Bel istirahat pertama baru saja berhenti berdentang ketika suara kursi yang digeser, percakapan antarsiswa, dan bunyi bungkus makanan yang dibuka mulai memenuhi kelas 1-A Akademi Seiwa. Cahaya matahari siang masuk melalui jendela-jendela tinggi di sisi timur ruangan, membentuk bidang-bidang terang di atas meja kayu berwarna cokelat muda. Di luar, pepohonan yang ditanam berjajar di sepanjang halaman sekolah bergerak pelan diterpa angin, sementara dari koridor terdengar langkah para siswa yang bergegas menuju kantin.
Kelas itu sendiri tampak seperti sesuatu yang sengaja dirancang untuk membuat siapa pun merasa bahwa pendidikan adalah kemewahan. Meja-mejanya memiliki permukaan licin tanpa goresan, papan tulis digital terpasang di depan ruangan, dan pendingin udara bekerja nyaris tanpa suara. Bahkan tempat sampah di sudut kelas terlihat lebih mahal daripada beberapa perabot yang pernah Mai gunakan di tempat tinggalnya dahulu.
Di antara semua kemewahan itu, Miyauchi Mai duduk dengan punggung tegak dan kedua tangan terlipat rapi di atas meja.
Di hadapannya terbuka buku catatan baru yang sampulnya berwarna biru tua. Di sudut kanan atas halaman pertama, ia telah menulis nama yang sekarang harus dijawabnya setiap kali seseorang memanggil.
Kisaragi Kanade.
Tulisan itu tampak rapi. Bentuk hurufnya dibuat sedikit lebih lembut daripada tulisan asli Mai, mengikuti contoh yang terdapat dalam berkas identitas palsu yang diberikan Saito. Ia bahkan telah berlatih menulis nama tersebut beberapa kali sebelum berangkat ke sekolah pagi tadi, memastikan bahwa tidak ada kebiasaan kecil yang dapat membocorkan identitasnya.
Akan tetapi, sesempurna apa pun tulisan itu, tinta tetap tidak mampu mengubah kenyataan bahwa nama tersebut bukan miliknya.
Mai mengembuskan napas perlahan, kemudian melirik jam dinding di atas papan tulis.
Masih ada waktu sebelum pelajaran berikutnya dimulai.
Ia seharusnya menggunakan kesempatan itu untuk membaca ulang materi yang baru saja diberikan guru. Namun, sejak jam pelajaran pertama, ia terlalu sibuk memperhatikan perilaku teman-teman sekelasnya. Ia mencatat siapa yang sering berbicara, siapa yang tampak mendominasi percakapan, siapa yang duduk bersama teman tertentu, dan siapa yang beberapa kali meliriknya dengan rasa ingin tahu.
Bukan karena ia ingin mencari teman.
Ia hanya ingin mengetahui dari mana ancaman paling mungkin datang.
Sejauh ini, semuanya tampak terkendali. Beberapa siswi telah menyapanya dengan sopan. Seorang murid perempuan di dekat jendela bahkan memuji pita satin merah muda yang terpasang di rambutnya, meskipun Mai hanya menjawab singkat bahwa itu hadiah dari seseorang yang dekat dengannya. Tidak ada yang mengajukan pertanyaan terlalu mendalam mengenai masa lalunya.
Namun, ketenangan tersebut ternyata hanya bertahan sampai Mai menyadari bahwa dua siswa laki-laki di barisan paling belakang telah menatapnya sejak perkenalan pagi tadi.
Tatapan mereka bukan seperti tatapan murid yang sekadar ingin mengenal teman baru.
Keduanya terlihat seperti orang yang baru saja menemukan bukti terakhir untuk memecahkan kasus pembunuhan yang telah mereka selidiki selama bertahun-tahun.
Salah seorang di antara mereka bertubuh agak pendek, berkacamata bulat dengan bingkai hitam, dan memiliki rambut yang tampak sedikit terlalu panjang di bagian depan. Ia mengenakan seragam Seiwa dengan rapi, tetapi dasinya sudah sedikit miring meskipun pelajaran baru berjalan beberapa jam. Di atas mejanya terdapat sebuah buku panduan permainan strategi yang disembunyikan di bawah buku pelajaran matematika.
Siswa di sebelahnya lebih tinggi dan kurus. Rambutnya disisir ke samping, dan ia terus memutar-mutar pulpen di antara jari-jari dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Di bagian dalam tasnya, yang terbuka sedikit, Mai sempat melihat gantungan kunci kecil bergambar karakter anime mengenakan celemek maid.
