Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #14

Diagnosa Konyol Sang Sahabat

Koridor lantai tiga Akademi Seiwa memiliki satu keistimewaan yang tidak tercantum dalam brosur penerimaan siswa baru mana pun: koridor itu merupakan tempat yang sempurna untuk menyaksikan orang-orang kaya mengeluh tentang masalah yang tidak akan pernah dipahami oleh kebanyakan manusia biasa.

Di sisi timur, jendela-jendela tinggi membiarkan cahaya matahari siang menumpahkan warna keemasan di atas lantai marmer yang dipoles sampai mengilap. Dari kejauhan, lapangan olahraga terlihat melalui sela pepohonan yang tertata rapi, lengkap dengan lintasan lari berwarna merah bata dan lapangan sepak bola yang rumputnya dipangkas dengan ketinggian nyaris seragam. Angin dari jendela yang terbuka membawa aroma rumput, tanah yang mulai mengering, dan samar-samar bau makanan dari kantin sekolah.

Para siswa berlalu-lalang di antara kelas dengan kebebasan yang nyaris tidak terlihat seperti kebebasan. Ada yang berjalan sambil membicarakan hasil ujian, ada yang mengeluhkan tugas matematika, dan ada pula yang sibuk memeriksa ponsel sambil sesekali melirik ke arah siswa lain yang lewat. Akademi Seiwa merupakan tempat yang mengajarkan banyak hal kepada para calon pewaris keluarga terkemuka, termasuk cara berbicara dengan sopan, cara menjaga penampilan, dan cara menyembunyikan rasa iri di balik senyum yang pantas.

Namun, di dekat jendela kelas 3-A, seorang siswa bernama Tanaka Kenji tampaknya belum pernah mengikuti pelajaran terakhir itu.

"REN!"

Teriakannya menggema sepanjang koridor.

Beberapa siswa menoleh. Seorang siswi yang sedang membawa tumpukan buku sampai menghentikan langkahnya. Di dekat pintu kelas, dua orang siswa yang tengah berdiskusi mengenai ujian sejarah saling pandang, seolah bertanya-tanya apakah seseorang baru saja mengumumkan perang.

Orang yang diteriaki justru hanya mengangkat alis.

Kisaragi Ren baru saja keluar dari ruang kelas dengan tas olahraga tersampir di satu bahu. Rambut hitamnya sedikit berantakan setelah pelajaran pendidikan jasmani, sementara beberapa helai poni jatuh menutupi dahinya. Ia masih mengenakan seragam sekolah yang rapi, meskipun dasinya sudah sedikit longgar. Wajahnya terlihat tenang, tanpa tanda-tanda bahwa teriakan barusan telah mengganggu ketenteraman siapa pun selain orang-orang di sekitarnya.

"Kalau kau berteriak seperti itu lagi," kata Ren datar, "aku akan menganggapmu sedang meminta bantuan medis."

Kenji tidak menjawab.

Ia malah menerjang maju.

"Dasar manusia tidak tahu diri!"

Sebelum Ren sempat menghindar, lengan Kenji sudah melingkar kasar di lehernya. Tubuh Kenji yang sedikit lebih pendek menempel di sisi Ren, sementara satu tangannya menepuk-nepuk bahu sahabatnya seolah sedang menghibur seorang janda yang baru kehilangan suami.

"Bagaimana bisa kau hidup seperti ini?" ratap Kenji dengan suara yang dibuat-buat serak. "Bagaimana bisa seseorang menerima begitu banyak berkah dari langit, tetapi masih punya keberanian untuk datang ke sekolah dengan wajah setenang itu?"

Ren melirik lengan yang mengunci lehernya.

"Kau bisa mulai dengan melepaskan ini."

"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mengakui dosa-dosamu!"

"Dosa apa?"

"Dosa dilahirkan sebagai Kisaragi Ren!"

Ren terdiam selama dua detik.

Lalu ia mengembuskan napas melalui hidung.

