Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #16

Panggilan Guru Konseling

Sore hari mulai menyelimuti Akademi Seiwa dengan cahaya keemasan yang menyusup melalui jendela-jendela tinggi di sepanjang koridor. Kegiatan belajar mengajar telah usai beberapa menit lalu, tetapi gedung utama masih dipenuhi suara langkah kaki, derit pintu kelas, dan percakapan para siswa yang bergegas menuju gerbang atau berkumpul di ruang kegiatan ekstrakurikuler. Di luar, angin musim semi menggoyangkan pucuk-pucuk pohon sakura yang belum sepenuhnya berbunga. Kelopak-kelopak kecil yang terlepas melayang melewati halaman, sesekali menempel pada kaca jendela sebelum kembali diterbangkan angin.

Di lantai tiga gedung administrasi, suasananya jauh lebih tenang.

Sebuah papan nama bertuliskan Ruang Bimbingan Konseling terpasang di samping pintu kayu berwarna cokelat muda. Dari balik pintu itu terdengar suara pendingin ruangan yang berdengung lembut, bercampur dengan bunyi jam dinding yang bergerak teratur. Ruangan tersebut dirancang agar terasa nyaman bagi para siswa: terdapat sofa dua dudukan berwarna krem, rak berisi buku-buku psikologi remaja, beberapa tanaman hias di dekat jendela, serta poster berisi pesan-pesan tentang pentingnya kesehatan mental.

Di atas meja kerja yang rapi, sebuah map biru tergeletak terbuka.

Nama yang tercetak pada sampulnya membuat pemilik ruangan mengernyitkan dahi.

Kisaragi Ren — Kelas 3-A.

Guru konseling Akademi Seiwa, seorang pria berusia tiga puluh lima tahun bernama Nakamura, menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia mengusap dagunya sambil membaca kembali lembar-lembar laporan yang telah dikumpulkannya sejak Ren kembali bersekolah. Ada catatan dari wali kelas, beberapa observasi guru mata pelajaran, dan bahkan satu laporan singkat dari petugas pengawas koridor.

Pada awalnya, Nakamura menganggap semuanya sebagai bentuk perhatian yang wajar.

Kisaragi Ren bukan murid biasa. Ia adalah putra tunggal keluarga konglomerat besar, seorang siswa berprestasi yang baru saja kembali setelah menjalani masa pemulihan panjang akibat koma. Wajar jika para guru memperhatikan perilakunya lebih saksama daripada siswa lain. Wajar pula jika ia membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Namun, semakin banyak laporan yang dibacanya, semakin sulit bagi Nakamura untuk mengabaikan satu pola yang berulang.

Ren hampir selalu mencari adiknya.

Ren mengantar adiknya.

Ren menjemput adiknya.

Ren makan siang bersama adiknya.

Ren tampak gelisah ketika adiknya tidak berada dalam jangkauan pandangannya.

Bahkan, menurut laporan seorang guru yang kebetulan bertugas mengawasi area kantin, Ren pernah menatap cukup dingin sekelompok siswi senior yang sedang berbisik-bisik sambil melirik Kanade.

Nakamura menarik napas panjang.

"Ini bukan berarti ada masalah serius," gumamnya kepada diri sendiri, mengetuk ujung pena pada meja. "Tetapi setelah apa yang dialaminya, ketergantungan seperti ini bisa menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan."

Ia bukan hendak memisahkan dua saudara kandung. Sama sekali bukan.

Sebaliknya, ia khawatir Ren telah menjadikan keberadaan Kanade sebagai satu-satunya penopang emosionalnya. Jika demikian, hubungan yang semula berfungsi sebagai sumber dukungan justru berpotensi membuat pemulihan Ren berjalan tidak sehat.

Kanade sendiri masih berusia enam belas tahun. Ia seharusnya memiliki kesempatan untuk menikmati kehidupan sekolah, membangun persahabatan, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan mengalami masa remaja tanpa harus terus-menerus berada di bawah perlindungan kakaknya.

Nakamura melirik jam dinding.

Pukul empat lewat sepuluh menit.

