Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #7

Evaluasi Mingguan Sang Pengawas

Malam telah menelan Kediaman Kisaragi, menyisakan pulau-pulau cahaya kekuningan di sepanjang koridor yang membentang dari ruang keluarga hingga sayap barat. Di luar jendela-jendela tinggi, taman bergaya Jepang tampak seperti lukisan tinta yang kehilangan warnanya. Lampu-lampu taman menerangi sebagian jalan setapak, memperlihatkan batu-batu pijakan yang basah oleh embun, sementara ranting pohon pinus bergoyang pelan diterpa angin musim dingin. Rumah itu tidak pernah benar-benar gelap. Bahkan ketika sebagian besar penghuninya telah tidur, sistem penerangan otomatis tetap menjaga koridor agar tidak kehilangan visibilitas, dan kamera-kamera kecil yang tersembunyi di balik ornamen langit-langit terus menjalankan tugasnya tanpa suara.

Di lantai dua, sebuah pintu kamar tertutup rapat.

Ren telah tidur sejak hampir satu jam lalu. Obat yang diresepkan dokter membuat tubuhnya lebih mudah beristirahat, meskipun tidurnya belum sepenuhnya tenang. Sebelum memejamkan mata, ia sempat mengeluhkan mimpi buruk yang belakangan sering muncul tanpa bentuk yang jelas. Mai menemaninya sampai napas pemuda itu teratur, memastikan selimutnya tidak tersingkap, lalu merapikan meja kecil di sisi ranjang. Pita satin merah muda buatan tangan Ren masih terletak di atas meja rias, dekat sisir dan botol pelembap kulit. Salah satu ujungnya terlipat sedikit karena tadi sore Mai sempat memegangnya terlalu lama.

Ia belum sanggup menyimpan benda itu di laci.

Setiap kali melihatnya, Mai kembali mengingat cara Ren memasangkan pita tersebut ke rambutnya dengan jemari yang sedikit canggung, seolah-olah ia sedang menyerahkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sepotong kain satin. Kalimat Ren pun masih melekat di telinganya.

Kalau Kanade merasa kesepian, ingatlah bahwa ada seseorang yang sedang memikirkanmu.

Mai menunduk, mengusap ujung pita itu sekali dengan jari telunjuk. Senyum tipis sempat terbentuk di bibirnya, tetapi tidak bertahan lama. Ada sesuatu yang menyakitkan dalam mengingat kebaikan yang tidak pernah ia minta, terlebih ketika ia tahu bahwa nama yang dipanggil Ren bukanlah namanya.

Tiga ketukan pelan terdengar dari pintu kamar.

Tok. Tok. Tok.

Mai segera menoleh.

Ia mengenali irama itu. Bukan ketukan pelayan yang biasanya datang membawa pakaian bersih, bukan pula ketukan Ren yang kadang terdengar terlalu hati-hati karena takut mengganggu. Tiga ketukan pendek, jeda, lalu dua ketukan lagi. Ia pernah mendengar pola tersebut pada akhir evaluasi minggu sebelumnya.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Ketika membuka pintu, Mai mendapati seorang staf rumah tangga berdiri dengan punggung tegak dan kedua tangan terlipat di depan tubuh. Perempuan itu mengenakan seragam hitam dengan celemek putih, rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya memperlihatkan ekspresi profesional yang hampir tidak berbeda dari biasanya.

“Permisi, Nona Kanade,” ucapnya lirih. “Tuan Saito meminta Anda datang ke ruang kerja beliau di sayap barat. Sekarang.”

Mai secara refleks merapatkan jemarinya pada gagang pintu.

“Sekarang?”

“Benar, Nona.”

“Apakah ada sesuatu yang terjadi?”

Staf itu terdiam sejenak. Matanya bergerak sekilas ke arah kamera di sudut koridor sebelum kembali menatap Mai.

“Saya hanya diminta menyampaikan pesan.”

