Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #17

Slip Lidah Sang Maid Legendaris

Jam istirahat sore di kelas 1-A Akademi Seiwa seharusnya menjadi waktu paling tenang bagi Miyauchi Mai.

Setidaknya, itulah yang ia harapkan ketika bel pelajaran terakhir berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu.

Cahaya matahari menembus jendela-jendela lebar di sisi timur kelas, membentuk petak-petak keemasan di atas lantai yang baru dibersihkan. Tirai putih bergerak pelan setiap kali angin masuk melalui celah jendela, membawa aroma rumput yang baru dipangkas dari lapangan sekolah. Sebagian siswa telah meninggalkan kelas untuk mengunjungi ruang klub, sementara yang lain berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, membicarakan pekerjaan rumah, acara akhir pekan, atau gosip terbaru yang beredar di antara para murid.

Suasananya hidup, tetapi tidak terlalu bising.

Bagi Mai, suara-suara itu terdengar seperti dengungan panjang yang semakin sulit dipisahkan satu sama lain.

Ia duduk di bangkunya dengan punggung sedikit membungkuk, kedua siku bertumpu pada meja, dan dagu hampir menyentuh telapak tangan. Buku matematika terbuka di hadapannya. Sebuah pensil mekanis tergeletak miring di antara dua halaman, sementara catatan yang dibuatnya selama pelajaran siang tadi berhenti di tengah persamaan yang bahkan tidak lagi diingatnya cara menyelesaikannya.

Matanya berkedip lambat.

Sekali.

Dua kali.

Kelopak matanya kembali turun sebelum ia sempat membaca baris berikutnya.

Mai tersentak dan buru-buru menegakkan badan.

"Ah!"

Pensil di atas mejanya bergulir jatuh, memantul sekali di lantai, lalu berhenti di dekat kaki kursi.

Beberapa siswa menoleh.

Mai segera tersenyum lebar sambil membungkuk untuk mengambilnya.

"Maaf! Tidak apa-apa, kok!"

Tidak ada yang bertanya apa-apa. Seorang siswi di bangku sebelah hanya mengangkat alis, lalu kembali berbicara dengan temannya.

Mai mengembuskan napas perlahan setelah perhatian mereka beralih.

Astaga. Sedikit lagi.

Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, berusaha mengusir kantuk yang terasa menempel di balik matanya. Kulit pipinya masih menyimpan kehangatan dari telapak tangannya, tetapi rasa lelah itu tidak juga menghilang.

Masalahnya bukan semata-mata karena ia tidur terlalu larut semalam.

Sejak pindah ke Akademi Seiwa, hari-harinya berubah menjadi rangkaian tugas yang seolah tidak menyediakan jeda. Pagi hari dimulai dengan menghafal materi sekolah yang belum sepenuhnya dikuasainya, dilanjutkan dengan pelajaran yang menuntutnya mempertahankan identitas Kanade di depan guru dan teman sekelas. Sepulang sekolah, ia harus kembali ke Kediaman Kisaragi, menjaga perilakunya agar sesuai dengan peran yang ditetapkan Saito, memenuhi ekspektasi keluarga, dan memastikan tidak ada kesalahan kecil yang dapat dilaporkan sebagai pelanggaran kontrak.

Bahkan senyum pun terkadang terasa seperti pekerjaan rumah.

Ada senyum yang harus ia gunakan ketika Reiko bertanya tentang sekolah. Ada ekspresi ceria yang harus dipertahankan ketika Ren mengajaknya berbicara. Ada cara tertentu untuk menundukkan kepala, memilih kata, dan mengatur intonasi agar ia tidak terlihat terlalu berbeda dari sosok Kanade yang hanya dikenalnya melalui foto dan beberapa potongan cerita.

Lalu, ketika malam tiba dan semua orang mengira ia sudah beristirahat, Mai masih harus memeriksa catatan pelajaran serta menghafal detail kehidupan palsunya.

Ia telah terbiasa bekerja keras jauh sebelum memasuki rumah keluarga Kisaragi. Namun, bekerja di kafe maid dan menyamar sebagai putri sebuah konglomerat ternyata membutuhkan dua jenis ketahanan yang sangat berbeda.

