Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #11

Seragam Baru dan Identitas Curian

Sore itu, kamar Miyauchi Mai berubah menjadi ruang kerja sementara yang jauh lebih menyerupai butik eksklusif daripada kamar tidur seorang gadis enam belas tahun. Tirai berwarna gading menahan sebagian cahaya matahari yang mulai merendah di balik taman Kediaman Kisaragi, sementara pantulan keemasan dari jendela jatuh di atas lantai kayu yang mengilap. Di dekat lemari pakaian, sebuah kotak panjang berlapis beludru hitam terbuka lebar, memperlihatkan seragam sekolah yang terlipat begitu rapi hingga nyaris tampak seperti barang pameran.

Dua orang penjahit pribadi keluarga Kisaragi sedang bekerja di sekitar Mai. Seorang perempuan paruh baya berambut pendek memegang pita ukur, sementara asistennya berjongkok di dekat sebuah koper kulit yang berisi perlengkapan jahit, beberapa pasang sepatu, dan kotak-kotak kecil berisi aksesori. Sesekali terdengar bunyi gunting yang beradu dengan meja, gesekan kain ketika dibentangkan, serta suara pena mekanis yang mencatat ukuran pada lembar formulir.

Mai berdiri di atas alas ukur tipis, mengenakan blus putih sederhana dan rok dalam yang disediakan untuk fitting. Kedua tangannya menggantung kaku di sisi tubuh. Ia berusaha menjaga postur sebagaimana yang diajarkan Saito ketika seseorang sedang mengukur pakaian formal, tetapi bahunya terus naik setiap kali pita ukur menyentuh pinggangnya.

“Mohon rileks sedikit, Nona Kanade,” ujar penjahit itu dengan senyum profesional. “Kalau otot pinggangnya tegang, hasil pengukurannya bisa sedikit meleset.”

“Ah, maaf! Saya tidak sengaja.”

Mai segera mengembuskan napas panjang, lalu berusaha melonggarkan tubuhnya.

Rileks. Cuma diukur pakaian. Bukan sedang diinterogasi.

Namun, ketika penjahit itu mengangkat seragam dari kotak beludru, pikiran Mai mendadak berhenti bekerja.

Seragam Akademi Seiwa.

Ia pernah melihatnya berkali-kali di majalah mode, siaran berita tentang keluarga-keluarga terpandang, dan foto-foto murid sekolah elite yang sesekali muncul di layar televisi kafe tempatnya bekerja dahulu. Akan tetapi, melihatnya dari dekat adalah pengalaman yang sama sekali berbeda.

Blazernya berwarna biru malam dengan potongan yang tegas, dihiasi garis-garis tipis berwarna perak pada kerah dan ujung lengan. Lambang Akademi Seiwa—perisai dengan motif burung bangau dan ranting sakura—tersemat di dada kiri dalam sulaman benang perak. Kancing logamnya memiliki ukiran kecil yang hanya terlihat ketika terkena cahaya. Kemeja putihnya terbuat dari kain halus yang tidak mudah kusut, sedangkan pita leher berwarna merah anggur dirancang dengan simpul khusus yang membuatnya terlihat elegan tanpa berlebihan.

Rok lipit berwarna abu-abu gelap melengkapi keseluruhan setelan. Panjangnya diatur sedemikian rupa sehingga tetap sesuai dengan peraturan sekolah, tetapi garis potongannya cukup presisi untuk menegaskan bahwa pakaian itu dibuat berdasarkan ukuran pemakainya, bukan sekadar diambil dari rak toko.

Di sampingnya, sepasang sepatu kulit hitam mengilap diletakkan di atas alas kain. Sebuah tas sekolah berstruktur kokoh dengan lambang perak yang sama menunggu di dalam kotaknya.

Tidak ada satu pun bagian dari seragam itu yang tampak murah. Bahkan kaus kaki putih yang disiapkan bersamanya memiliki tenunan rapat dan garis tipis berwarna biru di bagian atas.

“Ini merupakan seragam musim gugur Akademi Seiwa,” jelas penjahit tersebut sembari memeriksa bagian bahu blazer. “Untuk murid pindahan, sekolah meminta agar seluruh komponennya sesuai dengan standar resmi. Tidak diperkenankan menggunakan aksesori pribadi yang tidak tercantum dalam pedoman.”

