Siang hari di Akademi Seiwa selalu memiliki kesibukan tersendiri, tetapi hari itu koridor gedung utama terasa jauh lebih ramai daripada biasanya. Di sepanjang dinding, papan pengumuman telah dipenuhi poster persiapan Festival Budaya Seiwa, mulai dari rancangan panggung pertunjukan hingga sketsa dekorasi kelas. Sejumlah siswa berjalan sambil membawa map dan gulungan kertas, sementara beberapa anggota komite festival bergegas dari satu ruangan ke ruangan lain dengan wajah serius.
Festival budaya tinggal beberapa pekan lagi. Bagi sebagian besar siswa, acara itu merupakan kesempatan untuk bersenang-senang bersama teman sekelas. Namun, bagi Akademi Seiwa, festival tahunan tersebut memiliki arti lebih besar. Para orang tua siswa, alumni berpengaruh, dan sejumlah donatur akan menghadiri acara puncaknya. Setiap kelas berlomba memamerkan kreativitas, bukan hanya untuk memperoleh penghargaan estetika terbaik, melainkan juga untuk membuktikan bahwa kelas mereka layak mewakili nama baik akademi.
Di antara semua kelas yang sedang mempersiapkan acara, kelas 1-A baru saja menemukan masalah yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Masalah itu bernama Kisaragi Kanade.
Atau, lebih tepatnya, tugas yang hendak mereka berikan kepada gadis yang menggunakan nama tersebut.
Ruang OSIS terletak di ujung koridor lantai dua, di balik pintu kayu berwarna cokelat tua dengan papan nama kuningan yang selalu dipoles hingga mengilap. Dari balik pintu, terdengar suara beberapa orang membicarakan anggaran, jadwal penggunaan aula, serta daftar kebutuhan setiap kelas.
Di dalam ruangan, meja panjang telah dipenuhi dokumen. Sebuah papan tulis besar menampilkan tabel perencanaan festival, lengkap dengan kolom anggaran, kebutuhan peralatan, dan persetujuan komite. Di dekat jendela, dua anggota OSIS sedang membandingkan penawaran penyewaan perlengkapan panggung, sementara seorang siswi bertugas sebagai sekretaris sibuk memasukkan data ke laptop.
Ketua OSIS, seorang siswa kelas tiga bernama Takahashi, mengusap pangkal hidungnya sebelum menatap lembar anggaran di hadapannya.
“Jadi, kelas 1-A mengajukan konsep Cosplay & Maid Café?” tanyanya.
“Benar,” jawab sekretaris. “Mereka mengusulkan dekorasi bergaya kafe Eropa, beberapa kostum maid dan butler, serta sudut fotografi bertema karakter. Mereka juga meminta tambahan anggaran untuk penyewaan kostum dan dekorasi.”
Takahashi membalik halaman dokumen.
“Berapa tambahan yang mereka minta?”
Sekretaris menyebutkan jumlahnya. Takahashi mengembuskan napas melalui hidung.
“Tidak berlebihan, tetapi kita perlu mempertimbangkan kelas lain. Kalau satu kelas mendapat tambahan dana hanya karena ingin menyewa kostum, kelas-kelas lain akan mengajukan permintaan serupa.”
“Masalahnya, kelas 1-A berencana menjadikan penampilan para pelayan sebagai daya tarik utama. Kalau kita menolak anggaran kostum, konsep mereka akan sulit dijalankan.”
“Kalau begitu, mereka harus mencari alternatif.”
Percakapan tersebut berhenti ketika terdengar ketukan tiga kali dari pintu.
Takahashi mengangkat kepala. “Masuk.”
Pintu terbuka.
Kisaragi Ren berdiri di ambang pintu dengan seragam kelas tiga yang rapi. Dasi sekolahnya terpasang sempurna, dan sebuah map tipis terselip di bawah lengannya. Di belakangnya, Tanaka Kenji menjulurkan kepala dengan ekspresi penasaran sebelum menyadari bahwa semua orang di ruangan sedang memandang mereka.
