Bel istirahat siang Akademi Seiwa berdentang tepat ketika matahari mencapai titik tertingginya di atas kompleks sekolah. Suaranya menggema melalui pengeras suara di setiap gedung, disusul oleh perubahan suasana yang hampir serentak: pintu-pintu kelas terbuka, kursi-kursi bergeser, dan para siswa mulai memenuhi koridor dengan langkah-langkah ringan yang mencerminkan kelegaan setelah berjam-jam menghadapi pelajaran.
Dari jendela kelas 1-A, sinar matahari jatuh miring ke atas deretan meja, menyoroti debu-debu kecil yang melayang di udara. Sebagian siswa segera mengeluarkan kotak bekal dari tas mereka, sementara yang lain sibuk menentukan tempat makan bersama. Percakapan tentang guru, tugas, dan kegiatan klub bercampur dengan aroma nasi hangat serta telur dadar yang mulai tercium dari beberapa kotak makan yang dibuka.
Di bangku dekat jendela, Miyauchi Mai—yang sejak pagi harus menjawab panggilan Kisaragi Kanade—menatap kotak bekal berwarna krem di atas mejanya.
Kotak itu disiapkan oleh dapur Kediaman Kisaragi. Bagian luarnya dihiasi pola bunga kecil, dengan sekat-sekat rapi yang memisahkan nasi, sayuran, telur gulung, dan potongan daging sapi berbumbu. Semuanya terlihat seperti makanan yang biasa muncul dalam majalah kuliner keluarga kaya: warna-warni, tertata sempurna, dan mungkin lebih mahal daripada makan siang yang pernah dibeli Mai selama beberapa hari ketika masih bekerja di Akihabara.
Ia mengangkat tutupnya, memandangi isinya, kemudian mengembuskan napas kecil.
“Bahkan bekal sekolah saja punya standar penampilan,” gumamnya.
“Kanade-san, kau mengatakan sesuatu?”
Mai menoleh. Seorang siswi yang duduk di meja sebelah sedang memasukkan buku catatan ke dalam tas. Rambutnya diikat dengan pita sederhana, dan di wajahnya terpasang senyum sopan yang sejak pagi beberapa kali ditujukan kepada Mai.
“Ah, tidak!” Mai segera membalas senyum itu. “Aku hanya berpikir bekalku terlihat terlalu bagus untuk dimakan.”
Siswi tersebut terkekeh. “Kau lucu sekali. Kalau aku mendapat bekal seperti itu, aku pasti langsung menghabiskannya.”
“Benar juga.”
Mai mengambil sumpit, lalu mengangkat sepotong telur gulung. Ia baru hendak memakannya ketika matanya kembali melirik ke arah pintu kelas.
Sejak pagi, ia telah berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Ia mencatat nama-nama teman sekelas, mengingat posisi ruang guru, dan menanggapi percakapan ringan dengan senyum yang dianggap pantas untuk seorang gadis dari keluarga Kisaragi. Ia bahkan berhasil melewati dua pelajaran tanpa melakukan kesalahan yang mencolok.
Tetapi ada satu hal yang terus mengganggunya.
Ren tadi berjanji akan menemuinya saat istirahat.
Bukan berarti ia tidak bisa makan sendiri. Mai sudah bertahun-tahun terbiasa mengurus dirinya sendiri, termasuk ketika harus melewatkan makan siang karena pekerjaan di kafe terlalu sibuk. Ia tahu bagaimana membeli makanan, mencari tempat duduk, dan menikmati waktu istirahat tanpa membutuhkan siapa pun.
Namun, setelah mendengar janji Ren, ia mendapati dirinya beberapa kali melirik jam dinding.
Pukul dua belas lewat lima menit.
Mai memasukkan telur gulung ke mulutnya dan mengunyah perlahan.
Dia mungkin harus berbicara dengan guru. Atau teman sekelasnya. Atau mungkin ada yang menahannya di koridor.
Ia berusaha mengalihkan perhatian dengan memperhatikan percakapan teman-temannya. Dua siswi di depan sedang membahas jadwal ujian. Seseorang di dekat papan tulis mengeluhkan tugas matematika. Di sisi lain kelas, sekelompok siswa laki-laki tertawa karena salah satu dari mereka membawa bekal dengan bentuk karakter kartun.