Keduanya saling bertukar pandang.
Yang berkacamata menunjuk Mai dengan ujung pulpen.
Temannya langsung menepuk lengannya.
Mai melihat gerakan itu dari sudut mata.
Jangan menoleh. Jangan terlihat memperhatikan. Mereka mungkin hanya membicarakan tugas.
Ia membuka buku catatannya, mengambil pena, dan mulai menyalin sebuah rumus yang sebenarnya sudah ia tulis tiga kali sejak pelajaran matematika berakhir.
Dari belakang, terdengar bisikan.
“Oi.”
“Hm?”
“Lihat baik-baik.”
“Sudah kulihat dari tadi.”
“Bukan sekadar mirip, kan?”
“Diam dulu. Aku sedang melakukan verifikasi visual.”
Mai berhenti menulis.
Ujung penanya menggantung tepat di atas kertas.
Verifikasi visual?
“Rambut hitam, bentuk mata, garis wajah, terus cara dia menundukkan kepala waktu memperkenalkan diri tadi…”
“Jangan lupa senyumnya.”
“Benar! Senyum itu!”
Suara salah seorang dari mereka naik setengah oktaf karena terlalu bersemangat, tetapi ia segera membekap mulut sendiri ketika seorang siswi di depan menoleh.
Mai menegakkan punggungnya.
Ia tidak boleh bereaksi. Saito telah memperingatkannya bahwa siswa-siswa dari keluarga terpandang dapat memperhatikan detail yang tidak terduga. Ia harus tetap tenang, tidak mencolok, dan menghindari tindakan yang berpotensi mengundang pertanyaan.
Akan tetapi, ada satu hal yang tidak pernah masuk ke dalam daftar peringatan Saito.
Penggemar maid cafe dengan kemampuan observasi berlebihan.
“Mustahil,” bisik siswa berkacamata.
“Tidak ada yang mustahil dalam dunia ini, Tetsuya.”
“Jangan bicara seperti tokoh utama novel ringan, Haruki.”
“Dengar. Kalau ini benar, kita sedang menyaksikan fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah Akihabara.”
Tetsuya meraih bagian depan seragam Haruki dan menariknya mendekat.
“Jangan katakan nama itu sembarangan.”
Haruki menelan ludah.
Keduanya menatap Mai dengan kesungguhan yang biasanya hanya dimiliki para peneliti ketika berhadapan dengan hasil eksperimen yang tidak masuk akal.
“Mei-chan…”
Pena Mai terlepas dari tangannya.
Benda itu jatuh ke atas meja dengan bunyi ketukan kecil.
Ia segera mengambilnya kembali, tetapi ujung jarinya terasa dingin.
Tidak. Tidak, tidak, tidak.
Nama itu telah menghantamnya seperti lonceng peringatan.
Mei-chan.
Nama panggung yang pernah ia gunakan di Akihabara. Nama yang tercetak pada papan menu spesial, tertulis di kartu ucapan pelanggan, dan sesekali diteriakkan oleh sekelompok pengunjung tetap ketika ia muncul di pintu kafe dengan celemek putih dan senyum yang terlalu cerah.
Ia telah meninggalkan kehidupan itu.
Setidaknya, itulah yang ingin ia percayai.
Namun, ternyata masa lalunya tidak hanya tertinggal di sebuah kafe kecil di Akihabara. Ia rupanya juga memiliki kaki, mengenakan seragam sekolah elite, dan duduk dua baris di belakangnya.
“Haruki,” bisik Tetsuya dengan suara gemetar, “menurutmu apa yang harus kita lakukan?”
Haruki tidak menjawab. Ia mengeluarkan ponsel dari saku, membuka sebuah gambar, lalu memperbesar layarnya dengan dua jari.
Mai tidak dapat melihat isi layar dari tempatnya duduk.
Namun, ia melihat reaksi kedua siswa itu.
Tetsuya menutup mulutnya.
Haruki hampir berdiri.
“Persis!”
“Duduk, bodoh!” Tetsuya menarik ujung blazer temannya sebelum ia menarik perhatian seluruh kelas.
“Aku bilang persis! Lihat bagian matanya!”
“Aku melihatnya!”
“Lihat bentuk wajahnya!”
“Aku sudah melihatnya!”
“Lihat—”
“Kalau kau terus berteriak, kita berdua akan dikeluarkan dari kelas sebelum sempat memastikan apa pun!”
