Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #12

Gerbang Akademi Seiwa

Pagi itu, Kediaman Kisaragi terasa lebih sibuk daripada biasanya.

Suara langkah para pelayan bersahutan di sepanjang koridor marmer, bercampur dengan bunyi pintu-pintu yang dibuka dan ditutup secara hati-hati. Sinar matahari menembus jendela-jendela tinggi di sisi timur bangunan, memantul pada permukaan lantai yang mengilap hingga membentuk jalur-jalur keemasan. Aroma kopi yang baru diseduh mengambang dari ruang makan, bercampur samar dengan wangi bunga lili yang disusun dalam vas porselen di atas meja konsol.

Di depan cermin setinggi tubuh manusia di kamar lantai dua, Miyauchi Mai sedang berusaha memastikan bahwa dirinya masih bisa bernapas dengan normal.

Seragam Akademi Seiwa yang melekat di tubuhnya tampak nyaris sempurna. Blazer berwarna biru tua dengan lambang sekolah bersulam benang perak di dada kiri, kemeja putih berkerah kaku, pita merah anggur, dan rok lipit yang panjangnya diatur sesuai ketentuan sekolah. Sepasang kaus kaki hitam mencapai betis, sementara sepatu kulit yang baru dibelinya atas perintah keluarga Kisaragi masih terasa sedikit keras di bagian tumit.

Semuanya mahal. Semuanya rapi. Semuanya terasa seperti milik orang lain.

Mai merapikan pita di lehernya untuk ketiga kalinya, lalu menunduk untuk memeriksa lipatan roknya. Ia menarik sedikit ujung blazer, menghaluskan bagian yang sebenarnya sudah tidak memiliki kerutan, kemudian kembali menatap bayangannya.

Gadis di cermin itu tidak tampak seperti Miyauchi Mai yang biasa berlari mengejar kereta di Akihabara, menghabiskan makan siang murah di belakang kafe, atau menyapa pelanggan dengan senyum lebar yang terkadang tetap ia pertahankan meskipun kedua kakinya nyaris menyerah setelah bekerja berjam-jam.

Gadis itu tampak seperti putri keluarga terpandang.

Kisaragi Kanade.

Nama itu tercetak pada kartu identitas siswa yang terletak di atas meja riasnya. Foto wajahnya sendiri terpasang di sana, tetapi nama di bawahnya bukan nama yang ia gunakan selama enam belas tahun hidupnya.

Mai mengulurkan tangan, menyentuh permukaan kartu itu dengan ujung jari.

“Mulai hari ini, aku benar-benar harus bersekolah sebagai Kanade,” gumamnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, begitu diucapkan, tenggorokannya justru terasa kering.

Selama beberapa hari terakhir, ia sudah menghafalkan informasi tentang Akademi Seiwa, sejarah pendidikan Kanade yang telah direkayasa, nama-nama guru, daftar kegiatan ekstrakurikuler, serta sejumlah cerita masa kecil yang harus ia anggap sebagai ingatannya sendiri. Berkas-berkas itu tebal, dan Saito telah memastikan bahwa setiap kesalahan kecil dapat menjadi masalah besar.

Akan tetapi, tidak ada satu halaman pun yang bisa mempersiapkannya menghadapi ratusan pasang mata yang akan melihatnya secara langsung.

Mai menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan melalui hidung.

“Baiklah. Aku pernah menghadapi pelanggan yang lebih menyeramkan daripada anak-anak sekolah.”

Ia mengangkat kedua telapak tangannya di depan wajah, membentuk pose yang sudah menjadi kebiasaan lamanya.

“Mei-chan, semangat!”

Senyumnya langsung muncul, cerah dan terlatih.

Satu detik kemudian, ia membeku.

Mai buru-buru menurunkan tangannya dan melirik pintu kamar, seolah-olah seseorang mungkin telah mendengar seruannya.

Tidak ada siapa pun.

Ia menghela napas lega, tetapi kelegaan itu hanya bertahan sebentar. Tangannya kembali bergerak merapikan pita seragam, kali ini dengan gerakan yang lebih pelan.

“Jangan sampai kebiasaan lama keluar di tempat yang salah,” bisiknya kepada bayangannya sendiri. “Aku Kanade. Aku Kanade. Aku Kanade.”

Pengulangan itu seharusnya membuatnya tenang.

Anehnya, semakin sering ia menyebut nama tersebut, semakin jelas ia merasakan keberadaan nama aslinya di dalam dada.

Miyauchi Mai.

Nama yang tidak boleh disebutkan.

Nama yang harus tetap tinggal di balik seragam mahal, di balik senyum seorang adik perempuan, dan di balik kontrak yang masih menyisakan ratusan hari.

