Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #19

Melodi Suara TV dan Pelukan Hangat

Malam telah menyelimuti kediaman Kisaragi dengan keheningan yang nyaris sempurna. Di balik jendela-jendela tinggi ruang televisi, taman yang tertata rapi tampak seperti lukisan gelap, hanya diterangi lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak. Sesekali, bayangan dedaunan bergerak tertiup angin, menyapu permukaan kaca seperti jemari yang hendak mengetuk dari luar.

Di dalam ruangan, cahaya kebiruan dari televisi menyinari sofa panjang berlapis kulit. Sebuah jam dinding berdetak pelan di dekat rak buku, sementara pendingin udara mengembuskan hawa sejuk yang membuat tirai tipis di sisi jendela bergerak hampir tak terlihat. Di atas meja rendah, dua cangkir teh telah kehilangan sebagian besar uapnya. Piring kecil berisi biskuit yang disediakan pelayan sejak makan malam masih terletak rapi, hanya menyisakan beberapa remah di sudutnya.

Mai duduk di sisi kiri sofa, kedua kakinya terlipat rapi ke samping. Ia telah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumah berwarna krem muda, meskipun pita merah muda buatan Ren masih terpasang di rambutnya. Ujung pita itu sedikit kusut setelah seharian beraktivitas, tetapi Mai belum berniat melepasnya.

Di sebelahnya, Ren duduk bersandar dengan sebuah bantal kecil di belakang punggung. Ia juga telah berganti pakaian menjadi kemeja rumah berwarna gelap dan celana panjang yang nyaman. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan di bagian depan, memberikan kesan lebih muda daripada sosok pewaris konglomerat yang biasa dilihat orang-orang di luar rumah.

Televisi menayangkan berita malam. Pembawa berita perempuan dengan suara tenang membacakan laporan mengenai perkembangan ekonomi, kemacetan di pusat kota, dan sejumlah kegiatan kebudayaan yang berlangsung di Tokyo.

Mai memegang cangkir tehnya dengan kedua tangan.

“Ah, akhirnya hari ini selesai juga,” gumamnya.

Ren meliriknya. “Kau terdengar seperti baru menyelesaikan ujian nasional.”

“Rasanya lebih buruk daripada ujian nasional.”

“Benarkah?”

“Tentu saja.” Mai menoleh dengan ekspresi serius. “Kalau ujian nasional, aku hanya perlu menjawab soal. Hari ini aku harus menjawab soal, mengingat nama guru, mengingat jadwal pelajaran, mengingat nama teman sekelas, menjaga sikap, menjaga intonasi, dan memastikan tidak mengucapkan sesuatu yang membuatku ingin menghilang dari muka bumi.”

Ren mengangkat cangkirnya, menyembunyikan senyum di balik bibir porselen.

“Sepertinya kau memang membutuhkan ujian khusus.”

“Ujian apa?”

“Ujian ketahanan menghadapi kehidupan sekolah.”

Mai mengerjap dua kali sebelum menyadari bahwa Ren sedang menggodanya lagi.

“Onii-chan!”

“Apa?”

“Jangan-jangan selama ini kau diam-diam menikmati penderitaanku!”

“Tidak. Aku hanya berpikir kau cukup tangguh untuk melewatinya.”

Jawaban itu membuat Mai kehilangan kata-kata selama sesaat.

Ren mengatakannya tanpa nada bercanda. Matanya masih tertuju pada televisi, seolah-olah ia hanya menyampaikan sebuah kesimpulan sederhana. Namun, Mai mendapati dirinya kembali memperhatikan profil wajah pemuda itu, khususnya garis rahangnya yang terlihat lebih lembut di bawah cahaya televisi.

Ia menunduk, pura-pura sibuk meletakkan cangkir di atas tatakan.

“Kalau Onii-chan terus memujiku seperti itu, nanti aku bisa menjadi sombong.”

“Kalau begitu, aku akan memujimu secukupnya.”

“Berapa banyak yang disebut secukupnya?”

Ren berpikir sejenak. “Satu pujian setiap hari.”

“Sedikit sekali!”

“Dua?”

“Masih sedikit!”

“Tiga?”

Mai mengangkat tiga jari di hadapannya dengan penuh kemenangan. “Sepakat!”

Ren tertawa kecil.

Mai ikut tertawa, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. Untuk beberapa menit, mereka membiarkan percakapan berhenti dan menikmati siaran berita yang berganti dari satu topik ke topik lainnya. Kehangatan kecil itu terasa semakin berharga justru karena mereka tidak perlu melakukan apa-apa untuk mendapatkannya. Tidak ada laporan yang harus diserahkan, tidak ada pertanyaan yang harus dijawab, dan tidak ada tuntutan agar mereka menjadi sempurna.

Setidaknya, untuk saat itu.

“Besok,” kata Ren tiba-tiba, “kau ada kegiatan setelah sekolah?”

Mai menoleh. “Sepertinya tidak. Kenapa?”

