Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #15

Bekal Makan Siang di Atap Sekolah

Bel istirahat siang baru saja berbunyi ketika Kisaragi Ren menutup buku catatannya.

Suara bel yang nyaring menggema di seluruh gedung Akademi Seiwa, disusul bunyi kursi yang bergeser, pintu-pintu kelas yang terbuka, dan percakapan para siswa yang mendadak memenuhi koridor. Dari jendela kelas tiga, matahari tampak menggantung tinggi di langit musim semi, memantulkan cahaya keemasan pada atap-atap gedung dan dedaunan yang bergoyang di halaman sekolah. Hari itu cerah, dengan awan putih tipis yang hampir tidak bergerak di atas cakrawala.

Ren memasukkan buku ke dalam tasnya, lalu melirik ponsel yang tergeletak di sudut meja.

Tidak ada pesan baru.

Ia tidak tahu mengapa dirinya memeriksa layar itu lagi. Mai tidak pernah berjanji akan mengirimkan pesan saat jam istirahat. Lagi pula, mereka telah bertemu di kantin kemarin, dan pagi tadi mereka sempat bertukar beberapa kalimat sebelum berpisah di persimpangan koridor.

Tidak ada alasan baginya untuk menunggu.

Namun, setelah beberapa detik menatap layar yang gelap, Ren tetap memasukkan ponsel itu ke saku.

"Ren!"

Suara Kenji datang dari ambang pintu.

Ren tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemiliknya. Hanya ada satu orang di Akademi Seiwa yang mampu mengucapkan namanya dengan nada seolah mereka sedang menghadapi keadaan darurat nasional.

"Ayo ke kantin!" seru Kenji. Ia melambaikan dompet di udara sambil menyeringai. "Aku sudah memutuskan untuk tidak membicarakan insiden kemarin selama setidaknya sepuluh menit. Sebagai gantinya, kau harus membelikanku puding."

"Kenapa aku harus membelikanmu puding?"

"Karena aku telah mengalami penderitaan emosional akibat menyaksikan perilaku sisconmu secara langsung."

"Kalau begitu, gunakan uangmu sendiri untuk membeli puding."

"Keji sekali."

Kenji masuk ke kelas, menjatuhkan diri ke kursi di depan meja Ren, lalu mencondongkan tubuh dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran kursi.

"Serius, kau tidak mau ikut makan denganku? Aku menemukan kios baru yang menjual roti kari. Katanya isinya daging sapi premium. Bahkan ada siswa kelas dua yang menangis ketika gigitan pertamanya menyentuh lidah."

Ren menatapnya datar.

"Kenapa dia menangis?"

"Karena rasanya enak, tentu saja!"

"Itu bukan alasan yang sehat untuk menangis."

"Jangan menghina pengalaman kuliner orang lain!"

Ren berdiri dan menyampirkan tas ke bahunya. Ia mengabaikan Kenji yang masih mengoceh tentang roti kari, lalu berjalan melewati pintu kelas.

Kenji segera bangkit dan mengejarnya.

"Jadi, kau ikut atau tidak?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Aku sudah membawa bekal."

Kenji berhenti di tengah langkah.

Matanya perlahan turun ke tas Ren.

"...Kau membawa bekal?"

Ren terus berjalan. "Ya."

"Dari rumah?"

"Menurutmu aku membawanya dari mana?"

Kenji menyusul dengan langkah tergesa-gesa, lalu menepuk bahu Ren berkali-kali.

"Tunggu. Tunggu dulu. Jangan bilang—"

"Kalau kau akan mengatakan sesuatu tentang Kanade, aku tidak tertarik mendengarnya."

"Jadi, benar!"

Ren memejamkan mata sebentar.

Kenji mengangkat kedua tangannya, seolah baru saja membuktikan teori ilmiah yang akan mengubah dunia.

"Kau membawa bekal dari rumah karena adikmu memasakkannya, lalu kau akan menghabiskan waktu istirahat untuk makan bersama adikmu, bukan? Kalian akan duduk berdua, saling bertukar lauk, dan mungkin dia akan mengatakan sesuatu seperti, 'Onii-chan, aaahn!'"