“Wah,” gumam Kenji. “Serius sekali suasananya. Aku kira rapat OSIS itu tempat orang memutuskan siapa yang harus membeli minuman untuk acara sekolah.”
“Kalau kau terus berbicara seperti itu, kau mungkin akan diberi tugas membeli minuman untuk semua peserta,” kata Ren tanpa menoleh.
Kenji segera menutup mulut.
Takahashi berdiri, sedikit terkejut melihat kedatangan mereka.
“Kisaragi? Tanaka? Ada keperluan?”
“Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan mengenai festival budaya,” jawab Ren.
Ia melangkah masuk dengan tenang, kemudian meletakkan map di atas meja. Tidak ada sikap tergesa-gesa atau kesan bahwa ia sedang meminta bantuan pribadi. Cara Ren membawa dirinya justru membuat kedatangannya terlihat seperti kunjungan resmi seorang siswa yang hendak membicarakan urusan akademi.
Takahashi mempersilakannya duduk.
“Silakan. Apakah ini berkaitan dengan kelas tiga?”
“Sebagian,” jawab Ren. “Namun, ada satu hal lain yang mungkin menarik bagi komite.”
Kenji menarik kursi di sebelahnya, lalu duduk sambil melirik isi map Ren.
Ia mengenal sahabatnya cukup lama untuk mengetahui bahwa Ren jarang datang ke suatu tempat tanpa alasan yang jelas. Sejak bangun dari koma, Ren memang menjadi lebih tenang dan lebih terbuka dalam berinteraksi dengan orang lain. Namun, kecerdasan tajam yang dulu membuatnya sulit ditipu tidak pernah benar-benar hilang.
Ketika Ren mengatakan ada sesuatu yang mungkin menarik bagi komite, Kenji langsung curiga bahwa seseorang akan berakhir dengan pekerjaan tambahan.
Ia hanya belum tahu siapa korbannya.
Ren membuka map.
“Pertama, mengenai anggaran festival. Aku telah membaca rancangan kebutuhan beberapa kelas. Menurutku, komite bisa mempertimbangkan penggunaan dana sponsor secara lebih strategis, terutama untuk kegiatan yang berpotensi menjadi daya tarik utama pengunjung.”
Takahashi menatap dokumen yang disodorkan kepadanya.
“Dana sponsor?”
“Perwakilan keluarga Kisaragi sebelumnya menyampaikan bahwa mereka bersedia membantu penyediaan sejumlah perlengkapan untuk festival tahun ini. Dukungan itu belum dibagi secara spesifik karena komite masih menentukan kebutuhan masing-masing kelas.”
Salah satu anggota OSIS yang duduk di ujung meja segera menegakkan punggung.
“Benar. Kami menerima pemberitahuan mengenai kemungkinan dukungan tersebut. Tetapi kami belum mengajukan permohonan resmi.”
Ren mengangguk.
“Karena itu, aku datang untuk membicarakan kemungkinan penggunaannya. Keluargaku tidak keberatan jika dana dialokasikan untuk kebutuhan yang jelas, memiliki nilai edukatif, dan bisa dipertanggungjawabkan.”
Ia berbicara dengan nada datar. Tidak ada kesan membanggakan kekayaan keluarganya, tetapi nama Kisaragi sudah cukup untuk mengubah cara orang-orang di ruangan itu mendengarkan.
Keluarga Kisaragi bukan sekadar salah satu keluarga kaya yang memiliki anak di Akademi Seiwa. Mereka termasuk donatur penting bagi sejumlah fasilitas akademi. Beberapa laboratorium baru dibangun dengan bantuan yayasan mereka, dan renovasi aula utama beberapa tahun sebelumnya juga melibatkan kontribusi perusahaan Kisaragi.
Pengaruh tersebut tidak selalu digunakan secara terbuka. Justru karena jarang diperlihatkan, setiap kali nama keluarga itu muncul dalam pembicaraan resmi, orang-orang cenderung mempertimbangkan kata-katanya dengan lebih serius.
Takahashi menyatukan kedua tangannya di atas meja.
“Kalau dukungan itu dapat digunakan untuk kebutuhan festival, tentu akan sangat membantu. Apa usulanmu?”
