Pagi di Akademi Seiwa selalu dimulai dengan keteraturan yang nyaris menyerupai pertunjukan.
Mobil-mobil mewah berhenti bergantian di depan gerbang utama, menurunkan para siswa berseragam rapi dengan rambut yang tertata sempurna. Di antara deretan kendaraan itu, beberapa sopir pribadi berdiri tegak di samping pintu mobil, menunggu sampai majikan muda mereka melangkah masuk ke lingkungan sekolah. Udara pagi masih menyimpan sisa dingin malam, sementara cahaya matahari menyelinap melalui celah pepohonan di sepanjang jalan masuk, memantulkan kilau keemasan pada jendela gedung akademi.
Mai berjalan melewati gerbang bersama arus siswa lainnya.
Pita seragamnya terikat rapi. Rok lipitnya jatuh tepat di atas lutut, dan sepatu sekolahnya memantulkan sedikit cahaya ketika ia melangkah. Dari luar, tidak ada sesuatu pun yang tampak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ia bahkan sempat membalas sapaan seorang siswa tahun pertama dengan senyum lembut yang sudah dilatihnya sejak lama.
Namun, di balik senyum itu, pikirannya masih berputar-putar memikirkan kejadian kemarin.
Ren telah mengubah rencana festival budaya kelasnya tanpa membuatnya harus menjelaskan alasan penolakannya. Ia tidak memaksanya bercerita, tidak pula meminta penjelasan tentang mengapa ia begitu ketakutan menghadapi kemungkinan mengenakan seragam maid di depan seluruh sekolah. Ren hanya melihat kegelisahannya, lalu bertindak seolah-olah menolongnya merupakan sesuatu yang sederhana.
Justru itulah masalahnya.
Semakin sering Ren memperlakukannya dengan kebaikan seperti itu, semakin sulit bagi Mai untuk menjaga jarak yang seharusnya ada di antara mereka.
Ia merapatkan tali tas di bahunya.
Jangan terlalu terbawa perasaan. Kontraknya masih berjalan. Aku tetap Kisaragi Kanade di rumah itu, dan Miyauchi Mai di dalam diriku harus tetap diam.
Pikiran tersebut sudah berkali-kali ia ulangi. Sayangnya, mengulang sebuah peringatan tidak serta-merta membuatnya lebih mudah dipatuhi.
Mai tiba di gedung utama, lalu berbelok menuju area loker sepatu siswa. Ruangan itu cukup luas, dengan deretan loker kayu berwarna cokelat tua yang tersusun rapi di sepanjang dinding. Aroma semir sepatu bercampur dengan wangi samar parfum mahal dan deterjen dari seragam yang baru dicuci. Suara pintu loker dibuka dan ditutup terdengar bersahutan, diselingi percakapan ringan tentang ujian, jadwal klub, serta rencana akhir pekan.
Mai berhenti di depan lokernya.
Nomor kecil yang terpasang di sudut pintu sudah begitu akrab baginya, meskipun ia masih belum sepenuhnya terbiasa dengan kenyataan bahwa loker itu secara resmi menjadi milik seseorang bernama Kisaragi Kanade.
Ia memasukkan jari ke celah pintu, memutar kunci, lalu menariknya hingga terbuka.
Sesuatu tergeletak di atas sepatu dalam ruang sempit itu.
Sebuah amplop hitam.
Mai mengerjapkan mata.
Amplop itu tidak memiliki nama penerima, tidak pula mencantumkan nama pengirim. Warnanya hitam pekat, berbeda dari amplop surat biasa yang sering digunakan siswa untuk menyampaikan pesan kepada teman mereka. Tidak ada hiasan, tidak ada stiker lucu, bahkan tidak ada tulisan kecil di sudutnya. Hanya selembar amplop polos yang diletakkan tepat di atas sepatu dalam lokernya.
Untuk beberapa detik, Mai hanya menatapnya.
Mungkin seseorang salah memasukkannya. Mungkin itu undangan kegiatan klub. Mungkin—
Ia segera menghentikan rentetan kemungkinan yang berusaha dibangun pikirannya sendiri. Tidak ada alasan untuk langsung berprasangka buruk. Sekolah ini mungkin dipenuhi orang-orang kaya yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan uang dan koneksi, tetapi bukan berarti setiap benda asing yang ditemukan di lokernya adalah ancaman.
Mai mengulurkan tangan dan mengambil amplop itu.
Kertasnya terasa agak tebal. Ketika ia membaliknya, tidak ada apa-apa pada sisi belakangnya.
Ia melirik ke kanan dan kiri.
Sejumlah siswa sedang sibuk mengganti sepatu. Dua siswi di dekat jendela tertawa kecil sambil membicarakan acara makan malam keluarga mereka. Seorang siswa laki-laki mengeluh karena lupa membawa kartu akses perpustakaan. Tidak seorang pun tampak memperhatikan Mai.