Jawaban itu tidak memberi penjelasan apa pun. Justru karena itulah Mai memahami bahwa pertanyaan lebih lanjut tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna.

Ia melirik ke dalam kamar. Ren tidur dengan posisi miring, satu tangannya tergeletak di atas selimut. Cahaya lampu tidur menyentuh sisi wajahnya yang pucat, membuatnya tampak lebih muda daripada usia delapan belas tahun yang sebenarnya. Beberapa helai rambut jatuh di dahinya. Di dekat ranjang, gelas air putih yang tadi disiapkan Mai masih terisi separuh.

Mai ingin kembali masuk, duduk di sisi ranjang, dan memastikan Ren tidak terbangun selama ia pergi. Namun, ia juga tahu bahwa menolak panggilan Saito bukanlah pilihan yang tersedia baginya.

“Baik,” katanya akhirnya. Ia berusaha menjaga suaranya tetap ringan. “Aku akan segera datang.”

Staf itu membungkuk singkat sebelum beranjak menyusuri koridor.

Mai menutup pintu tanpa menimbulkan bunyi, lalu berdiri beberapa detik dengan telapak tangan masih menempel pada permukaannya. Ia mendengarkan. Tidak ada suara dari dalam kamar selain dengung lembut pendingin udara dan tarikan napas Ren yang teratur.

“Cuma evaluasi mingguan,” bisiknya kepada diri sendiri. “Datang, dengarkan, jawab seperlunya, lalu kembali.”

Ia mengulang kalimat itu seperti seseorang yang sedang menghafalkan instruksi sebelum memasuki ruang ujian.

Namun, ketika berbalik menuju lemari, tangannya sempat berhenti di atas gagang laci. Ia hampir mengambil pita merah muda tersebut untuk dibawa bersamanya, kemudian mengurungkan niat itu. Benda itu tidak ada hubungannya dengan Saito. Mai tidak ingin membiarkan sesuatu yang begitu pribadi tersentuh oleh urusan kontrak mereka.

Ia mengganti kardigan rumahnya dengan blus berlengan panjang yang lebih rapi, menyisir rambut, lalu memandang pantulan wajahnya di cermin.

Wajah Kisaragi Kanade menatap balik dari permukaan kaca.

Poni yang diatur sedemikian rupa, ekspresi lembut yang dilatih selama berhari-hari, dan senyum kecil yang telah menjadi refleks setiap kali ia berhadapan dengan anggota keluarga Kisaragi. Bahkan dalam kesunyian kamarnya sendiri, Mai kadang-kadang kesulitan membedakan bagian mana dari penampilan itu yang masih merupakan penyamaran dan bagian mana yang mulai melekat pada dirinya.

Ia menarik napas dalam-dalam, mengangkat sudut bibirnya, lalu mencoba tersenyum.

“Baiklah, Kanade-chan,” gumamnya dengan suara manis yang biasa ia gunakan. “Ayo bekerja.”

Kalimat itu terdengar begitu akrab hingga membuat tengkuknya meremang.

Mai mematikan lampu utama, membuka pintu, lalu melangkah keluar.

Kamera di ujung koridor mengikuti pergerakannya melalui perubahan sudut yang nyaris tidak terlihat.

Sayap barat terletak jauh dari ruang keluarga utama dan kamar-kamar pribadi keluarga Kisaragi. Bagian rumah itu dahulu digunakan untuk mengelola urusan administrasi perkebunan keluarga, sebelum sebagian besar dokumennya dipindahkan ke kantor pusat perusahaan. Kini, ruangan-ruangannya menjadi tempat penyimpanan arsip, ruang konsultasi pribadi, dan kantor sementara bagi staf hukum yang bertanggung jawab mengawasi urusan internal keluarga.