Tatapan Mai turun ke pita merah anggur di tangannya.

“Bahkan pita rambut?”

“Bergantung pada jenisnya, Nona. Untuk kelas satu, aksesori rambut harus sederhana. Pita berukuran besar atau warna yang terlalu mencolok tidak diperkenankan.”

Jari Mai tanpa sadar menyentuh pita satin merah muda yang terpasang di rambutnya. Pita itu sedikit miring, seperti biasanya. Ren membuatnya dengan tangannya sendiri, dan sejak hari itu Mai hampir tidak pernah melepasnya ketika berada di dalam rumah.

“Kalau pita ini?” tanyanya pelan.

Penjahit itu mengamati aksesori tersebut, kemudian tersenyum tipis. “Warnanya mungkin sedikit terlalu terang untuk peraturan sekolah. Namun, jika dikenakan di luar kegiatan resmi, saya rasa tidak akan menjadi masalah. Untuk hari pertama, sebaiknya Nona mengikuti ketentuan sekolah terlebih dahulu.”

“Oh, begitu.”

Mai mengangguk. Ia mencoba tersenyum seolah jawaban itu tidak berarti apa-apa, tetapi ibu jarinya terus mengusap tepi pita satin tersebut.

Benda kecil itu terasa jauh lebih akrab daripada blazer mahal yang kini menunggu di hadapannya.

Pita itu bukan simbol keluarga konglomerat, bukan pula bagian dari penyamaran yang disusun oleh pengacara berjas gelap. Benda itu lahir dari tangan Ren yang sedikit canggung, dari sore yang dipenuhi cahaya matahari, dan dari ketulusan yang tidak pernah meminta Mai membuktikan bahwa dirinya layak menerimanya.

Berbeda dengan seragam di depannya.

Seragam ini memiliki nama sekolah, lambang keluarga terpandang, dan seluruh bobot status sosial yang tidak pernah menjadi milik Miyauchi Mai.

Namun, mulai minggu depan, ia harus mengenakannya seolah-olah telah menjadi bagian dari hidupnya sejak awal.

“Baiklah, Nona. Mari kita coba blazernya.”

Mai menelan ludah.

Penjahit itu membantu mengenakan blazer tersebut di bahunya, kemudian menarik bagian belakangnya dengan hati-hati untuk memastikan garis jahitan jatuh tepat di tempat yang seharusnya. Kainnya terasa sejuk ketika pertama kali menyentuh kulit. Bahu Mai segera terasa lebih tegak, bukan karena ia mendadak menjadi lebih percaya diri, melainkan karena potongan pakaian itu seakan memaksanya berdiri dengan cara tertentu.

Kancing pertama ditutup.

Lalu kancing kedua.

Pita merah anggur di lehernya dirapikan hingga simpulnya tepat berada di tengah.

“Silakan luruskan punggungnya sedikit, Nona.”

Mai menuruti instruksi tersebut. Ia merasakan kerah blazer menyentuh sisi lehernya ketika mengangkat dagu.

Penjahit itu mundur dua langkah, menilai hasilnya dari berbagai sudut, kemudian berjongkok untuk memeriksa jatuhnya rok. Asistennya mencatat sesuatu pada formulir.

“Bagus. Bahunya pas. Panjang lengan juga sesuai. Kita hanya perlu sedikit penyesuaian pada bagian pinggang rok.”

“Apakah ada yang salah?” tanya Mai cepat.

“Tidak ada yang salah, Nona. Ini hanya penyempurnaan kecil.”

“Oh.”

Mai mengangguk sekali lagi.

Ia tahu dirinya tidak seharusnya terlalu khawatir terhadap setiap komentar. Akan tetapi, selama beberapa hari terakhir, setiap kalimat yang terdengar seperti koreksi telah membuatnya membayangkan kemungkinan terburuk: satu kesalahan kecil, satu jawaban yang tidak sesuai, satu kebiasaan yang terlalu berbeda, lalu seluruh kebohongan itu runtuh di hadapan orang-orang yang tidak akan pernah memberinya kesempatan untuk menjelaskan.

Penjahit itu akhirnya menunjuk ke arah cermin besar di dekat jendela.

“Silakan lihat hasilnya, Nona Kanade.”

Mai menoleh.

Selama beberapa detik, ia tidak bergerak.

