Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #21

Festival Budaya dan Dilema Gaun

Sore itu, ruang kelas 1-A Akademi Seiwa belum juga kehilangan keramaiannya meskipun bel pulang sudah berbunyi hampir dua puluh menit yang lalu. Cahaya matahari yang condong ke barat menyusup melalui jendela-jendela tinggi, membentuk petak-petak keemasan di atas lantai kayu yang mengilap. Debu-debu kecil melayang di antara meja, sementara suara kursi yang digeser, tas yang dibuka, dan obrolan para siswa bercampur dengan dengung pendingin ruangan yang bekerja terlalu keras untuk mengusir hawa pengap sore.

Di papan tulis, seseorang telah menuliskan dua kata besar dengan spidol merah.

FESTIVAL BUDAYA SEIWA.

Di bawahnya, terdapat beberapa usulan konsep yang dicoret, dilingkari, lalu dicoret lagi. Ada rumah hantu bertema Jepang kuno, restoran bergaya Eropa, ruang pameran seni, sampai pertunjukan drama musikal. Seluruh kelas telah menghabiskan hampir dua minggu memperdebatkan ide-ide tersebut, dan hari ini ketua kelas akhirnya membawa hasil pemungutan suara yang akan menentukan nasib mereka selama beberapa pekan ke depan.

Mai duduk di dekat jendela, menumpuk buku-buku pelajarannya dengan rapi di atas meja. Sejak tadi ia berusaha terlihat sibuk, meskipun sesekali matanya melirik ke arah papan tulis. Festival budaya bukanlah sesuatu yang asing baginya. Ketika masih bekerja di Akihabara, ia sudah terbiasa menghadapi kerumunan, menyambut pelanggan, menghafal dialog promosi, bahkan tersenyum di bawah sorotan kamera selama berjam-jam.

Masalahnya, pengalaman itu justru merupakan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun di Akademi Seiwa.

Terutama oleh dua orang yang kini duduk di barisan belakang.

“Baiklah, semuanya! Sebelum pulang, kita akan mengumumkan hasil pemungutan suara konsep kelas!” seru ketua kelas sambil berdiri di depan papan tulis.

Gadis berusia enam belas tahun itu bernama Fujimoto Akari. Rambut hitamnya diikat menjadi ekor kuda yang rapi, dan sebuah buku catatan bersampul biru selalu berada dalam genggamannya. Ia dikenal sebagai siswi yang mampu menyusun jadwal belajar kelompok dengan ketelitian seorang manajer proyek, lengkap dengan tenggat waktu, pembagian tugas, dan tabel evaluasi yang membuat beberapa guru merasa pekerjaan mereka menjadi jauh lebih mudah.

Sore ini, ia tampak hampir tidak bisa menahan kegembiraannya.

“Pertama-tama, terima kasih karena sudah mengisi formulir dengan serius. Aku sudah menghitung semua suara, termasuk suara yang ditulis dengan huruf yang tidak terbaca dan satu suara yang cuma menggambar kucing.”

Dari sudut kelas terdengar tawa.

“Itu kucing yang sangat mendukung!” seseorang menyahut.

“Kucingnya tidak punya hak suara,” balas Akari tegas, meskipun sudut bibirnya terangkat. Ia lalu mengangkat selembar kertas. “Dan berdasarkan hasil akhir, dua konsep dengan suara tertinggi adalah—”

Ia berhenti sejenak, sengaja membangun ketegangan.

Mai ikut menoleh.

“Konsep cosplay dan maid café!”

Sorak-sorai langsung memenuhi ruangan.

“YES! AKHIRNYA!”

“Kalau begitu, kita bisa bikin kostum sendiri!”

“Aku sudah punya ide untuk dekorasi ala kafe Eropa!”

“Sebentar, sebentar!” Akari mengangkat kedua tangan, berusaha mengendalikan kelas yang mendadak berubah menjadi pasar malam. “Konsep kita adalah Cosplay & Maid Café. Artinya, kita akan menggabungkan kafe dengan tema karakter. Beberapa siswa bisa menjadi pelayan dengan kostum maid, beberapa menjadi butler, sementara yang lain bertugas sebagai koki, kasir, dan tim dekorasi.”

Ia menuliskan pembagian awal di papan tulis, kemudian berbalik dengan ekspresi serius yang membuat beberapa siswa spontan duduk lebih tegak.

