Pagi di Akademi Seiwa selalu dimulai dengan suara-suara yang terdengar terlalu teratur untuk disebut kebetulan. Sepatu kulit beradu dengan lantai koridor yang mengilap, pintu-pintu kelas dibuka dan ditutup, sementara percakapan para siswa mengalir di antara deretan jendela besar yang memantulkan cahaya matahari musim gugur. Di halaman depan, beberapa kelompok siswa masih berkumpul sambil membicarakan tugas, kegiatan klub, atau rencana akhir pekan. Sesekali terdengar tawa nyaring yang segera tenggelam dalam hiruk-pikuk pagi.
Namun, bagi Miyauchi Mai, kebisingan itu tidak lagi terdengar seperti kehidupan sekolah yang biasa.
Sejak insiden salah ucap di kelas beberapa hari sebelumnya, ia merasa seolah-olah ada sepasang mata yang terus mengikuti setiap langkahnya. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu tertangkap ketika ia menoleh. Hanya berupa bisikan yang mendadak berhenti ketika ia mendekat, tatapan yang terlalu lama melekat pada wajahnya, atau percakapan yang berubah arah secara mencurigakan begitu namanya disebut.
Awalnya Mai menganggap semua itu sekadar perasaannya sendiri. Ia sudah terlalu lelah menjalani dua kehidupan sekaligus. Setiap hari, ia harus menghafal kebiasaan Kisaragi Kanade yang bahkan tidak pernah benar-benar dikenalnya, mempertahankan nilai akademis yang sesuai dengan berkas palsu pemberian Saito, dan mengawasi Ren tanpa membiarkan pengawasan itu terlihat seperti pekerjaan.
Akan tetapi, pagi ini, ketika ia berjalan melewati koridor lantai dua menuju perpustakaan, ia mendengar sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
“Pokoknya, aku yakin ada hubungannya.”
Suara seorang siswa laki-laki terdengar dari balik pintu perpustakaan yang belum tertutup sempurna.
“Hubungan apaan lagi, Haruki? Kau sudah mengatakan hal yang sama sejak kemarin.”
“Karena tidak ada yang mau melihat bukti-buktinya dengan serius!”
Mai mengerjapkan mata.
Haruki?
Nama itu langsung mengingatkannya pada seorang siswa bertubuh tinggi dan kurus dengan ekspresi yang selalu tampak bersemangat, terutama setiap kali membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan budaya pop Jepang. Bersama Tetsuya, siswa berkacamata bulat yang selalu membawa buku catatan kecil, Haruki merupakan salah satu teman sekelasnya yang belakangan ini terlalu sering mengamati dirinya.
Mai memperlambat langkah.
Pintu perpustakaan terbuka sedikit lebih lebar ketika seorang siswa keluar sambil membawa tumpukan buku. Setelah siswa itu berlalu, ruangan kembali sunyi. Aroma kertas, kayu tua, dan pendingin udara menyambut Mai begitu ia memasuki perpustakaan lantai dua.
Ruangan itu merupakan salah satu tempat paling tenang di Akademi Seiwa. Rak-rak kayu berwarna cokelat tua berdiri tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit, membentuk lorong-lorong sempit yang hanya diterangi cahaya matahari dari jendela-jendela tinggi di sisi timur. Di dekat meja peminjaman, seorang pustakawan sedang merapikan kartu katalog. Beberapa siswa duduk berjauhan, tenggelam dalam buku masing-masing.
Mai sebenarnya datang untuk mengembalikan buku referensi yang dipinjamnya. Ia juga berharap dapat memanfaatkan waktu sebelum pelajaran pertama untuk menyelesaikan catatan yang belum sempat dirapikannya malam tadi.
Tetapi suara dari sudut rak bagian sastra membuat rencana itu mendadak kehilangan prioritas.
“Dengar, Tetsuya. Ada tiga hal yang harus kita perhatikan,” kata Haruki dengan nada serius yang tidak sesuai dengan topik pembicaraannya. “Pertama, Kanade Kisaragi punya wajah yang sangat mirip dengan Mei-chan. Kedua, Kisaragi Ren selalu muncul setiap kali ada sesuatu yang berpotensi membongkar kebiasaan aneh adiknya. Ketiga, insiden maid anime itu jelas bukan sesuatu yang normal.”
“Dia hanya salah bicara.”
“Tidak ada manusia biasa yang menjawab permintaan mengembalikan buku dengan, ‘Omakase kudasai, Ojou-sama!’ menggunakan intonasi pelayanan profesional!”
Mai nyaris menjatuhkan buku di tangannya.
Ya ampun. Kalian masih membicarakan itu?!
Ia menggigit bagian dalam pipinya, menahan dorongan untuk berbalik dan meninggalkan perpustakaan secepat mungkin. Sayangnya, rasa takut bahwa mereka mungkin benar-benar mengetahui identitasnya membuat kakinya justru terpaku di tempat.
“Kalau begitu, apa kesimpulanmu?” tanya Tetsuya.
Haruki menarik napas panjang. Ketika berbicara lagi, suaranya turun menjadi bisikan penuh kesungguhan.
