Malam di Kediaman Kisaragi memiliki jenis kesunyian yang berbeda dari malam-malam di tempat lain. Tidak ada suara kendaraan yang melintas di jalan depan rumah, tidak ada tetangga yang menyalakan televisi terlalu keras, dan tidak ada percakapan samar dari rumah sebelah yang menyelinap melewati jendela. Pepohonan tinggi di sekeliling kediaman meredam suara angin, sementara pagar batu yang mengelilingi kompleks itu memisahkan penghuninya dari dunia luar seolah-olah rumah tersebut berdiri di dalam ruang yang terputus dari waktu.
Namun, rumah sebesar itu tidak pernah benar-benar diam. Pendingin udara berdengung di balik kisi-kisi ventilasi. Pipa-pipa air sesekali mengeluarkan bunyi ketukan halus. Di kejauhan, mesin lift barang beroperasi sebentar sebelum kembali berhenti. Dan di setiap lantai, di balik ornamen kayu, sudut langit-langit, serta sensor yang menyatu dengan dekorasi interior, sistem pengawasan internal tetap bekerja tanpa mengenal waktu tidur.
Miyauchi Mai terbangun karena tenggorokannya terasa kering.
Ia membuka mata dengan susah payah. Cahaya lampu tidur yang redup menyentuh langit-langit kamar, membentuk bayangan lembut dari tirai yang menggantung di dekat jendela. Selimutnya kusut di sekitar pinggang, dan rambutnya menempel sedikit pada pipi akibat posisi tidur yang tidak nyaman.
Untuk beberapa detik, ia tidak ingat mengapa dadanya terasa berat.
Lalu ia teringat.
Ruang kerja Saito. Rekaman video. Dokumen evaluasi. Narasi baru tentang Kanade dan biola.
Mai menutup mata lagi, berharap pikirannya akan berhenti memutar percakapan malam sebelumnya. Namun, semakin ia berusaha mengusirnya, semakin jelas suara Saito terdengar dalam ingatannya.
Anda dibayar untuk mengisi kekosongan tersebut.
Mai mengembuskan napas panjang melalui hidung. Ia membalik tubuh, menarik selimut sampai ke bahu, lalu menatap meja rias yang berdiri tidak jauh dari ranjang. Di sana, pita satin merah muda buatan Ren masih terletak di atas permukaan kayu. Dalam kegelapan, warnanya tampak lebih pucat, hampir menyerupai bayangan.
Ia tidak ingin memikirkan apa pun tentang besok pagi.
Setidaknya, tidak sebelum minum.
Mai menyingkap selimut dan duduk di tepi ranjang. Lantai terasa dingin ketika telapak kakinya menyentuhnya. Ia mengenakan kardigan tipis yang tergantung di sandaran kursi, merapikan ujung celana tidurnya, lalu mengambil gelas kosong dari meja kecil.
Sebelum keluar, ia menoleh ke arah ranjang Ren yang terlihat melalui pintu penghubung yang dibiarkan terbuka sedikit. Ren tidur di kamar sebelah, dengan pengawasan malam dan jadwal pemeriksaan rutin yang telah ditetapkan dokter. Dari tempatnya berdiri, Mai tidak bisa melihat wajah pemuda itu, hanya sebagian selimut dan garis samar ranjang di balik celah pintu.
Ia mendekat, mengintip sebentar, lalu mendengar napas yang teratur.
“Tidur yang nyenyak, Onii-chan,” bisiknya.
Kebiasaan itu muncul begitu saja. Belakangan, ia sering mengucapkannya meskipun Ren sudah terlelap, seolah-olah kalimat sederhana tersebut dapat menjaga jarak antara pemuda itu dan mimpi buruk yang sesekali menyiksanya.
Mai menutup pintu penghubung tanpa menguncinya, kemudian membuka pintu kamarnya sendiri.
Koridor lantai dua tampak lengang. Lampu malam yang dipasang di sepanjang dinding memberikan cukup cahaya untuk melihat jalan, tetapi tidak cukup terang untuk mengusir bayangan dari sudut-sudut ruangan. Karpet tebal meredam langkahnya ketika ia berjalan menuju area pantry kecil yang dapat digunakan para penghuni rumah pada malam hari.
Ia baru melewati tangga utama ketika matanya menangkap sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Di ujung tangga menuju lantai tiga, terdapat seberkas cahaya tipis.
