Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #6

Senyum Polos Penderita Amnesia

Siang hari di Kediaman Kisaragi memiliki ketenangan yang hampir tidak wajar.

Sinar matahari menembus jendela-jendela tinggi ruang santai, jatuh di atas lantai kayu mengilap dan permadani berwarna gading. Tirai tipis bergerak perlahan setiap kali pendingin ruangan mengembuskan udara, sementara jam dinding antik di dekat rak buku berdetak dengan suara teratur. Di luar jendela, taman belakang terlihat rapi seperti lukisan. Seorang petugas kebun sedang memangkas semak, dan dari kejauhan terdengar bunyi gunting tanaman yang sesekali beradu dengan ranting.

Tidak ada televisi yang menyala. Tidak ada musik yang diputar. Tidak ada suara percakapan dari ruang keluarga yang dapat mengusik ketenangan tersebut.

Keluarga Kisaragi memang menyukai rumah yang sunyi.

Bagi Souichiro, ketenangan berarti kendali. Bagi Reiko, ketenangan berarti tidak ada hal yang mengganggu keteraturan rumah tangga. Sementara bagi para staf, ketenangan adalah bagian dari pekerjaan yang harus dijaga, sama seperti lantai yang bersih dan perabotan yang tidak boleh bergeser dari tempatnya.

Belakangan, ketenangan itu juga menjadi bagian dari program pemulihan Ren.

Jadwal hariannya telah diatur sedemikian rupa: pemeriksaan medis, latihan fisik, waktu makan, istirahat, dan aktivitas ringan yang dianggap tidak akan memicu ingatan traumatis. Buku-buku yang diberikan kepadanya dipilih dengan cermat. Kegiatan di luar rumah dibatasi. Percakapan mengenai masa lalu tidak dianjurkan kecuali berada di bawah pengawasan tenaga profesional.

Bahkan waktu luangnya memiliki batas-batas yang tidak tertulis.

Ren boleh membaca, tetapi tidak dianjurkan mempelajari dokumen perusahaan. Ia boleh berjalan di taman, tetapi harus didampingi. Ia boleh berbincang dengan orang lain, tetapi keluarganya tidak ingin ia menerima informasi yang berpotensi mengusik kondisi psikologisnya.

Di atas kertas, semua itu terdengar seperti tindakan pencegahan yang masuk akal.

Namun, di balik setiap aturan, terdapat satu kepentingan yang tidak pernah diucapkan dengan lantang: keluarga Kisaragi ingin Ren pulih secukupnya untuk kembali menjalankan perannya, tanpa harus mengingat terlalu banyak hal yang mungkin membuatnya menolak peran tersebut.

Di ruang santai, Ren duduk di sofa dekat jendela.

Ia mengenakan kemeja kasual berwarna biru muda dengan lengan yang digulung sampai siku. Rambut hitamnya sedikit berantakan, mungkin karena ia baru saja menyelesaikan latihan ringan di bawah pengawasan perawat. Di meja rendah di hadapannya terdapat sebuah kotak kecil berisi perlengkapan kerajinan tangan yang entah dari mana asalnya: beberapa potong pita, benang, gunting kecil, lem, dan dua lembar kain satin berwarna merah muda.

Benda-benda itu tampak tidak sepadan dengan kemewahan ruangan di sekitarnya.

Di atas meja marmer di sisi lain ruangan, sebuah vas kristal memantulkan cahaya matahari. Lukisan abstrak bernilai mahal tergantung di dinding. Rak buku yang membentang dari lantai hingga langit-langit dipenuhi edisi bersampul kulit dengan judul-judul yang sebagian besar berkaitan dengan ekonomi, sejarah bisnis, dan strategi kepemimpinan.

Namun, Ren sama sekali tidak memperhatikan semua itu.

Perhatiannya tertuju sepenuhnya pada sepotong pita yang terletak di antara ibu jari dan telunjuknya.

Ia memiringkan kepala, mengamati kedua ujung kain tersebut, kemudian mengambil gunting.

Cekrek.

Potongan pertama terlalu panjang.

Ren mengerutkan kening.

Ia mengukur ulang dengan menggunakan jari, lalu memotong ujung lainnya. Kali ini, potongannya terlalu pendek.

“...Hmm.”

Ia menatap kedua potongan kain itu dengan ekspresi serius yang biasanya hanya terlihat pada seseorang yang sedang mengerjakan persoalan rumit.

Beberapa detik kemudian, Ren mengembuskan napas dan meletakkan gunting.