"Sepertinya kau perlu tidur."

"Jangan mengalihkan pembicaraan!"

Kenji mengguncang bahunya dengan dramatis. "Kau punya wajah tampan, otak encer, nama keluarga yang bisa membuat kepala sekolah berdiri lebih tegak, dan uang yang jumlahnya mungkin cukup untuk membeli seluruh gedung ini. Itu saja sudah tidak adil. Tapi ternyata semua itu belum cukup untukmu!"

"Sudah selesai?"

"BELUM!"

Suara Kenji kembali memantul di antara dinding koridor.

Seorang guru yang lewat di ujung lorong menoleh dengan tatapan memperingatkan. Kenji segera menegakkan punggung dan memasang senyum sopan, membungkuk sedikit ketika sang guru melintas. Begitu sosok itu menghilang di balik tangga, ia kembali merapatkan lengannya di leher Ren.

"Dan sekarang," bisiknya dengan nada penuh kebencian yang jelas-jelas dibuat untuk komedi, "kau juga punya adik perempuan yang manis."

Ren berkedip sekali.

"Oh."

"Oh?" Kenji mengulang dengan wajah tidak percaya. "Cuma itu jawabanmu? Oh?!"

"Apa yang kau harapkan?"

"Aku mengharapkan setidaknya sedikit rasa bersalah!"

Ren mengamati wajah sahabatnya yang memerah karena terlalu bersemangat. "Aku tidak tahu bahwa memiliki adik merupakan pelanggaran peraturan sekolah."

"Jangan berpura-pura bodoh! Kau tahu maksudku!"

Kenji akhirnya melepaskan leher Ren, hanya untuk mencengkeram kedua bahunya dan menatapnya lurus-lurus. Mata Kenji yang biasanya penuh kelakar kini menyipit dengan kesungguhan seorang detektif yang baru menemukan bukti pembunuhan.

"Adik perempuan, Ren. Adik perempuan yang cantik, imut, sopan, dan memanggilmu onii-chan dengan suara yang bisa membuat seseorang kehilangan seluruh kemampuan berpikirnya."

Ren menatapnya tanpa ekspresi.

"Menurutmu, itu masalah?"

"ITU MASALAH BESAR BAGIKU!"

Ren menghela napas.

"Kalau begitu, kau sebaiknya mencari psikolog."

"Psikolog tidak bisa memberiku adik perempuan!"

"Adopsi?"

"AKU MASIH DELAPAN BELAS TAHUN!"

"Kalau begitu, tunggu sampai kau lebih tua."

Kenji menatap sahabatnya selama beberapa saat. Kemudian, perlahan-lahan, ia menundukkan kepala dan menempelkan dahinya ke bahu Ren.

"Aku membencimu," gumamnya.

"Sudah kuduga."

"Aku benar-benar membencimu."

"Bagus. Sekarang lepaskan bahuku."

Kenji mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca secara teatrikal.

"Setidaknya, biarkan aku bertemu dengannya."

Ren menoleh ke arah tangga yang menghubungkan lantai tiga dengan lantai di bawahnya. "Kau akan bertemu dengannya kalau kau berhenti membuat keributan."

"Jadi, kau mengizinkanku bertemu dengannya?"

"Aku tidak mengatakan begitu."

"Tapi kau juga tidak melarangnya!"

Ren berjalan pergi.

Kenji buru-buru menyusul, mulutnya masih mengoceh tanpa jeda. "Ren, sebagai sahabatmu, aku merasa berkewajiban untuk memeriksa apakah adikmu berada dalam lingkungan keluarga yang sehat. Ini bukan soal iri. Aku hanya ingin memastikan dia tidak menjadi korban dari kakak laki-laki yang terlalu protektif."

Ren bahkan tidak menoleh.

"Kau baru saja mengeluh karena tidak punya adik perempuan."

"Itu dua hal yang berbeda!"

"Tentu."

"Jangan menggunakan nada itu kepadaku!"