Gadis di dalam cermin tampak seperti seseorang yang pernah ia lihat di majalah sekolah elite. Rambut hitamnya tersisir rapi, blazer biru malam membingkai tubuhnya dengan garis tegas, dan lambang perak di dada kirinya menangkap cahaya sore. Pita merah anggur di lehernya membuat wajahnya terlihat lebih dewasa, sementara rok abu-abu gelap dan sepatu kulit hitam menyempurnakan penampilan seorang siswi yang seolah dilahirkan untuk berjalan melewati gerbang sekolah bergengsi.

Wajah itu adalah wajah Mai.

Namun, seluruh hal yang mengelilinginya seolah mengatakan sebaliknya.

Ia mengangkat tangan kanan perlahan, menyentuh lambang Akademi Seiwa di dadanya. Ujung jarinya merasakan tekstur benang sulaman yang timbul dari permukaan kain.

“Keren sekali,” gumamnya tanpa sadar.

Penjahit itu tersenyum. “Akademi Seiwa memang dikenal sangat memperhatikan penampilan muridnya. Seragam mereka dirancang agar mudah dikenali, bahkan dari kejauhan.”

Mudah dikenali.

Kalimat itu menancap lebih dalam daripada yang seharusnya.

Di Akihabara, Mai pernah mengenakan celemek dengan renda putih, hiasan kepala berbentuk telinga kucing, dan pita besar yang berayun setiap kali ia membungkuk kepada pelanggan. Orang-orang mengenalinya sebagai Mei-chan. Mereka mengingat senyumnya, cara ia menyapa, bahkan gerakan tangannya ketika menawarkan menu spesial.

Ia tidak pernah benar-benar menjadi orang lain di balik kostum itu. Mei-chan adalah persona panggung yang ia bangun dengan latihan, tetapi suara, tawa, dan kenangan di baliknya tetap miliknya.

Di sini, persoalannya berbeda.

Ia tidak sekadar mengenakan seragam. Ia sedang mengambil alih tempat seorang gadis yang telah meninggal, memakai nama yang bukan miliknya, dan bersiap memasuki lingkungan yang menyimpan cukup banyak mata untuk menemukan setiap celah dalam penyamarannya.

Jika ada yang mengenalinya sebagai Mei-chan, itu akan menjadi masalah.

Jika ada yang mengetahui bahwa ia bukan Kanade, itu akan menjadi bencana.

Dan jika Ren mengetahui seluruh kebenarannya sebelum waktunya, Mai bahkan tidak tahu apakah ia masih sanggup menatap pemuda itu tanpa merasa ingin melarikan diri.

“Apakah Nona menyukainya?”

Pertanyaan penjahit itu menariknya kembali ke ruangan.

Mai tersentak kecil. Ia segera mengangkat kedua sudut bibirnya, menampilkan senyum yang sudah begitu sering ia gunakan selama beberapa minggu terakhir.

“Ya. Sangat suka. Terima kasih banyak.”

“Syukurlah.”

Penjahit tersebut memeriksa kembali kerah blazer, lalu merapikan ujung lengan Mai. Ia bekerja dengan ketelitian yang hampir menenangkan. Setidaknya, kain dapat disesuaikan dengan ukuran tubuh. Jahitan yang terlalu longgar dapat dipersempit. Panjang rok yang kurang tepat dapat diperbaiki.

Seandainya identitas manusia juga bisa diperlakukan seperti itu, Mai mungkin tidak perlu merasa seperti sedang berjalan dengan pakaian yang sewaktu-waktu akan robek.

Setelah pengukuran selesai, kedua penjahit mengemasi peralatan mereka dan meninggalkan kamar. Mereka membawa serta beberapa catatan ukuran, berjanji akan mengantarkan hasil penyesuaian terakhir sebelum akhir pekan.

Pintu tertutup dengan bunyi klik yang pelan.

Kamar itu kembali sunyi.

Mai berdiri sendirian di depan cermin, masih mengenakan seragam Akademi Seiwa. Di atas meja, map berwarna hitam yang tadi dibawa seorang pelayan kini terletak di samping kotak aksesori. Sebuah kartu kecil dengan lambang sekolah ditempelkan pada bagian depan map tersebut, disertai tulisan rapi: Pedoman Murid Pindahan — Kisaragi Kanade.

