagian besar hanya berisi candaan tentang pekerjaan, foto makanan, dan keluhan mengenai pelanggan yang meminta terlalu banyak pose untuk sesi foto. Pesan terakhir Yui dikirim pada malam sebelum Mai menerima tawaran pekerjaan dari Saito.
Mei-chan, besok jangan lupa bawa sepatu cadangan, ya! Kalau kamu jatuh lagi gara-gara hak sepatumu patah, aku nggak mau menggendongmu sampai stasiun! LOL.
Mai membaca pesan itu sekali lagi.
Kemudian sekali lagi.
Ia bahkan masih bisa mengingat bagaimana dirinya tertawa ketika pertama kali membacanya. Saat itu, ia sedang duduk di lantai kamar kos, menghitung uang yang tersisa setelah membayar sewa. Ia lelah, cemas, dan tidak tahu bagaimana akan bertahan menghadapi bulan berikutnya.
Sekarang, jika ia mau, ia bisa meminta sepatu baru dengan harga yang dahulu tidak berani ia bayangkan. Ia bisa makan apa saja yang disajikan di meja keluarga Kisaragi. Ia bahkan bisa tinggal di sebuah kamar yang lebih luas daripada seluruh tempat tinggalnya dahulu.
Tetapi ia tidak bisa membalas satu pesan sederhana.
Jari telunjuknya bergerak menuju kolom pengetikan.
Yui-chan, aku kangen kalian.
Ia berhenti.
Kalimat itu tampak begitu kecil di layar.
Namun, setelah menatapnya selama beberapa detik, Mai menghapusnya huruf demi huruf.
Apa yang akan terjadi jika ia benar-benar mengirim pesan tersebut?
Saito mungkin akan mengetahuinya. Keluarga Kisaragi telah membuatnya memahami bahwa kontrak mereka bukan sekadar dokumen dengan tanda tangan dan tanggal kedaluwarsa. Mereka memiliki pengacara, staf keamanan, akses terhadap informasi, dan sumber daya yang jauh melampaui apa pun yang dapat ia lawan sendirian.
Ia tidak tahu seberapa jauh pengawasan terhadap ponselnya dilakukan. Apakah setiap pesan dibaca secara langsung? Apakah riwayat pencariannya diperiksa setiap malam? Apakah seseorang akan datang mengetuk pintunya jika ia mencoba menghubungi orang dari kehidupan lamanya?
Ketidakpastian itu justru membuatnya semakin takut.
Mai membuka pengaturan ponselnya. Sebuah aplikasi yang dipasang sebelum ia memasuki kediaman tersebut masih berada di layar utama, dengan ikon sederhana yang tidak menjelaskan fungsinya. Saito pernah menyebutnya sebagai bagian dari sistem keamanan komunikasi.
Saat pertama kali melihat aplikasi itu, Mai mengira keberadaannya hanya formalitas.
Kemudian, beberapa hari setelah kontrak dimulai, ia pernah mencoba mengakses sebuah situs lama yang biasa ia gunakan untuk mencari jadwal acara di Akihabara. Halamannya gagal dimuat. Ia mencoba lagi, kali ini menggunakan jaringan seluler, tetapi permintaan tersebut tetap tidak berhasil. Tidak lama kemudian, Saito memanggilnya ke ruang kerja dan bertanya apakah ada sesuatu dari kehidupan sebelumnya yang ingin ia cari.
Pria itu tidak pernah menjelaskan bagaimana ia tahu.
Ia hanya meletakkan lembar evaluasi di atas meja dan menyebutkan bahwa komunikasi yang tidak disetujui dapat dianggap sebagai pelanggaran protokol.
Sejak saat itu, Mai berhenti mencoba.
Malam ini, ia membuka pengaturan koneksi sekali lagi. Simbol jaringan terlihat normal. Bar sinyal penuh. Tidak ada tanda bahwa ponselnya kehilangan akses ke dunia luar.
Tetapi di bawah ikon aplikasi pengawasan, terdapat pemberitahuan kecil mengenai status perangkat yang dikelola.