Ia mengambil telepon meja, menghubungi ruang guru, lalu meminta seorang staf menyampaikan pesan kepada Kisaragi Ren agar datang ke ruang konseling sebelum pulang.

Setelah panggilan berakhir, ia merapikan map biru itu dan meletakkannya tepat di tengah meja.

Ia akan berbicara dengan Ren baik-baik. Tanpa menghakimi. Tanpa membuatnya merasa seperti pasien.

Hanya percakapan sederhana antara seorang guru yang peduli dan seorang murid yang mungkin masih kesulitan memahami batas-batas hubungan setelah mengalami trauma berat.

Setidaknya, itulah yang diyakininya.

"Eh? Onii-chan dipanggil ke ruang konseling?"

Mai menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar kabar tersebut.

Ia sedang membereskan buku-buku pelajaran di kelas satu, memasukkan lembar tugas ke dalam map sambil berusaha mengingat apakah ada pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan keesokan harinya. Beberapa teman sekelasnya telah pulang, menyisakan kursi-kursi kosong dan suara sapu dari kelas sebelah.

Siswa yang menyampaikan pesan itu mengangguk.

"Katanya, sebelum pulang. Guru Nakamura yang meminta."

"Oh."

Senyum Mai bertahan di wajahnya, tetapi jemarinya mendadak berhenti merapikan kertas. Ujung lembar tugas yang dipegangnya tertekuk di antara telunjuk dan ibu jari.

Ruang konseling.

Dua kata itu seharusnya tidak menimbulkan masalah. Guru konseling memanggil murid bukanlah sesuatu yang aneh di sekolah. Namun, bagi Mai, panggilan tersebut terasa seperti pintu yang baru saja terbuka menuju ruangan tempat semua kebohongannya bisa diperiksa satu per satu.

Apakah ada guru yang curiga?

Apakah mereka menemukan sesuatu dalam data akademiknya?

Ataukah seseorang melihat bahwa hubungan antara dirinya dan Ren tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang selama ini mereka perlihatkan?

Pikiran terakhir itu membuat tengkuknya terasa dingin.

Ia segera menunduk, pura-pura memeriksa isi tasnya.

Tenang, Mai. Jangan langsung berpikir yang terburuk.

Tidak ada alasan bagi pihak sekolah untuk mengetahui bahwa ia bukan Kisaragi Kanade. Dokumen pindahannya telah disiapkan oleh Saito. Nilai-nilainya, riwayat akademiknya, bahkan informasi dasar tentang kehidupan sekolahnya telah disusun sedemikian rupa sehingga tampak masuk akal.

Namun, dokumen palsu hanya bisa menjelaskan identitasnya di atas kertas. Dokumen itu tidak dapat menjamin bahwa setiap orang akan menafsirkan perilakunya sesuai dengan naskah yang telah disiapkan.

Terlebih lagi, kakaknya yang seharusnya ia perankan adalah Ren.

Ren yang menggenggam tangannya di tempat umum. Ren yang datang ke kelas satu hanya untuk mengajaknya makan siang. Ren yang tidak segan-segan menyuapinya di hadapan puluhan pasang mata. Ren yang, ketika melihatnya merasa tidak nyaman, akan langsung berdiri lebih dekat seolah-olah dunia di sekeliling mereka tidak lagi layak dipercaya.

Bagi sebagian orang, semua itu mungkin hanya tampak sebagai perilaku kakak yang terlalu menyayangi adiknya.

Bagi Mai, setiap tindakan tersebut adalah sesuatu yang jauh lebih rumit.

Ia mengingat kembali perasaan hangat ketika Ren membetulkan rambutnya di atap sekolah siang tadi. Sentuhan itu begitu lembut dan spontan hingga ia sempat lupa bahwa mereka sedang memainkan peran yang dibangun di atas kematian seorang gadis lain.

Pipinya menghangat hanya dengan mengingatnya.

Lalu rasa bersalah segera menyusul.

"Kanade?"

Mai tersentak.

Seorang teman sekelas berdiri di samping mejanya, memiringkan kepala karena melihatnya melamun.

"Kamu tidak apa-apa?"

"Ah, iya! Aku tidak apa-apa kok."

Mai tertawa kecil. Terlalu cepat, sedikit terlalu nyaring.