Di antara langkah kaki para siswa dan bunyi pintu kelas yang sesekali terbuka, percakapan mereka mengalir seperti pertengkaran yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tidak ada jarak canggung di antara keduanya. Kenji dapat memukul bahu Ren, mengeluh di dekat telinganya, bahkan mengkritik hal-hal yang tidak berani dibicarakan oleh siswa lain. Sebaliknya, Ren membiarkannya melakukan semua itu dengan kesabaran yang hanya dimiliki seseorang yang sudah terlalu terbiasa menghadapi kebisingan seorang teman.

Bagi siapa pun yang melihat mereka, hubungan tersebut terlihat sederhana.

Dua sahabat. Seorang pemuda kaya yang pendiam dan seorang pemuda berisik yang seolah ditugaskan oleh alam untuk menguji kesabarannya.

Tidak seorang pun di koridor itu tahu bahwa beberapa bulan sebelumnya, Ren bahkan tidak mampu menatap wajah kedua orang tuanya tanpa merasakan tubuhnya menegang. Tidak seorang pun tahu bahwa di balik ketenangan yang kini tampak alami itu, ingatan Ren masih berlubang-lubang, dan ada bagian dari masa lalunya yang sengaja disembunyikan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Dan Kenji, dengan segala ketidakpekaan komedinya, merupakan salah satu dari sedikit orang yang memperlakukan Ren seolah ia tetap manusia biasa.

Mungkin itulah sebabnya Ren tidak pernah benar-benar menyuruhnya pergi.

Pelajaran pendidikan jasmani kelas tiga berakhir beberapa menit sebelum bel makan siang.

Lapangan olahraga Seiwa dipenuhi suara sepatu yang berdecit di atas permukaan lintasan, bola yang dipantulkan, dan percakapan para siswa yang kehabisan napas. Di dekat bangku panjang di sisi lapangan, beberapa siswa sedang mengeringkan keringat dengan handuk kecil, sementara yang lain berkerumun di sekitar mesin penjual minuman.

Ren duduk di salah satu ujung bangku. Ia baru saja menyelesaikan sesi olahraga yang disesuaikan dengan kondisi fisiknya. Dokter masih melarangnya melakukan aktivitas berat, sehingga guru pendidikan jasmani memberinya tugas latihan ringan dan berjalan mengelilingi lapangan. Bagi Ren, itu jauh lebih baik daripada harus menghabiskan seluruh waktu istirahat di ruang kesehatan.

Meski demikian, tubuhnya belum sepenuhnya pulih.

Ia mengusap keringat di pelipis dengan handuk, lalu meregangkan jari-jari tangan yang terasa sedikit kaku. Napasnya sudah kembali teratur, tetapi masih ada rasa lelah yang mengendap di belakang lutut dan sepanjang punggungnya. Sesekali, pandangannya tanpa sadar mengikuti gerakan siswa lain yang berlari melintasi lapangan.

Ada sesuatu yang ganjil dalam melihat orang-orang bergerak tanpa perlu memikirkan apakah tubuh mereka akan sanggup mengikuti keinginan mereka sendiri.

Ren tidak tahu apakah dahulu ia juga bisa melakukan hal yang sama dengan mudah. Ingatannya tentang kehidupan sebelum koma masih berupa potongan-potongan samar: suara, cahaya, aroma, dan perasaan yang tidak selalu memiliki nama. Ketika ia berusaha meraihnya, semuanya justru menjauh seperti bayangan di permukaan air.

"Hei, Pangeran."

Kenji menjatuhkan diri ke bangku di sampingnya. Rambutnya berantakan, kerah seragamnya sedikit terbuka, dan handuk yang melingkar di lehernya sudah basah oleh keringat.

"Kalau kau terus menatap lapangan seperti itu, orang-orang akan mengira kau sedang menyusun strategi untuk mengambil alih dunia olahraga."

Ren meliriknya. "Aku sedang berpikir."

"Itulah yang kukhawatirkan."

