Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #18

Pulang ke Sangkar Megah

Senja merayap di antara gedung-gedung tinggi ketika limosin hitam keluarga Kisaragi meluncur meninggalkan kawasan Akademi Seiwa. Cahaya matahari yang mulai condong menyelinap melalui jendela-jendela besar, mewarnai jok kulit berwarna krem dengan semburat jingga. Di luar, jalanan masih dipenuhi kehidupan: para siswa berseragam berjalan berkelompok menuju stasiun, pedagang kaki lima mulai menyalakan lampu gerobak, dan suara bel sepeda sesekali terdengar di antara deru kendaraan.

Mai duduk di samping Ren dengan tas sekolah terletak di pangkuan. Dasi seragamnya sedikit longgar, sementara beberapa helai rambut yang lolos dari ikatan mulai menempel di pipinya. Sejak meninggalkan gerbang Seiwa, ia belum benar-benar mengendurkan otot-otot bahunya. Seharian penuh ia harus mengingat nama guru, menyesuaikan diri dengan teman sekelas, mengerjakan tugas, menjaga perilaku agar sesuai dengan citra Kisaragi Kanade, dan memastikan tidak ada seorang pun yang menghubungkan wajahnya dengan Mei-chan dari Akihabara.

Rasanya seperti bekerja dalam dua sif sekaligus tanpa kesempatan berganti pakaian.

Namun, untuk pertama kalinya sejak jam pelajaran terakhir berakhir, tidak ada tatapan curiga yang mengarah kepadanya. Tidak ada Haruki dan Tetsuya yang berbisik-bisik di sudut kelas sambil menyusun teori penculikan absurd. Tidak ada siswi senior yang memandangnya seolah-olah ia baru saja mencuri harta paling berharga milik mereka.

Hanya ada Ren, suara mesin mobil yang halus, dan sisa cahaya sore yang menghangatkan wajah mereka.

Ren meliriknya dari balik buku yang sejak tadi terbuka di atas lututnya. Ia memperhatikan bagaimana Mai beberapa kali menguap kecil, lalu buru-buru menutup mulut dengan punggung tangan seolah-olah melakukan sesuatu yang tidak pantas di hadapan seorang pewaris konglomerat.

“Kau mengantuk?”

“Tidak!” jawab Mai terlalu cepat.

Ren mengangkat alis.

Mai terdiam, kemudian mengembuskan napas melalui hidung. “...Sedikit.”

“Sedikit yang seperti apa?”

“Sedikit yang kalau ada tempat tidur di depan mata, mungkin aku akan langsung memeluknya dan tidak melepaskannya sampai besok pagi.”

Sudut bibir Ren bergerak naik.

Mai menyadari ekspresinya, lalu buru-buru duduk lebih tegak. “A-Ah, maksudku, Kanade tentu tidak akan melakukan hal seperti itu! Seorang putri keluarga Kisaragi harus menjaga sikap, bahkan ketika mengantuk!”

“Benarkah?” Ren menutup bukunya. “Kupikir seorang putri keluarga Kisaragi boleh tidur kalau memang mengantuk.”

“Tidak boleh sembarangan! Ada tata krama, etiket, dan—”

“Dan?”

Mai membuka mulut. Tidak ada kelanjutan yang keluar.

Ren menatapnya dengan keseriusan yang terlalu sempurna untuk seseorang yang jelas-jelas sedang menahan tawa. “Aku ingin mengetahui aturan lengkapnya. Siapa tahu selama ini aku sudah melakukan banyak kesalahan.”

“Jangan menggodaku, Onii-chan!”

Kata-kata itu meluncur dengan nada manja yang sudah begitu akrab baginya. Namun, setelah mengucapkannya, Mai menyadari sesuatu yang lebih memalukan daripada sapaan tersebut: ia telah mengatakannya tanpa perlu memikirkan bagaimana mengatur intonasi.

Ren tertawa pelan.

Bukan senyum tipis yang biasa ia tunjukkan ketika seseorang mengatakan sesuatu yang dianggapnya menarik. Bukan pula tawa sopan yang terdengar sekadar untuk menjaga percakapan. Kali ini, suara itu benar-benar keluar dari dadanya, ringan dan spontan, membuat garis tegang di sekitar matanya menghilang untuk beberapa detik.

Mai menoleh kepadanya. Kemudian, meski berusaha mempertahankan wajah kesal, ia ikut terkekeh.

“Lihat? Onii-chan sendiri yang memulainya.”

“Aku hanya bertanya.”

“Dengan wajah seperti penjahat yang sedang menginterogasi saksi!”

“Apakah wajahku separah itu?”

“Lebih parah!”

Ren menyentuh dagunya, berpura-pura mempertimbangkan jawaban tersebut. “Kalau begitu, mungkin aku harus meminta maaf kepada semua saksi yang pernah kuinterogasi.”

“Kau bahkan belum pernah menginterogasi siapa-siapa!”

“Sayang sekali. Aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan.”

Mai menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Ya ampun, Onii-chan ternyata jahat sekali!”

