Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #9

Kencan Pertama di Bawah Pengawasan

Surat izin itu hanya terdiri atas beberapa baris, tetapi bagi Kisaragi Ren, selembar kertas tersebut terasa seperti tiket menuju dunia yang selama berminggu-minggu hanya bisa ia saksikan dari balik jendela.

“Untuk sementara, pasien diperbolehkan melakukan aktivitas luar ruangan dengan durasi terbatas, didampingi oleh anggota keluarga atau pengasuh yang bertanggung jawab. Hindari kerumunan padat, aktivitas fisik berlebihan, serta situasi yang berpotensi memicu stres psikologis.”

Dokter keluarga Kisaragi membacakan rekomendasi tersebut di ruang pemeriksaan lantai dua, sembari membetulkan posisi kacamatanya. Di atas meja, stetoskop tergeletak di samping berkas pemeriksaan Ren. Aroma antiseptik bercampur dengan wangi kopi yang mulai dingin dari cangkir kecil di dekat komputer.

Ren duduk tegak di kursinya. Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, sementara sepasang matanya yang jernih mengikuti setiap kata yang keluar dari mulut sang dokter.

“Jadi, aku boleh keluar?” tanyanya.

“Untuk sementara. Sekitar satu hingga dua jam, tergantung kondisi Anda. Jangan memaksakan diri apabila merasa pusing, lelah, atau mengalami kecemasan yang sulit dikendalikan.”

“Baik.”

Jawaban Ren terdengar patuh, tetapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Gerakan itu begitu kecil sehingga mungkin luput dari perhatian siapa pun yang tidak mengenalnya. Namun, Mai yang berdiri di samping kursinya melihatnya dengan jelas.

Gadis itu segera menunduk, pura-pura memeriksa tali tas kecil yang dibawanya. Senyumnya nyaris ikut merekah.

Dia senang sekali.

“Dan satu hal lagi,” lanjut dokter. “Jangan berjalan terlalu jauh tanpa pendamping. Kekuatan otot Anda memang menunjukkan perkembangan, tetapi keseimbangan dan daya tahan tubuh masih belum pulih sepenuhnya. Saya tidak ingin mendengar Anda mencoba berjalan sendirian lagi.”

Ren menggaruk pipinya.

“Itu... tidak akan terjadi lagi.”

“Semoga begitu.”

Mai meliriknya dari sudut mata. Ia masih ingat jelas kejadian beberapa waktu lalu di taman belakang kediaman Kisaragi: Ren yang mencoba berjalan sendiri, kedua kakinya gemetar, lalu tubuhnya jatuh sebelum ia sempat meraih pegangan. Sejak itu, gadis tersebut menjadi jauh lebih cerewet setiap kali Ren terlihat ingin melakukan sesuatu tanpa bantuan.

“Kanade akan memastikan Onii-chan mematuhi semua instruksi dokter!” serunya, mengangkat satu tangan dengan semangat yang sedikit berlebihan. “Kalau Onii-chan mencoba kabur dari pengawasan, hukuman adik perempuan menanti!”

Ren menoleh kepadanya.

“Hukuman seperti apa?”

“E-eh?”

Mai terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Ren akan menanggapi ancamannya dengan sungguh-sungguh.

“Pokoknya... hukuman yang sangat menakutkan!”

“Misalnya?”

“Tidak boleh mendapat puding selama tiga hari!”

Ren mengangguk perlahan, seolah baru saja menerima ancaman serius yang harus dipertimbangkan matang-matang.

“Itu terdengar kejam.”

“Benar, kan?!”

“Kalau begitu, aku akan berusaha menjadi pasien yang baik.”

Senyum Ren melebar. Mai baru menyadari bahwa ia sedang mengerjainya ketika pemuda itu mengalihkan pandangan sambil menahan tawa.

Dokter mereka ikut tersenyum tipis.

“Kalau begitu, saya harap kalian menikmati waktu di luar. Jangan lupa, tujuan kegiatan ini adalah membantu pemulihan, bukan mengejar jarak atau durasi.”

Ren mengangguk sekali lagi. Namun, ketika mereka meninggalkan ruang pemeriksaan, langkahnya tampak sedikit lebih ringan daripada biasanya.