“Festival budaya Seiwa bukan sekadar acara untuk bersenang-senang. Tahun lalu, kelas 2-B memenangkan penghargaan estetika terbaik dengan konsep galeri seni interaktif. Tahun sebelumnya, kelas 3-A membangun kafe bergaya istana Prancis yang sampai dimuat di majalah sekolah. Kita tidak boleh kalah hanya karena dekorasi kita berantakan atau kostumnya terlihat seperti dibeli lima menit sebelum acara.”

“Akari, kau sedang membicarakan festival sekolah atau persiapan Olimpiade?” tanya seorang siswa.

“Keduanya membutuhkan perencanaan.”

Jawaban itu disambut tawa lagi.

Mai ikut tersenyum kecil. Sejauh ini, semuanya masih terdengar aman. Ia tidak perlu menjadi pusat perhatian. Ia bisa membantu menyusun menu, menghitung anggaran, atau mencuci peralatan di belakang. Pekerjaan semacam itu justru lebih nyaman baginya daripada harus berdiri di depan para pelanggan.

Ia baru saja hendak memasukkan buku terakhir ke dalam tas ketika Akari mengangkat spidolnya lagi.

“Sekarang, kita perlu menentukan siapa yang akan menjadi wajah utama kafe kita.”

Senyum Mai menghilang sedikit demi sedikit.

Wajah utama?

“Untuk konsep seperti ini, kita membutuhkan seseorang yang bisa membawa kesan anggun, ramah, dan elegan. Orang yang membuat pengunjung merasa seperti sedang memasuki kafe sungguhan, bukan sekadar ruang kelas yang diberi taplak meja.”

Beberapa siswa mengangguk setuju.

“Benar. Kalau pelayannya terlihat meyakinkan, nilai estetika kita juga akan naik.”

“Dan kita harus memilih orang yang cocok dengan kostumnya,” tambah Akari. Ia memandang seluruh ruangan, kemudian berhenti pada Mai.

Mata mereka bertemu.

Mai merasakan ujung jarinya menjadi dingin.

Tidak. Jangan.

“Menurutku,” kata Akari, dengan keyakinan yang sama seperti ketika ia mengumumkan hasil ujian matematika, “Kanade adalah pilihan terbaik untuk menjadi head maid.”

Untuk sesaat, Mai tidak memahami apa yang baru saja didengarnya.

Suara di dalam kelas seolah menjauh. Ia masih bisa melihat bibir Akari yang bergerak, masih bisa mendengar suara kursi dan obrolan teman-temannya, tetapi semua itu terasa seperti datang dari balik dinding tebal.

Lalu seseorang bertepuk tangan.

“Setuju!”

“Kanade memang cocok!”

“Dia punya aura putri bangsawan, kan? Kalau pakai gaun maid, pasti kelihatan cantik!”

“Benar! Lihat saja cara dia berjalan. Bahkan waktu membawa buku, dia kelihatan seperti karakter dari novel!”

Tepuk tangan menyusul dari beberapa meja. Dalam hitungan detik, usulan Akari berubah menjadi keputusan kolektif yang tidak pernah diminta Mai.

Mai membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Head maid.

Dua kata itu menghantam kepalanya seperti palu.

Bukan sekadar mengenakan gaun maid. Bukan sekadar berdiri di balik meja untuk menyajikan teh. Menjadi head maid berarti ia akan menjadi pusat perhatian, memimpin para pelayan lain, menyambut pengunjung, mengucapkan salam pembuka, dan mungkin diminta mendemonstrasikan pelayanan khusus yang dianggap menarik oleh panitia festival.

Dengan kata lain, ia akan diminta melakukan pekerjaan yang pernah dilakukannya setiap hari—pekerjaan yang seharusnya telah ia tinggalkan ketika menerima kontrak Kisaragi.

Dan jika ada seseorang yang mengenalinya?

Jika ada pelanggan lama yang datang?

Jika Haruki atau Tetsuya memutuskan untuk membandingkan setiap gerakannya dengan sosok Mei-chan yang mereka kagumi?

Mai menggenggam tali tasnya sampai buku-buku jarinya memutih.

“E-eh?”

Suara kecil itu akhirnya lolos dari tenggorokannya.

Akari menoleh. “Ada masalah, Kanade?”