Kenji mengambil botol minum dari tasnya dan menenggaknya dengan suara berlebihan. Setelah menghabiskan setengah isinya, ia mengusap mulut dengan punggung tangan.

"Ngomong-ngomong, kau benar-benar akan makan bersama adikmu hari ini?"

Ren mengangguk singkat. "Ya."

"Di kantin?"

"Ya."

"Di tempat umum?"

Ren menoleh perlahan. "Kantin biasanya merupakan tempat umum."

Kenji menutup wajah dengan kedua tangan.

"Aku tidak sanggup."

"Kau bisa pergi ke ruang kesehatan."

"Jangan meremehkan penderitaanku!"

Ren kembali menatap lapangan. Di seberang sana, beberapa siswa sedang membereskan perlengkapan olahraga. Angin bergerak melintasi rumput, membawa aroma tanah yang hangat dan samar-samar bau minuman olahraga dari botol yang terbuka di dekat bangku.

Kemudian, dari arah gedung sekolah, terdengar suara langkah cepat.

"—Onii-chan!"

Suara itu begitu manis, ringan, dan cerah hingga beberapa siswa di sekitar bangku menoleh hampir bersamaan.

Ren mengangkat kepala.

Di dekat pagar yang memisahkan lapangan dari jalan setapak, seorang gadis berseragam kelas satu berjalan menghampiri mereka. Rambutnya bergerak lembut di sekitar wajah ketika ia mempercepat langkah. Di tangannya terdapat sebuah botol minuman dingin dengan butiran embun yang mengalir di permukaannya, sementara tas kecilnya bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya.

Kisaragi Kanade.

Atau, setidaknya, itulah nama yang diketahui oleh semua orang di Akademi Seiwa.

Mai berhenti tepat di depan Ren. Pipinya sedikit merah akibat berjalan cepat di bawah matahari, dan beberapa helai rambut menempel di sisi wajahnya. Ia memegang botol itu dengan kedua tangan, lalu mengangkatnya dengan senyum yang sudah dilatih berkali-kali di hadapan cermin.

"Ini, Onii-chan! Aku membawakan minuman untukmu. Tadi aku melihat cuacanya panas sekali, jadi kupikir Kakak pasti haus setelah olahraga."

Nada suaranya melengkung lembut pada panggilan terakhir. Senyumnya lebar, matanya sedikit menyipit, dan kepalanya miring dengan sudut yang terasa begitu alami bagi seseorang yang telah menghabiskan bertahun-tahun mempelajari cara membuat pelanggan tersenyum.

Itu merupakan gerakan yang sudah melekat di dalam tubuh Mai.

Sebelum menjadi Kisaragi Kanade, sebelum memasuki kediaman mewah dengan lorong-lorong sunyi dan kamera pengawas di setiap sudut, ia pernah menjadi Mei-chan, seorang maid yang menyambut pelanggan dengan suara ceria dan gerakan penuh perhatian. Ia tahu kapan harus tersenyum, kapan harus sedikit membungkuk, dan bagaimana menyampaikan kepedulian melalui hal-hal kecil yang tidak akan membuat orang lain merasa sedang diperhatikan.

Kebiasaan itu sering kali muncul sebelum sempat disaring oleh pikirannya.

Terutama ketika ia melihat seseorang yang ingin ia rawat.

Ren menerima botol tersebut. Jari-jarinya menyentuh jari Mai sekilas, dingin oleh embun yang menempel di permukaan plastik.

"Terima kasih, Kanade."

"Jangan lupa minum, ya? Dokter juga bilang Kakak harus menjaga kondisi tubuh. Kalau Kakak terlalu memaksakan diri, nanti aku yang khawatir."

Mai menekan kedua tangannya di depan dada, memberikan tatapan cemas yang manis. Dari sudut pandang orang luar, itu tampak seperti perhatian seorang adik perempuan yang sangat menyayangi kakaknya.