Di lorong, cahaya matahari menembus jendela tinggi dan membentuk petak-petak keemasan di atas lantai marmer. Mai berjalan di samping Ren, memperhatikan bagaimana pemuda itu sesekali menoleh ke luar jendela, seolah sedang memastikan bahwa dunia di balik kaca benar-benar masih ada.

“Senang sekali, ya, Onii-chan?” godanya.

Ren berhenti sebentar.

“Apakah kelihatan?”

“Kelihatan sekali. Senyum Onii-chan dari tadi tidak bisa disembunyikan.”

“Aku sudah lama tidak pergi ke luar.”

Suaranya berubah lebih pelan pada kalimat terakhir.

Mai ikut memperlambat langkah. Di balik jendela, pepohonan di taman kediaman bergoyang lembut diterpa angin. Ada seekor burung kecil bertengger di pagar, lalu terbang ketika seorang pelayan melintas.

“Kalau begitu, hari ini kita harus bersenang-senang,” katanya.

Ren menoleh.

“Bersama Kanade?”

Mai merasakan sesuatu mencubit bagian dalam dadanya.

Namun, ia segera mengangkat dagu dan membentuk senyum yang selama ini dilatihnya di depan cermin.

“Tentu saja! Kanade akan menemani Onii-chan sampai Onii-chan bosan melihat wajahnya!”

Ren memandangnya beberapa saat.

“Aku rasa itu tidak akan terjadi.”

Jawaban sederhana itu membuat Mai kehilangan kata-kata selama beberapa detik.

Ia buru-buru mendahului Ren, menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa hangat.

“Kalau begitu, ayo cepat! Kalau terlalu lama, nanti waktu bermain kita habis!”

Mobil sedan hitam yang akan membawa mereka keluar telah menunggu di depan pintu utama kediaman Kisaragi.

Kendaraan itu tampak seperti biasa—bersih, mengilap, dengan pengemudi berseragam gelap yang membungkuk ketika Ren dan Mai mendekat. Namun, kali ini Mai memperhatikan sebuah mobil lain yang terparkir tidak jauh dari gerbang. Dua pria berjas sedang berbicara di dekatnya, masing-masing memegang ponsel.

Salah satu dari mereka melirik ke arah Ren.

Hanya sekejap.

Setelah itu, pria tersebut kembali menunduk pada layar ponselnya.

Mai mengenali wajahnya. Ia pernah melihat pria itu berdiri di dekat pintu masuk saat Saito datang untuk melakukan evaluasi mingguan.

Jadi, mereka ikut.

Ia sudah menduganya. Keluarga Kisaragi tidak mungkin membiarkan pewaris tunggal mereka pergi ke tempat umum tanpa pengawasan. Terlebih lagi, setelah Ren mulai menunjukkan perkembangan yang cukup berarti, setiap perubahan suasana hati pemuda itu seolah menjadi urusan penting yang harus dicatat.

Tetap saja, melihatnya secara langsung membuat tengkuk Mai terasa dingin.

“Kanade?”

Ren berdiri di samping pintu mobil yang terbuka. Ia menatap Mai yang mendadak diam.

“Kenapa?”

“Ah, tidak apa-apa!” Mai segera tersenyum. “Aku hanya sedang memikirkan es krim.”

“Es krim?”

“Benar! Kalau kita pergi ke taman, kita harus membeli es krim. Itu aturan tidak tertulis bagi setiap orang yang pergi ke taman!”

Ren mempertimbangkannya dengan serius.

“Kalau begitu, kita harus mematuhinya.”

“Persis!”

Mai masuk ke dalam mobil sebelum wajahnya membocorkan kegelisahan yang sebenarnya.

Bagian dalam sedan itu beraroma kulit dan pengharum mobil yang lembut. Pendingin udara menyala dengan dengungan rendah. Di luar, seorang pelayan menutup pintu dengan hati-hati, mengurung mereka dalam kabin yang tenang.

Ren duduk di sebelah Mai.

Begitu kendaraan mulai bergerak, tubuhnya sedikit menegang.