Di Akihabara, ia boleh menjadi Mei-chan selama pelayanannya berlangsung. Begitu jam kerja selesai, ia bisa melepas pita rambut, mengganti kostum, dan kembali menjadi Miyauchi Mai.

Di sini, tidak ada bel yang menandakan bahwa pekerjaannya telah selesai.

Nama Kanade tetap melekat padanya bahkan ketika ia sendirian di kamar.

Mai menatap halaman buku matematikanya sekali lagi.

Angka-angka itu tampak berbaris rapi, tetapi otaknya menolak bekerja sama.

"Kenapa integral harus serumit ini, sih..." gumamnya lirih.

Ia segera melirik sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar.

"Mai, jangan mengeluh. Kamu sudah melewati hal yang lebih sulit daripada ini."

Ia mengucapkannya dalam hati, menegakkan punggung, lalu mengambil pensilnya kembali.

"Baik. Kita lanjutkan."

Ia baru saja menulis satu angka ketika kepalanya kembali terangguk.

Kali ini, ia berhasil menahan diri agar tidak tertidur.

Tetapi kemenangan kecil itu tidak berlangsung lama.

"Kanade-chan?"

Sebuah suara perempuan terdengar dari samping mejanya.

Mai mengangkat wajah dengan gerakan yang sedikit terlambat.

Seorang siswi berambut sebahu berdiri di sana sambil memeluk dua buku tebal di depan dada. Pita seragamnya sedikit miring, dan beberapa helai rambut terlepas dari jepit yang menahannya di belakang telinga. Gadis itu adalah Akiyama Yuna, teman sekelas yang beberapa kali mengobrol dengan Mai sejak hari pertama kepindahannya.

Yuna dikenal ramah dan tidak banyak berpikir sebelum meminta bantuan. Ia bukan tipe siswa yang akan menginterogasi seseorang hanya karena mendengar satu kalimat aneh, tetapi juga bukan orang yang mudah melewatkan kesempatan untuk mengobrol.

"Kamu kelihatan capek banget," katanya sambil memiringkan kepala. "Kurang tidur?"

Mai berkedip, lalu segera memasang senyum.

"Ahaha... sedikit."

"Sedikit?"

Yuna menatap lingkaran samar di bawah mata Mai.

"Kamu yakin bukan sedikit sekali?"

"Yuna-chan, kejam sekali!"

Mai mengerucutkan bibir, berusaha terdengar manja seperti siswi seusianya yang sedang bercanda dengan teman dekat. Ia bahkan mengangkat kedua tangan di depan dada, seolah hendak memprotes tuduhan yang tidak berdasar.

Yuna tertawa.

"Maaf, maaf. Aku cuma bercanda."

Ia meletakkan satu buku di atas meja Mai, kemudian mengangkat buku kedua yang masih dipeluknya.

"Ngomong-ngomong, boleh minta tolong sebentar?"

Mai mengangguk secara otomatis.

"Tentu saja."

"Ini buku referensi yang tadi dipinjamkan guru bahasa Jepang. Aku harus mengembalikannya ke perpustakaan sebelum petugasnya menutup loket peminjaman. Tapi aku sudah janji mau menemui anak-anak klub musik di gedung sebelah."

Yuna menunjukkan buku yang dibawanya. Sampulnya berwarna biru tua, dengan label perpustakaan sekolah di bagian punggung.

"Kalau tidak merepotkan, bisakah kamu mengembalikan buku ini untukku? Perpustakaannya cuma di gedung utama, jadi tidak jauh."

Permintaan itu sederhana.

Tidak ada yang sulit, tidak ada risiko berarti, dan tidak ada alasan bagi Mai untuk menolak.

Ia bahkan sudah membuka mulut untuk menjawab.

Namun, pada saat yang sama, pikirannya seperti tersangkut di antara dua dunia.

Di hadapannya bukan Yuna, melainkan seorang pelanggan yang berdiri di depan meja kasir sebuah maid cafe, mengulurkan buku menu sambil tersenyum. Aroma kopi, suara lonceng pintu, musik latar yang ceria, dan panggilan pelanggan yang meminta pelayanan mendadak berkelebat dalam ingatannya.

Bayangan itu hanya berlangsung sepersekian detik.