Mai buru-buru menggeleng, lalu mengangguk, kemudian menyadari bahwa kedua gerakan itu justru membuatnya terlihat semakin mencurigakan.

“Bukan masalah, hanya saja… aku rasa ada banyak orang lain yang lebih cocok.”

“Siapa?” tanya Akari langsung.

Pertanyaan sederhana itu membuat Mai kehilangan jawaban.

Ia memandang ke sekeliling, mencari seseorang yang bersedia menjadi penyelamatnya. Namun, teman-teman sekelasnya justru tampak semakin bersemangat.

“Kalau menurutku, Kanade paling cocok untuk bagian pelayanan,” ujar Yuna, teman perempuan yang duduk tidak jauh darinya. “Kau selalu berbicara dengan sopan, dan senyummu juga menenangkan. Aku yakin kau akan terlihat luar biasa memakai kostum maid.”

Yuna mengucapkannya dengan tulus. Tidak ada niat buruk dalam suaranya. Ia bahkan tampak membayangkan hasilnya dengan mata berbinar.

Itulah yang membuat Mai semakin sulit menolak.

Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa ia tidak nyaman mengenakan kostum maid, ketika alasan sesungguhnya adalah karena ia pernah mengenakannya selama bertahun-tahun?

Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa gaun semacam itu bukan kostum baru baginya, melainkan pakaian kerja yang menyimpan seluruh identitas yang sedang berusaha ia kubur?

“Aku sebenarnya kurang sehat,” kata Mai akhirnya.

Semua orang terdiam sesaat.

Mai langsung merasa bersalah. Ia tidak suka berbohong kepada teman-teman sekelasnya, tetapi kontrak yang mengikatnya telah mengubah kebohongan menjadi alat bertahan hidup.

“Kurang sehat?” Akari mengerutkan kening. “Kau sakit?”

“Bukan begitu. Maksudku, aku kadang mudah pusing kalau berdiri terlalu lama.”

Itu bukan sepenuhnya kebohongan. Selama beberapa pekan terakhir, kurang tidur dan tekanan terus-menerus memang sering membuat kepalanya berdenyut.

Akari segera membuka buku catatannya.

“Kalau begitu, kita bisa mengatur giliran. Kau tidak perlu berdiri sepanjang waktu. Kita juga bisa menyediakan kursi untuk pelayan.”

“Bukan hanya itu,” Mai buru-buru menambahkan. “Aku… aku juga agak canggung kalau harus memakai pakaian yang berbeda dari biasanya.”

Seorang siswi di barisan depan tertawa kecil, bukan mengejek, melainkan menganggap alasan itu menggemaskan.

“Justru itu lucu! Kau akan terlihat seperti putri yang dipaksa menyamar menjadi pelayan!”

“Kurasa itu malah cocok dengan konsep cosplay,” timpal siswa lain.

“Dan karena Kanade biasanya sangat tenang, perubahan ekspresinya saat mengenakan kostum bisa menjadi daya tarik tersendiri.”

Mai menatap mereka dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.

Berhenti mengembangkan ide ini.

Semakin kalian memikirkannya, semakin buruk jadinya.

Akari mengetuk ujung spidol ke papan tulis, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Kalau begitu, kita bisa memilih gaun dengan potongan yang lebih nyaman. Kita tidak perlu menggunakan desain yang terlalu rumit. Yang penting, warnanya konsisten dan detailnya terlihat bagus. Putih, hitam, mungkin sedikit aksen biru tua agar sesuai dengan identitas kelas kita.”

Ia menulis beberapa catatan dengan cepat.

“Untuk celemek, kita bisa memakai renda sederhana. Pita di bagian belakang, kerah putih, dan mungkin hiasan kepala yang tidak terlalu besar. Aku akan mencari referensi desain malam ini.”

Setiap kata yang keluar dari mulut Akari terasa seperti satu lagi paku yang ditancapkan ke peti mati penyamaran Mai.

Gaun putih.

Renda.

Pita.

Hiasan kepala.

Mai dapat membayangkan semuanya dengan terlalu jelas. Tangannya bahkan seolah masih mengingat bagaimana merapikan lipatan celemek agar tidak tampak kusut, bagaimana memastikan pita terikat simetris, dan bagaimana menyesuaikan posisi hiasan kepala sebelum menyambut pelanggan.