Mai bahkan sempat tertawa ketika mendengar lelucon yang dilontarkan seorang teman.
Namun, tangannya tetap bergerak mendekati ponsel yang terletak di samping kotak bekal.
Tidak ada pesan baru.
“Kanade-san.”
Mai mengangkat wajah.
Siswi di sebelahnya menunjuk kotak bekal yang masih hampir penuh. “Kau tidak makan?”
“Ah, aku sedang menunggu seseorang.”
“Oh? Teman?”
Mai berhenti sejenak.
“Ka—” Ia hampir menyebut kakak, tetapi buru-buru memperbaiki jawabannya. “Iya. Kakakku bilang akan makan siang bersamaku.”
Mata siswi itu sedikit membesar.
“Kakakmu? Kisaragi Ren-senpai?”
Beberapa kepala di meja sekitar langsung menoleh.
Mai membeku dengan sumpit terangkat di udara.
“Eh?”
“Jadi, benar? Kisaragi-senpai akan datang ke sini?”
“Aku dengar dia kembali ke sekolah hari ini!”
“Dia benar-benar akan makan siang bersama adiknya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan sebelum Mai sempat menjawab. Salah seorang siswi bahkan melupakan kotak bekalnya dan bergeser mendekat, sementara dua siswa laki-laki yang sedang membicarakan permainan video ikut melirik dengan rasa ingin tahu.
Mai merasakan bahunya menegang.
“Ya, mungkin,” jawabnya hati-hati. “Kami hanya berjanji makan siang bersama.”
Ia sengaja memilih kata-kata yang terdengar biasa.
Sayangnya, kata Kisaragi Ren tampaknya memiliki kekuatan tersendiri di Akademi Seiwa.
Seorang siswi di dekat pintu langsung mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menunjukkan layar kepada temannya. Temannya itu menutup mulut dengan kedua tangan.
“Tidak mungkin! Kalau dia benar-benar datang ke kelas satu, aku harus melihatnya!”
Mai menatap mereka dengan ekspresi kosong.
Kenapa reaksi mereka seperti seorang selebritas akan mengadakan konser?
Ia belum sempat menyusun pikiran berikutnya ketika suara langkah kaki terdengar dari koridor.
Bukan langkah yang tergesa-gesa, melainkan derap sepatu yang tenang dan teratur. Beberapa siswa di dekat pintu menoleh lebih dahulu. Kemudian, seperti gelombang kecil yang menyebar di permukaan air, perhatian seluruh kelas perlahan bergerak ke arah yang sama.
Seorang siswa laki-laki yang berdiri di ambang pintu menyingkir sedikit.
“Ah, Kisaragi-senpai.”
Mai ikut menoleh.
Ren berdiri di luar kelas dengan tas makan siang berwarna hitam di satu tangan.
Seragamnya masih rapi, dasinya tidak berubah posisi sejak pagi, dan beberapa helai rambut hitam jatuh di dekat dahinya. Wajahnya tetap tenang, seolah-olah ia sama sekali tidak menyadari bahwa kemunculannya telah membuat beberapa siswi di dalam kelas berhenti bergerak.
Pandangan Ren menyapu ruangan hingga menemukan Mai di dekat jendela.
Begitu melihatnya, ekspresi pemuda itu berubah sedikit. Bukan perubahan besar—hanya sudut bibir yang terangkat dan ketegangan samar di antara alisnya yang menghilang.
“Kanade. Sudah siap makan?”
Mai nyaris berdiri terlalu cepat hingga lututnya membentur bagian bawah meja.
“Au!”
Ia meringis, buru-buru merapikan rok, lalu berdiri sambil tersenyum lebar.
“Onii-chan!”
Seruan itu keluar dengan spontan.
Begitu menyadarinya, Mai menutup mulut.
Beberapa siswi di sekelilingnya saling bertukar pandang.
Ren sendiri tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya berjalan mendekat, lalu berhenti di samping meja Mai.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya, melirik meja yang baru saja terbentur lutut Mai.
“Baik! Aku hanya sedikit terkejut.”
“Karena aku datang?”
“Bukan!”
Ren mengangkat alis.
Mai segera mengalihkan pandangan. “Maksudku, bukan begitu. Aku memang sedang menunggumu.”
“Kalau begitu, maaf membuatmu menunggu.”