Koridornya lebih sempit daripada koridor utama, dengan dinding berpanel kayu gelap dan lampu-lampu dinding yang memancarkan cahaya redup. Aroma kayu tua bercampur dengan bau kertas, tinta, dan produk pembersih yang digunakan staf setiap malam. Tidak ada lukisan keluarga di sini. Tidak ada vas bunga mahal atau pajangan porselen yang sengaja dipilih untuk mengesankan tamu. Yang ada hanyalah pintu-pintu tertutup dengan pelat nama logam, semuanya seragam dan tanpa hiasan.

Mai berjalan sambil merapatkan kedua lengan ke tubuhnya.

Sepatu rumahnya nyaris tidak menimbulkan suara di atas karpet. Meski demikian, setiap kali ia melewati kamera yang tertanam di sudut langit-langit, kesadarannya akan keberadaan alat itu muncul kembali. Ia mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya berusaha ia abaikan: titik hitam kecil di atas pintu ruang arsip, sensor gerak di dekat tangga, dan sebuah panel persegi di dinding yang mungkin menghubungkan sistem keamanan dengan ruang pengawasan.

Di kediaman ini, bahkan kesunyian memiliki saksi.

Ia teringat saat pertama kali Saito menjelaskan aturan kontrak. Pria itu berbicara tentang jadwal, batasan perilaku, kewajiban menjaga konsistensi identitas, serta prosedur pelaporan seolah-olah Mai adalah pegawai yang baru saja menerima buku panduan kerja. Ia tidak pernah menyebut kata kurungan. Tidak pernah mengatakan bahwa Mai tidak bebas menghubungi teman-temannya tanpa mempertimbangkan kemungkinan komunikasi itu diperiksa. Tidak pernah menyebut bahwa setiap percakapan dengan Ren dapat menjadi bahan penilaian.

Semua pembatasan itu disampaikan melalui istilah yang terdengar wajar: keamanan, perlindungan privasi keluarga, stabilitas psikologis pasien, dan kepatuhan terhadap kontrak.

Baru setelah tinggal cukup lama di rumah tersebut, Mai memahami bahwa kata-kata yang terdengar profesional dapat digunakan untuk membuat seseorang merasa bersalah ketika ingin bernapas dengan bebas.

Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu hitam dengan pelat kecil bertuliskan KAZUMA SAITO — KANTOR PRIBADI.

Dari balik pintu, terdengar bunyi samar seperti ketukan keyboard.

Mai merapikan lengan blusnya. Ia mengangkat tangan, mengetuk tiga kali, lalu menunggu.

“Masuk.”

Suara Saito terdengar datar.

Mai memutar gagang pintu.

Ruang kerja itu lebih luas daripada yang ia bayangkan, tetapi hampir tidak memiliki kesan nyaman. Sebuah meja besar dari kayu hitam mendominasi bagian tengah ruangan. Di belakangnya berdiri rak-rak tinggi yang dipenuhi map berwarna abu-abu, biru tua, dan hitam, masing-masing diberi label serta nomor arsip. Di sisi kiri, sebuah layar monitor lebar menempel pada dinding. Dua monitor yang lebih kecil berada di atas meja, menampilkan antarmuka sistem keamanan rumah: denah lantai, daftar kamera, penanda waktu, dan beberapa jendela video yang bergerak dalam kecepatan rendah.

Lampu meja berwarna putih menyinari tumpukan dokumen. Sinar itu begitu terang sehingga memperlihatkan setiap goresan halus pada permukaan kayu, tetapi sudut-sudut ruangan lainnya tetap tenggelam dalam bayangan.

Saito duduk di belakang meja dengan jas arang yang masih dikenakannya, meskipun waktu telah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Dasi gelapnya terpasang sempurna. Di samping tangan kanannya terdapat sebuah tablet, sementara sebuah map tipis diletakkan tepat di depan kursi yang disediakan bagi Mai.

Pria berusia empat puluh dua tahun itu tidak langsung menatapnya. Ia menyelesaikan beberapa baris yang sedang diketik, memeriksa sesuatu pada monitor, lalu baru mengangkat kepala.