“Mei-chan tidak pensiun secara sukarela.”
“...Hah?”
“Aku bilang, kemungkinan besar dia menghilang dari Akihabara karena suatu alasan. Dan sekarang, tiba-tiba, seorang gadis dengan wajah yang nyaris identik muncul di sekolah kita sebagai adik perempuan seorang pewaris konglomerat.”
Ada jeda singkat.
Mai merasakan tengkuknya mengencang.
“Jangan bilang kau masih percaya teori penculikan itu,” ujar Tetsuya.
“Bukan penculikan dalam pengertian kriminal biasa,” jawab Haruki cepat. “Bisa saja ini semacam perlindungan paksa. Atau penyamaran. Atau kontrak rahasia yang mengikat seseorang untuk menjalani kehidupan orang lain.”
Mai menutup mulut dengan telapak tangan.
Kalimat terakhir itu terasa seperti seseorang baru saja menyelipkan tangan ke dalam dadanya dan menggenggam jantungnya.
Kontrak rahasia.
Kehidupan orang lain.
Untuk sesaat, udara di antara rak-rak buku terasa lebih tipis. Mai bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri, cepat dan tidak teratur, sementara jari-jarinya mencengkeram sampul buku sampai ujung-ujungnya sedikit melengkung.
Tidak. Tidak mungkin mereka tahu.
Haruki dan Tetsuya hanyalah dua siswa yang terlalu banyak mengonsumsi anime, manga, dan teori konspirasi internet. Mereka tidak memiliki akses ke dokumen Kisaragi, tidak mengetahui isi kontrak 365 hari yang mengikat Mai, dan tentu saja tidak tahu bahwa gadis yang mereka bicarakan pernah berdiri di balik meja sebuah maid café di Akihabara sambil tersenyum kepada pelanggan.
Mereka tidak tahu apa-apa.
Setidaknya, Mai berharap demikian.
“Jadi, menurutmu Ren menculik Mei-chan, lalu memperkenalkannya kepada publik sebagai adiknya sendiri?” Tetsuya mencoba memastikan.
“Secara teknis, itulah salah satu kemungkinan.”
“Haruki, itu gila.”
“Justru karena gila, kita harus menyelidikinya!”
Suara Haruki naik sedikit. Seorang siswa yang duduk di meja dekat jendela mengangkat kepala dan melirik mereka dengan tidak senang. Haruki segera merendahkan suaranya lagi.
“Pikirkan baik-baik. Ren punya akses ke sumber daya yang tidak dimiliki orang biasa. Dia bisa saja menghapus jejak seseorang, memindahkannya ke sekolah elit, bahkan membangun riwayat akademis palsu. Dan siapa yang akan mencurigai seorang pewaris kaya yang memperkenalkan gadis itu sebagai adiknya?”
“Orang-orang yang terlalu sering membaca novel misteri,” gumam Tetsuya.
“Terima kasih atas dukunganmu.”
“Itu bukan dukungan.”
Mai perlahan mundur satu langkah.
Ia harus pergi. Sekarang juga.
Tidak ada alasan untuk mendengarkan lebih jauh. Setiap detik yang dihabiskannya di sana hanya menambah kemungkinan seseorang menemukan dirinya sedang menguping percakapan yang seharusnya tidak didengarnya.
Namun, ketika ia berbalik, seorang siswa lain melintas di ujung lorong rak. Mai spontan menundukkan kepala dan berpura-pura membaca judul buku yang kebetulan berada di tangannya.
Gerakan itu membawanya ke balik sebuah rak besar berisi ensiklopedia dan kumpulan sastra klasik. Rak tersebut cukup tinggi untuk menutupi tubuhnya dari sudut pandang meja tengah, tetapi celah sempit di antara dua rak masih memungkinkan suara percakapan Haruki dan Tetsuya terdengar jelas.
Mai merapatkan buku ke dadanya.
Sebentar saja. Aku hanya perlu memastikan mereka tidak benar-benar mengetahui sesuatu.
Alasan itu terdengar masuk akal selama ia tidak memikirkannya terlalu lama.
Dari tempat persembunyiannya, Mai mengintip melalui celah rak. Haruki berdiri sambil memegang buku catatan, sedangkan Tetsuya bersandar pada rak di seberangnya dengan wajah seseorang yang sudah menyesali seluruh keputusan hidupnya sejak pagi.
“Kalau kita mau menyelidiki, kita harus mencari bukti,” kata Haruki. “Tidak bisa terus berasumsi berdasarkan kemiripan wajah.”
“Bagus. Akhirnya kau mengatakan sesuatu yang masuk akal.”
“Kita bisa mulai dengan mengamati Kanade.”
“Bukankah itu justru definisi menguntit?”
“Mengamati secara ilmiah.”
“Kalau kau menulis kata ‘ilmiah’ di laporanmu, itu tetap menguntit.”
Haruki mengabaikannya. Ia membuka buku catatan kecil yang sampulnya sudah dipenuhi stiker karakter anime.