Ketukan terdengar dari pintu.

Tok. Tok.

Mai tersentak begitu keras hingga ujung jarinya tersangkut pada pita.

“Y-ya?”

“Kanade? Kau sudah siap?”

Suara Ren.

Ketegangan di bahu Mai sedikit mengendur. Ia segera merapikan kerah, memeriksa sekali lagi penampilannya, lalu bergegas membuka pintu.

Dan untuk beberapa saat, ia lupa pada semua kalimat yang baru saja dihafalkannya.

Kisaragi Ren berdiri di ambang pintu dengan seragam Akademi Seiwa yang sama-sama baru dikenakannya.

Blazer biru tua itu membingkai bahunya dengan pas, sementara dasi sekolahnya terikat rapi di bawah kerah putih. Rambut hitamnya disisir dengan sederhana, menyisakan beberapa helai yang jatuh secara alami di dekat dahinya. Tidak ada aksesori mencolok atau usaha berlebihan untuk menarik perhatian. Namun, perpaduan antara wajah tampan, postur tegap, dan ekspresi tenangnya membuatnya terlihat seperti seseorang yang memang dilahirkan untuk mengenakan seragam tersebut.

Ren mengedipkan mata ketika menyadari Mai tidak segera menjawab.

“Kenapa?” tanyanya. “Ada yang salah dengan seragamku?”

Mai tersadar.

“Ti-tidak! Tidak ada yang salah!”

Jawabannya keluar terlalu cepat.

Ren menunduk, memeriksa dasinya sendiri. “Benarkah? Aku tadi mencoba mengikatnya sendiri. Rasanya sedikit miring.”

“Tidak, dasinya bagus!”

“Kalau begitu, kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Seperti apa?”

“Seperti melihat seseorang yang baru saja memenangkan penghargaan.”

Mai merasakan panas merambat ke kedua pipinya.

Bukan karena ia belum pernah melihat Ren berpakaian rapi. Ia sudah beberapa kali melihat pemuda itu mengenakan pakaian formal di rumah. Akan tetapi, melihatnya dalam seragam sekolah membuat sesuatu yang berbeda menjadi nyata. Ren bukan lagi pasien yang duduk di ruang keluarga dengan selimut di pangkuan, bukan lagi pemuda yang diam-diam berlatih berjalan di taman belakang, dan bukan lagi seseorang yang hanya bisa memandang dunia dari balik jendela.

Hari ini, ia kembali ke dunia luar.

Dan dunia luar mungkin akan menyambutnya dengan cara yang tidak pernah dipersiapkan oleh Mai.

“Aku hanya berpikir…” Mai mengangkat wajah, berusaha menemukan senyum manis yang seharusnya menjadi jawaban paling aman. “Onii-chan terlihat sangat cocok dengan seragamnya.”

Ren terdiam sejenak.

Kemudian, sudut bibirnya terangkat.

“Terima kasih.”

Jawaban itu begitu tulus hingga Mai menyesal karena pujian sederhana tersebut membuatnya merasa seolah-olah ia baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa.

Ren memperhatikan penampilannya sekali lagi. Pandangannya berhenti pada pita merah anggur yang terpasang di leher Mai.

“Pita itu masih kau pakai.”

Mai menyentuh pita tersebut secara refleks.

Tentu saja.

Pita itu berbeda dari aksesori lain yang disediakan untuk melengkapi seragamnya. Bukan barang mahal dari butik khusus, melainkan pita satin merah muda yang dibuat Ren sendiri dengan tangan, dengan jahitan yang sedikit tidak rata dan simpul yang cenderung miring.

Mai menyimpannya dengan hati-hati. Pagi ini, sebelum mengenakan seragam, ia sempat menimbang-nimbang apakah pita tersebut terlalu mencolok untuk dipadukan dengan warna sekolah. Pada akhirnya, ia tetap memakainya.

“Karena Onii-chan yang membuatnya,” jawab Mai.

Ren tampak sedikit malu. Ia mengusap belakang lehernya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah jendela di ujung koridor.

“Kalau begitu, baguslah. Aku senang kau menyukainya.”

Senyum Mai melembut.

Untuk sesaat, ia ingin mengatakan sesuatu yang lebih jujur. Ia ingin memberi tahu Ren bahwa pita kecil itu merupakan salah satu benda paling berharga yang dimilikinya di rumah ini. Bahwa setiap kali melihatnya, ia teringat pada tangan Ren yang bergerak canggung saat membuat simpul, pada ekspresi pemuda itu ketika menunggu penilaiannya, dan pada kehangatan yang ia berikan tanpa mengetahui siapa sebenarnya gadis yang berdiri di hadapannya.