“Duduk, Nona Miyauchi.”

Mai nyaris terlambat merespons.

Nama aslinya selalu terdengar berbeda ketika keluar dari mulut Saito. Bukan seperti seseorang yang sedang memanggilnya, melainkan seperti seorang pemeriksa yang membaca nomor identitas pada berkas.

Ia duduk dengan punggung tegak, kedua lutut rapat, dan tangan bertaut di pangkuan. Kursinya empuk, tetapi ia tidak membiarkan tubuhnya bersandar.

“Selamat malam, Tuan Saito.”

“Selamat malam.” Saito menutup dokumen di tabletnya. “Bagaimana perkembangan kondisi Tuan Muda Ren selama tujuh hari terakhir?”

Mai telah memperkirakan pertanyaan itu. Ia menjawab dengan hati-hati, menyebutkan jadwal rehabilitasi yang dijalani Ren, perubahan pola tidurnya, beberapa keluhan tentang mimpi buruk, dan kemampuannya mengikuti aktivitas ringan tanpa terlalu cepat merasa lelah.

Ia sengaja tidak menyebut bahwa Ren kadang-kadang terbangun dengan napas tersengal dan tangan mencengkeram seprai, atau bahwa ia harus berbicara pelan-pelan sampai pemuda itu kembali menyadari bahwa dirinya berada di kamar yang aman. Detail seperti itu bukan sesuatu yang ingin ia serahkan kepada Saito tanpa alasan yang jelas.

Saito mendengarkan tanpa menyela. Jemarinya bergerak sesekali di atas layar tablet.

“Frekuensi mimpi buruk?”

“Masih ada, tetapi tidak setiap malam.”

“Apakah ia menyebutkan ingatan tertentu?”

“Tidak secara jelas. Biasanya hanya mengatakan bahwa ia merasa ada sesuatu yang salah.”

“Apakah ia menunjukkan reaksi terhadap nama mendiang adiknya?”

Mai menggeser ibu jari di atas punggung tangan kirinya.

“Kadang-kadang.”

“Contohnya?”

“Dia menjadi lebih diam ketika mendengar sesuatu yang mengingatkannya pada masa lalu. Terkadang dia tampak bingung, seolah-olah mencoba mengingat sesuatu yang tidak bisa dijangkaunya.”

Saito akhirnya mengangkat pandangan.

“Dan Anda melakukan apa?”

“Saya menemaninya sampai dia merasa lebih tenang.”

“Tanpa memanggil staf medis?”

“Jika kondisinya tidak memerlukan bantuan medis, saya tidak ingin membuatnya semakin gelisah.”

Saito memandangnya selama beberapa detik. Tidak ada perubahan pada ekspresinya, tetapi keheningan itu cukup panjang untuk membuat Mai bertanya-tanya apakah jawabannya baru saja dianggap sebagai kesalahan.

“Menarik,” katanya kemudian.

Ia memindahkan sebuah berkas dari sisi meja, membuka halaman pertama, lalu memutarnya agar layar di dalamnya menghadap Mai.

“Kalau begitu, mari kita periksa bagaimana Anda menjalankan tugas tersebut.”

Layar besar di dinding menyala.

Rekaman pertama memperlihatkan ruang keluarga pada sore hari beberapa hari sebelumnya. Mai mengenali dirinya sendiri dari kardigan berwarna krem yang dikenakannya saat membawa teh untuk Ren. Sudut kamera berada cukup tinggi sehingga seluruh sofa, meja rendah, dan sebagian jendela terlihat jelas. Di sisi kanan layar, angka waktu bergerak tanpa suara.

Mai memperhatikan dirinya sendiri berjalan masuk ke dalam ruangan, meletakkan nampan, kemudian duduk di dekat Ren.

Dari rekaman itu, gerakannya tampak biasa saja. Ia tersenyum ketika Ren mengatakan sesuatu, sedikit memiringkan kepala saat mendengarkan, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil cangkir yang hampir tergelincir dari meja. Tidak ada yang terlihat aneh.