Perangkat berada dalam pengawasan sistem keamanan.
Mai menatap tulisan itu.
Barangkali pesan-pesannya tidak dibaca satu per satu. Barangkali sistem tersebut hanya mencatat lokasi, penggunaan jaringan, dan aktivitas tertentu. Barangkali Saito tidak memiliki waktu untuk memperhatikan setiap hal yang dilakukannya.
Barangkali.
Namun, selama ia tidak bisa memastikan batas-batas pengawasan itu, kebebasan untuk menghubungi seseorang tetap terasa seperti sesuatu yang dipinjamkan kepadanya—dan dapat ditarik kembali kapan saja.
Mai menutup aplikasi tersebut.
“Benar-benar sangkar emas,” gumamnya.
Ia mencoba tertawa setelah mengucapkannya, tetapi suara yang keluar justru terdengar serak.
Dari kejauhan, sebuah kendaraan melintas di jalan di luar kompleks. Cahaya lampunya bergerak di sela-sela pepohonan, kemudian menghilang. Mai mengikuti cahaya itu dengan pandangan hingga tidak ada lagi yang tersisa selain kegelapan.
Ia membayangkan dirinya berdiri di depan pintu maid café, mengenakan kostum hitam-putih, menyambut pelanggan dengan suara ceria.
“Okaerinasaimase, goshujin-sama!”
Refleks itu begitu melekat hingga bibirnya hampir membentuk senyum yang biasa ia gunakan di tempat kerja.
“Mei-chan hari ini juga akan membuat kalian bahagia!”
Ia pernah mengucapkan kalimat semacam itu ratusan kali. Kadang-kadang ia mengucapkannya dengan tulus. Kadang-kadang hanya karena itu bagian dari pekerjaan. Namun, tidak peduli seberapa lelah dirinya, selalu ada seseorang yang akan menjawab dengan tawa, tepuk tangan, atau komentar konyol.
Di sini, ia harus mengucapkan hal serupa kepada satu orang yang bahkan tidak mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Dan orang itu bukan pelanggan.
Ren adalah seseorang yang telah kehilangan adiknya.
Mai menurunkan ponsel. Senyum yang tadi muncul perlahan-lahan menghilang.
Ia masih ingat tangan Ren yang menggenggam tangannya setelah kedua orang tuanya meninggalkan kamar pada sore sebelumnya. Jari-jari pemuda itu sempat bergetar. Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur, dan matanya terlihat seperti seseorang yang baru saja diseret kembali dari tempat yang sangat gelap.
Ketika Mai tetap berada di sisinya, Ren akhirnya tertidur.
Ia bahkan tidak melepaskan tangannya.
Pada awalnya, Mai menganggap seluruh pekerjaan ini sebagai transaksi. Ia akan memainkan peran seorang adik perempuan selama 365 hari, menerima bayaran, lalu pergi. Tidak lebih dari itu. Selama ia mengikuti aturan, menjaga rahasia, dan tidak melakukan kesalahan fatal, seharusnya ia dapat menyelesaikan tugas tersebut tanpa melibatkan perasaan pribadi.
Tetapi beberapa hari terakhir telah merusak perhitungan itu sedikit demi sedikit.
Ia mulai mengenali perubahan kecil pada wajah Ren ketika pemuda itu merasa nyaman. Ia tahu bagaimana suara Ren berubah ketika ia sedang berusaha menyembunyikan rasa sakit. Ia tahu bahwa Ren terkadang memandangnya beberapa detik lebih lama, seolah-olah sedang memastikan bahwa dirinya benar-benar ada.
Ia juga tahu bahwa ketika Ren memanggilnya Kanade, ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa seperti diremas.
Bukan karena ia tersinggung.
Justru karena ia tidak ingin melihat Ren kembali kesepian.
Pikiran itu membuat Mai terdiam.
Ia menatap tangannya sendiri, lalu menggenggam pagar balkon dengan kedua telapak tangan.
“Jangan macam-macam, Mai.”