Ren mengatakannya dengan nada yang begitu wajar sehingga Mai kehilangan kesempatan untuk melanjutkan bantahannya.
Ia menunduk, pura-pura sibuk menutup kotak bekal. “Tidak lama kok.”
“Bagus. Kalau begitu, ayo makan di kantin.”
Ren mengulurkan tangan untuk membantu membawa kotak bekal Mai.
Namun, sebelum jari mereka sempat menyentuh wadah itu, Mai sudah mengangkatnya sendiri dengan kedua tangan.
“Aku bisa membawanya!”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu—”
“Aku hanya ingin membantu.”
Mai terdiam.
Ren mengatakannya tanpa nada menggoda atau ekspresi yang meminta pujian. Ia benar-benar hanya ingin membantu, seperti ketika membukakan pintu mobil pagi tadi atau memperlambat langkah agar Mai tidak tertinggal.
Mai akhirnya menyerahkan kotak bekalnya.
“Kalau begitu, tolong bawakan sebentar.”
Ren menerimanya dengan mudah.
“Baik.”
Di belakang mereka, seorang siswi mengeluarkan suara kecil yang nyaris menyerupai desahan.
“Dia benar-benar membawakan bekal adiknya…”
Temannya langsung menyikut lengannya.
“Jangan terlalu keras! Dia bisa mendengarmu!”
“Aku tidak mengatakan apa-apa!”
“Kau baru saja mengatakan sesuatu!”
Mai mendengar percakapan itu dan merasakan pipinya menghangat. Ia menoleh sekilas, hanya untuk mendapati kedua siswi tersebut segera berpura-pura sibuk dengan barang-barang mereka.
Ren tidak memedulikan kegaduhan itu. Ia mengambil tas makan siangnya, kemudian menoleh kepada Mai.
“Ayo.”
Mai mengangguk dan mengikuti Ren keluar dari kelas.
Begitu mereka melewati ambang pintu, percakapan di belakang mereka kembali pecah.
“Dia benar-benar datang menjemputnya!”
“Adiknya manis sekali, ya?”
“Bukan hanya manis. Dia juga kelihatan sangat dekat dengan Kisaragi-senpai.”
“Ya, ampun. Aku ingin punya kakak seperti itu.”
Mai mempercepat langkah.
Ia belum tahu bahwa beberapa koridor di depan mereka, kabar mengenai kedatangan Ren sudah lebih dahulu menyebar ke tempat yang sama sekali tidak ingin ia datangi.
Kantin Akademi Seiwa.
Kantin utama Akademi Seiwa menempati lantai dasar gedung tengah, dengan langit-langit tinggi dan jendela-jendela lebar yang menghadap taman dalam sekolah. Deretan meja panjang tersusun rapi di bagian tengah, sedangkan meja-meja kecil untuk empat orang ditempatkan di dekat jendela. Di sisi belakang, beberapa konter makanan menawarkan menu yang berbeda: hidangan Jepang, makanan Barat, roti, salad, serta aneka minuman dingin.
Aroma kari hangat bercampur dengan wangi roti panggang dan kaldu yang baru selesai direbus. Mesin minuman berdengung pelan di dekat dinding. Bunyi baki yang diletakkan di atas meja, denting sendok, dan percakapan para siswa membentuk kebisingan yang ramai tetapi menyenangkan.
Tempat itu mencerminkan Akademi Seiwa dengan cukup baik.
Bahkan kantinnya tidak terlihat seperti kantin sekolah biasa. Peralatan makan tersusun rapi, meja-meja dibersihkan segera setelah ditinggalkan, dan menu makanan dicetak dengan desain yang lebih menyerupai restoran daripada tempat makan siswa. Di salah satu sisi, terdapat area yang sedikit lebih tenang dengan meja-meja berlapis kayu gelap, biasanya digunakan oleh siswa yang ingin makan tanpa terlalu banyak gangguan.
Namun, ketika Ren dan Mai memasuki ruangan, suasana yang semula ramai berubah dengan cara yang sulit diabaikan.
Tidak semua orang langsung terdiam. Beberapa siswa bahkan tidak menyadari kedatangan mereka pada detik pertama. Akan tetapi, begitu seseorang mengenali wajah Ren, bisikan mulai bergerak dari satu meja ke meja lain.