Ren berhenti berjalan.

Kenji ikut berhenti.

Ren menatapnya dengan wajah yang begitu tenang hingga Kenji secara naluriah mundur setengah langkah.

"Kalau kau mengucapkan satu kata lagi, aku akan meninggalkanmu di sini."

Kenji mengatupkan bibir.

Ia mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah.

Kemudian, setelah Ren kembali berjalan, ia berbisik dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh koridor.

"Ini sudah tidak bisa disebut sekadar siscon. Ini adalah bencana sosial."

Ren mengabaikannya.

Di balik ketenangan wajahnya, ada keputusan sederhana yang telah ia buat sejak pagi tadi: ia ingin makan siang bersama Mai, jauh dari keramaian kantin dan tatapan orang-orang yang seolah selalu mencari sesuatu untuk dibicarakan.

Bukan karena ia malu terlihat bersama gadis itu.

Justru sebaliknya.

Ren mulai menyadari bahwa setiap kali berada di dekat Mai, ia tidak perlu memikirkan terlalu banyak hal. Ia tidak harus mengingat siapa dirinya sebelum koma, tidak harus berusaha memenuhi harapan orang tuanya, dan tidak harus menebak-nebak bagian mana dari masa lalunya yang sengaja disembunyikan dari dirinya.

Mai tidak pernah memintanya menjadi pewaris Kisaragi yang sempurna.

Ia hanya bertanya apakah Ren sudah makan, apakah kakinya masih sakit, atau apakah ia ingin berjalan sedikit lebih lambat.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu terasa lebih nyata daripada banyak hal yang pernah dikatakan keluarganya kepadanya.

Dan siang ini, Ren ingin menikmati ketenangan itu sedikit lebih lama.

Mai baru saja menyelesaikan pekerjaannya di kelas satu ketika seorang siswa mengetuk pintu yang terbuka.

"Permisi. Kisaragi Kanade ada?"

Beberapa kepala menoleh.

Mai yang sedang merapikan buku-bukunya segera mengangkat wajah. "Iya, aku."

Siswa itu menunjuk ke arah koridor. "Kakakmu menunggu di luar."

Jantung Mai berdetak sedikit lebih cepat.

"Onii-chan?"

"Iya. Kisaragi-senpai."

Ia mengucapkan terima kasih, lalu memasukkan buku terakhir ke dalam tas. Sebelum berdiri, Mai sempat memeriksa pantulan dirinya pada layar ponsel yang gelap. Rambutnya masih rapi, pita kecil di sisi kepalanya tidak bergeser, dan kerah seragamnya terpasang sempurna.

Ia tidak perlu melakukan pemeriksaan itu.

Ia tahu.

Namun, kebiasaan lama sebagai Mei-chan membuatnya selalu ingin memastikan penampilannya tidak memiliki satu pun kekurangan sebelum menemui seseorang.

Saat melangkah ke koridor, ia menemukan Ren berdiri di dekat jendela. Cahaya matahari jatuh di bahunya, membuat seragam gelapnya terlihat sedikit lebih terang. Ia memegang tas olahraga dengan satu tangan dan sebuah kotak bekal berwarna gelap dengan tangan lainnya.

Mai mempercepat langkah.

"Onii-chan! Kenapa Kakak datang ke kelasku?"

Ren menoleh. Begitu melihatnya, wajahnya yang semula tenang tampak sedikit lebih lunak.

"Aku ingin mengajakmu makan siang."

Mai berhenti di depannya.

"Eh?"

"Kau sudah membawa bekal, kan?"

Mai mengangguk pelan. "Sudah. Tapi biasanya kita makan di kantin."

"Kalau begitu, hari ini kita tidak perlu mengikuti kebiasaan itu."

Ren mengangkat kotak bekal di tangannya sedikit, seolah menunjukkan bukti bahwa rencananya telah disiapkan dengan matang.

"Aku tahu tempat yang lebih tenang."

Mai menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Tempat yang lebih tenang?"

Ren mengangguk.

"Ikutlah denganku."

Ia mengulurkan tangan, bukan untuk menggenggam tangan Mai, melainkan untuk mengambil tas kecil yang dibawanya.

