Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #10

Titah Baru Sang Pemilik Aset

Pagi di kediaman Kisaragi selalu dimulai dengan ketenangan yang terasa terlalu sempurna untuk disebut alami.

Sinar matahari menembus jendela-jendela tinggi ruang makan utama, jatuh di atas meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni mengilap. Tirai berwarna gading tersibak rapi, memperlihatkan taman yang masih basah oleh embun. Di luar, para tukang kebun telah mulai bekerja. Dari kejauhan, suara gunting pemangkas tanaman sesekali terdengar, kemudian menghilang di antara kicauan burung.

Di dalam ruangan, sarapan telah disiapkan dengan ketelitian yang nyaris berlebihan. Roti panggang tersusun di atas piring porselen, telur disajikan dalam wadah perak kecil, dan beberapa mangkuk sup hangat mengeluarkan uap tipis. Di dekat teko teh, vas berisi bunga segar menghiasi bagian tengah meja. Bahkan serbet yang terlipat di samping setiap piring memiliki bentuk yang sama persis.

Mai duduk di sisi kanan Ren, mengenakan gaun rumah berwarna pucat yang dipilihkan oleh staf. Rambutnya diikat dengan pita merah muda satin buatan tangan Ren beberapa hari sebelumnya. Pita itu masih sedikit miring, sebagaimana saat pertama kali dipasangkan pemuda itu di rambutnya.

Setiap kali Mai merasakannya menyentuh kulit di belakang telinga, ia teringat pada senyum Ren ketika menyerahkan hadiah sederhana tersebut.

Semoga Kanade selalu bahagia.

Kalimat itu masih melekat dalam ingatannya.

Ia menunduk, memotong sepotong telur dadar dengan garpu, lalu memasukkannya ke mulut. Makanan itu lezat, seperti biasanya. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya berada di meja makan.

Di seberang meja, Ren sedang mengoleskan selai tipis pada roti panggangnya. Kondisi fisiknya telah menunjukkan perkembangan sejak kunjungan mereka ke taman kota. Ia masih bergerak dengan hati-hati, terutama ketika berdiri atau menaiki tangga, tetapi warna wajahnya lebih segar. Sesekali ia bahkan sudah bisa berjalan di lorong tanpa harus berpegangan pada lengan Mai.

Meski demikian, gadis itu tetap memperhatikannya diam-diam.

Ketika Ren meraih teko teh, Mai secara refleks menggeser cangkirnya sedikit agar lebih mudah dijangkau.

Ren meliriknya.

“Terima kasih.”

Mai berkedip, lalu segera menarik tangannya kembali.

“Ah, tidak apa-apa, Onii-chan!”

Ren tersenyum kecil sebelum menuangkan teh ke dalam cangkirnya sendiri.

“Pagi ini kamu kelihatan bersemangat,” katanya.

Mai hampir tersedak.

“A-aku?”

“Ya. Sejak tadi kamu sibuk mengatur piringku.”

“Karena Onii-chan suka lupa mengambil sesuatu kalau sedang melamun!”

“Aku hanya melamun sebentar.”

“Sebentar menurut Onii-chan bisa berarti lima menit!”

Ren mengangkat alis, berpura-pura mempertimbangkan tuduhan itu.

“Apakah kamu menghitungnya?”

“Te-tentu saja tidak!”

“Kalau begitu, bagaimana kamu tahu?”

Mai menutup mulutnya. Ia baru menyadari bahwa dirinya telah terjebak dalam pertanyaan sederhana.

Ren tertawa pelan.

Di meja makan yang luas itu, percakapan mereka terdengar seperti percakapan dua saudara yang sedang menikmati pagi biasa. Setidaknya, begitulah yang akan dilihat seseorang jika kebetulan melewati pintu.

Namun, Mai tahu bahwa di rumah ini, bahkan percakapan ringan pun tidak sepenuhnya bebas dari kemungkinan menjadi bahan pengamatan.

Ia sempat melirik kamera kecil yang terpasang di sudut ruangan. Benda itu menyatu dengan dekorasi dinding, hampir tidak terlihat jika seseorang tidak tahu keberadaannya.

Lalu ia kembali menatap piringnya.

Hari-hari belakangan ini terasa semakin mudah dijalani. Ren mulai lebih sering tertawa, dan kehadirannya tidak lagi terasa seperti beban yang harus ditanggung sendirian. Akan tetapi, kemudahan itu juga membuat Mai semakin sulit mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia hanyalah seorang pekerja kontrak.

Ia tidak boleh terlalu nyaman.

Tidak boleh lupa bahwa setiap hari yang berlalu mendekatkannya pada akhir masa penyamaran.

“Pagi ini kalian tampaknya cukup menikmati sarapan.”