Ia memandangi pantulan dirinya sekali lagi.

Kemudian ia menarik napas panjang dan mulai membuka kancing blazer.

Satu.

Dua.

Tiga.

Ketika kain itu terlepas dari bahunya, ia merasa seolah baru saja dibebaskan dari sesuatu yang tidak kasatmata. Ia menggantungnya dengan hati-hati pada gantungan pakaian yang disediakan, memastikan kerahnya tidak terlipat. Setelah itu, ia melepaskan pita merah anggur dan meletakkannya di atas meja.

Jarinya bergerak menuju pita satin merah muda.

Mai mengeluarkannya dari rambut, memegangnya sejenak, lalu memasangnya kembali dengan simpul kecil yang sedikit miring.

“Yang ini lebih cocok,” bisiknya kepada pantulan dirinya.

Senyum kecil muncul di bibirnya, tetapi hanya bertahan sebentar.

Ketukan terdengar dari pintu.

Tok. Tok.

“Masuk.”

Pintu terbuka, memperlihatkan Saito Kazuma dalam setelan jas arang yang selalu tampak terlalu rapi untuk seseorang yang bekerja hingga larut malam. Ia membawa sebuah tablet tipis di tangan kiri dan map dokumen di tangan kanan. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan ketika melihat seragam yang tergantung di dekat jendela.

Tatapannya justru langsung beralih kepada Mai.

“Bagaimana fitting-nya?”

“Sudah selesai. Katanya hanya perlu sedikit penyesuaian pada bagian pinggang rok.”

“Bagus.”

Saito masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia tidak meminta izin untuk duduk. Setelah menempatkan tablet di meja, ia menarik kursi dengan gerakan terukur, lalu membuka map dokumen di hadapannya.

Mai mengamati tindakannya dari dekat lemari.

“Apakah ada instruksi baru, Pak Saito?”

“Ada beberapa hal yang perlu kita pastikan sebelum Anda memasuki Akademi Seiwa.” Ia mengeluarkan tiga lembar kertas dan menatanya sejajar. “Saya sudah menjelaskan bahwa lingkungan sekolah akan berbeda dari kediaman ini. Di sini, interaksi Anda dapat diatur dengan relatif mudah. Di sekolah, ada guru, siswa, staf administrasi, serta orang-orang dari keluarga lain yang mungkin memiliki kepentingan sendiri.”

Mai merapatkan kedua tangannya di depan perut.

“Ya.”

“Karena itu, Anda harus memahami bahwa perpindahan ini bukan sekadar formalitas pendidikan.”

Saito menggeser lembar pertama ke arah Mai.

Di bagian atasnya terdapat judul dengan huruf kapital: PROTOKOL PERILAKU DAN PENGAWASAN — AKADEMI SEIWA.

Mai mendekat, menarik kursi di hadapan Saito, lalu duduk. Ia berusaha tidak memperlihatkan betapa tegangnya jemarinya ketika menerima lembar tersebut.

“Bacalah.”

Ia menurunkan pandangan.

Daftar itu disusun dalam butir-butir singkat, hampir menyerupai peraturan kerja di kafe tempatnya dahulu menjadi pelayan. Bedanya, aturan di Akihabara berkaitan dengan jadwal masuk, kebersihan meja, sapaan pelanggan, dan pembagian tugas. Aturan yang sekarang tertera di depannya menyangkut identitas, reputasi keluarga, dan keberadaan seseorang yang telah meninggal.

1. Pertahankan identitas sebagai Kisaragi Kanade sepanjang waktu di lingkungan sekolah.

2. Jangan membicarakan latar belakang pribadi yang tidak tercantum dalam berkas akademik yang telah diberikan.

3. Hindari tindakan yang berpotensi menarik perhatian berlebihan, termasuk perilaku, gaya bicara, aksesori, atau kebiasaan yang tidak sesuai dengan profil Kanade.

4. Jangan menjalin hubungan pribadi dengan siswa atau staf sekolah tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap keluarga Kisaragi.

5. Laporkan setiap kejadian yang melibatkan Kisaragi Ren, terutama apabila berkaitan dengan perubahan kondisi emosional, perilaku, atau kesehatannya.

6. Apabila Ren menunjukkan tanda-tanda gangguan psikologis atau fisik, prioritaskan keselamatannya dan segera hubungi pihak yang telah ditentukan. Jangan mengambil keputusan sendiri di luar kewenangan Anda.