Namun, semua kalimat itu terhenti sebelum mencapai bibir.

Mai hanya merapikan ujung pita tersebut, lalu tersenyum.

“Ayo, Onii-chan. Nanti kita terlambat.”

“Benar juga.” Ren mengulurkan tangan, menunjuk ke arah tangga. “Aku akan berjalan pelan. Dokter bilang aku sudah boleh kembali beraktivitas, tetapi bukan berarti aku boleh langsung berlari ke kelas.”

“Dan aku akan memastikan Onii-chan tidak melakukan hal aneh.”

“Hal aneh seperti apa?”

“Seperti mencoba menaiki tangga dua anak sekaligus.”

“Aku tidak pernah melakukan itu.”

“Belum.”

Ren tertawa kecil.

Suara itu mengiringi mereka ketika meninggalkan kamar, melewati koridor panjang yang masih beraroma lilin pembersih lantai, lalu menuruni tangga utama menuju lantai dasar.

Di sana, beberapa pelayan telah menunggu. Seorang kepala pelayan berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan tubuh, sementara dua orang staf lain bersiap membukakan pintu utama. Ketika Ren dan Mai tiba, mereka membungkuk hampir bersamaan.

“Selamat pagi, Tuan Muda. Nona Muda.”

Sapaan itu terdengar serempak, terukur, dan nyaris tanpa cela.

Mai membalas dengan anggukan kecil. Ia sudah terbiasa menerima sapaan formal seperti itu selama tinggal di kediaman Kisaragi, tetapi pagi ini, dengan seragam sekolah yang membuat penyamarannya semakin nyata, setiap sapaan terasa seperti pengingat bahwa dirinya sedang memainkan peran di atas panggung yang jauh lebih besar.

Di luar, sebuah limosin hitam telah menunggu di depan tangga batu.

Permukaannya memantulkan cahaya matahari pagi, begitu bersih hingga pepohonan di halaman tampak terlukis di sepanjang bodinya. Sopir berseragam berdiri di dekat pintu belakang, mengenakan sarung tangan putih dan topi hitam dengan lambang kecil keluarga Kisaragi.

Mai berhenti sesaat sebelum menaiki mobil.

Ia pernah melihat mobil-mobil mewah seperti ini dari balik jendela kereta atau ketika melayani pelanggan di Akihabara. Ia bahkan pernah menerima tip dari seorang pelanggan yang datang dengan mobil seharga rumah kecil. Akan tetapi, duduk di dalam kendaraan semacam itu setiap pagi masih terasa tidak masuk akal.

Mobil itu bukan sekadar alat transportasi.

Di mata orang lain, ia merupakan lambang kekayaan, status, dan kekuasaan keluarga yang namanya dapat membuka pintu mana pun di kota ini.

Dan mulai hari ini, mobil itu akan mengantarnya menuju tempat yang dipenuhi orang-orang yang mengenal lambang tersebut.

Ren menyadari Mai belum bergerak.

“Kanade?”

Mai buru-buru mengangkat kepala. “Ya?”

“Kau baik-baik saja?”

“Baik! Tentu saja baik.”

Ren memiringkan kepala sedikit. Ia tidak langsung mempercayai jawaban itu, tetapi juga tidak memaksa Mai menjelaskan. Sebagai gantinya, ia berdiri di samping pintu mobil dan mengulurkan tangan.

“Kalau begitu, mari kita berangkat bersama.”

Mai menatap tangan tersebut selama sepersekian detik sebelum menerimanya.

Jari-jari Ren terasa hangat.

Dan untuk alasan yang tidak ingin ia akui, kehangatan itu membuatnya lebih gugup daripada tatapan siapa pun di sekolah nanti.

Perjalanan menuju Akademi Seiwa berlangsung di bawah langit pagi yang cerah.

Lalu lintas kota mulai padat. Mobil-mobil memenuhi persimpangan, pejalan kaki bergegas melewati trotoar, dan deretan toko membuka pintu mereka satu demi satu. Dari balik kaca limosin yang kedap suara, dunia tampak seperti film bisu yang bergerak perlahan. Hanya getaran halus mesin dan dengung pendingin udara yang terdengar di dalam kabin.

Mai duduk di samping Ren dengan kedua tangan bertumpu di atas pangkuan. Ia telah berusaha mempertahankan postur yang anggun sebagaimana ditunjukkan dalam buku panduan etiket yang diberikan Saito. Punggung tegak, lutut rapat, bahu rileks, dan pandangan tidak terlalu sering bergerak ke luar jendela.

Setelah lima menit, ia mulai merasa seperti patung porselen.