Mai buru-buru menarik tas itu ke belakang tubuh.

"Tidak apa-apa, Onii-chan. Aku bisa membawanya sendiri."

Ren tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu mulai berjalan.

"Baiklah. Ayo."

Mai mengikuti langkahnya.

Mereka melewati persimpangan koridor yang mengarah ke kantin. Dari arah sana, suara para siswa terdengar semakin keras, disertai aroma makanan yang menguar hingga ke lorong. Seorang siswi kelas tiga yang berdiri di dekat papan pengumuman sempat menoleh ketika melihat Ren lewat. Tatapannya segera berpindah kepada Mai, lalu kembali kepada Ren.

Mai merasakan tengkuknya menegang.

Ia masih mengingat tatapan-tatapan serupa pada hari sebelumnya. Tatapan yang tidak mengandung pertanyaan, melainkan penilaian. Tatapan yang seolah mempertanyakan mengapa gadis kelas satu sepertinya bisa berjalan begitu dekat dengan salah satu siswa paling populer di sekolah.

Mai menunduk sedikit dan mempercepat langkah untuk menyamai Ren.

Pemuda itu meliriknya.

"Kau tidak suka kantin?"

Mai tersentak kecil. "Eh? Bukan begitu."

"Kalau begitu, kenapa kau terlihat seperti ingin melarikan diri?"

Mai membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Ia bisa mengatakan bahwa kantin terlalu ramai. Itu bukan kebohongan sepenuhnya. Ia bisa mengatakan bahwa ia merasa tidak nyaman ketika banyak orang memperhatikan mereka. Itu juga benar.

Namun, menjelaskan bahwa ia takut pada kecemburuan orang-orang yang mengira dirinya adik kandung Ren terasa jauh lebih sulit daripada seharusnya.

"Aku hanya..." Ia memainkan tali tasnya dengan ibu jari. "Sedikit lelah dengan keramaian."

Ren mengangguk seolah jawaban itu sudah cukup.

"Kalau begitu, kita makan di tempat lain."

Tidak ada pertanyaan lanjutan.

Tidak ada nasihat agar Mai belajar membiasakan diri.

Tidak ada komentar tentang betapa pentingnya menjaga citra keluarga Kisaragi.

Ren hanya mengubah arah langkahnya.

Mai menatap punggungnya selama beberapa detik sebelum kembali mengikuti.

Ada sesuatu yang hangat bergerak di dadanya, sesuatu yang muncul setiap kali Ren memberinya pilihan tanpa membuatnya merasa berutang.

Hal sederhana seperti itu seharusnya tidak begitu berarti.

Namun, bagi seseorang yang hidupnya diatur oleh kontrak, aturan, dan pengawasan, kebebasan kecil untuk mengatakan bahwa dirinya lelah terasa seperti hadiah yang tidak pernah ia minta.

Mereka tidak menuju kantin.

Sebaliknya, Ren membawa Mai melewati lorong yang lebih sepi di sisi utara gedung utama. Di sana, suara keramaian mulai meredup. Deretan jendela menghadap halaman belakang yang ditumbuhi pohon-pohon berdaun muda, sementara papan pengumuman berisi jadwal kegiatan klub berdiri di dekat tangga darurat.

Mai memperhatikan arah yang mereka ambil.

"Onii-chan, kita mau ke mana?"

"Atap."

Mai berhenti setengah langkah.

"Atap sekolah?"

Ren menoleh. "Ya."

"Tapi bukankah atap sekolah dikunci?"

"Biasanya."

Ia mengeluarkan sebuah kunci dari saku seragamnya dan mengangkatnya di antara dua jari.

Mai menatap benda itu, kemudian menatap wajah Ren.

"...Kenapa Kakak punya kuncinya?"

"Karena keluargaku pernah menyumbangkan sebagian besar biaya pembangunan sayap utara."

Jawaban itu disampaikan begitu saja, tanpa kebanggaan ataupun nada meminta maaf. Ren memasukkan kembali kunci tersebut ke saku, lalu melanjutkan langkah.

"Sebagai bagian dari kesepakatan fasilitas, beberapa akses pemeliharaan bisa digunakan oleh anggota keluarga donor dengan izin sekolah. Kepala sekolah memberikan kunci ini ketika aku kembali."