Ia mengucapkannya dengan nada tegas, seperti sedang memberi perintah kepada seorang bawahan yang melakukan kesalahan.
“Kamu datang ke sini untuk bekerja. Kamu dibayar untuk menjalankan peran. Setelah 365 hari, kamu pergi. Selesai.”
Kalimat itu terdengar masuk akal.
Sayangnya, ia harus mengulanginya dua kali sebelum bisa mempercayainya sedikit saja.
Mai mengangkat wajah, membiarkan angin malam menyapu rambutnya. Di bawah balkon, taman keluarga Kisaragi tampak tenang. Jalan setapak yang membelah rerumputan diterangi lampu-lampu kecil. Sebuah bangku kayu berdiri di dekat kolam hias, permukaannya berkilau karena embun.
Tidak ada suara selain dedaunan yang bergesekan.
Di tempat ini, bahkan kesendirian terasa mahal.
Ia merindukan suara pelanggan yang tertawa. Ia merindukan Yui yang mengomel karena seseorang lupa mengembalikan alat rias. Ia merindukan Rina yang akan menyambar kentang goreng dari piringnya tanpa meminta izin. Ia merindukan ruang ganti yang sempit, lantai yang dingin, dan perjalanan pulang dengan sepatu yang membuat tumitnya lecet.
Mai merindukan kehidupan yang dahulu sering ia keluhkan.
Ia mengangkat ponsel sekali lagi, lalu menekan tombol layar hingga foto dirinya sebagai Mei-chan muncul kembali.
“Aku masih di sini,” bisiknya kepada gadis dalam foto itu. “Aku belum benar-benar menghilang, kan?”
Tentu saja tidak ada jawaban.
Hanya wajah seorang gadis berusia enam belas tahun yang tersenyum tanpa beban, terperangkap dalam sebuah foto yang diambil sebelum hidupnya berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Mai menekan tombol kunci.
Layar padam.
Ia memasukkan ponsel ke saku piyama, lalu memeluk tubuhnya sendiri. Udara malam mulai terasa lebih dingin, tetapi ia tetap berdiri di balkon selama beberapa menit lagi, seolah-olah dengan menunda kembali ke kamar, ia dapat menunda pula kenyataan bahwa tidak ada satu pun jalan yang benar-benar bisa membawanya pulang.
Pagi datang tanpa meminta izin.
Cahaya matahari menembus celah tirai, membentuk garis keemasan di lantai kamar. Udara masih dingin, dan embun yang tertinggal di luar jendela membuat taman terlihat seperti dilapisi kaca tipis. Dari kejauhan terdengar suara burung-burung kecil, disusul bunyi samar staf rumah tangga yang mulai menjalankan rutinitas mereka.
Mai sudah bangun sejak pukul lima.
Tidurnya tidak nyenyak. Ia beberapa kali terjaga, sempat memeriksa ponselnya, lalu kembali berbaring dengan mata terbuka. Pada akhirnya, ia menyerah pada usaha untuk tidur lebih lama dan memulai rutinitas pagi yang kini telah menjadi bagian dari kehidupannya.
Mandi. Merapikan rambut. Mengenakan pakaian yang sesuai. Memeriksa jadwal. Mengingat kembali aturan interaksi dengan Ren.
Dan tersenyum.
Senyum itu merupakan bagian paling sederhana dari pekerjaannya, sekaligus salah satu yang paling melelahkan.
Setelah mengenakan kardigan tipis berwarna krem dan rok panjang yang disiapkan untuknya, Mai mengambil ponsel dari meja. Ia memeriksa pesan masuk, memastikan tidak ada pemberitahuan baru dari Saito, kemudian memasukkannya ke saku.
Ia hendak menuju ruang makan ketika pandangannya tertuju pada jendela.
Dari lantai dua, sebagian taman belakang terlihat di antara dahan pohon maple. Biasanya, area itu hanya ditempati staf kebun pada pagi hari. Mereka akan memeriksa tanaman, menyapu daun yang gugur, dan memastikan jalan setapak tetap bersih.