“Tidak apa-apa. Bisa diperbaiki.”

Ia mengucapkannya kepada dirinya sendiri, lalu mengambil pita baru dari kotak.

Di dekat pintu, Miyauchi Mai sedang menyapu lantai.

Sebenarnya, pekerjaan itu bukan tanggung jawab utamanya. Para staf rumah tangga telah memastikan ruangan tersebut bersih sebelum Ren menggunakannya. Namun, Mai telah menemukan beberapa helai benang dan potongan kertas kecil di dekat sofa, sehingga ia memutuskan untuk membereskannya sambil menunggu jadwal makan siang.

Pekerjaan sederhana semacam itu memberinya alasan untuk tetap berada di ruangan tanpa harus terus-menerus memikirkan bagaimana seharusnya ia bersikap sebagai Kanade.

Sapu di tangannya bergerak perlahan di sepanjang tepi permadani. Sesekali, ia melirik Ren melalui sudut mata.

Pemuda itu masih sibuk dengan pita merah muda.

Mai mengangkat alis.

Apa yang sedang dilakukan Onii-chan?

Ia kembali menyapu, tetapi rasa ingin tahunya terus mengusik. Ren tampak terlalu serius untuk sekadar bermain-main dengan bahan kerajinan. Ia bahkan sesekali menggigit bagian dalam pipinya ketika benang yang sedang ia gunakan tidak mau masuk melalui lubang jarum.

Pada percobaan ketiga, benang itu akhirnya berhasil melewati jarum.

Ren mengangkatnya sedikit, mengamati hasilnya, lalu tersenyum puas.

Senyum kecil itu membuat Mai berhenti menyapu selama beberapa detik.

Ada sesuatu yang berbeda ketika Ren melakukan kegiatan semacam ini. Biasanya, pemuda itu tampak berhati-hati, seolah-olah setiap gerakannya harus melewati pemeriksaan tak terlihat sebelum boleh dilakukan. Ia sering menunggu instruksi dokter sebelum mencoba sesuatu, atau melirik Mai untuk memastikan bahwa tindakannya tidak melanggar aturan.

Namun, ketika duduk di sofa dengan potongan kain di tangannya, ia terlihat lebih santai.

Ia tidak memikirkan jadwal pemulihan.

Ia tidak memikirkan perusahaan.

Ia bahkan tidak terlihat seperti pewaris tunggal keluarga konglomerat.

Untuk sesaat, ia hanya seorang pemuda berusia delapan belas tahun yang sedang berusaha membuat sesuatu dengan tangannya sendiri.

Mai menggeser sapu ke sudut ruangan.

“Kalau terus dipelototi seperti itu, pitanya mungkin bisa selesai sendiri,” gumamnya tanpa sadar.

Ren tidak mendengarnya.

Ia sedang berusaha mengikat simpul.

Simpul pertama terlepas.

Simpul kedua terlalu longgar.

Pada simpul ketiga, pita merah muda itu akhirnya mulai membentuk dua lengkungan yang tidak sepenuhnya simetris. Ren memiringkannya, kemudian menarik ujung benang dengan hati-hati agar bentuknya tidak berubah.

Mai kembali memperhatikannya.

Sejak kapan Onii-chan suka membuat kerajinan tangan?

Pertanyaan itu muncul begitu saja.

Ia tidak memiliki jawaban. Selama ini, semua informasi mengenai Kanade yang diterimanya berasal dari dokumen Saito, catatan singkat keluarga, dan beberapa cerita yang sesekali disebutkan Ren. Tidak ada bagian dalam panduan yang menjelaskan apakah Kanade dahulu menyukai pita, apakah ia pernah membuat kerajinan tangan bersama kakaknya, atau apakah Ren memang memiliki kebiasaan semacam ini sejak kecil.

Barangkali ini bukan sesuatu yang berhubungan dengan Kanade.

Barangkali Ren hanya sedang mencoba mengisi waktu.

Atau barangkali ada sesuatu yang masih tersimpan dalam dirinya, sebuah kebiasaan lama yang bertahan meskipun ingatannya telah tercerai-berai.

Mai tidak berani bertanya.

Ia sudah belajar bahwa pertanyaan sederhana dapat berubah menjadi masalah apabila jawabannya menyentuh bagian masa lalu yang ingin dikendalikan keluarga Kisaragi.

Karena itu, ia memilih mengamati dari kejauhan.

Sapu kembali bergerak.

Sret.