Mai berkedip.

Ia seharusnya tidak lagi terkejut dengan hal-hal semacam itu. Di kediaman Kisaragi, uang mampu membuka pintu yang bahkan tidak diketahui keberadaannya oleh orang lain. Di Akademi Seiwa, nama keluarga Ren membuat banyak aturan memiliki pengecualian yang tidak tertulis.

Namun, cara Ren menjelaskan semuanya membuat hal itu terdengar seperti urusan biasa.

Seolah memiliki akses ke atap sekolah yang terkunci sama sederhananya dengan meminjam buku perpustakaan.

"Apakah kita boleh berada di sana?" tanya Mai.

"Selama tidak melanggar peraturan keselamatan."

Ren meliriknya.

"Aku tidak akan membawamu ke tempat yang berbahaya."

Kalimat itu membuat langkah Mai melambat.

Ia tahu Ren tidak bermaksud mengatakan sesuatu yang istimewa. Nada suaranya sama seperti ketika ia mengingatkan Mai agar minum atau menyuruhnya berjalan lebih pelan ketika kaki Ren sendiri mulai terasa lelah.

Namun, ada bagian dalam diri Mai yang menangkap kalimat tersebut dengan cara berbeda.

Aku tidak akan membawamu ke tempat yang berbahaya.

Seandainya Ren mengetahui bahwa dirinya justru merupakan salah satu bagian dari kebohongan yang membahayakan hidupnya, apakah ia masih akan mengatakan hal yang sama?

Mai segera mengalihkan pandangan.

"Kalau begitu, aku ikut."

Ren mengangguk kecil.

Mereka menaiki tangga menuju lantai paling atas. Semakin tinggi mereka berjalan, semakin sepi suara dari gedung utama. Bunyi langkah kaki mereka memantul pada dinding beton, diselingi dengung lampu dan suara samar angin yang menyusup dari celah ventilasi.

Di ujung tangga terdapat sebuah pintu logam berwarna abu-abu. Cat di sekitar gagangnya sedikit terkelupas, berbeda dari pintu-pintu kelas yang selalu terawat. Sebuah papan peringatan dipasang di bagian tengah, melarang siswa memasuki area atap tanpa izin.

Ren mengeluarkan kunci dan memasukkannya ke lubang.

Klik.

Bunyi kecil itu terdengar jelas di tengah keheningan.

Ia mendorong pintu dengan satu tangan.

Cahaya matahari segera menyelinap masuk, begitu terang hingga Mai secara refleks menyipitkan mata.

Angin menyambut mereka dari luar.

Atap Akademi Seiwa ternyata jauh lebih luas daripada yang dibayangkan Mai.

Permukaannya terbuat dari beton berwarna pucat, dengan beberapa saluran air di dekat tepi dan pagar pengaman yang mengelilingi seluruh area. Di salah satu sudut, terdapat bangunan kecil untuk menampung peralatan pemeliharaan. Beberapa unit pendingin udara berdengung pelan di kejauhan, sementara bayangan pagar membentuk garis-garis panjang di atas lantai.

Tidak ada meja piknik, tidak ada taman bunga, dan tidak ada fasilitas yang dirancang khusus untuk membuat tempat itu nyaman.

Namun, justru kesederhanaannya membuat Mai menyukainya.

Langit terbentang luas di atas kepala mereka. Dari tempat itu, ia bisa melihat sebagian besar halaman Akademi Seiwa, lapangan olahraga yang tadi dipenuhi siswa, serta jalan raya di luar pagar sekolah. Mobil-mobil tampak kecil dari ketinggian, bergerak di antara gedung-gedung dengan suara yang hanya terdengar sebagai dengung jauh.

Angin bertiup lebih kencang di atap daripada di koridor. Udara membawa aroma beton yang hangat, daun-daun muda, dan sedikit bau logam dari pagar yang terkena matahari.

Mai berjalan beberapa langkah menjauhi pintu, lalu mengembuskan napas panjang.

"Wow..."

Ren menutup pintu di belakang mereka dan memastikan kuncinya tetap berada di tempatnya.