Setidaknya, tidak bagi orang yang tidak mengetahui apa yang sedang dicari.

Saito memperbesar gambar.

“Di sini.”

Rekaman berhenti tepat ketika Ren mengangkat kepala dan menatap Mai. Pada layar, Mai sedang tersenyum dengan kedua mata sedikit menyipit. Senyum yang telah dilatihnya berkali-kali di depan cermin.

“Apa yang salah dengan bagian itu?” tanyanya sebelum sempat menahan diri.

Saito tidak menunjukkan keberatan atas pertanyaan tersebut. Ia hanya memutar rekaman beberapa detik ke belakang, kemudian memperlambatnya.

Ren mengatakan sesuatu.

Mai tertawa kecil.

Lalu, dalam sepersekian detik sebelum kembali berbicara, sudut bibirnya turun. Tatapannya bergeser ke arah jendela. Setelah itu, ia kembali tersenyum dan melanjutkan percakapan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Saito menghentikan rekaman tepat pada perubahan ekspresi tersebut.

“Jeda ini.”

Mai menatap layar.

“Itu hanya karena saya sedang memikirkan apa yang harus saya jawab.”

“Benarkah?”

“Tuan Muda Ren bertanya sesuatu yang agak mendadak.”

“Pertanyaannya adalah apakah Anda ingat taman kecil di belakang rumah lama keluarga Kisaragi.” Saito mengucapkannya dengan ketepatan seorang pembaca berita. “Pertanyaan sederhana. Tidak membutuhkan waktu berpikir selama itu.”

Mai merasakan tengkuknya menegang.

“Aku—saya tidak tahu persis seperti apa taman yang dia maksud.”

“Namun, sebagai Kanade, Anda seharusnya memiliki kenangan tentangnya.”

“Saya tidak bisa mengarang detail yang tidak pernah saya pelajari.”

Kalimat itu keluar lebih cepat daripada yang ia rencanakan.

Saito mengangkat sebelah alis.

Mai segera menyadari kekeliruannya. Ia menunduk sedikit, menyatukan kedua tangannya lebih erat, dan memperbaiki nada suaranya.

“Maksud saya, saya tidak ingin memberikan jawaban yang tidak konsisten dengan ingatan Tuan Muda Ren. Jika saya menjawab sembarangan, dia mungkin menyadari ada sesuatu yang berbeda.”

Saito membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik. Kemudian ia mengetuk layar tabletnya.

“Setidaknya Anda memahami risiko dari improvisasi yang tidak terkontrol.”

Ia memutar rekaman lagi.

Kali ini, video memperlihatkan Mai dan Ren sedang berbicara di ruang duduk. Ren duduk dengan sebuah buku di pangkuan, sedangkan Mai berada di kursi seberang. Pada awalnya percakapan berjalan lancar. Ren bertanya tentang kegiatan sekolah, Mai menjawab dengan cerita ringan mengenai tugas kelas dan kebiasaan beberapa teman seangkatannya.

Kemudian Ren tersenyum.

“Kanade selalu punya banyak cerita, ya?”

Dalam rekaman, Mai tertawa dan mengangkat bahu.

“Karena Onii-chan selalu mau mendengarkan!”

Saito menghentikan video.

“Respons yang terlalu cepat.”

Mai menoleh kepadanya.

“Maaf?”

“Anda menggunakan intonasi yang sama setiap kali menerima pujian atau pertanyaan personal. Kepala sedikit miring, senyum terbuka, lalu jawaban afirmatif. Itu tidak terdengar seperti kebiasaan alami seorang gadis empat belas tahun yang tumbuh bersama kakaknya. Itu terdengar seperti pola pelayanan pelanggan.”

Darah Mai seolah berhenti mengalir ke ujung jemarinya.

Lihat selengkapnya