“Aku berpikir untuk belajar di perpustakaan bersama Kenji. Dia bilang ada beberapa materi yang harus kami kejar.”

“Kenji-san?” Mai mengerutkan hidung. “Belajar bersama? Apakah dia sedang sakit?”

Ren mengeluarkan suara geli.

“Dia juga mengatakan hal yang sama tentang dirinya sendiri.”

“Kalau begitu, aku harap perpustakaannya selamat.”

“Kenji tidak seburuk itu.”

“Onii-chan, dia pernah mengatakan bahwa otaknya bekerja lebih baik ketika ada makanan di dekatnya.”

“Itu mungkin benar.”

Mai menatap Ren dengan mulut sedikit terbuka, lalu menggelengkan kepala dengan dramatis.

“Luar biasa. Persahabatan kalian benar-benar dibangun di atas fondasi yang mengkhawatirkan.”

Ren hendak menjawab ketika pembawa berita di layar mengubah nada suaranya.

“Selanjutnya, kita akan beralih ke dunia musik klasik. Festival Musik Musim Gugur Tokyo kembali diselenggarakan tahun ini, menghadirkan sejumlah musisi muda berbakat dari dalam dan luar negeri. Salah satu penampilan yang paling dinantikan adalah konser biola solo yang akan berlangsung akhir pekan ini—”

Mai tidak terlalu memperhatikan pada awalnya. Ia sedang mengambil satu biskuit dari piring ketika gambar di televisi berubah menjadi sebuah gedung konser dengan langit-langit tinggi dan lampu kristal yang memancarkan cahaya keemasan.

Kamera menyorot panggung.

Seorang pemain biola berdiri di tengahnya, mengenakan pakaian hitam formal. Di bawah cahaya lampu, permukaan biola cokelat kemerahan itu berkilau. Penonton memenuhi kursi-kursi di belakangnya, menunggu dengan tenang ketika sang musisi mengangkat instrumennya ke bahu.

Pembawa berita melanjutkan penjelasan mengenai repertoar konser.

Lalu terdengar bunyi gesekan pertama.

Satu nada panjang, tipis, dan jernih.

Suara itu mengalir memenuhi ruang televisi.

Dan sesuatu dalam diri Ren mendadak berhenti.

Awalnya, Mai hanya menyadari bahwa Ren tidak lagi bergerak.

Cangkir di tangan pemuda itu tertahan beberapa sentimeter dari meja. Bahunya mengeras. Matanya terpaku pada layar televisi, tetapi tatapannya tidak lagi tampak mengikuti gambar yang sedang ditayangkan.

“...Onii-chan?”

Tidak ada jawaban.

Nada biola kedua terdengar, menyambung nada pertama dengan lengkungan melodi yang lembut. Bagi kebanyakan orang, suara itu mungkin terdengar indah—sebuah alunan klasik yang tenang, dimainkan dengan teknik yang sempurna.

Namun, wajah Ren berubah pucat.

Cangkir di tangannya bergetar. Sedikit teh tumpah ke tatakan, membasahi permukaan kayu meja. Ren seolah-olah tidak menyadarinya. Jemarinya justru mengencang di sekitar gagang cangkir sampai buku-buku jarinya memutih.

“Ren?”

Mai langsung menoleh sepenuhnya kepadanya.

Pemuda itu menarik napas.

Pendek.

Tertahan.

Ia mencoba menarik napas lagi, tetapi udara yang masuk ke paru-parunya terasa tidak cukup. Dadanya bergerak lebih cepat, sementara tenggorokannya seakan menyempit. Ia menurunkan cangkir dengan gerakan kaku, tetapi bagian bawahnya membentur meja hingga menimbulkan bunyi kecil.

Tik.

Ren tersentak mendengar suara itu.

“...Tidak.”

Kata tersebut keluar nyaris tanpa suara.

Mai membeku.

Di televisi, kamera menyorot jari-jari sang pemain biola yang bergerak lincah di sepanjang papan jari. Busur meluncur di atas senar, menghasilkan melodi yang semakin kaya. Pembawa berita menyebut nama sang musisi, tetapi suaranya tenggelam di antara alunan instrumen yang memenuhi ruangan.

Ren menundukkan kepala.

Tangan kanannya terangkat, mencengkeram sisi kepalanya. Jemarinya menyusup ke rambut, menarik beberapa helai dengan gerakan putus asa seolah-olah ia berusaha menahan sesuatu agar tidak keluar.

“Berhenti...” bisiknya.

Mai meletakkan biskuit yang belum sempat dimakan.

“Onii-chan?”

Ren tidak menoleh. Napasnya semakin cepat, terdengar kasar di sela-sela giginya. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya, membentuk butiran kecil yang mengalir melewati sisi wajah. Bahunya naik turun dengan ritme yang tidak teratur.

“Berhenti... jangan...”

Suaranya berubah.

Bukan lagi suara tenang pemuda yang beberapa menit lalu menggodanya tentang ujian sekolah. Ada kepanikan mentah di sana, ketakutan yang tidak memiliki bentuk jelas, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih dekat daripada layar televisi.