“Kisaragi Ren?”
“Benar-benar dia!”
“Dia datang ke kantin?”
“Bukankah dia baru kembali setelah cuti sakit?”
“Lihat seragamnya. Dia masih terlihat seperti model majalah.”
Seorang siswi yang sedang mengangkat gelas hampir lupa meminumnya. Di meja dekat jendela, dua gadis yang sejak tadi membicarakan ujian mendadak berhenti di tengah kalimat. Seorang siswa laki-laki menoleh, memandang Ren selama beberapa detik, lalu berbisik kepada temannya.
“Jadi, itu pewaris keluarga Kisaragi?”
Temannya mengangguk. “Ya. Ayahnya salah satu pengusaha paling berpengaruh di negara ini. Jangan bilang kau tidak tahu.”
“Aku tahu keluarganya. Aku belum pernah melihat orangnya secara langsung.”
“Sekarang kau sudah.”
Ren berjalan dengan tenang melewati barisan meja, membawa dua kotak bekal tanpa terlihat terganggu oleh perhatian yang mengikutinya. Ia sesekali membalas anggukan siswa yang menyapanya, tetapi tidak menghentikan langkah untuk berbasa-basi.
Fokusnya hanya tertuju pada Mai.
“Tempat ini cukup ramai,” katanya sambil melihat sekeliling.
Mai mengangguk kaku. “Sepertinya semua orang memilih makan di sini.”
“Kalau begitu, kita cari meja di dekat jendela.”
“Baik.”
Mereka melewati beberapa meja yang telah terisi penuh. Setiap kali Ren melintas, percakapan di dekatnya sedikit berubah. Ada yang sengaja merendahkan suara, ada yang justru berbicara lebih keras karena gugup, dan ada pula yang diam-diam mengikuti gerakannya dengan mata.
Mai merasakan tatapan-tatapan itu menempel pada dirinya.
Awalnya, ia mencoba mengabaikannya. Ia mengingatkan diri sendiri bahwa para siswa hanya ingin melihat Ren, bukan dirinya. Ia hanyalah orang yang kebetulan berjalan di samping pemuda itu. Tidak ada alasan bagi mereka untuk mencurigainya.
Namun, setiap kali Ren sedikit memperlambat langkah agar ia bisa mengimbangi, atau menoleh untuk memastikan ia tidak tertinggal, beberapa pasang mata segera berpindah kepadanya.
Rasa ingin tahu itu mulai terasa berbeda.
Seolah-olah orang-orang sedang mencoba memahami mengapa gadis baru dari kelas satu mendapat perhatian sebesar itu dari seorang siswa kelas tiga yang begitu populer.
Mereka akhirnya menemukan meja kosong di dekat jendela. Ren meletakkan kedua kotak bekal di atas meja, kemudian menarik kursi untuk Mai.
“Silakan.”
Mai menatap kursi tersebut.
Lalu ia menatap Ren.
“Onii-chan, aku bisa menarik kursiku sendiri.”
“Aku tahu.”
“Jadi, kenapa kau—”
“Karena aku ingin melakukannya.”
Ren menunggu sampai Mai duduk sebelum menarik kursinya sendiri.
Mai menunduk, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa izin.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Di meja sebelah, dua siswi yang sedang makan saling berpandangan.
“Dia bahkan menarikkan kursi untuknya.”
“Bukankah itu terlalu berlebihan untuk seorang adik?”
“Entahlah. Mungkin memang begitu hubungan mereka.”
Mai mendengar kata berlebihan dengan cukup jelas.
Ujung sumpit yang sedang dipegangnya berhenti di atas kotak bekal.
Ren membuka tas makan siangnya. Di dalamnya terdapat nasi, sayuran hijau, telur dadar, dan beberapa potong daging sapi yang dimasak dengan saus kecap manis. Tidak ada yang berlebihan dari bekal tersebut, tetapi semuanya disusun dengan ketelitian yang mengingatkan Mai pada cara para pelayan di rumah menyiapkan makanan.
Ia membuka kotak bekalnya sendiri, lalu menatap Ren dari balik bulu matanya.
“Onii-chan, kau membawa bekal juga?”
Ren mengangguk. “Aku pikir lebih baik membawa makanan dari rumah untuk hari pertama. Aku belum tahu menu kantin yang cocok untukku.”