Dengan ujung kuku, ia membuka perekat amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat selembar kertas putih yang dilipat menjadi dua.
Mai menariknya keluar.
Tulisan tangan di atas kertas itu rapi, dengan huruf-huruf yang ditekan cukup kuat hingga bekasnya tampak di bagian belakang. Tidak ada salam pembuka atau kalimat basa-basi. Pesannya langsung menuju sasaran.
Untuk Kisaragi Kanade.
Sepertinya kamu belum memahami posisi dirimu sendiri.
Jangan terus-menerus menempel pada Kisaragi Ren di depan umum. Tingkahmu membuat orang-orang salah paham dan merusak reputasinya. Kamu seharusnya tahu bahwa seorang pewaris keluarga besar tidak pantas dijadikan tontonan hanya karena adiknya tidak bisa menjaga sikap.
Berhentilah mencari perhatian.
Ketahui posisimu, lalu bertindaklah sesuai dengan itu.
Kalau kamu masih ingin berada di Akademi Seiwa dengan tenang, sebaiknya jangan membuat kami harus mengingatkanmu untuk kedua kalinya.
Tidak ada tanda tangan.
Tidak ada nama.
Hanya rangkaian kalimat dingin yang seolah-olah ditulis oleh seseorang yang menganggap dirinya berhak menentukan bagaimana Mai seharusnya hidup.
Jari-jari Mai perlahan menegang.
Pada awalnya, ia merasa bingung. Ia membaca surat itu sekali lagi, berharap ada bagian yang mungkin disalahartikannya. Namun, semakin lama matanya mengikuti baris demi baris tulisan tersebut, semakin terasa sesuatu yang tidak menyenangkan merayap naik dari perutnya menuju dada.
Merusak reputasi Ren?
Ia teringat bagaimana Ren menggenggam tangannya ketika mereka berjalan meninggalkan ruang konseling. Bagaimana pemuda itu membawakannya makan siang ke atap sekolah, memperbaiki rambutnya yang berantakan tertiup angin, dan menatapnya dengan ketulusan yang tidak pernah ia temukan selama bekerja di kafe maid.
Semua itu memang terjadi di depan orang lain.
Dan ia tahu, bagi para siswa yang melihat mereka dari kejauhan, kedekatan mereka mungkin terlihat berlebihan.
Namun, apa yang sebenarnya mereka ketahui?
Mereka tidak tahu bahwa Ren masih berjuang menghadapi ingatan yang hilang. Mereka tidak tahu bahwa sentuhan sederhana terkadang membantu menenangkan napasnya ketika trauma masa lalu muncul tanpa peringatan. Mereka tidak tahu bahwa setiap kali Ren memanggilnya Kanade, ada bagian dalam diri Mai yang ingin menangis karena nama itu bukan miliknya.
Mereka hanya melihat seorang siswi tahun pertama yang selalu berada di dekat pewaris keluarga Kisaragi.
Lalu mereka memutuskan bahwa dialah masalahnya.
Mai merasakan tenggorokannya mengering.
Ia menurunkan surat itu sedikit ketika beberapa siswa lewat di belakangnya. Secara refleks, senyum tipis muncul di wajahnya, senyum sopan yang biasa ia gunakan ketika berhadapan dengan orang asing. Ia bahkan sempat membungkukkan kepala kecil kepada seorang siswi yang berjalan melewatinya.
Begitu siswi itu berlalu, senyum Mai lenyap.
Ia membaca kembali kalimat terakhir.
Jangan membuat kami harus mengingatkanmu untuk kedua kalinya.
Ancaman itu tidak keras. Tidak ada kata-kata kasar yang gamblang, tidak ada janji akan memukul atau mencelakainya. Akan tetapi, justru karena itulah surat tersebut terasa lebih mengganggu. Penulisnya sengaja membiarkan ancaman itu menggantung, cukup samar untuk disangkal apabila dipertanyakan, tetapi cukup jelas untuk membuat penerimanya membayangkan segala kemungkinan buruk.
Mai mengenali cara seperti itu.
Selama bekerja di Akihabara, ia pernah melihat bagaimana orang-orang menyampaikan ketidaksukaan tanpa harus mengucapkannya secara langsung. Senyum yang mendadak menghilang ketika seseorang memasuki ruangan. Percakapan yang berhenti tepat saat orang yang dibicarakan datang. Kelompok yang sengaja tidak menyediakan tempat duduk bagi seseorang, lalu berpura-pura tidak menyadari bahwa orang itu berdiri sendirian.
Tidak semuanya merupakan ancaman terbuka.
Kadang-kadang, cukup dengan membuat seseorang merasa bahwa seluruh ruangan sedang menolaknya.