"Aku cuma ingat ada tugas yang belum selesai."

"Begitu, ya. Jangan pulang terlalu malam."

"Iya. Terima kasih."

Setelah temannya pergi, Mai memasukkan buku terakhir ke dalam tas dengan gerakan yang jauh lebih lambat daripada sebelumnya.

Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Ren di dalam ruangan itu. Ia bahkan tidak tahu apakah percakapan tersebut akan berpengaruh pada kontrak yang mengikatnya.

Yang ia tahu hanyalah satu hal: jika sekolah mulai mempertanyakan hubungan mereka, ia tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Akademi Seiwa, Mai berharap Ren tidak perlu membelanya.

Bukan karena ia tidak ingin dilindungi.

Melainkan karena setiap kali Ren melindunginya dengan tulus, semakin sulit baginya untuk mengingat bahwa ia dibayar untuk berada di sisinya.

"Silakan masuk, Kisaragi."

Ren membuka pintu setelah mengetuk dua kali.

Ia masih mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi. Dasi terpasang sempurna, kancing jas tertutup, dan rambut hitamnya yang sedikit berantakan di bagian depan tidak mengurangi kesan tenang yang selalu melekat pada dirinya. Ia membawa tas sekolah di satu tangan, sementara tangan lainnya dibiarkan berada di sisi tubuh.

"Permisi."

Ia menutup pintu dengan hati-hati, lalu menghadap Nakamura.

"Anda ingin bertemu dengan saya?"

"Ya. Terima kasih sudah datang sebelum pulang."

Nakamura menunjuk kursi di seberang meja. "Silakan duduk. Ini bukan pertemuan disipliner, jadi kamu tidak perlu merasa sedang diinterogasi."

Ren duduk tanpa banyak bicara.

Gerakannya tenang. Ia meletakkan tas di samping kaki, menyesuaikan posisi duduk, lalu mengangkat pandangan kepada guru tersebut.

"Baik."

Satu kata. Nada datar. Tidak ada tanda kegelisahan yang mudah dibaca.

Nakamura telah menangani banyak siswa selama bertahun-tahun. Ia mengenal anak-anak yang mencoba menyembunyikan kesalahan, murid yang menutupi masalah keluarga dengan sikap agresif, dan remaja yang memilih diam karena takut dianggap lemah.

Namun, Ren menghadirkan kesan berbeda.

Sikap tenangnya bukan seperti seorang siswa yang sengaja membangun pertahanan. Lebih menyerupai seseorang yang telah memutuskan sejak awal bahwa ia tidak akan memberikan bagian mana pun dari dirinya kepada orang yang belum sepenuhnya dipercaya.

Nakamura menggeser map biru ke tengah meja.

"Bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini? Maksud saya, sejak kembali bersekolah."

"Baik."

"Tidak ada keluhan fisik? Kesulitan mengikuti pelajaran? Masalah dengan teman sekelas?"

"Tidak ada yang berarti."

"Syukurlah."

Nakamura mengangguk, lalu menyatukan kedua tangannya di atas meja.

"Kalau begitu, saya ingin membicarakan sesuatu yang sedikit berbeda. Ini berkaitan dengan hubunganmu dengan Kanade."

Untuk pertama kalinya, ada perubahan kecil pada wajah Ren.

Bukan keterkejutan yang kentara. Hanya jeda singkat sebelum ia menjawab, sementara pandangannya menetap pada guru konseling itu sedikit lebih lama.

"Adik saya?"

"Ya."

Nakamura membuka map dan mengeluarkan beberapa lembar laporan.

"Beberapa guru menyampaikan pengamatan yang serupa. Mereka melihat bahwa kamu sangat memperhatikan Kanade. Kamu sering menemaninya, memastikan ia makan, dan datang menemuinya pada waktu istirahat. Itu tentu bukan sesuatu yang buruk. Kami justru senang melihat hubungan saudara yang dekat."

Ia berhenti sebentar, mencari susunan kata yang tidak akan terdengar seperti teguran.

"Akan tetapi, kami juga perlu memastikan bahwa perhatian tersebut tidak menjadi beban bagi kalian berdua."