“Bukankah Onii-chan sudah pernah makan di sini?”
“Sudah, tetapi aku tidak ingat semuanya.”
Jawaban itu membuat Mai berhenti sejenak.
Ada jeda kecil sebelum Ren kembali mengambil sumpit, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia tidak tampak terganggu oleh kenyataan bahwa banyak hal dalam hidupnya telah terputus dari ingatan. Meski begitu, Mai tahu bahwa kehilangan ingatan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele hanya karena Ren tidak membicarakannya.
Ia mengalihkan perhatian kepada bekalnya.
“Kalau begitu, lain kali kita bisa mencoba makan di kantin.”
Ren tersenyum. “Ide bagus.”
Mereka mulai makan.
Selama beberapa menit, semuanya berlangsung cukup normal. Ren bertanya apakah Mai menyukai menu bekalnya. Mai menjawab bahwa telur gulungnya enak, lalu mengeluh sedikit karena sayurannya terlalu pahit. Ren menyarankan agar ia mencampurkan sayuran itu dengan nasi, dan Mai langsung mengerutkan hidung.
“Kalau Onii-chan menyuruhku memakan sayuran pahit, aku akan menganggapnya sebagai bentuk kekerasan.”
“Kalau begitu, aku harus melindungimu dari sayuran?”
“Tentu saja!”
Ren tertawa kecil.
Mai ikut tertawa, sedikit lebih lepas daripada sebelumnya. Untuk sesaat, suara kantin terasa menjauh. Mereka kembali menjadi dua orang yang berbagi bekal, saling menggoda, dan membicarakan hal-hal kecil tanpa perlu memikirkan siapa yang sedang memperhatikan.
Kemudian Ren mengambil sumpitnya, menjepit sepotong daging sapi dari kotak bekalnya, lalu mengulurkannya ke arah Mai.
“Coba ini.”
Mai menatap potongan daging tersebut.
“Hm?”
“Dagingnya dimasak dengan saus yang berbeda dari biasanya. Aku ingin tahu apakah kau menyukainya.”
Mai berkedip.
Ia bisa mengambil sumpitnya sendiri. Potongan daging itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Tidak ada alasan baginya untuk bereaksi seperti baru saja diminta melakukan sesuatu yang luar biasa.
Namun, Ren tidak sedang menyodorkan makanan ke atas meja.
Ia sedang menyuapinya.
Di tengah kantin.
Di hadapan puluhan siswa yang sejak tadi memperhatikan mereka.
Mai merasakan panas naik dari leher hingga telinga.
“O-Onii-chan?”
“Ya?”
“Kau… apa yang sedang kau lakukan?”
Ren melihat potongan daging di antara sumpitnya, kemudian kembali menatap Mai.
“Menyuruhmu mencoba makananku?”
“Bukan begitu maksudku!”
Ren tampak benar-benar bingung. “Lalu?”
Mai melirik ke samping.
Beberapa siswa sedang menatap mereka secara terang-terangan. Seorang gadis di meja seberang bahkan menghentikan gerakan mengunyahnya. Di dekat konter minuman, dua siswi saling mencengkeram lengan dengan ekspresi tidak percaya.
Mai ingin menyelam ke dalam kotak bekalnya dan menghilang di antara telur gulung serta sayuran.
“Tidak bisakah kau meletakkannya di piringku saja?” bisiknya.
Ren mengikuti arah pandang Mai. Ia melihat beberapa siswa yang sedang menoleh, tetapi tampaknya tidak memahami mengapa hal itu menjadi masalah besar.
“Kenapa? Bukankah lebih mudah begini?”
“Lebih mudah untuk siapa?!”
“Untukku, mungkin.”
Mai hampir kehilangan kata-kata.
Ren mengangkat potongan daging itu sedikit, menunggu dengan sabar.
“Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa.”
Tidak ada nada memaksa dalam suaranya. Justru karena itulah Mai tidak sanggup menolak dengan tegas. Ren hanya ingin berbagi makanan. Ia tidak sedang berusaha mempermalukannya, tidak sedang menguji batas kesabarannya, dan tidak memiliki niat tersembunyi yang perlu dicurigai.
Ia bahkan tampak tidak sadar bahwa tindakannya sedang menjadi tontonan.