Sret.

Sret.

Di tengah bunyi itu, Ren tiba-tiba mengangkat kepala.

“Kanade?”

Mai hampir menjatuhkan sapunya.

“Y-ya?”

Ia berbalik terlalu cepat hingga ujung rambutnya menyapu pipi. Dengan gerakan refleks, ia segera meluruskan punggung dan memasang senyum manis yang telah menjadi kebiasaannya.

“Ada apa, Onii-chan? Mau minum? Atau merasa lelah? Aku bisa memanggil perawat kalau—”

“Tidak, bukan itu.”

Ren mengangkat satu tangan, menghentikan rentetan pertanyaan tersebut.

Wajahnya terlihat sedikit malu. Ia memandang pita di pangkuannya, lalu kembali menatap Mai.

“Bisa kemari sebentar?”

Mai mengedipkan mata.

“Ke sana?”

Ren mengangguk.

Mai melirik sapu di tangannya, kemudian ke arah pintu, seolah-olah berharap ada seseorang yang dapat menjelaskan apa yang sedang terjadi. Tidak ada siapa pun di sana. Staf rumah tangga yang biasanya melintas pada jam-jam seperti ini sedang berada di bagian lain kediaman.

Akhirnya, ia menyandarkan sapu di dinding.

“Baiklah. Ada apa?”

Mai berjalan mendekati sofa. Langkahnya ringan, tetapi ia tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang muncul ketika melihat Ren menyembunyikan sesuatu di balik kedua tangannya.

Pemuda itu biasanya tidak pandai menyembunyikan rasa penasaran. Jika ingin menanyakan sesuatu, ia akan bertanya secara langsung. Jika merasa sakit, ia berusaha menyangkalnya, tetapi perubahan pada wajahnya tetap mudah terbaca. Jika ingin mengatakan sesuatu yang penting, ia cenderung berhenti beberapa kali untuk mencari kata-kata yang tepat.

Sekarang, ia tampak seperti seseorang yang sedang mempersiapkan kejutan.

Mai berhenti di hadapannya.

“Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?”

Ren menggeleng.

“Tidak.”

“Kalau begitu, kenapa melihatku seperti itu?”

“Aku hanya ingin memastikan.”

“Memastikan apa?”

Ren membuka kedua tangannya.

Di telapak tangannya terbaring sebuah pita kecil berwarna merah muda.

Mai terdiam.

Pita itu tidak sempurna. Kedua lengkungannya sedikit berbeda ukuran, dan simpul di tengahnya tampak terlalu tebal. Salah satu ujung kain lebih panjang daripada yang lain, sementara beberapa helai benang halus mencuat dari bagian belakang.

Namun, ada sesuatu yang membuat benda itu terlihat jauh lebih berharga daripada seluruh perhiasan yang pernah dilihat Mai di rumah ini.

Pita itu dibuat dengan tangan.

Bukan oleh staf rumah tangga. Bukan oleh penata rambut yang biasa menyiapkan penampilan keluarga Kisaragi. Bukan pula oleh seseorang yang dibayar untuk membuatnya terlihat indah.

Ren membuatnya sendiri.

Mai menatap pita tersebut cukup lama hingga Ren mulai terlihat gugup.

“Jelek, ya?” tanyanya.

“Eh?”

Ren menunduk, memperhatikan hasil karyanya.

“Aku tahu bentuknya tidak terlalu bagus. Awalnya aku ingin membuat kedua sisinya sama panjang, tetapi ternyata sulit. Benangnya juga sempat kusut beberapa kali.”

Ia tertawa kecil, lalu menggaruk pipinya.

“Aku sempat berpikir untuk meminta seseorang membuatkan yang lebih bagus, tetapi...” Ren berhenti sejenak. “Rasanya tidak akan sama kalau bukan aku sendiri yang membuatnya.”

Mai merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya.

Ia mencoba menjawab, tetapi kata-katanya tertahan di tenggorokan.

Ren tidak memperhatikan perubahan itu. Ia masih sibuk menjelaskan hasil pekerjaannya, seolah-olah sedang mempresentasikan sebuah proyek kecil yang sangat penting.

“Aku melihat kotak perlengkapan ini di lemari. Sepertinya digunakan untuk kegiatan kerajinan tangan. Aku tidak tahu apakah kamu menyukai warna merah muda, jadi aku memilih warna yang menurutku cocok untukmu.”

Ia mengangkat pita itu sedikit.

“Boleh aku memasangkannya?”