“Agenda pertama: cari tahu apakah Kanade benar-benar menyukai maid café.”
Mai hampir mengerang keras.
Tidak! Jangan jadikan itu agenda!
“Agenda kedua,” lanjut Haruki, “cari tahu mengapa Ren selalu mendatanginya. Agenda ketiga, cari kesempatan mengajaknya bicara tanpa kehadiran Ren.”
Tetsuya menyipitkan mata.
“Dan agenda keempat?”
Haruki mengangkat telunjuk dengan ekspresi seorang detektif yang baru saja menemukan petunjuk penentu.
“Jika teori kita benar, kita menyelamatkan Mei-chan.”
“Kalau teori kita salah?”
“Kita mendapatkan informasi berharga.”
“Informasi tentang apa?”
“Bahwa kita salah.”
Tetsuya menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang.
Mai menutup mata.
Di balik kelopak matanya, ia membayangkan dirinya kembali ke Akihabara, mengenakan celemek khas maid café, membungkuk kepada pelanggan, lalu memulai rutinitas yang setidaknya tidak mengharuskannya menghadapi dua detektif amatir yang menganggap hidupnya sebagai misteri kriminal.
Ia hampir merindukan masa itu.
Hampir.
Sebab, di balik segala kepalsuan yang kini menyelimutinya, ada sesuatu yang jauh lebih sulit ia akui: ia tidak ingin kehilangan hari-hari yang telah dihabiskannya bersama Ren. Bahkan ketika rumah Kisaragi terasa seperti sangkar, bahkan ketika Saito mengawasinya melalui kamera, bahkan ketika setiap senyum yang ia berikan harus dipertimbangkan sebagai bagian dari kontrak, kehadiran Ren telah menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa bahwa dirinya masih manusia, bukan sekadar pemeran yang menjalankan peran.
Dan itulah yang paling menakutkan.
Jika penyamarannya terbongkar, bukan hanya pekerjaannya yang akan berakhir. Ia mungkin kehilangan satu-satunya orang di rumah itu yang memandangnya dengan kelembutan yang tidak tercantum dalam dokumen mana pun.
“Kalau begitu, kita mulai hari ini,” kata Haruki.
Mai tersentak ketika terdengar bunyi buku ditutup.
Kedua siswa itu mulai bergerak meninggalkan sudut rak. Langkah mereka mendekat ke lorong tempat Mai bersembunyi.
Ia mundur dengan terburu-buru, tetapi ujung sepatunya menyenggol kaki rak.
Tok.
Bunyinya kecil.
Di perpustakaan yang tenang, bunyi itu terdengar seperti palu yang menghantam meja sidang.
Langkah Haruki berhenti.
“Apa itu?”
Mai membeku. Buku yang dipeluknya terasa licin di antara telapak tangannya yang mulai berkeringat.
“Mungkin ada orang,” kata Tetsuya.
“Di balik rak?”
“Menurutmu siapa lagi yang berada di perpustakaan?”
Haruki mulai berjalan ke arah suara itu.
Mai menahan napas. Ia bisa melihat bayangan sepatu Haruki bergerak di lantai, semakin dekat dengan celah rak. Sebentar lagi, ia akan muncul di ujung lorong. Sebentar lagi, ia akan melihat wajahnya.
Dan jika ia melihat wajahnya, ia mungkin akan menyadari bahwa gadis yang sedang bersembunyi di balik ensiklopedia itu adalah orang yang baru saja mereka bicarakan.
“Permisi?” panggil Haruki.
Mai memejamkan mata.
Lalu, sebuah tangan menyentuh pergelangan tangannya.
Ia nyaris menjerit.
Sebelum suara itu sempat keluar, tangan tersebut menariknya perlahan ke belakang rak berikutnya. Mai terhuyung satu langkah, kehilangan keseimbangan, dan hampir menabrak seseorang yang berdiri di lorong sempit itu.
Seseorang yang mengenakan seragam Akademi Seiwa dengan rapi, memiliki rambut hitam yang jatuh lembut di dahi, dan menatapnya dengan mata tenang yang begitu dikenalnya.
Ren.
Ia mengangkat satu jari ke depan bibirnya.
“Diam,” bisiknya.
Mai menatapnya dengan mata membulat.
Ren tidak menunggu jawaban. Ia menggenggam pergelangan tangannya dengan hati-hati dan membawanya melewati celah sempit di antara rak, menuju bagian perpustakaan yang lebih tersembunyi di dekat jendela belakang. Di sana, sebuah rak panjang berisi buku-buku referensi lama membentuk sudut mati dari pintu masuk. Cahaya pagi hanya menyentuh ujung karpet, sementara bagian dalamnya berada dalam bayangan sejuk.
Ren baru melepaskan tangannya setelah memastikan bahwa mereka tidak lagi terlihat dari lorong utama.
“Jangan bergerak dulu,” bisiknya.
Mai mengangguk cepat. Ia baru menyadari bahwa selama beberapa detik tadi ia bahkan lupa bernapas.
Di sisi lain rak, suara Haruki terdengar lagi.