Mai mengernyit.
Ia tahu bahwa lantai tiga jarang digunakan. Sebagian besar kamar di sana ditutup sejak ia mulai tinggal di kediaman Kisaragi. Staf rumah tangga hanya sesekali naik untuk membersihkan bagian koridor yang masih boleh diakses, sementara beberapa pintu dijaga tetap terkunci atas alasan privasi keluarga. Ren sendiri hampir tidak pernah membicarakan lantai tersebut.
Mai pernah bertanya kepada seorang pelayan tentang ruang-ruang di sana. Jawabannya sederhana: sebagian besar merupakan ruangan lama yang tidak lagi dipakai.
Namun, jika memang tidak digunakan, mengapa ada cahaya di sana pada pukul dua belas lewat tengah malam?
Ia berdiri diam di anak tangga paling bawah, memandangi cahaya yang tampak melalui celah pintu di lantai atas.
Mungkin seorang staf lupa mematikan lampu. Mungkin kepala pelayan sedang memeriksa sesuatu. Mungkin ada pekerjaan rumah tangga yang belum selesai.
Mai mencoba meyakinkan dirinya dengan kemungkinan-kemungkinan biasa.
Ia hampir melanjutkan perjalanan menuju pantry ketika angin dari sistem ventilasi menggerakkan tirai tipis di dekat tangga. Pada saat yang sama, terdengar bunyi kecil dari lantai tiga.
Krek.
Bukan bunyi langkah kaki.
Lebih seperti engsel tua yang bergerak.
Mai mengangkat wajah.
Cahaya di balik pintu itu bergetar sesaat, kemudian kembali stabil.
Ia tahu seharusnya ia tidak naik. Setelah evaluasi malam sebelumnya, ia justru seharusnya menghindari apa pun yang dapat menimbulkan masalah baru. Saito sudah cukup jelas mengenai konsekuensi dari tindakan yang tidak sesuai instruksi. Bahkan sekadar berkeliaran di area terlarang dapat dipandang sebagai pelanggaran aturan rumah.
Tetapi rasa ingin tahu telah terlanjur tumbuh.
Mai menaruh gelas kosong di atas meja kecil dekat tangga. Ia memandangnya sejenak, seperti sedang mencari alasan untuk tetap melakukan tujuan semula, kemudian kembali menatap lantai tiga.
“Lihat sebentar saja,” gumamnya.
Kalimat itu terdengar seperti pembenaran yang biasa digunakan seseorang sebelum melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui tidak seharusnya dilakukan.
Ia mulai menaiki tangga.
Semakin tinggi Mai melangkah, semakin dingin udara yang menyentuh kulitnya.
Lantai tiga memiliki suasana berbeda dari dua lantai di bawahnya. Panel kayunya lebih tua, warnanya lebih gelap, dan sebagian permukaannya kehilangan kilau akibat usia. Karpet di sepanjang lorong berwarna merah marun, tetapi lapisan debu tipis terlihat pada tepi-tepinya, terutama di dekat sudut dinding yang tidak tersentuh cahaya lampu. Bau kayu tua bercampur dengan aroma samar kapur barus dan kain yang lama tersimpan di lemari tertutup.
Di sisi kanan lorong, jendela tinggi memperlihatkan sebagian langit malam. Awan menutupi bulan, menyisakan cahaya keperakan yang lemah di antara ranting-ranting pohon. Pantulan itu jatuh di lantai dalam bentuk garis-garis pucat, seperti bilah-bilah tipis yang memisahkan satu bagian koridor dari bagian lainnya.
Mai berjalan perlahan.
Ia tidak tahu apa yang sedang dicarinya. Ia hanya mengikuti cahaya yang terlihat dari tangga, sambil berusaha menghindari bunyi langkah yang terlalu keras. Ketika sampai di ujung lorong, ia menemukan sebuah pintu kayu besar dengan gagang kuningan yang telah kehilangan sebagian kilapnya.
Pintu itu terbuka sedikit.
Cahaya berasal dari sebuah lampu dinding di dalam ruangan. Tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk menampakkan garis samar sebuah benda besar di balik celah.
Mai berhenti tepat di depan pintu.