Suara itu datang dari ambang pintu.

Mai langsung menegakkan punggung.

Kisaragi Souichiro memasuki ruang makan dengan setelan jas gelap yang rapi. Rambutnya yang telah disisir ke belakang tidak menunjukkan satu helai pun yang menyimpang. Di tangannya terdapat sebuah map tipis berwarna hitam, sementara jam tangannya memantulkan cahaya matahari ketika ia mengangkat tangan untuk membetulkan manset.

Di belakangnya, Reiko berjalan dengan langkah anggun. Perempuan itu mengenakan blus berwarna krem dan rok panjang yang jatuh sempurna mengikuti bentuk tubuhnya. Ekspresinya tenang, nyaris tanpa perubahan ketika melihat Ren dan Mai di meja makan.

Kehadiran mereka membuat suasana ruangan berubah.

Bukan karena suara mereka keras atau gerakan mereka mengancam. Justru sebaliknya. Mereka bergerak dengan ketenangan orang-orang yang terbiasa mendapatkan apa pun tanpa perlu meminta dua kali.

Ren meletakkan cangkirnya.

“Ayah. Ibu. Selamat pagi.”

Mai mengikuti dengan sedikit membungkukkan kepala.

“Selamat pagi, Ayah. Ibu.”

Souichiro menarik kursi di ujung meja dan duduk. Ia meletakkan map hitam di samping piringnya, kemudian melirik jam dinding.

“Bagaimana kondisi kesehatanmu, Ren?”

“Semakin baik.”

“Dokter sudah memberikan laporan terakhir.”

“Kalau begitu, Ayah sudah mengetahui semuanya.”

Souichiro menatap putranya selama beberapa detik. Tidak ada tanda bahwa ia menghargai jawaban tersebut. Ia hanya mengambil serbet, meletakkannya di pangkuan, dan memberi isyarat kecil kepada pelayan agar menuangkan teh.

“Kalau begitu, kita bisa membicarakan langkah berikutnya.”

Mai yang baru saja mengangkat cangkir berhenti di tengah gerakan.

Ren meletakkan pisaunya di samping piring.

“Langkah berikutnya?”

Souichiro membuka map hitam itu. Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen, menyusunnya di hadapan dirinya sendiri, lalu meratakan sudut kertas dengan ujung jari.

“Masa pemulihanmu di rumah ini dianggap selesai.”

Kalimat itu jatuh begitu saja di antara bunyi peralatan makan.

Mai menatap Souichiro.

Ren tidak langsung menjawab. Ia memandang dokumen di tangan ayahnya, kemudian mengalihkan pandangan kepada ibunya, seolah mencoba memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.

“Dianggap selesai?” ulangnya.

“Ya.”

“Tetapi dokter mengatakan aku masih harus menjalani rehabilitasi.”

“Rehabilitasi akan tetap dilanjutkan. Jadwalnya bisa disesuaikan dengan aktivitas sekolah dan konsultasi medis.”

Souichiro menyilangkan kedua tangan di atas meja.

“Kau sudah cukup lama tidak muncul di hadapan publik. Ketidakhadiranmu mulai menimbulkan pertanyaan. Beberapa pihak ingin mengetahui kapan kau akan kembali menjalankan aktivitas normal.”

Ia berhenti sejenak untuk menyesap teh.

“Sebagai putra keluarga Kisaragi, kau tidak bisa terus-menerus bersembunyi di rumah.”

Ren menunduk memandang sarapannya. Jari telunjuknya bergerak perlahan di tepi serbet, mengusap lipatan kain yang sebenarnya sudah rapi.

“Aku mengerti.”

Jawaban itu terdengar tenang, tetapi Mai memperhatikan perubahan kecil pada wajahnya. Senyum yang tadi masih tersisa setelah percakapan mereka perlahan menghilang. Bahunya menjadi sedikit lebih kaku.

Souichiro tidak menunjukkan minat untuk menanyakan apa yang dirasakan putranya.

“Mulai minggu depan, kau akan kembali ke kelas tiga SMA Akademi Seiwa.”

Garpu di tangan Mai berhenti bergerak.

Akademi Seiwa.

Nama itu pernah muncul dalam berkas yang harus dipelajarinya sebelum menerima kontrak. Sebuah sekolah swasta superelit yang menampung anak-anak pejabat, pengusaha besar, diplomat, dan keluarga-keluarga yang namanya sering muncul dalam berita ekonomi. Fasilitasnya lengkap, standar akademiknya tinggi, dan hubungan sosial di antara para siswanya kerap dianggap sama pentingnya dengan nilai rapor.

Bagi keluarga Kisaragi, Seiwa bukan sekadar tempat belajar.