Dari sudut pandang Mai sendiri, setiap gerakan kecil tersebut mengandung sesuatu yang jauh lebih rumit.

Ia memang ingin Ren minum. Ia memang khawatir ketika melihat pemuda itu terlalu lama beraktivitas. Ia memang ingin memastikan bahwa Ren tidak memaksakan tubuhnya hanya demi mengejar sesuatu yang bahkan belum bisa ia ingat.

Namun, di antara semua perasaan tulus itu, ada satu kebohongan yang selalu menempel seperti bayangan.

Ren mengira perhatian itu berasal dari adik perempuannya.

Padahal, orang yang berdiri di hadapannya adalah Miyauchi Mai, gadis yang dibayar untuk memainkan peran tersebut.

"Hei."

Suara Kenji memecahkan keheningan.

Mai tersentak kecil.

Ia baru menyadari bahwa sahabat Ren sejak tadi menatapnya dengan mulut sedikit terbuka, seolah baru saja menyaksikan sebuah fenomena alam yang seharusnya tidak mungkin terjadi.

Kenji menunjuk botol minuman di tangan Ren.

"Lalu lintas dunia ini benar-benar tidak adil."

Mai memiringkan kepala. "Eh?"

Kenji menoleh kepada Ren, lalu kembali kepada Mai. Tatapannya bergerak di antara mereka beberapa kali sebelum akhirnya berhenti pada wajah Ren dengan ekspresi seorang hakim yang telah menjatuhkan vonis.

"Kau bahkan mendapatkan layanan antar minuman pribadi."

Ren membuka tutup botolnya. "Aku tidak memintanya."

"Itu justru masalahnya!"

Kenji berdiri begitu cepat hingga bangku berderit. Ia menatap langit dengan kedua tangan terentang, membiarkan angin lapangan menerpa wajahnya seolah sedang menantang para dewa yang mengatur nasib manusia.

"Apa salahku dalam kehidupan sebelumnya?!"

Beberapa siswa di dekat mesin penjual minuman kembali menoleh.

Kenji tidak peduli.

"Aku belajar dengan rajin! Aku berusaha menjadi manusia yang baik! Aku tidak pernah sengaja menginjak semut! Aku bahkan pernah mengembalikan uang kembalian yang berlebih di minimarket!"

Ren meneguk minumannya.

"Hebat."

"Jangan memotong pengaduanku dengan sarkasme!"

Kenji menunjuk Ren sekali lagi, kali ini dengan tangan gemetar karena kemarahan yang sepenuhnya tidak berbahaya.

"Dan sebagai balasannya, aku diberi apa? Tugas matematika! Ujian mendadak! Kaki pegal setelah olahraga! Sementara kau—"

Ia berhenti untuk menarik napas panjang.

"—kau diberi seorang adik perempuan yang datang membawa minuman sambil memanggilmu Onii-chan!"

Mai membeku.

Selama sepersekian detik, senyum di wajahnya hampir kehilangan bentuk.

Ia mengenal reaksi semacam itu. Di Akihabara, pelanggan yang mendengar panggilan manis sering kali memberikan respons berlebihan. Ada yang memegangi dada, ada yang berpura-pura pingsan, dan ada pula yang menganggap sapaan sederhana sebagai peristiwa yang layak diceritakan kepada seluruh teman mereka.

Kenji, tampaknya, termasuk golongan terakhir.

Hanya saja, ia melakukannya tanpa membayar satu yen pun.

"A-Ah, Tanaka-senpai," ujar Mai, mempertahankan suara lembutnya. "Apa Kakak juga ingin minum? Aku bisa membelikan satu lagi."

Kenji langsung menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sesaat, seluruh kegaduhan di wajah Kenji lenyap. Ia berdiri kaku dengan kedua tangan menggantung di sisi tubuh, seperti seorang prajurit yang baru saja menerima surat dari rumah setelah bertahun-tahun berada di medan perang.

"Kau..." Ia menelan ludah. "Kau bahkan menawarkan minuman kepadaku?"