Ren menyandarkan punggung dengan santai.
“Aku pikir kita perlu melihat kembali beberapa konsep yang diajukan. Bukan karena konsep-konsep itu buruk, tetapi karena ada kemungkinan kita memperoleh hasil yang lebih baik dengan biaya yang sama.”
Ia menarik satu lembar kertas dari map.
“Misalnya, konsep yang menggabungkan cosplay dan maid café. Secara visual, konsep itu bisa menarik. Namun, penyewaan kostum, perawatan pakaian, serta kebutuhan pelatihan pelayanan akan menambah biaya dan beban kerja. Jika siswa belum memiliki pengalaman, hasil akhirnya juga sulit dipastikan.”
Kenji perlahan menoleh kepada Ren.
Ada sesuatu yang sangat spesifik dalam kritik tersebut.
Ren melanjutkan tanpa memperhatikan tatapan sahabatnya.
“Sebaliknya, pameran seni dengan pertunjukan teater klasik bisa memanfaatkan banyak sumber daya yang sudah tersedia di sekolah. Kita dapat menggunakan kostum dari klub drama, meminjam properti dari ruang seni, dan menampilkan karya siswa sebagai bagian dari dekorasi. Konsep itu juga lebih mudah disesuaikan dengan tema festival tahun ini.”
Takahashi membaca lembar usulan tersebut.
“Pameran seni dan teater klasik?”
“Ya. Sebuah ruang pameran yang membawa pengunjung melewati beberapa adegan drama klasik. Lukisan, desain kostum, dan properti menjadi bagian dari pengalaman visual. Pengunjung tidak hanya melihat dekorasi, tetapi juga memahami proses kreatif di baliknya.”
Sekretaris OSIS mulai mengetik.
“Kalau begitu, kita bisa menghubungi klub seni dan klub drama untuk menyediakan beberapa karya serta properti.”
“Benar. Dana sponsor dapat digunakan untuk pencahayaan, panel pameran, dan perlengkapan panggung sederhana. Kita juga bisa membuat jadwal pertunjukan pendek agar pengunjung tidak berkumpul di satu tempat pada waktu yang sama.”
Takahashi tampak mulai tertarik.
“Konsep ini memang memiliki keunggulan. Nilai edukatifnya lebih jelas, dan secara estetika kita bisa membuatnya lebih konsisten.”
Salah satu anggota komite mengangkat tangan.
“Namun, bagaimana dengan kelas yang sudah menyiapkan konsep awal? Kita tidak bisa begitu saja mengubah rencana mereka.”
Ren mengangguk seolah telah menunggu pertanyaan tersebut.
“Tentu. Aku tidak mengusulkan agar komite memaksakan perubahan. Kita dapat menawarkan pilihan yang lebih sesuai dengan tujuan festival, disertai dukungan anggaran dan akses perlengkapan. Kelas yang bersangkutan tetap berhak mempertimbangkan apakah mereka ingin mengubah konsepnya.”
Jawaban itu terdengar masuk akal. Bahkan terlalu masuk akal.
Ren tidak meminta agar kelas 1-A dilarang menyelenggarakan maid café. Ia hanya memastikan bahwa ketika komite membandingkan dua pilihan, konsep alternatif yang ia tawarkan akan terlihat lebih menguntungkan.
Biaya lebih terkendali. Dukungan sponsor lebih besar. Properti lebih mudah diperoleh. Nilai edukatif lebih jelas. Risiko operasional lebih rendah.
Tidak ada yang perlu diperdebatkan secara terbuka.
Dan tidak ada seorang pun di ruangan itu yang mengetahui alasan pribadi di balik usulannya.
Takahashi kembali memeriksa dokumen.
“Kalau keluarga Kisaragi bersedia mendukung perlengkapan pameran dan teater, aku rasa ini layak dipertimbangkan. Kita bisa memasukkannya ke agenda rapat panitia berikutnya.”
“Terima kasih,” kata Ren.
Ia tidak tersenyum lebar atau menunjukkan kepuasan. Ia hanya menutup map, seolah pembicaraan tersebut merupakan urusan administratif biasa.