Di sisi luar, tidak ada pelat nama. Hanya sebuah bekas persegi yang lebih terang pada permukaan kayu, seolah-olah pernah ada tanda yang dilepas bertahun-tahun lalu. Dekat gagang pintu terdapat lubang kunci, sementara pada bagian bawahnya terlihat goresan-goresan kecil yang tertutup debu.
Mai menempelkan ujung jari pada pintu, lalu mendorongnya sedikit.
Engselnya mengeluarkan suara lirih.
Ia membeku, menunggu.
Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara orang yang bertanya siapa di luar. Tidak ada alarm yang berbunyi.
Mai mendorong pintu sedikit lebih lebar.
Aroma debu tua segera menyambutnya.
Ruangan di baliknya jauh lebih luas daripada yang ia perkirakan. Langit-langitnya tinggi, dengan lampu gantung besar yang tidak menyala. Di sisi kiri terdapat rak-rak panjang untuk menyimpan partitur, beberapa di antaranya masih berisi buku bersampul keras yang disusun menurut ukuran. Sebuah piano berdiri di dekat jendela, ditutupi kain putih yang menguning pada bagian tepinya. Di sisi berlawanan, dua kursi berlapis beludru ditempatkan menghadap sebuah panggung kecil yang tidak lebih tinggi daripada anak tangga.
Ini bukan sekadar ruang musik.
Ruangan itu menyerupai ruang pertunjukan pribadi, dirancang untuk seseorang yang pernah menjadi pusat perhatian di dalam rumah tersebut.
Mai melangkah masuk.
Sepatu rumahnya menyentuh lantai kayu dengan bunyi halus. Debu berputar di udara ketika ia melewati ambang pintu, terlihat dalam sorot cahaya lampu dinding. Di beberapa bagian lantai, permukaan kayu masih mengilap, tetapi bagian lainnya kusam, seolah-olah furnitur pernah dipindahkan dan kemudian dibiarkan tanpa perawatan selama bertahun-tahun.
Ia melihat sebuah rak partitur di dekat piano. Sebagian buku masih tertata rapi, tetapi beberapa lembar kertas telah menguning dan melengkung di ujungnya. Pada sebuah dudukan kecil terdapat metronom kayu yang berhenti pada posisi tertentu, bandulnya diam di tengah lintasan.
Mai tidak menyentuhnya.
Entah mengapa, ia merasa ruangan itu tidak sekadar ditinggalkan. Ruangan itu seperti sengaja dihentikan pada suatu titik, kemudian ditutup rapat agar tidak ada seorang pun yang perlu mengakui bahwa waktu pernah berjalan di dalamnya.
Tatapannya akhirnya tertuju pada benda di tengah ruangan.
Sebuah kotak biola.
Kotak itu diletakkan di atas meja rendah yang terbuat dari kayu gelap, tepat di bawah cahaya lampu dinding. Permukaannya berwarna cokelat tua, dengan sudut-sudut logam yang mulai kusam. Sebuah lapisan debu menutupi bagian atasnya, kecuali pada satu garis sempit dekat pengunci, seolah-olah benda itu pernah disentuh belum terlalu lama.
Mai mendekat.
Langkahnya semakin pelan.
Ia tidak tahu banyak tentang biola. Pengetahuannya terbatas pada apa yang pernah ia lihat di televisi, pada poster konser, atau pada pelanggan maid café yang kadang-kadang bercerita tentang pertunjukan musik klasik. Namun, ia pernah mendengar nama Kisaragi Kanade disebut sebagai seorang prodigi. Ia pernah melihat beberapa berita lama tentang gadis itu di internet sebelum kontrak dimulai, meskipun sebagian besar artikel telah dihapus atau dibatasi aksesnya.
Dalam foto-foto publik yang sempat ia lihat, Kanade selalu tampil dengan pakaian formal, rambut tersisir rapi, dan biola di tangan. Wajahnya kecil dan cantik, matanya tenang, senyumnya lembut. Seorang gadis yang seolah-olah dilahirkan untuk berdiri di atas panggung.
Mai menatap kotak biola itu lebih lama.
Ia teringat instruksi Saito malam sebelumnya.
Kanade sebenarnya tidak menyukai musik biola.
Kalimat itu terasa begitu janggal ketika ia berada di dalam ruangan yang tampaknya dibangun khusus untuk musik.
Jika Kanade membenci biola, mengapa ruangan ini ada? Mengapa instrumennya disimpan di tempat yang begitu istimewa? Mengapa seluruh lantai tiga seolah-olah menjadi makam bagi sesuatu yang tidak pernah dibicarakan oleh penghuni rumah?