Mai menatapnya.

“Memasangkannya... di rambutku?”

Ren mengangguk.

“Kalau kamu tidak keberatan.”

Ada jeda kecil.

Mai bisa saja menolak. Ia bisa mengatakan bahwa dirinya tidak membutuhkan pita, bahwa benda itu akan merepotkan ketika ia bekerja, atau bahwa Ren seharusnya beristirahat daripada menghabiskan waktu membuat aksesori yang tidak terlalu berguna.

Ia bahkan bisa menjadikan SOP sebagai alasan.

Jarak interaksi. Batas kedekatan. Pengawasan. Hal-hal yang selalu diingatkan Saito setiap kali memberikan evaluasi mingguan.

Namun, ketika melihat wajah Ren yang menunggu jawaban, semua alasan itu terasa kejam.

Mai menundukkan kepala sedikit.

“...Boleh.”

Senyum Ren langsung muncul.

“Benarkah?”

“Memangnya aku harus menjawab apa lagi?”

“Entahlah. Mungkin kamu akan bilang bahwa aku seharusnya beristirahat.”

Mai mendengus pelan.

“Memangnya Onii-chan baru menyadari itu sekarang?”

“Aku sudah beristirahat.”

“Berapa lama?”

Ren memandang ke arah jendela, seolah-olah sedang menghitung.

“Cukup lama.”

“Onii-chan.”

“...Mungkin tidak terlalu lama.”

Mai tidak dapat menahan tawanya.

Suara itu keluar begitu spontan hingga ia sendiri terkejut. Ia segera menutup mulut dengan punggung tangan, tetapi terlambat. Ren sudah melihatnya.

Pemuda itu ikut tersenyum.

“Aku senang kamu tertawa.”

Kalimat sederhana itu membuat tawa Mai perlahan mereda.

Ren menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang agar Mai dapat berdiri lebih dekat. Ia mengangkat tangan yang memegang pita, kemudian berhenti sejenak.

“Boleh aku menyentuh rambutmu?”

Pertanyaan itu begitu hati-hati sampai Mai merasa dadanya kembali sesak.

Ia mengangguk.

Ren bangkit dari sofa dengan gerakan perlahan. Kakinya masih belum sepenuhnya pulih, sehingga ia harus menahan satu tangan pada sandaran sofa untuk menjaga keseimbangan. Mai secara refleks mengulurkan tangan hendak membantunya, tetapi Ren menggeleng kecil.

“Aku bisa.”

Ia mengucapkannya tanpa nada menantang. Hanya sebuah pernyataan sederhana, seolah-olah ia ingin mencoba melakukan hal kecil itu sendiri.

Mai menarik tangannya kembali.

“Baik. Tapi kalau merasa pusing, langsung bilang, ya?”

“Ya, Kanade.”

Ren berdiri di hadapannya.

Jarak mereka cukup dekat hingga Mai dapat mencium aroma sabun lembut dari pakaian pemuda itu. Cahaya matahari menyentuh sisi wajah Ren, menonjolkan garis rahangnya dan bulu mata yang tampak lebih panjang dari yang seharusnya dimiliki seorang laki-laki. Rambut hitamnya jatuh sedikit ke dahi, membuatnya terlihat lebih muda daripada usianya.

Ren mengangkat tangannya.

Jari-jarinya menyentuh rambut Mai dengan gerakan canggung. Ia berusaha menyisihkan beberapa helai yang menutupi sisi kepalanya, tetapi justru membuat rambut itu sedikit kusut. Ia berhenti, mengerutkan kening, lalu mencoba merapikannya lagi.

“Maaf. Aku tidak terlalu pandai melakukan ini.”

Mai menahan senyum.

“Tidak apa-apa.”

“Dulu, sepertinya aku pernah melakukannya.”

Tangan Ren berhenti.

Mai pun terdiam.

Pemuda itu menatap rambutnya dengan ekspresi berpikir, seolah-olah sedang berusaha menangkap sesuatu yang bergerak di ujung ingatannya. Alisnya sedikit berkerut. Bibirnya terbuka, lalu menutup kembali.

“Entah kapan,” gumamnya. “Aku merasa pernah memasangkan sesuatu di rambut seseorang.”

Mai merasakan ujung jari-jarinya menjadi dingin.

Ia ingin bertanya siapa orang itu.

Kanade?

Ibu mereka?

Atau seseorang yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Kisaragi?

Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, Ren menggeleng pelan.

Lihat selengkapnya