Kenji mencondongkan tubuh ke arahnya dan berbisik, “Sejak kapan kau tertarik mengatur konsep kelas satu?”
Ren menjawab tanpa menggerakkan kepala.
“Sejak ada alasan untuk memperhatikannya.”
Kenji mengerutkan dahi.
“Alasan apa?”
Ren meliriknya sekilas.
“Alasan yang tidak perlu kau ketahui.”
“Wah. Makin mencurigakan.”
“Kalau begitu, berhentilah bertanya.”
Kenji bersandar sambil mendecakkan lidah. Ia tidak mendapatkan jawaban, tetapi ekspresi Ren membuatnya sadar bahwa pembicaraan itu belum selesai di kepala sahabatnya.
Rapat panitia festival budaya dimulai kembali beberapa menit kemudian.
Beberapa perwakilan kelas dipanggil untuk membahas perubahan anggaran, dan proposal kelas 1-A menjadi salah satu dokumen yang dibicarakan. Ren tetap berada di ruangan selama diskusi berlangsung, sesekali memberikan penjelasan mengenai dukungan sponsor dan ketersediaan perlengkapan.
Ia tidak pernah menyebut nama Kanade.
Ia juga tidak mengatakan bahwa dirinya secara khusus ingin menghindarkan seseorang dari tugas tertentu.
Sebaliknya, ia terus mengarahkan pembicaraan pada hal-hal yang sulit dibantah: efisiensi biaya, manfaat pendidikan, konsistensi estetika, dan pembagian sumber daya.
“Konsep maid café membutuhkan banyak kostum dengan ukuran berbeda,” ujar seorang anggota komite. “Kalau kelas 1-A tidak dapat menyewa semuanya, mereka mungkin harus membuat sendiri. Itu bisa memakan waktu.”
“Benar,” kata Ren. “Sementara klub drama memiliki sejumlah kostum klasik yang bisa dipinjam dengan biaya perawatan yang lebih rendah. Dengan begitu, kelas 1-A dapat mengalokasikan waktu mereka untuk membuat pameran yang lebih menarik.”
“Dan jika kita menggunakan karya siswa sebagai dekorasi, kita juga bisa memberikan penghargaan khusus untuk kreativitas,” tambah sekretaris.
Takahashi mengangguk.
“Baiklah. Kita akan menawarkan perubahan konsep kepada kelas 1-A. Komite dapat menyediakan tambahan dukungan untuk panel pameran dan pencahayaan, dengan syarat rancangan akhirnya disetujui sebelum tenggat dekorasi.”
Seseorang mengetik keputusan itu ke dalam notulen.
Ren memperhatikan layar laptop selama beberapa detik. Wajahnya tetap tenang, tetapi ujung jarinya mengetuk meja sekali sebelum berhenti.
Selesai.
Ia tidak perlu mengancam siapa pun. Tidak perlu meminta pengecualian khusus. Tidak perlu menghubungi ketua kelas secara pribadi dan membuat Mai merasa berutang kepadanya.
Ia hanya perlu mengubah pilihan yang tersedia.
Jika kelas 1-A menerima usulan itu, Mai tidak perlu mengenakan gaun maid. Jika mereka menolak, Ren masih bisa mencari cara lain tanpa memperlihatkan bahwa dirinya sedang melindungi seseorang secara khusus.
Namun, ia berharap tidak perlu sampai ke sana.
Di dalam benaknya, muncul bayangan seorang gadis yang berdiri di koridor dengan tas sekolah dipeluk erat, tersenyum sambil mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja meskipun wajahnya jelas menunjukkan hal sebaliknya.
Ren tidak tahu seluruh alasan di balik kecemasan Mai. Ia hanya mengetahui bahwa sejak pembicaraan festival budaya dimulai, gadis itu terlihat semakin gelisah.
Ia bisa saja bertanya langsung.
Namun, ia juga tahu bahwa Mai memiliki kebiasaan menyembunyikan kesulitan sampai ia merasa tidak lagi punya pilihan.