Mai mengulurkan tangan, lalu berhenti sebelum menyentuh kotak itu.
Ada sesuatu yang membuatnya ragu. Bukan hanya karena ruangan ini mungkin terlarang, melainkan karena benda di hadapannya terasa seperti bagian dari kehidupan seseorang yang tidak pernah diberi kesempatan untuk ia kenal.
“Maaf,” bisiknya tanpa sadar.
Ia sendiri tidak tahu kepada siapa permintaan maaf itu ditujukan.
Mai menurunkan tangannya, kemudian memperhatikan dinding di belakang meja. Di sana tergantung beberapa bingkai foto, sebagian ditutupi kain tipis yang telah berubah warna. Ada foto sebuah konser dengan panggung yang diterangi cahaya putih. Ada foto keluarga Kisaragi yang diambil di taman, dengan Souichiro berdiri tegak di bagian tengah dan Reiko mengenakan gaun berwarna gading.
Pada salah satu bingkai, kain penutupnya terlepas sebagian.
Mai mendekat.
Di balik kaca yang berdebu, seorang gadis kecil berdiri dengan biola di tangan.
Rambutnya hitam, panjangnya sebahu, dan ujungnya melengkung lembut ke arah pipi. Ia mengenakan gaun putih dengan kerah sederhana. Kedua kakinya berdiri rapat, bahunya tegak, sementara biola berada di sisi tubuhnya. Tidak ada latar panggung yang megah. Foto itu tampaknya diambil di dalam ruangan yang sama, dengan piano tertutup kain di belakangnya.
Namun, bukan biola yang membuat Mai terdiam.
Melainkan wajah gadis itu.
Kanade.
Bukan Kanade yang selama ini ia tiru di hadapan Ren. Bukan gambaran manis seorang adik yang disusun melalui dokumen dan pengarahan Saito. Gadis di dalam foto itu tampak berbeda dari seluruh potret publik yang pernah Mai lihat.
Ia tidak tersenyum.
Bibirnya tertutup rapat, sudut-sudutnya sedikit menurun. Wajahnya pucat, dan ada bayangan gelap di bawah matanya. Rambutnya tersisir rapi, tetapi beberapa helai jatuh di dekat pelipis, seolah-olah foto itu diambil setelah ia terlalu lama berlatih dan tidak lagi memiliki tenaga untuk memperbaikinya.
Matanya menatap kamera dengan ketenangan yang nyaris menyerupai kepasrahan.
Mai merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya.
Ia mendekat sampai wajahnya hampir menyentuh kaca bingkai. Debu menutupi sebagian kecil foto, tetapi tidak cukup untuk menyamarkan ekspresi gadis tersebut. Ada kelelahan yang tidak seharusnya terlihat begitu jelas pada wajah anak berusia empat belas tahun.
Bukan kelelahan sesaat setelah bermain atau berlari.
Ini kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama berusaha memenuhi sesuatu yang tidak pernah selesai.
Mai mengangkat tangan, lalu mengusap sedikit debu pada kaca dengan ujung lengan kardigannya. Gerakannya sangat pelan, seolah-olah ia takut membangunkan seseorang di dalam foto itu.
“Jadi, ini wajahmu yang sebenarnya,” bisiknya.
Kata-kata itu keluar sebelum sempat ia pikirkan.
Ia merasa malu begitu menyadari apa yang baru saja diucapkannya. Kanade tidak pernah menyembunyikan wajahnya dari Mai secara sengaja; justru Mai yang datang ke rumah ini dengan membawa identitas yang bukan miliknya. Namun, selama ini ia hanya mengenal Kanade melalui cerita orang lain, potret yang dipilih keluarga, dan narasi yang disusun untuk membuat Ren percaya bahwa adiknya masih berada di sisinya.
Foto ini tidak menunjukkan seorang prodigi.
Foto ini menunjukkan seorang anak yang tampak sangat lelah.
Mai menatap biola di tangan Kanade. Jemari gadis itu memegang leher instrumen dengan posisi yang tampak benar, tetapi tangan lainnya menggenggam busur terlalu erat. Bahkan melalui foto, ketegangan itu terasa jelas. Bahunya sedikit terangkat, sementara pergelangan tangannya tidak tampak sepenuhnya rileks.