Mobil melewati gerbang besi kediaman Kisaragi, lalu memasuki jalan raya yang membentang di antara deretan bangunan dan pepohonan. Matahari siang memantul pada kaca-kaca gedung. Sepeda melintas di sisi jalan, kendaraan-kendaraan berbaris di persimpangan, dan suara klakson sesekali menyusup ke dalam kabin.

Ren menatap semua itu melalui jendela.

Sebuah bus melintas cukup dekat. Tanpa sadar, jari-jarinya bergerak di atas pangkuan, meremas kain celananya.

Mai menyadarinya.

“Onii-chan?”

“Hmm?”

“Tidak nyaman?”

Ren menggeleng, tetapi gerakannya terlambat.

“Tidak. Hanya saja... semuanya terasa berbeda.”

Ia menatap persimpangan di depan. Lampu lalu lintas berganti warna, kendaraan-kendaraan mulai bergerak, dan seorang pejalan kaki berlari kecil untuk mengejar lampu penyeberangan.

“Aku tahu jalanan seperti ini seharusnya biasa saja,” lanjutnya. “Tapi rasanya seperti melihat sesuatu yang pernah kukenal dalam mimpi. Aku tahu apa yang sedang kulihat, tetapi tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di sini.”

Mai tidak langsung menjawab.

Ada sesuatu dalam cara Ren mengucapkan kalimat itu yang membuatnya teringat pada seorang anak kecil yang baru terbangun di tempat asing. Dunia di luar mobil bukan sekadar pemandangan baginya. Dunia itu adalah kumpulan potongan kehidupan yang seharusnya menjadi miliknya, tetapi tak lagi bisa ia raih melalui ingatan.

Mobil berpindah jalur. Tubuh Ren terdorong sedikit mengikuti gerakan kendaraan.

Tangannya terangkat, ragu-ragu, lalu meraih tangan Mai.

Gadis itu terdiam.

Jari-jari Ren menyelip di antara jemarinya. Genggamannya cukup erat hingga Mai dapat merasakan tekanan pada tulang-tulang tangannya, tetapi tidak sampai menyakitkan.

“Maaf,” kata Ren, menyadari apa yang dilakukannya. “Aku hanya...”

“Tidak apa-apa.”

Mai membalas genggamannya.

“Pegang saja. Aku tidak akan kabur.”

Ren menoleh kepadanya. Ketegangan di sekitar matanya perlahan mengendur.

“Benarkah?”

“Benar. Lagi pula, kalau aku kabur, siapa yang akan membelikan Onii-chan es krim?”

“Bukankah tadi aku yang akan membelikanmu es krim?”

“Ah, ketahuan!”

Mai tertawa kecil. Ren ikut tersenyum, meskipun tangannya belum juga melepaskan tangan gadis itu.

Di luar, kota terus bergerak. Kendaraan melintas, papan reklame berganti di sepanjang jalan, dan orang-orang berjalan dengan urusan masing-masing. Di dalam mobil, Ren menggenggam tangan Mai seolah-olah itulah satu-satunya hal yang terasa akrab di antara semua pemandangan yang asing.

Mai menunduk menatap tangan mereka.

Tangan pemuda itu terasa hangat.

Dan untuk sesaat, ia lupa bahwa perjalanan ini telah diatur oleh keluarga Kisaragi, bahwa ada orang-orang yang mengawasi mereka, dan bahwa dirinya dibayar untuk memainkan peran seorang adik perempuan.

Ia hanya ingin membiarkan Ren menikmati hari itu.

Setidaknya, selama beberapa jam.

Taman kota menyambut mereka dengan cahaya matahari yang berlimpah dan angin yang membawa aroma rumput basah.

Pepohonan besar menaungi jalan setapak. Di beberapa tempat, keluarga-keluarga duduk di atas tikar piknik, anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun, sementara pasangan muda berjalan berdampingan sambil berbagi percakapan yang hanya terdengar oleh mereka sendiri.

Di dekat kolam, permukaan air berkilau tertimpa cahaya. Beberapa ekor ikan bergerak di bawah bayangan pepohonan, sesekali muncul ke permukaan sebelum menghilang lagi.

Ren berdiri di dekat pintu masuk taman.

Untuk beberapa saat, ia tidak mengatakan apa-apa.