Tawa mereka kembali pecah, kali ini lebih lepas. Sopir di depan tetap memandang jalan dengan profesional, seolah-olah tidak mendengar apa pun dari balik sekat kabin. Namun, dari pantulan kaca spion, Mai sempat menangkap perubahan kecil pada wajahnya: ketegangan di sekitar matanya melunak.

Untuk sesaat, perjalanan pulang itu terasa seperti perjalanan dua orang biasa.

Mai membiarkan kepalanya bersandar pada jok. Ia memandangi Ren yang kembali tersenyum, lalu menunduk untuk menyembunyikan senyum kecilnya sendiri. Ada kehangatan yang merambat di dadanya, sederhana tetapi sulit diabaikan. Setelah seharian mempertahankan kebohongan, ia akhirnya bisa tertawa tanpa menghitung terlebih dahulu apakah reaksinya sesuai dengan karakter yang harus dimainkan.

Lalu Ren berkata, “Ngomong-ngomong, penjelasanku tadi cukup meyakinkan, bukan?”

Mai berkedip. “Penjelasan yang mana?”

“Yang tentang anime maid.”

Senyumnya seketika menghilang.

“Oh.”

Ingatan mengenai kejadian di kelas kembali menyergapnya. Perpustakaan. Buku referensi. Yuna yang meminta bantuan. Dan mulutnya sendiri yang, karena kelelahan, secara refleks mengeluarkan kalimat yang seharusnya sudah terkubur bersama masa lalunya.

Omakase kudasai, Ojou-sama!

Mai meremas tali tas sekolahnya.

“Jangan mengingatkanku,” gumamnya. “Aku sudah cukup ingin mengubur diriku sendiri di bawah lantai kelas.”

“Tetapi teman-temanmu tidak terlihat curiga.”

“Mereka justru mungkin mengira aku penggemar berat anime maid!”

“Bukankah itu lebih baik daripada mereka mengetahui kebenarannya?”

Mai menghela napas panjang. “Aku tahu. Aku tahu, Onii-chan. Kau sudah menyelamatkanku. Aku berterima kasih.”

Ren memiringkan kepala. “Kau terdengar seperti sedang meminta maaf karena berterima kasih.”

“Karena aku memang merepotkanmu.”

“Tidak.”

Jawaban itu datang begitu cepat sehingga Mai mengangkat wajah.

Ren menatapnya dengan tenang. Tidak ada nada bercanda dalam suaranya sekarang.

“Kau hanya melakukan kesalahan kecil karena kelelahan. Itu bukan alasan untuk menganggap dirimu merepotkan.”

Jari Mai berhenti bergerak di atas tali tasnya.

Ia ingin menjawab dengan ringan, melemparkan satu lelucon lagi agar percakapan tidak menjadi terlalu serius. Namun, kalimat Ren menyentuh sesuatu yang selama ini berusaha ia sembunyikan. Sejak menerima kontrak itu, setiap kesalahan selalu terasa seperti ancaman. Satu intonasi yang keliru bisa menjadi bahan evaluasi Saito. Satu gerakan yang tidak sesuai bisa menimbulkan kecurigaan. Satu kegagalan dapat berubah menjadi angka denda yang tidak mungkin ia bayar.

Ia sudah terbiasa menganggap dirinya sebagai sumber masalah yang harus segera diperbaiki.

“Kalau aku terus membuat kesalahan,” katanya pelan, “suatu hari nanti orang-orang mungkin akan mengetahui bahwa aku tidak seperti yang mereka kira.”

Ren tidak langsung menjawab.

Di luar jendela, deretan toko mulai berganti menjadi pagar-pagar tinggi dan kompleks perumahan yang lebih lengang. Cahaya sore memudar di permukaan kaca, meninggalkan pantulan wajah mereka sendiri di dalam kabin.

“Kalau begitu,” ujar Ren akhirnya, “kita hadapi ketika itu terjadi.”

Mai menoleh kepadanya.

Ren mengatakannya seolah-olah persoalan tersebut sesederhana memilih menu makan malam. Ia tidak menawarkan jaminan muluk-muluk, tidak pula berjanji bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Ia hanya berbicara dengan ketenangan seseorang yang bersedia berdiri di tempat yang sama ketika masalah datang.

“Jangan terlalu jauh memikirkan sesuatu yang belum terjadi,” lanjutnya. “Kau sudah melewati hari ini. Itu cukup untuk sekarang.”

Mai menunduk. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.

Kalau kau tahu siapa aku sebenarnya, apakah kau masih akan mengatakan hal yang sama?

Pertanyaan itu muncul begitu saja, tajam dan menyakitkan.

Ia ingin mempercayai Ren. Ingin membiarkan kata-katanya menjadi tempat beristirahat, walau hanya sebentar. Tetapi di antara mereka terbentang nama yang bukan miliknya, riwayat hidup yang dicuri, dan kontrak yang menghitung hari-hari kedekatan mereka seolah-olah perasaan pun dapat diukur dalam satuan waktu.

Mai memaksakan senyum kecil.

“Baiklah, Onii-chan. Untuk sekarang, aku akan memikirkan makan malam saja.”