Ren tidak menjawab.

Ia menatap lembar pertama yang didorong Nakamura ke hadapannya. Di sana tercantum catatan singkat dari seorang guru: Kisaragi Ren terlihat menunggu di depan kelas satu untuk menjemput adiknya sebelum jam makan siang.

Pada lembar berikutnya, terdapat laporan mengenai Ren yang mengantar Kanade menuju gedung administrasi setelah seorang siswi senior menghampirinya di koridor.

Laporan lain menyebutkan bahwa Ren tampak terus memperhatikan adiknya selama kegiatan istirahat.

Tidak satu pun catatan itu keliru.

Namun, tidak satu pun juga menceritakan keseluruhan kejadian.

Nakamura mengamati wajah Ren, berharap dapat menemukan celah untuk memulai percakapan yang lebih mendalam.

"Kisaragi, kamu baru saja melewati masa yang sangat berat. Kamu mengalami koma, kehilangan sebagian ingatan, dan harus menyesuaikan diri kembali dengan kehidupan sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, wajar jika seseorang mencari rasa aman dari orang yang paling dekat dengannya."

Ren menurunkan pandangannya ke atas meja.

"Kamu tidak perlu merasa bersalah karena membutuhkan dukungan," lanjut Nakamura. "Tetapi ada perbedaan antara saling mendukung dan merasa bahwa kamu harus selalu berada di sisi seseorang agar ia tetap aman."

Ruangan itu menjadi hening.

Di luar jendela, suara bola yang memantul di lapangan olahraga terdengar samar-samar. Seseorang berseru memanggil temannya, disusul tawa sekelompok siswa yang mungkin sedang bersiap mengikuti latihan klub.

Ren mendengarkan semuanya tanpa menunjukkan reaksi.

Nakamura melanjutkan dengan suara lebih lembut.

"Kanade juga sedang menjalani masa penyesuaian. Ia baru pindah ke sekolah ini, bertemu teman-teman baru, dan harus membangun kehidupannya sendiri. Ia membutuhkan kesempatan untuk bersosialisasi tanpa selalu bergantung pada kakaknya."

Ren mengangkat wajah.

"Anda menganggap Kanade bergantung pada saya?"

Pertanyaan itu disampaikan tanpa tekanan. Bahkan, nadanya nyaris terdengar seperti permintaan klarifikasi biasa.

Namun, Nakamura menyadari bahwa ia harus memilih jawabannya dengan hati-hati.

"Bukan begitu. Saya tidak mengatakan bahwa dia tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Justru sebaliknya. Saya ingin memastikan bahwa dia mendapatkan kesempatan untuk berkembang sebagai individu."

"Begitu."

Ren kembali diam.

Ia tidak membantah, tidak menyela, dan tidak menunjukkan kemarahan. Bagi Nakamura, sikap tersebut sempat tampak menjanjikan. Mungkin Ren hanya membutuhkan seseorang yang dapat membantunya melihat persoalan ini dari sudut pandang berbeda.

Karena itu, Nakamura memutuskan untuk berbicara lebih terus terang.

"Misalnya, kamu bisa mencoba memberinya ruang untuk makan siang bersama teman-teman sekelasnya. Kamu tidak harus selalu menjemputnya setiap kali jam istirahat tiba. Kamu juga tidak perlu mengawasinya sepanjang waktu."

Ia tersenyum tipis.

"Kanade berusia enam belas tahun. Pada usia itu, membangun pertemanan dan belajar mengambil keputusan sendiri merupakan bagian penting dari perkembangan emosionalnya."

Ren memandangnya beberapa saat.

Lalu ia bertanya, "Apakah Kanade pernah menyampaikan bahwa ia merasa terganggu dengan perhatian saya?"

Nakamura terdiam.

Pertanyaan itu tidak sulit dijawab, tetapi jawabannya justru membuat posisi Nakamura terasa kurang nyaman.

"Sejauh ini, tidak ada laporan seperti itu."

"Apakah ada guru yang melihatnya merasa tertekan ketika bersama saya?"

"Secara langsung, tidak."

"Apakah ada masalah akademis yang muncul akibat kebersamaan kami?"

Lihat selengkapnya