Keduanya membungkuk di atas ponsel, saling berdesakan seperti dua penyelidik amatir yang baru menemukan arsip rahasia pemerintah.
Mai memejamkan mata selama satu detik.
Ia tidak tahu apa yang lebih buruk: kenyataan bahwa ada siswa yang mengenali wajahnya, atau fakta bahwa siswa tersebut tampaknya memiliki koleksi foto Mei-chan yang cukup lengkap untuk melakukan perbandingan visual.
Tenang, Mai. Mereka belum tahu apa-apa. Wajah yang mirip bukan bukti. Jangan panik.
Ia mengulang kalimat itu dalam hati.
Wajah yang mirip bukan bukti.
Wajah yang mirip bukan bukti.
Wajah yang mirip—
“Menurutmu dia punya kembaran?”
Mai hampir menelan lidahnya sendiri.
Sebelum memasuki kelas 1-A pagi tadi, Mai telah menghabiskan waktu cukup lama untuk mempersiapkan perkenalannya.
Ia memilih kalimat yang sederhana, sopan, dan tidak terlalu menonjol. Ia menyesuaikan intonasi suaranya agar terdengar lebih tenang daripada ketika bekerja di kafe. Ia bahkan mengurangi gerakan tangannya yang biasanya muncul secara spontan ketika sedang berbicara.
Ketika wali kelas membawanya ke depan ruangan, Mai telah memastikan bahwa ia tidak membawa apa pun yang dapat menghubungkannya dengan kehidupan lamanya.
Tidak ada gantungan kunci karakter anime.
Tidak ada aksesori khas maid cafe.
Tidak ada ponsel lama yang menyimpan foto-foto masa lalu.
Hanya seragam Akademi Seiwa, tas sekolah baru, dan identitas yang telah disiapkan keluarga Kisaragi.
“Baiklah, sebelum kita melanjutkan pelajaran, hari ini kelas kita kedatangan seorang murid pindahan,” kata wali kelasnya pagi tadi. Guru perempuan itu berdiri di samping meja pengajar sambil memegang daftar hadir. “Silakan perkenalkan diri.”
Mai membungkuk dengan sudut yang telah ia latih di depan cermin.
“Nama saya Kisaragi Kanade. Saya baru saja pindah ke Akademi Seiwa dan akan belajar bersama kalian mulai hari ini. Mohon bantuannya.”
Suaranya terdengar tenang. Tidak terlalu pelan, tidak pula terlalu bersemangat.
Ia mengangkat kepala, tersenyum kecil, lalu menatap teman-teman sekelasnya secara bergantian.
Beberapa siswi membalas senyumnya. Seorang murid laki-laki di barisan depan bahkan mengangguk dengan sopan.
“Silakan duduk di bangku kosong di dekat jendela,” kata wali kelas.
“Baik, Sensei.”
Mai kembali membungkuk sebelum berjalan menuju tempat duduknya.
Rok seragamnya bergerak mengikuti langkah. Sepatu kulitnya mengeluarkan bunyi halus di atas lantai. Pita merah anggur di lehernya tetap rapi, sementara pita satin merah muda di rambutnya menjadi satu-satunya sentuhan yang terasa personal.
Ia telah melakukan semuanya dengan benar.
Anggun, terkendali, dan sesuai dengan profil seorang gadis dari keluarga terpandang.
Sayangnya, dua baris di belakangnya terdapat dua manusia yang tampaknya tidak pernah belajar menerima kebetulan sebagai penjelasan yang memadai.
“Dia bahkan membungkuk dengan sudut yang mirip!” bisik Haruki.
Tetsuya menggeleng keras.
“Tidak. Jangan langsung menyimpulkan. Kita harus mempertimbangkan kemungkinan lain.”
“Misalnya?”
“Misalnya… dia benar-benar punya kembaran.”
Haruki terdiam.
Ia menatap Tetsuya dengan ekspresi seseorang yang baru saja mendengar teori ilmiah paling cemerlang dalam sejarah umat manusia.
“Saudara kembar yang terpisah sejak lahir?”
“Bisa jadi.”
“Dan salah satunya menjadi maid cafe idol?”
“Jangan sebut itu sembarangan!”
“Maaf.”
Keduanya terdiam selama tiga detik.
Kemudian Haruki mengangkat telunjuk.
“Tunggu. Bukankah Kisaragi Ren adalah kakaknya?”
Tetsuya membeku.
Perlahan-lahan, keduanya menoleh ke arah Mai.