"Bagaimana?"

Mai menoleh kepadanya dengan mata berbinar.

"Tempat ini bagus sekali."

"Padahal hanya atap."

"Justru itu." Mai kembali menatap langit. "Tidak ada suara orang berbicara, tidak ada yang memanggil nama kita dari belakang, dan tidak ada yang bertanya macam-macam."

Ia berhenti setelah menyadari apa yang baru saja dikatakannya.

Nama kita.

Kata-kata itu keluar begitu alami, seolah mereka benar-benar sepasang saudara yang ingin menghindari perhatian orang lain.

Ren tidak menunjukkan reaksi aneh. Ia berjalan menuju dinding pendek di sisi bangunan kecil, tempat bayangan jatuh cukup lebar untuk melindungi mereka dari sinar matahari langsung.

"Kita bisa duduk di sini."

Mai mengikutinya.

Ren meletakkan tasnya di lantai, lalu duduk bersandar pada dinding. Ia menekuk satu lutut dan meregangkan kaki yang lain dengan hati-hati. Gerakan itu masih menyisakan sedikit kekakuan di persendian, tetapi ia tidak mengeluh.

Mai duduk di sampingnya, menjaga jarak yang cukup agar bahu mereka tidak langsung bersentuhan.

Untuk beberapa saat, mereka hanya mendengarkan angin.

Di bawah sana, suara peluit guru olahraga terdengar samar. Sesekali, tawa para siswa melayang dari lapangan, tetapi segera lenyap ketika angin bergerak ke arah lain.

Mai menatap kotak bekal yang dibawanya.

Kotak itu sederhana, berwarna krem dengan pengunci kecil di sisi kanan. Ia telah menyiapkannya pagi tadi sebelum berangkat sekolah, saat rumah Kisaragi masih dipenuhi kesunyian dan para staf baru mulai bergerak di dapur.

Awalnya, ia berniat membuat bekal yang mudah dimakan dan tidak terlalu mencolok. Sebagai Kanade, ia harus mempertahankan citra seorang gadis dari keluarga kaya yang terbiasa mendapatkan makanan terbaik. Ia tidak boleh terlihat terlalu sederhana, tetapi juga tidak boleh menunjukkan kebiasaan yang bisa membuat orang lain bertanya-tanya.

Saito pernah mengingatkannya bahwa kebiasaan kecil dapat menjadi petunjuk identitas.

Cara seseorang memegang sumpit. Pilihan makanan. Ungkapan spontan. Bahkan cara tertawa.

Maka Mai telah berusaha memilih menu yang menurutnya cocok untuk Kanade.

Namun, saat berada di dapur pagi tadi, tangannya bergerak dengan kebiasaan yang sudah terbentuk jauh sebelum kontrak itu dimulai. Ia menyiapkan beberapa lauk dengan urutan yang begitu akrab hingga baru menyadarinya ketika seluruh makanan selesai dimasak.

Ia membuatnya seperti sedang memasak untuk dirinya sendiri.

"Bekalnya buatanmu?" tanya Ren.

Mai tersentak kecil, lalu mengangguk.

"Iya. Aku tidak yakin apakah rasanya akan cocok dengan selera Kakak."

Ren menatap kotak bekalnya sendiri.

"Aku juga membawa bekal."

"Eh?"

Ia mengangkat kotak yang sejak tadi diletakkan di samping tasnya.

"Staf dapur menyiapkannya. Tapi aku ingin mencoba masakanmu."

Mai menatapnya beberapa detik.

"Masakanku?"

Ren mengangguk.

"Kalau kau tidak keberatan."

Mai segera menggeleng. "Tidak! Tentu saja tidak keberatan."

Ia membuka pengunci kotak bekalnya dengan sedikit tergesa-gesa. Tutupnya terangkat, memperlihatkan nasi putih yang disusun rapi di satu sisi, telur gulung berwarna kuning keemasan, potongan ayam berbumbu, tumis sayuran, serta beberapa potong wortel yang dibentuk kecil-kecil.

Aroma kecap, minyak wijen, dan jahe yang lembut segera naik ke udara.

Lihat selengkapnya