Mai segera meraih remote yang terletak di meja.

Ia menekan tombol daya.

Layar menjadi hitam.

Suara biola lenyap.

Namun, tubuh Ren tidak langsung kembali tenang.

Ia masih mencengkeram kepalanya, kedua matanya terpejam rapat. Napasnya tersengal, dan otot-otot di lehernya menegang begitu kuat hingga Mai bisa melihat garis-garisnya di bawah kulit.

“Tidak... tidak, aku tidak mau...”

Ren menggelengkan kepala.

“Jangan paksa aku...”

Kalimat itu membuat jantung Mai serasa terhantam sesuatu.

Ia tidak tahu kepada siapa Ren sedang berbicara. Tidak tahu apa yang sedang dilihatnya di balik kelopak mata yang tertutup. Tetapi nada suaranya bukanlah nada seseorang yang sekadar terkejut oleh suara keras. Ada penderitaan yang lebih tua di sana, sesuatu yang seolah-olah telah berdiam lama di dalam dirinya dan kini menemukan celah untuk kembali ke permukaan.

Mai bergeser mendekat.

“Onii-chan, dengarkan aku. Televisinya sudah mati. Suaranya sudah tidak ada.”

Ren tidak merespons.

Tangannya berpindah dari sisi kepala ke bagian depan rambut, mencengkeramnya semakin erat. Dahinya berkerut dalam. Napasnya tersendat ketika ia berusaha menarik udara lebih banyak, tetapi setiap tarikan justru terdengar semakin pendek.

“Aku... aku tidak bisa...”

“Tidak apa-apa. Pelan-pelan.”

Mai mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh bahunya.

Ia teringat pesan dokter mengenai kondisi Ren. Tubuh pemuda itu masih dalam pemulihan, sementara kondisi psikologisnya membutuhkan perhatian. Ia juga teringat bagaimana keluarga Kisaragi selalu menekankan agar dirinya tidak mengambil tindakan di luar instruksi, terutama ketika menyangkut kestabilan emosi Ren.

Namun, apa yang harus dilakukannya sekarang?

Memanggil pelayan?

Menekan tombol darurat?

Mencari Saito, yang mungkin akan datang dengan catatan evaluasi dan pertanyaan mengenai pemicu kejadian?

Semua pilihan itu melintas begitu cepat di benaknya, tetapi tidak satu pun terasa cukup dekat untuk menjangkau Ren yang sedang membungkuk di hadapannya.

Ia melihat tangan Ren gemetar.

Melihat bagaimana pemuda itu berusaha menarik napas tetapi gagal mendapatkan ketenangan.

Melihat keringat yang membasahi dahinya dan ekspresi kesakitan yang tidak pernah ia tunjukkan ketika berusaha berjalan sendiri di taman atau ketika menjalani pemeriksaan dokter.

Mai tidak bisa terus berdiri sambil mempertimbangkan prosedur.

“Onii-chan, ini aku.”

Suaranya melembut.

“Kanade ada di sini.”

Ren menggeleng lebih keras.

“Tidak...”

“Aku di sini. Kau tidak sendirian.”

“Aku tidak mau mendengarnya lagi...”

Kalimat itu pecah di tengah napasnya.

Mai merasa dadanya ikut sesak.

Selama beberapa detik, ia hanya bisa memandang Ren, mencoba menahan rasa takut yang mulai merambat ke ujung-ujung jarinya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam kepala pemuda itu. Tidak tahu apakah suara biola telah membangkitkan ingatan tertentu atau hanya memicu ketakutan yang tidak dapat ia pahami.

Namun, ia tahu satu hal.

Ren sedang kesakitan.

Dan saat ini, ia membutuhkan seseorang yang tidak akan menyuruhnya berhenti merasakan apa yang sedang ia rasakan.

Mai bergerak mendekat.

“Onii-chan, boleh aku mendekat?”

Tidak ada jawaban yang jelas. Ren masih membungkuk, napasnya berantakan. Namun, ketika Mai mengulurkan tangan dengan hati-hati, pemuda itu tidak menjauh.

Mai menurunkan tubuhnya hingga duduk berlutut di atas karpet di hadapannya.

“Lihat aku kalau kau bisa,” bisiknya. “Tidak perlu memaksakan diri. Dengarkan suaraku saja.”

Ren mengangkat wajah sedikit.

Matanya terbuka, tetapi pandangannya tampak kehilangan arah. Ia menatap Mai seolah-olah sedang berusaha mengenali sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat ia pahami.

Ada ketakutan di sana.

Ketakutan yang begitu telanjang hingga Mai merasa seolah-olah ia sedang melihat seorang anak kecil yang tersesat di tengah ruangan asing.

“Onii-chan...” Suara Mai bergetar. Ia segera menarik napas untuk menstabilkannya. “Tidak ada yang akan memaksamu melakukan apa pun sekarang.”

Bibir Ren bergerak, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Lihat selengkapnya