Lalu saling menatap kembali.
Tidak ada yang berbicara, tetapi perubahan ekspresi mereka begitu dramatis hingga Mai, yang duduk di depan, dapat merasakannya seperti perubahan tekanan udara sebelum badai.
Haruki membuka mulut.
Tetsuya segera menutupnya dengan telapak tangan.
“Jangan,” bisiknya.
Haruki mengangguk.
Tetsuya melepaskan tangannya.
Mereka kembali memandang Mai.
Kali ini, ekspresi mereka tidak lagi menunjukkan keterkejutan.
Melainkan kecurigaan.
Kecurigaan yang sangat serius.
Ketika bel istirahat berbunyi, Mai telah menyiapkan rencana sederhana: tetap duduk di tempat, membuka bekal makan siangnya, lalu menghabiskan waktu dengan membaca buku sampai pelajaran berikutnya dimulai.
Ia tidak berniat pergi ke kantin. Terlalu banyak orang, terlalu banyak kemungkinan percakapan, dan terlalu banyak kesempatan bagi seseorang untuk menanyakan sesuatu yang tidak dapat ia jawab.
Di atas mejanya, kotak bekal yang disiapkan oleh dapur Kediaman Kisaragi terlihat sangat rapi. Nasi dibentuk menjadi kepalan kecil, potongan telur gulung disusun di salah satu sisi, dan beberapa potong sayuran ditempatkan dalam wadah terpisah. Bahkan sepotong buah stroberi diletakkan di sudut dengan posisi yang nyaris dekoratif.
Mai membuka tutupnya.
Ia baru saja mengangkat sumpit ketika sebuah bayangan jatuh di atas mejanya.
“Permisi.”
Mai berhenti.
Di depannya berdiri Haruki dan Tetsuya.
Keduanya tersenyum.
Senyum mereka terlalu lebar.
Senyum itu tidak membawa ketenangan sedikit pun.
“Selamat siang, Kisaragi-san!” sapa Haruki dengan suara yang dibuat seramah mungkin. Ia membungkuk terlalu cepat hingga kacamatanya melorot sedikit. “Maaf mengganggu waktu makanmu.”
Tetsuya ikut membungkuk. “Kami hanya ingin bertanya sesuatu.”
Mai memandang mereka bergantian.
Ia mengenali wajah keduanya sekarang. Haruki adalah siswa yang tadi beberapa kali memutar pulpen, sedangkan Tetsuya adalah pemilik kacamata bulat yang tampak selalu mengerutkan dahi ketika berpikir.
Mai mengatur napasnya.
Bersikap normal. Mereka cuma teman sekelas. Tidak ada alasan untuk panik.
“Ya? Ada yang bisa kubantu?”
Haruki menatap Tetsuya.
Tetsuya menatap Haruki.
Mereka kembali menatap Mai.
“Apakah kau…” Haruki memulai, kemudian berhenti sejenak untuk menelan ludah. “Apakah kau pernah tinggal di Akihabara?”
Mai tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu terlalu spesifik untuk disebut basa-basi.
Ia menurunkan sumpitnya dengan hati-hati, memastikan tidak ada gerakan mendadak yang dapat memperlihatkan kegugupan. Kemudian ia mengerutkan kening sedikit, seolah berusaha memahami alasan di balik pertanyaan tersebut.
“Akihabara?”
“Ya!”
“Tidak pernah tinggal di sana secara khusus. Kenapa?”
Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong. Ia memang tidak pernah tinggal di Akihabara. Ia bekerja di sana, tetapi tempat tinggalnya berada di bagian lain Tokyo.
Haruki dan Tetsuya saling pandang.
Tetsuya mengeluarkan ponselnya.
“Kalau begitu, bagaimana dengan tempat bernama…”
Ia berhenti, menatap Haruki seolah sedang meminta persetujuan untuk membuka rahasia negara.
Haruki mengangguk dengan penuh kesungguhan.
“…Maid Café Étoile?”
Mai merasa jantungnya seperti berhenti selama satu ketukan.
Nama kafe itu.
Tempat ia bekerja sebagai Mei-chan.
Ia masih ingat aroma kopi yang baru diseduh, suara bel kecil di atas pintu masuk, dan lampu-lampu berbentuk bintang yang menghiasi langit-langit. Ia masih ingat Yui yang selalu menyanyikan lagu pembuka terlalu keras, serta Rina yang diam-diam menyimpan permen di laci kasir untuk diberikan kepada pelanggan tetap.