Mai membaca butir keenam dua kali.

“Jadi, saya harus melapor kalau Ren merasa tidak sehat?”

“Bukan hanya ketika dia merasa tidak sehat.” Saito menyandarkan punggungnya ke kursi. “Perubahan perilaku sekecil apa pun perlu dicatat. Apabila dia menunjukkan kecemasan yang tidak biasa, menolak mengikuti instruksi guru, menghindari kegiatan tertentu, atau mengalami kesulitan beradaptasi, Anda harus segera menginformasikannya kepada saya.”

“Bukankah sekolah juga memiliki guru pembimbing dan tenaga medis?”

“Tentu. Namun, keluarga Kisaragi tidak dapat bergantung sepenuhnya pada pihak luar untuk mengawasi kondisi putra mereka.”

Jawaban itu disampaikan tanpa perubahan nada, seolah tidak ada yang aneh dari gagasan bahwa seorang siswi kelas satu harus menjadi pengamat pribadi bagi kakaknya sendiri.

Mai menatap butir kelima sekali lagi.

“Apakah saya harus melaporkan semuanya? Bahkan kalau dia hanya sedang sedih atau ingin sendirian?”

“Jika Anda menganggap perubahan tersebut relevan, ya.”

“Tapi—”

“Mai.”

Satu kata itu memotong kalimatnya.

Saito tidak meninggikan suara. Ia hanya mengangkat pandangan, dan justru karena itulah Mai segera menutup mulut. Pria itu selalu memiliki cara untuk membuat sebuah percakapan terasa seperti rapat evaluasi, bahkan ketika mereka sedang duduk berhadapan di kamar tidur.

“Jangan mencampuradukkan tugas Anda dengan penilaian pribadi,” lanjutnya. “Anda berada di sana bukan untuk menentukan apa yang menurut Anda terbaik bagi Ren. Anda berada di sana untuk menjalankan kesepakatan yang telah ditandatangani.”

Mai meremas ujung kertas di tangannya.

“Aku mengerti.”

“Gunakan bahasa yang sesuai.”

Ia terdiam sesaat.

“Saya mengerti, Pak Saito.”

“Lebih baik.”

Saito membuka lembar kedua. Kali ini, isinya berkaitan dengan hubungan Mai dan Ren di lingkungan sekolah.

Ada beberapa ketentuan mengenai interaksi di koridor, ruang kelas, kantin, serta kegiatan ekstrakurikuler. Mai harus menjaga jarak yang wajar, tidak terlalu sering mencari Ren tanpa alasan yang dapat diterima, dan menghindari percakapan pribadi yang terlalu panjang di tempat umum.

Namun, satu baris di bagian bawah membuat keningnya berkerut.

Dalam situasi yang membutuhkan dukungan emosional, Kisaragi Kanade harus tetap menunjukkan kepedulian sebagai adik kandung tanpa menimbulkan persepsi ketergantungan yang tidak sehat.

Mai mengangkat wajah.

“Bagaimana saya harus menentukan batasnya?”

“Dengan akal sehat.”

“Saya tidak yakin semua orang akan menganggap batas yang sama sebagai sesuatu yang wajar.”

Saito menatapnya selama beberapa detik.

“Jelaskan maksud Anda.”

Mai menurunkan pandangan ke kertas, berusaha menyusun kalimat yang tidak terdengar seperti penolakan. “Ren masih dalam masa pemulihan. Kalau dia merasa cemas di tempat ramai, mungkin dia membutuhkan seseorang yang dikenalnya. Tetapi, kalau saya terlalu sering mendekatinya, saya bisa dianggap melanggar aturan ini. Kalau saya menjaga jarak, dia mungkin mengira saya tidak ingin bersamanya.”

Saito tidak langsung menjawab.

Ia merapatkan kedua tangannya di atas meja, lalu memiringkan kepala sedikit. Ekspresinya tetap dingin, tetapi tatapannya kini lebih tajam.

“Itulah sebabnya Anda harus belajar membaca situasi.”

“Jadi, saya harus memutuskan sendiri?”

“Anda harus menggunakan penilaian yang masuk akal, selama tidak menyimpang dari tujuan kontrak.”