Mai menggeser posisi duduknya beberapa sentimeter, lalu kembali diam.

Ren, yang duduk di sebelahnya, sedang membaca informasi jadwal pelajaran pada tablet. Sesekali, ia menggeser layar dengan jari telunjuk, lalu mengerutkan dahi ketika menemukan perubahan pada jadwal rehabilitasi yang masih tercantum dalam kalender pribadinya.

“Jadwalmu padat?” tanya Mai, berusaha mengalihkan perhatian dari kegelisahannya sendiri.

Ren mengangkat pandangan. “Tidak terlalu. Ada beberapa pelajaran yang harus kuikuti untuk mengejar materi yang tertinggal.”

“Bukankah Onii-chan sudah cukup pintar?”

“Itu tidak berarti aku bisa mengabaikan pelajaran selama beberapa bulan dan berharap semuanya tetap berada di tempat yang sama.”

Mai mengembungkan pipi sedikit. “Kalau aku yang bilang begitu, Onii-chan pasti akan menyuruhku belajar lebih giat.”

“Aku juga akan menyuruhmu belajar lebih giat.”

“Eeh? Onii-chan jahat.”

“Kau sendiri yang membuka pembicaraan tentang pelajaran.”

Mai menahan tawa, lalu menutup mulut dengan punggung tangan. Gerakan itu begitu alami hingga untuk beberapa saat ia lupa bahwa ia sedang mengenakan seragam sekolah mahal, duduk di dalam limosin keluarga konglomerat, dan membawa identitas yang bukan miliknya.

Ren menatapnya dengan senyum kecil.

“Aku senang kau terlihat lebih santai.”

Mai menurunkan tangannya.

“Memangnya tadi aku terlihat tegang?”

“Sedikit.”

“Sedikit sekali?”

Ren mempertimbangkannya seolah-olah sedang menilai jawaban ujian. “Cukup banyak untuk seseorang yang mengaku baik-baik saja.”

“Uwaaah, Onii-chan ternyata kejam sekali pagi ini!”

Ren tertawa lagi.

Mai ikut tertawa, tetapi suara mereka perlahan mereda ketika kendaraan berbelok ke jalan yang lebih lebar. Di kejauhan, di balik deretan pohon yang ditanam rapi di sepanjang trotoar, mulai terlihat bangunan Akademi Seiwa.

Sekolah itu jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Mai dari foto-foto di berkas orientasi.

Gedung utama berdiri dengan fasad batu berwarna krem, jendela-jendela tinggi, dan pilar-pilar kokoh yang memberikan kesan sebuah universitas tua. Bangunan-bangunan tambahan membentang di belakangnya, dihubungkan oleh jalur pejalan kaki yang dikelilingi taman terawat. Lapangan olahraga tampak dari sela-sela pepohonan, sementara menara jam di salah satu sisi kompleks berdiri di atas atap, menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh menit.

Di depan gerbang utama, para siswa berdatangan dalam kelompok-kelompok kecil.

Sebagian berjalan sambil berbincang, sebagian lain turun dari mobil keluarga, dan beberapa siswa laki-laki bergegas menyeberangi jalan setelah menyadari waktu hampir menunjukkan bel masuk. Seragam biru tua yang dikenakan mereka menciptakan lautan warna seragam di antara pepohonan dan pagar besi hitam.

Di atas gerbang, lambang Akademi Seiwa terpampang dengan megah.

Mai merasakan perutnya mengencang.

“Wah…” Ia nyaris tidak menyadari bahwa suara itu keluar dari mulutnya.

Ren mengikuti arah pandangannya.

“Megah, ya?”

“Ini lebih mirip kampus daripada SMA.”

“Kurasa memang sengaja dibuat begitu.”

Mai menelan ludah.

Di sinilah anak-anak para pengusaha, pejabat, dan keluarga terpandang menghabiskan masa sekolah mereka. Di sinilah orang-orang yang tumbuh dengan akses ke berbagai kesempatan akan membentuk jaringan pertemanan yang mungkin bertahan hingga dunia bisnis dan politik.

Dan di antara mereka, ada seorang gadis yang bahkan tidak tahu apakah ia bisa mempertahankan nama palsunya sampai akhir semester.

“Jangan khawatir,” kata Ren.

Mai menoleh.

Ren telah meletakkan tabletnya. Ia menatap Mai tanpa senyum yang dibuat-buat, tanpa nada menggurui, hanya dengan ketenangan yang membuat kata-katanya terdengar lebih meyakinkan daripada yang seharusnya.

“Kita hanya akan pergi ke sekolah. Tidak ada yang perlu kau selesaikan dalam satu hari.”

Lihat selengkapnya