Ia menunduk, berharap rambutnya menutupi ekspresi wajahnya.

Di barisan belakang, dua siswa saling menoleh dengan gerakan yang nyaris bersamaan.

Haruki, yang bertubuh tinggi dan kurus, mencondongkan tubuhnya ke arah Tetsuya. Kacamata bulat Tetsuya memantulkan cahaya dari jendela ketika ia membuka buku catatan kecil yang entah bagaimana selalu dibawanya ke mana-mana.

“Ini dia,” bisik Haruki dengan suara yang penuh getaran antusias. “Kesempatan yang kita tunggu-tunggu.”

Tetsuya mendorong kacamatanya ke pangkal hidung. “Kau sedang membicarakan kemungkinan bahwa Kanade memiliki hubungan dengan budaya maid, bukan?”

“Bukan sekadar kemungkinan. Ini adalah kesempatan observasi langsung!”

“Jangan terlalu bersemangat. Kita belum punya bukti bahwa dia benar-benar Mei-chan.”

Haruki menepuk meja dengan telapak tangan, membuat Tetsuya segera menarik lengannya agar tidak menimbulkan perhatian.

“Justru itu! Kalau dia benar-benar mantan maid legendaris itu, festival budaya akan menjadi panggung yang sempurna untuk membuktikannya.”

“Dan kalau ternyata tidak?”

Haruki terdiam selama dua detik.

“Kita tetap bisa menikmati festival.”

Tetsuya mengangguk serius, seolah baru saja menerima kesimpulan ilmiah yang sangat masuk akal.

“Argumen yang kuat.”

Mai mendengar bisikan mereka.

Ia tidak perlu mengetahui setiap kata untuk memahami bahwa kedua orang itu kembali merencanakan sesuatu. Sejak insiden Omakase kudasai, Ojou-sama! di kelas, Haruki dan Tetsuya selalu terlihat mengamatinya dengan cara yang membuat tengkuknya meremang.

Kadang-kadang ia mendapati Haruki berpura-pura membaca buku sambil mengarahkan pandangan dari sudut matanya. Di waktu lain, Tetsuya menulis sesuatu di buku catatan ketika Mai berbicara dengan Ren. Keduanya bahkan pernah berdiri di depan papan pengumuman selama hampir sepuluh menit hanya untuk membahas jadwal kegiatan klub yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Mai.

Sekarang, mereka akan mendapatkan alasan resmi untuk mengamatinya mengenakan pakaian yang paling berbahaya bagi penyamarannya.

Gaun maid.

“Sebentar,” ujar Haruki, kali ini dengan volume yang sedikit terlalu keras. “Kalau Kanade menjadi head maid, bukankah dia harus mengajarkan gerakan pelayanan kepada anggota lain?”

Beberapa siswa menoleh ke arahnya.

Haruki segera duduk tegak, memasang wajah seolah pertanyaan itu murni berkaitan dengan efisiensi organisasi.

“Seperti cara membawa nampan, menyapa pelanggan, dan sebagainya,” tambahnya. “Supaya semuanya terlihat profesional.”

Tetsuya mengangguk dengan keseriusan berlebihan. “Benar. Standar pelayanan harus konsisten.”

Mai hampir menjatuhkan tasnya.

Tidak. Tidak, tidak, tidak.

Ia bisa membayangkan dirinya berdiri di depan kelas, menunjukkan cara membungkuk dengan sudut yang tepat, mengucapkan salam dengan intonasi yang manis, lalu secara tidak sadar mengeluarkan seluruh kebiasaan yang selama ini ia latih sebagai Mei-chan.

Ia mungkin mampu mengubah cara bicara. Ia mungkin mampu menahan refleks untuk membungkuk ketika seseorang memanggilnya. Namun, gerakan yang telah tertanam selama bertahun-tahun tidak mudah dihapus hanya karena ia mengganti nama.

Terlebih lagi, Haruki dan Tetsuya bukan pengunjung biasa. Mereka adalah penggemar yang mengenal setiap detail dari sosok Mei-chan. Jika ada dua orang di sekolah ini yang mampu mengenali perbedaan antara akting seorang pemula dan kebiasaan seorang pekerja maid profesional, mereka berdua mungkin berada di urutan teratas.

“Kanade?” panggil Akari.

Lihat selengkapnya