Jawaban itu terdengar seperti pemberian kepercayaan, tetapi Mai tahu bahwa di dalam dunia Saito, kepercayaan tidak pernah berarti kebebasan penuh. Ia hanya berarti bahwa seseorang akan diberi ruang untuk bertindak selama tindakannya masih dapat dipertanggungjawabkan kepada orang yang lebih berkuasa.

“Selain itu,” lanjut Saito, “jangan lupa bahwa Anda juga memiliki kewajiban untuk menjaga citra keluarga.”

Ia menarik lembar ketiga.

“Akademi Seiwa bukan sekolah biasa. Mayoritas siswa berasal dari keluarga pejabat, pemilik perusahaan, atau kalangan yang memiliki hubungan dekat dengan dunia politik dan bisnis. Banyak di antara mereka terbiasa memperhatikan nama keluarga, kebiasaan, dan hubungan sosial orang lain. Mereka mungkin tidak mengatakan apa pun secara langsung, tetapi jangan menganggap mereka tidak memperhatikan.”

Mai teringat lambang perak di dada blazer yang baru saja ia coba.

“Apakah itu sebabnya seragamnya harus sangat khusus?”

“Seragam Seiwa adalah bagian dari identitas institusi. Orang dapat mengenali siswa sekolah itu bahkan sebelum mengetahui nama mereka.”

“Berarti kalau saya membuat kesalahan, orang akan lebih mudah mengingatnya.”

“Jika kesalahan tersebut cukup mencolok.”

Mai mengembuskan napas perlahan melalui hidung.

Ia pernah menghadapi pelanggan yang sengaja datang hanya untuk menguji kesabarannya. Ia pernah tersenyum ketika seorang pria berbicara merendahkan dirinya, kemudian melayani meja lain seolah tidak terjadi apa-apa. Ia juga pernah menyelamatkan pertunjukan kecil di kafe ketika rekan kerjanya sakit mendadak, mengubah improvisasi menjadi sesuatu yang justru membuat pelanggan bertepuk tangan.

Ia bukan gadis yang tidak mampu beradaptasi.

Namun, pekerjaan-pekerjaan itu memiliki satu keuntungan: setelah jam kerja selesai, ia dapat melepas celemek, menghapus riasan, dan pulang sebagai Miyauchi Mai.

Di Akademi Seiwa, ia harus mempertahankan sandiwara itu sepanjang hari.

Dan setiap orang yang mengenalnya akan menjadi kemungkinan ancaman.

“Pak Saito,” katanya hati-hati, “saya ingin bertanya tentang murid-murid lain.”

“Silakan.”

“Bagaimana kalau ada yang bertanya tentang kenangan masa kecil Kanade? Atau teman-teman lamanya? Saya sudah mempelajari berkas yang diberikan, tetapi saya tidak mungkin menghafal setiap hal yang pernah dia lakukan.”

“Itu sebabnya Anda harus menghindari pembicaraan yang terlalu mendalam mengenai masa lalu.”

“Bukankah itu justru akan membuat saya terlihat aneh?”

Saito mengetukkan ujung pena ke meja satu kali.

“Tidak semua orang memiliki kebiasaan membicarakan masa kecilnya dengan murid pindahan.”

“Tetapi, kalau mereka memang mengenalnya—”

“Mai.”

Kali ini, suaranya terdengar lebih berat.

Mai menutup mulut. Ia dapat merasakan denyut jantungnya sendiri di pangkal leher.

Saito menyatukan kembali beberapa lembar kertas, lalu menatapnya lurus-lurus.

“Dengarkan baik-baik. Anda tidak dituntut untuk menjadi Kisaragi Kanade yang sempurna dalam setiap percakapan. Anda dituntut untuk tidak melakukan kesalahan yang dapat membongkar identitas Anda. Itu dua hal yang berbeda.”

“Kalau saya tidak tahu jawabannya?”

“Alihkan pembicaraan. Katakan bahwa Anda tidak ingat dengan jelas. Atau bahwa Anda tidak ingin membicarakannya.”

“Bukankah itu mencurigakan?”

“Yang lebih mencurigakan adalah seorang gadis yang terlalu bersemangat menjelaskan sesuatu yang seharusnya dia ketahui, tetapi tidak benar-benar dia pahami.”

Mai terdiam.

Lihat selengkapnya