Mai tersenyum sedikit lebih lebar. "Tentu. Kakak adalah teman Onii-chan, bukan?"

Kenji memegangi dadanya.

"Ren."

Ren tidak mengangkat kepala. "Apa?"

"Aku ingin pindah keluarga."

"Tidak bisa."

"Aku belum selesai menjelaskan!"

"Jawabannya tetap tidak."

Kenji menoleh kembali kepada Mai. Wajahnya mendadak serius, dan ia membungkuk dengan kesopanan yang nyaris berlebihan.

"Kisaragi-san, aku Tanaka Kenji. Sahabat Ren sejak lama. Aku tidak tahu apakah Ren pernah menceritakan tentangku, tetapi aku adalah orang yang selama ini harus menanggung semua penderitaan akibat sifatnya yang tidak manusiawi."

Mai berkedip, lalu melirik Ren untuk memastikan apakah ia harus menanggapi pernyataan itu dengan serius.

Ren hanya menutup botol minumannya.

"Jangan dengarkan dia."

"REN! Jangan menghancurkan reputasiku di depan adikmu!"

"Reputasimu sudah hancur sebelum kau membuka mulut."

Mai buru-buru menutup bibir dengan ujung jari. Sebuah tawa kecil nyaris lolos, dan ia harus menunduk untuk menyembunyikannya.

Interaksi itu terasa anehnya menyenangkan.

Bukan karena Kenji mengatakan hal-hal yang masuk akal—sejauh ini, ia belum mengatakan satu pun—melainkan karena ia memperlakukan Mai dengan keakraban yang tidak dibebani oleh nama Kisaragi. Ia tidak menatapnya sebagai putri keluarga konglomerat. Ia tidak memperhatikan apakah seragamnya merupakan edisi khusus atau apakah cara bicaranya sesuai dengan citra seorang pewaris kaya.

Ia hanya melihat seorang gadis yang membawakan minuman untuk sahabatnya.

Dan kemudian, karena sifatnya sendiri, ia menjadikan hal itu sebagai tragedi pribadi.

"Jadi," kata Kenji, menyilangkan kedua tangan di dada, "kau benar-benar adik Ren?"

Mai merasakan sesuatu mencubit bagian dalam dadanya.

Pertanyaan itu sederhana. Bahkan bodoh, mengingat seluruh sekolah telah mengetahui hubungan mereka sejak pagi tadi. Namun, setiap kali seseorang menyebutnya sebagai adik Ren, ia selalu merasakan dua hal yang bertentangan: kelegaan karena kebohongannya diterima, dan rasa bersalah karena penerimaan itu membuat kebohongan tersebut semakin sulit ditinggalkan.

Ia mempertahankan senyum.

"Iya. Aku adik Onii-chan."

Kenji mengangguk lambat, seolah baru saja mendapatkan konfirmasi resmi dari lembaga negara.

"Luar biasa."

"Eh?"

"Benar-benar luar biasa." Ia mengusap dagunya. "Jadi, ini bukan sekadar rumor. Bukan ilusi akibat kurang tidur. Bukan pula hasil eksperimen rahasia laboratorium pemerintah."

Ren meliriknya. "Kau sudah selesai?"

"Belum. Aku sedang melakukan observasi ilmiah."

Kenji mengitari mereka setengah langkah, lalu menunjuk posisi Mai yang berdiri di dekat Ren.

"Pertama, adik perempuan yang manis datang membawa minuman. Kedua, dia memanggil kakaknya dengan suara yang membuat seluruh sel otak laki-laki dewasa berhenti bekerja. Ketiga, kakaknya menerima semua itu dengan wajah tenang, seolah-olah hal tersebut terjadi setiap hari."

Ia berhenti tepat di depan Ren.

"Diagnosis awal: siscon tingkat akut."

Ren mengangkat sebelah alis.

"Begitu?"

"Jangan menjawab dengan tenang! Ini diagnosis serius!"