Mungkin hanya sudut pengambilan gambar.
Mungkin Mai sedang melihat terlalu banyak karena telah mengetahui apa yang ingin disembunyikan keluarga Kisaragi.
Namun, semakin lama ia memandang foto itu, semakin sulit baginya menerima penjelasan bahwa Kanade sekadar tidak menyukai biola.
Jika seorang anak dapat berdiri di depan kamera dengan pakaian rapi dan postur sempurna, tetapi matanya tampak seperti itu, apakah yang terjadi sebelum kamera dinyalakan?
Mai menurunkan tangan.
Di bawah bingkai foto terdapat sebuah pelat kecil yang hampir tertutup debu. Ia mengusapnya dengan ujung jari, lalu membaca tulisan yang terukir di sana.
Kisaragi Kanade — Resital Musim Dingin, Tahun Kedua Belas.
Tahun kedua belas.
Mai menghitung cepat. Kanade mungkin baru berusia dua belas tahun ketika foto itu diambil.
Ia kembali memandang wajah gadis tersebut. Dua belas tahun. Pada usia itu, Mai masih menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan sesekali bekerja di maid café untuk membantu kebutuhan hidupnya. Ia mengeluh jika harus berdiri terlalu lama, tertawa bersama Yui dan Rina saat pelanggan tetap mengajukan permintaan aneh, lalu menghitung upahnya dengan lega ketika sif selesai.
Kanade, pada usia yang sama, berdiri dengan biola di tangan dan ekspresi yang tampak seperti seseorang yang sudah tidak berani mengeluh.
Mai merasa tenggorokannya mengencang.
Ia mengalihkan pandangan dari foto, tetapi ruangan itu seolah-olah dipenuhi tatapan yang sama. Kotak biola di atas meja. Piano yang ditutupi kain. Partitur yang tersimpan dalam rak. Metronom yang berhenti. Semua benda itu tampak seperti saksi yang tidak pernah diizinkan berbicara.
Mai menoleh ke arah pintu.
Ia seharusnya pergi.
Ia sudah menemukan sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya. Ia tidak perlu menyentuh benda apa pun, tidak perlu membuka kotak biola, dan tidak perlu mencari tahu lebih jauh. Semakin lama ia berada di ruangan ini, semakin besar kemungkinan seseorang akan memergokinya.
Ia baru melangkah satu kali ketika terdengar suara dari belakang.
“Apa yang sedang Anda lakukan di sini, Nona?”
Mai tersentak.
Gelas yang tidak dibawanya hampir terbayang di tangannya. Ia berbalik terlalu cepat hingga ujung kardigannya tersangkut sesaat pada sudut meja. Ia menariknya dengan gugup, lalu menatap sosok yang berdiri di ambang pintu.
Seorang pria tua mengenakan seragam kepala pelayan berwarna hitam.
Rambutnya yang telah memutih disisir rapi ke belakang. Punggungnya masih tegak meskipun usianya mendekati enam puluh tahun. Ia memegang sebuah senter kecil dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam gantungan kunci logam. Cahaya senter mengarah ke lantai, tetapi sorotnya cukup untuk memperlihatkan kerutan tipis di sekitar mata dan mulutnya.
Mai mengenal pria itu.
Kepala pelayan rumah Kisaragi.
Ia pernah melihatnya mengawasi persiapan sarapan, memberikan instruksi kepada staf rumah tangga, dan menyambut tamu keluarga dengan kesopanan yang nyaris tidak pernah berubah. Pria itu jarang berbicara lebih dari yang diperlukan. Bahkan ketika Ren pertama kali kembali dari rumah sakit, kepala pelayan hanya membungkuk dan mengatakan bahwa seluruh staf berharap Tuan Muda segera pulih.
Kini, ia berdiri di ambang ruang musik dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Maaf,” kata Mai cepat. “Saya terbangun dan ingin mengambil air minum. Saya melihat pintu ini terbuka, lalu—”
“Lalu Anda memutuskan untuk masuk?”
Mai terdiam.
Kepala pelayan menutup pintu sedikit, menyisakan celah yang cukup untuk mereka berdua. Ia melirik ke arah koridor, kemudian menoleh kembali ke Mai.
“Apakah ada orang lain yang melihat Anda naik ke lantai ini?”
“Saya tidak tahu.”