Sekolah itu merupakan bagian dari jaringan sosial yang harus dipertahankan.

Mai menelan ludah.

Sekolah? Aku harus pergi ke sekolah?

Ia membayangkan lorong-lorong luas yang dipenuhi siswa berseragam rapi, papan pengumuman akademik, ruang kelas dengan jendela besar, dan tatapan para murid yang terbiasa mengamati setiap detail kehidupan orang lain.

Lalu, sebuah bayangan lain muncul dalam pikirannya.

Sekelompok anak laki-laki yang terlalu bersemangat, membawa majalah anime, membicarakan maid café, dan menatap wajahnya dengan kecurigaan yang semakin lama semakin sulit diabaikan.

Jangan-jangan ada orang yang mengenaliku.

Bukan sebagai Kanade.

Sebagai Mei-chan.

Mai merasakan telapak tangannya mulai lembap. Ia menyelipkan kedua tangan ke pangkuan, menyembunyikannya di bawah meja, lalu berusaha mengatur napas.

Belum sempat ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk itu lebih jauh, Souichiro kembali berbicara.

“Dan ada satu hal lagi.”

Mai mengangkat kepala.

Souichiro menoleh kepadanya.

“Kanade juga akan dipindahkan ke Akademi Seiwa.”

Untuk sesaat, Mai tidak memahami kalimat itu.

Ia hanya memandang pria di ujung meja, menunggu penjelasan yang mungkin akan mengubah arti perkataan tersebut.

Namun, Souichiro melanjutkan dengan nada yang sama datarnya.

“Kau akan masuk kelas satu. Dokumen perpindahanmu sedang disiapkan oleh tim administrasi. Semua urusan penerimaan akan diselesaikan sebelum akhir pekan.”

Cangkir di tangan Mai bergetar kecil.

Teh di dalamnya bergoyang, membentuk lingkaran tipis yang memantulkan cahaya.

“A-aku...”

Ia segera menurunkan cangkir sebelum cairannya tumpah.

“Maaf, Ayah. Boleh aku bertanya?”

Souichiro mengangguk singkat, tanpa mengubah ekspresi.

“Silakan.”

Mai berusaha menjaga nada suaranya tetap manis. Ia telah menghabiskan banyak waktu mempelajari cara bicara Kanade, tetapi pada saat-saat seperti ini, persona itu terasa seperti pakaian yang terlalu sempit.

“Apakah... ada alasan khusus mengapa Kanade harus pindah ke sekolah yang sama dengan Onii-chan?”

“Bukankah jawabannya jelas?”

Souichiro menatapnya.

“Kau akan membantu mengawasi Ren.”

Keheningan menyusul.

Mai dapat mendengar dengungan pendingin udara di langit-langit. Di luar jendela, seorang tukang kebun menggeser pot bunga, menimbulkan bunyi gesekan yang samar di atas batu.

“Mengawasi... Onii-chan?”

“Benar. Kondisi Ren memang membaik, tetapi kami tidak ingin mengambil risiko yang tidak perlu. Kau akan berada di lingkungan yang sama dengannya. Jika terjadi sesuatu, kau bisa segera melapor kepada pihak keluarga.”

Kata melapor membuat tengkuk Mai terasa dingin.

Bukan menemani.

Bukan mendukung.

Melapor.

Seolah-olah keberadaannya di sisi Ren bukanlah hubungan manusiawi, melainkan perpanjangan dari sistem pengawasan keluarga Kisaragi.

“Namun,” lanjut Souichiro, “jangan salah mengartikan tugasmu. Kau tetap harus mengikuti pelajaran, mematuhi peraturan sekolah, dan menjaga nama keluarga. Jangan membuat masalah.”

Mai menunduk.

“Baik, Ayah.”

Jawaban itu keluar secara otomatis.

Di dalam kepalanya, pikiran-pikiran berlarian tanpa arah.

Bagaimana jika ada siswa yang mengenali wajahnya? Bagaimana jika salah satu pelanggan lama maid café pernah bersekolah di Seiwa? Bagaimana jika ada yang menemukan foto Mei-chan di internet, membandingkannya dengan wajah Kanade, lalu mulai mengajukan pertanyaan?

Ia tidak bisa begitu saja menghindari orang-orang di sekolah. Ia harus menghadiri kelas, mengerjakan tugas, berbicara dengan guru, dan berinteraksi dengan siswa lain. Semua itu akan berlangsung di tempat yang jauh lebih terbuka daripada kediaman Kisaragi.

Di rumah ini, ia masih bisa mengatur jarak.

Di sekolah, ia tidak tahu siapa yang mungkin berdiri di hadapannya.

“Apakah ada keberatan?”

Lihat selengkapnya