Ren mengangguk, puas dengan jawaban itu.

“Bagus. Kau ingin makan apa?”

“Yang banyak.”

“Itu bukan nama makanan.”

“Kalau begitu, nasi, daging, sup, dan makanan penutup.”

“Bukankah itu empat jenis makanan?”

“Seorang adik yang lelah membutuhkan dukungan nutrisi.”

Ren kembali tertawa.

Mai ikut tertawa, kali ini sedikit lebih hati-hati. Ia ingin menyimpan suara itu di dalam ingatannya, sebagai sesuatu yang benar-benar miliknya. Sesuatu yang tidak diberikan oleh Saito, tidak tertulis dalam berkas Kisaragi Kanade, dan tidak bisa diambil begitu saja oleh siapa pun yang memegang salinan kontraknya.

Namun, di kejauhan, pagar besi kediaman Kisaragi mulai terlihat.

Dan senja yang hangat perlahan menghilang dari jendela mobil.

Gerbang itu berdiri seperti dinding sebuah benteng.

Dua daun besi hitam menjulang di antara pilar-pilar batu pucat, dihiasi lambang keluarga Kisaragi yang berkilau samar di bawah lampu taman. Kamera pengawas terpasang di sudut-sudut strategis, sementara seorang petugas keamanan berdiri di pos kecil di sisi kanan jalan masuk. Begitu limosin mendekat, ia mengangkat tangan untuk memberi isyarat. Mekanisme otomatis segera menggerakkan kedua daun gerbang, membuka jalan tanpa suara yang berarti.

Mobil melintas melewati ambang besi.

Tidak ada yang berubah secara mendadak pada suhu udara, tetapi Mai merasakan tubuhnya menegang sebelum kendaraan itu bahkan mencapai halaman utama.

Tawanya berhenti.

Jari-jarinya, yang beberapa saat sebelumnya sibuk memainkan ujung pita rambut, kini terlipat rapat di atas pangkuan. Punggungnya kembali tegak. Bahunya yang sempat merosot karena kelelahan terangkat sedikit, sementara senyum yang tadi menghiasi wajahnya menghilang seolah-olah seseorang telah menghapusnya dengan satu gerakan.

Ia mengenali perubahan itu.

Tubuhnya telah belajar lebih cepat daripada pikirannya.

Di dalam mobil, ia boleh menjadi gadis enam belas tahun yang tertawa bersama seseorang yang disukainya. Begitu melewati gerbang ini, ia harus kembali menjadi Kisaragi Kanade—putri keluarga terpandang yang tidak boleh memperlihatkan kelemahan, tidak boleh salah bicara, dan tidak boleh melupakan siapa yang mengawasinya.

Di sampingnya, Ren juga berubah.

Pemuda yang beberapa saat lalu menggodanya dengan wajah jahil itu kembali memandang lurus ke depan. Tangannya diletakkan di atas lutut, jari-jarinya diam. Senyum di bibirnya lenyap, digantikan ekspresi tenang yang nyaris tanpa cela. Ia tidak tampak terkejut atau marah. Justru ketenangan itulah yang membuat perubahan tersebut terasa lebih menyedihkan.

Seolah-olah ada bagian dirinya yang otomatis mematikan semua hal yang baru saja tumbuh.

Mai meliriknya diam-diam.

“Onii-chan?” panggilnya lirih.

Ren menoleh. “Ya?”

“Kau baik-baik saja?”

Ia terdiam sesaat sebelum mengangguk. “Tentu.”

Jawaban yang terlalu cepat.

Mai ingin bertanya lebih jauh, tetapi mobil telah berbelok menuju tangga depan. Bangunan utama kediaman Kisaragi berdiri megah di balik taman yang dipangkas sempurna. Dinding batu berwarna kelabu pucat memantulkan cahaya lampu luar, sementara jendela-jendela tinggi tampak seperti bidang kaca gelap yang tidak memperlihatkan apa pun dari dalam. Deretan semak dibentuk dengan presisi, tidak ada daun yang mencuat melewati garis pemangkasan. Bahkan air mancur di tengah halaman seolah-olah mengalir mengikuti aturan tertentu.

Semuanya indah.

Semuanya mahal.

Dan entah mengapa, tidak satu pun terlihat hidup.

Ketika limosin berhenti, seorang pengawal bergegas membukakan pintu. Udara petang yang dingin menyentuh pipi Mai saat ia turun. Aroma rumput basah bercampur wangi bunga dari taman menyusup ke hidungnya, tetapi tidak mampu mengusir perasaan sesak yang mulai merambat di dada.

Di depan pintu utama, para pelayan telah berbaris.

Mereka berdiri dengan jarak yang seragam, mengenakan pakaian kerja yang rapi dan bersih. Para pelayan perempuan menundukkan kepala dengan sudut yang nyaris sama, sementara para staf laki-laki berdiri tegak dengan kedua tangan di depan tubuh. Wajah mereka tenang, senyum mereka tipis, dan pandangan mereka terarah pada tempat yang telah ditentukan.

Tidak ada yang berlari menyambut Ren karena merindukannya.

Lihat selengkapnya