Angin mengangkat sedikit rambut hitamnya. Matanya bergerak dari satu sudut ke sudut lain, mengikuti anak-anak yang berlari, seorang lelaki tua yang memberi makan burung, hingga seorang ibu yang sedang membetulkan topi putrinya.

“Ramai sekali,” gumamnya.

“Namanya juga taman kota, Onii-chan.”

“Aku tahu.” Ren tersenyum tipis. “Tapi aku tidak menyangka akan merindukan suara-suara seperti ini.”

Mai memandangnya.

Di kediaman Kisaragi, suara paling dominan adalah langkah pelayan, pintu yang dibuka dengan hati-hati, dan percakapan pelan di antara orang-orang yang selalu menjaga sikap. Bahkan televisi sering kali dibiarkan dalam volume rendah.

Di sini, dunia tidak berusaha mengecilkan dirinya demi kenyamanan siapa pun.

Anak-anak berteriak. Burung berkicau. Sepeda berdering. Seseorang tertawa keras di dekat bangku taman.

Semua suara itu bertumpuk menjadi kebisingan yang hidup.

“Kalau begitu, kita harus berkeliling,” kata Mai. “Tapi jangan terlalu jauh, ya. Dokter bilang Onii-chan tidak boleh memaksakan diri.”

“Baik, Bu Dokter.”

“E-eh? Kenapa aku yang jadi dokter?”

“Karena kamu terdengar lebih menakutkan daripada dokter sebenarnya.”

Mai memelototinya.

“Onii-chan mulai berani mengejek adik sendiri, ya!”

Ren tertawa kecil.

Suara itu membuat Mai berhenti sesaat.

Ia sudah beberapa kali mendengar Ren tertawa sejak pemuda itu terbangun dari koma. Namun, tawa Ren biasanya pendek dan tertahan, seolah ia masih perlu memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan memperlihatkan kegembiraan.

Kali ini, suara itu terdengar lebih lepas.

Mai segera memalingkan wajah sebelum Ren menyadari bahwa ia sedang memperhatikannya.

“Ayo, ayo! Kita mulai dari sana!”

Ia menunjuk jalan setapak yang membentang di antara pepohonan.

Ren mengikuti langkahnya.

Mereka berjalan perlahan, menyesuaikan kecepatan dengan kondisi fisik Ren. Sesekali Mai melirik kakinya, memastikan langkah pemuda itu tetap stabil. Ketika jalan sedikit menanjak, ia otomatis memperlambat langkah dan membiarkan Ren berpegangan pada lengannya.

Ren tidak memprotes.

Sebaliknya, ia tampak menikmati perhatian kecil itu.

“Kanade.”

“Ya?”

“Apakah kita sering pergi ke tempat seperti ini?”

Pertanyaan tersebut membuat langkah Mai nyaris terhenti.

Ia tahu kisah masa lalu Kanade dari berkas yang diberikan Saito. Ada beberapa foto keluarga, jadwal kegiatan, catatan sekolah, dan sejumlah informasi yang harus dihafalkannya. Namun, tidak ada catatan rinci tentang setiap kunjungan ke taman atau percakapan kecil yang pernah terjadi di antara kakak dan adik itu.

Ia harus berhati-hati.

“Kurasa... kita pernah,” jawabnya, memilih kata-kata yang cukup samar. “Mungkin tidak terlalu sering.”

Ren mengangguk, menerima jawaban itu tanpa kecurigaan.

“Aku ingin mengingatnya.”

Mai menatap wajahnya.

“Kalau tidak bisa, tidak apa-apa,” katanya lembut. “Kita bisa membuat kenangan baru.”

Ren menoleh kepadanya.

Angin bertiup di antara mereka, membawa sehelai daun kecil yang jatuh di dekat sepatu Mai.

“Membuat kenangan baru,” ulang Ren.

“Ya. Misalnya, hari ini. Kalau nanti Onii-chan sudah sembuh dan bisa berjalan jauh, kita bisa datang lagi. Mungkin saat musim gugur, ketika daun-daunnya berubah warna. Atau saat musim semi, ketika bunga sakura bermekaran.”

“Bersamamu?”

Mai tersenyum.