"Kalau begitu, sebaiknya kau belajar kedokteran."

"Aku tidak perlu gelar kedokteran untuk mengenali gejala yang sudah sangat jelas!"

Kenji mulai menghitung dengan jari.

"Gejala pertama: kau mengantar adikmu ke sekolah dengan limusin keluarga. Gejala kedua: kau datang sendiri ke kelasnya untuk mengajaknya makan siang. Gejala ketiga: kau menghabiskan waktu istirahatmu bersama dia. Dan sekarang, gejala keempat—"

Ia menunjuk botol minuman di tangan Ren.

"—kau menerima layanan perawatan pribadi di lapangan olahraga!"

Ren menatap botol itu sejenak.

"Ini hanya minuman."

"Bagimu, mungkin!"

Kenji memegangi kepalanya.

"Orang normal harus berjalan ke mesin penjual minuman sendiri. Orang normal harus membeli minuman sendiri. Orang normal harus menjalani hidup dengan menerima kenyataan bahwa tidak ada seorang pun yang akan berlari ke lapangan hanya untuk memastikan mereka tidak kehausan!"

Mai menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan tawa.

"Aku rasa itu tidak separah yang Senpai pikirkan," katanya hati-hati.

Kenji langsung berbalik kepadanya.

"Kisaragi-san, kau terlalu baik. Itulah masalahnya."

Mai terdiam.

"Kakakmu ini," lanjut Kenji sambil menunjuk Ren dengan ibu jari, "terlihat tenang, pendiam, dan sopan. Dia membuat semua orang mengira bahwa dirinya adalah pemuda sempurna yang tidak punya kekurangan. Tapi aku mengenalnya lebih lama daripada kalian semua. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres di balik wajah tanpa dosa itu."

Ren meneguk minumannya lagi.

"Kalau kau terus berbicara, aku akan pergi."

"Ancaman kosong! Kau tidak akan meninggalkan adikmu di sini!"

Ren menurunkan botol.

Kenji terdiam.

Mai juga terdiam.

Sebab, untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Kenji telah mengatakan sesuatu yang tidak sepenuhnya keliru.

Ren memang tidak akan meninggalkannya begitu saja.

Bukan karena tuduhan siscon yang dibuat Kenji, bukan pula karena ia ingin mempertahankan citra seorang kakak penyayang di hadapan teman-temannya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang selalu waspada terhadap keadaan Mai. Ia memperhatikan apakah gadis itu tampak lelah, apakah senyumnya mulai kaku, apakah seseorang berdiri terlalu dekat dengannya, dan apakah suara di sekitarnya membuatnya tidak nyaman.

Perhatian itu kadang muncul begitu cepat hingga Ren sendiri tidak sempat memikirkan alasannya.

Mungkin tubuhnya masih mengingat bagaimana rasanya kehilangan seseorang.

Mungkin, di bagian ingatannya yang gelap, terdapat janji yang belum bisa ia pahami.

Atau mungkin ia hanya merasa bahwa selama Mai berada di dekatnya, dunia yang asing ini sedikit lebih mudah ditanggung.

Ren tidak tahu.

Ia hanya tahu bahwa ketika Mai berdiri di sampingnya, ia ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.

"Aku memang tidak akan meninggalkannya," jawab Ren akhirnya.

Kenji menegang.

Mai merasakan ujung jarinya mengencang pada tali tas.

Ren menyampaikan kalimat itu tanpa perubahan nada, seolah sedang menjelaskan bahwa langit berwarna biru. Tidak ada pernyataan romantis, tidak ada dramatisasi, dan tidak ada usaha untuk membuat dirinya terlihat baik. Justru karena itulah kata-katanya terdengar begitu tulus.

Kenji menatapnya.

Kemudian ia menoleh kepada Mai.

Lalu kembali kepada Ren.

Perlahan, wajahnya berubah menjadi ekspresi orang yang baru saja menemukan konspirasi terbesar dalam sejarah umat manusia.

Lihat selengkapnya