Tetapi tubuh Mai bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

Ia berdiri.

Kedua tangannya terlipat rapi di depan rok seragam. Punggungnya menunduk dengan sudut yang sempurna, sementara senyum manis yang dahulu menjadi kebanggaannya di Akihabara muncul begitu saja di wajahnya.

"Omakase kudasai, Ojou-sama!"

Suaranya jernih, ceria, dan penuh semangat.

Bahkan, pada suku kata terakhir, ia sempat memberikan sedikit lengkungan nada yang begitu khas hingga siapa pun yang pernah mengunjungi maid cafe mungkin akan langsung mengenalinya.

Mai masih membungkuk ketika kata-kata itu selesai meluncur dari mulutnya.

Satu detik berlalu.

Dua detik.

Lalu, perlahan-lahan, ia menyadari bahwa sesuatu telah salah.

Bukan sekadar salah memilih kata.

Bukan pula salah memanggil Yuna dengan sebutan yang terlalu akrab.

Ia baru saja menggunakan jargon pelayanan maid cafe dengan intonasi seorang profesional di tengah kelas SMA elit yang dipenuhi siswa-siswi dari keluarga terhormat.

Dan ia melakukannya tanpa sedikit pun keraguan.

Mai mengangkat kepala.

Yuna berdiri dengan mulut sedikit terbuka, kedua buku masih terjepit di antara lengannya. Tatapannya terpaku pada Mai, seolah-olah ia baru saja menyaksikan seekor kucing berbicara menggunakan bahasa manusia.

Di bangku seberang, dua siswi yang sedang mengobrol berhenti tertawa.

Seorang murid laki-laki yang tengah memasukkan buku ke dalam tas menoleh dengan gerakan lambat.

Di dekat jendela, seseorang menurunkan botol minumnya tanpa menyadari bahwa tangannya masih memegang tutup botol.

Suara percakapan yang semula memenuhi kelas perlahan menghilang.

Bukan karena seseorang meminta mereka diam.

Melainkan karena semua orang mendengar kalimat yang sama, dengan nada yang sama, dan kini berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.

Mai merasakan darahnya surut dari wajah.

Senyumnya masih melekat di bibir selama sepersekian detik, tetapi otot-otot pipinya mulai bergetar ketika ia menyadari puluhan pasang mata sedang mengarah kepadanya.

Yuna adalah orang pertama yang bereaksi.

"...Ojou-sama?"

Suaranya kecil, penuh kebingungan.

Mai langsung menutup mulut dengan kedua tangan.

"Mm!"

Ia menggeleng keras.

Bukan. Bukan itu.

Ia harus mengatakan sesuatu.

Apa pun.

"Ma-maaf! Maksudku—"

Ia berhenti.

Apa maksudmu, Mai?!

Pikirannya mendadak kosong.

Ia bisa mengatakan bahwa ia sedang bercanda, tetapi tidak ada seorang pun yang memberinya alasan untuk melontarkan lelucon seperti itu. Ia bisa berpura-pura mengutip anime, tetapi ia tidak tahu apakah ada anime yang menggunakan ungkapan tersebut dengan cara yang sama. Ia bisa mengaku bahwa ia sedang mengantuk, tetapi mengapa kantuk membuatnya berbicara seperti pegawai maid cafe?

Dan yang paling buruk, ia tidak hanya mengucapkannya.

Ia melakukannya dengan sangat lancar.

Seolah-olah kalimat itu telah terpatri di dalam otot-ototnya, menunggu kesempatan untuk keluar.

Yuna menatapnya dengan rasa ingin tahu yang semakin besar.

"Kanade-chan... kamu tadi bilang apa?"

Mai merapatkan kedua tangan di depan mulutnya.

"A-aku..."

Suaranya terdengar begitu kecil hingga nyaris tidak keluar.

"Aku cuma..."

Ia mencari-cari alasan di dalam kepalanya, tetapi setiap kemungkinan yang muncul terasa semakin buruk daripada sebelumnya.

Seseorang di belakang kelas terkekeh.

"Eh, lucu juga."

"Dia memanggil Yuna dengan Ojou-sama?"

"Mungkin dia suka anime?"

Lihat selengkapnya