“Tentu saja. Siapa lagi yang akan menemani Onii-chan?”

Ren tidak menjawab. Ia hanya memandang Mai sedikit lebih lama daripada biasanya sebelum kembali berjalan.

Dari bangku taman yang berjarak beberapa puluh meter, seorang pria berjas abu-abu menurunkan koran yang sejak tadi dipegangnya. Di balik kacamata hitam, matanya mengikuti gerakan kedua remaja itu.

Tak jauh darinya, seorang perempuan berpenampilan kasual duduk sambil memegang ponsel. Tas selempangnya diletakkan di pangkuan. Sekilas, ia tampak seperti pengunjung yang sedang menunggu seseorang.

Namun, layar ponselnya tidak menampilkan percakapan atau media sosial.

Di sana terdapat catatan singkat mengenai kondisi Ren.

Subjek berjalan dengan stabil. Interaksi dengan pendamping berlangsung positif. Tidak tampak tanda disorientasi yang signifikan.

Perempuan itu mengangkat pandangan, mengamati Ren dan Mai yang berhenti di dekat kios makanan.

Lalu, jarinya bergerak lagi.

“Es krim!”

Mai berhenti begitu melihat kios kecil di sisi jalan.

Di bawah payung berwarna krem, seorang penjual melayani beberapa pengunjung. Papan menu di bagian depan menampilkan berbagai pilihan rasa: vanila, stroberi, cokelat, matcha, dan beberapa rasa musiman yang namanya ditulis dengan huruf warna-warni.

Mai menatap papan itu dengan mata berbinar.

Ren berdiri di sampingnya.

“Jadi, aturan tidak tertulis itu memang benar-benar penting.”

“Jangan meremehkan tradisi taman kota, Onii-chan!”

“Aku tidak berani.”

Mai menunjuk gambar es krim stroberi.

“Kalau begitu, aku mau yang itu!”

Ren mengeluarkan dompet dari saku jaketnya.

“Baik. Satu stroberi.”

“Dan Onii-chan mau rasa apa?”

Ren memperhatikan papan menu.

“Vanila saja.”

“Pilihan yang aman sekali.”

“Apakah ada masalah dengan vanila?”

“Tidak. Hanya saja, Onii-chan terlihat seperti orang yang akan memilih rasa yang paling sederhana.”

“Bukankah kamu juga memilih stroberi?”

Mai membuka mulut, kemudian menutupnya lagi.

“...Itu berbeda.”

“Bagaimana bedanya?”

“Karena stroberi itu lucu!”

Ren menatap gambar es krim di papan, lalu kembali menatap Mai.

“Aku mengerti.”

Nada suaranya begitu serius sehingga Mai langsung curiga.

“Onii-chan, jangan bilang kamu sedang menertawakanku dalam hati.”

“Aku tidak akan melakukan hal sekejam itu.”

“Jawabanmu justru terdengar sangat mencurigakan!”

Ren tertawa pelan ketika maju untuk memesan.

Mai berdiri di belakangnya sambil mengamati taman. Ia mencoba menikmati suasana, tetapi perhatiannya sesekali tertarik pada orang-orang di sekitar mereka.

Pria berjas abu-abu tadi kini berdiri di dekat tempat sampah, berpura-pura membaca koran. Perempuan dengan tas selempang telah berpindah ke bangku lain. Seorang pria bertopi yang berjalan sambil membawa kamera beberapa kali melirik ke arah Ren.

Terlalu banyak kebetulan.

Mai menurunkan pandangan.

Jangan menatap mereka terlalu lama. Kalau aku terlihat waspada, mereka akan tahu bahwa aku menyadari keberadaan mereka.

“Kanade?”

Ren sudah kembali dengan dua es krim di tangannya.

Mai buru-buru tersenyum.

“Wah, cepat sekali!”

Ren menyerahkan es krim stroberi kepadanya.

“Ini. Hati-hati, sepertinya mulai meleleh.”

“Terima kasih, Onii-chan!”

Mai menerima es krim itu dengan kedua tangan. Dingin dari gagang cone segera meresap ke ujung jarinya.

Ia menjilat sedikit bagian atasnya.

Lihat selengkapnya