Di Akademi Seiwa, semua itu mungkin dilakukan dengan cara yang jauh lebih halus.
Mai menggigit bagian dalam pipinya.
Ia ingin marah. Ia ingin mencari tahu siapa yang menulis surat itu dan menanyakan apa hak orang tersebut untuk mengatur hubungannya dengan Ren. Namun, kemarahan itu segera bertabrakan dengan kenyataan yang jauh lebih rumit.
Ia tidak bisa mengadu kepada guru dengan mudah.
Ia tidak bisa menjelaskan bahwa dirinya memang sengaja ditempatkan di dekat Ren oleh keluarga Kisaragi, sebab penjelasan itu akan mengarah pada kontrak yang harus disembunyikannya. Ia juga tidak bisa mengatakan bahwa kedekatan mereka merupakan bagian dari pekerjaan, sebab justru hal itulah yang membuatnya semakin malu terhadap dirinya sendiri.
Dan jika Ren mengetahui surat ini, apa yang akan dilakukannya?
Bayangan Ren yang berdiri di hadapan seseorang dengan tatapan dinginnya muncul begitu saja dalam benak Mai. Ia membayangkan pemuda itu berusaha mencari pelakunya, menginterogasi siswa lain, atau menggunakan pengaruh keluarga Kisaragi untuk menghentikan masalah tersebut.
Ren mungkin akan melindunginya.
Ren hampir pasti akan melindunginya.
Akan tetapi, Mai tidak ingin kebaikan Ren berubah menjadi alasan baru bagi orang lain untuk membencinya.
Ia sudah terlalu banyak mengambil sesuatu dari pemuda itu—nama seorang adik, kenangan sebuah keluarga, bahkan kepercayaan yang diberikan tanpa syarat. Ia tidak ingin menambah beban Ren hanya karena seseorang merasa terganggu melihat mereka bersama.
Mai menunduk, menatap kertas yang kini sedikit bergetar di antara kedua tangannya.
“...Menyebalkan,” bisiknya nyaris tanpa suara.
Ia melipat surat itu dengan gerakan kaku.
Sekali.
Dua kali.
Lalu ia meremasnya.
Kertas putih itu berkerut di dalam genggamannya, membentuk gumpalan kecil yang terasa tajam pada telapak tangan. Mai menekan lebih kuat, seolah-olah dengan menghancurkan surat tersebut ia juga dapat menghancurkan rasa takut yang mulai tumbuh di dadanya.
Ia membuka telapak tangannya dan menatap gumpalan kertas itu.
Untuk sesaat, ia mempertimbangkan membuangnya ke tempat sampah di dekat pintu keluar. Surat tanpa nama, pikirnya. Tidak ada gunanya menyimpannya. Jika ia terus memikirkan ancaman semacam ini, ia hanya akan membuat dirinya sendiri semakin tertekan.
Tangannya bergerak ke arah tempat sampah.
Namun, sebelum melepaskan gumpalan itu, ia berhenti.
Kalimat terakhir surat tersebut kembali terngiang di benaknya.
Jangan membuat kami harus mengingatkanmu untuk kedua kalinya.
Mai memejamkan mata sejenak.
Membuangnya tidak akan membuat ancaman itu menghilang. Dan apabila seseorang benar-benar berniat melakukan sesuatu, ia mungkin perlu mengingat apa yang telah terjadi.
Ia menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan melalui hidung.
“Tidak,” gumamnya kepada diri sendiri. “Aku tidak akan membiarkan surat seperti ini merusak hariku.”
Kalimat itu terdengar lebih tegas daripada yang ia rasakan.
Mai memasukkan gumpalan kertas ke dalam saku bagian dalam tasnya, lalu menutup loker. Bunyi pintu kayu yang terkunci terdengar cukup keras di telinganya. Ia mengganti sepatu, merapikan rok, dan mengangkat wajahnya.
Senyum kembali terpasang.
Tidak sempurna, memang. Sudut bibirnya sedikit kaku, dan matanya masih menyimpan kegelisahan yang tidak dapat dihapus hanya dengan menarik napas. Namun, ia sudah cukup lama bekerja di hadapan pelanggan untuk mengetahui cara menyembunyikan perasaan yang tidak boleh diperlihatkan.
Ia mengangkat dagu dan berjalan menuju kelas.
“Kanade-chan?”
Suara itu menyambutnya begitu ia memasuki kelas 1-A.
Yuna, yang sedang berdiri di samping mejanya dengan sebuah buku di tangan, segera menoleh. Rambutnya yang diikat setengah bergoyang ketika ia melambaikan tangan kecil.
“Pagi! Kamu datang lebih awal hari ini.”
“Pagi, Yuna-chan.”
Mai membalas sapaan itu sambil meletakkan tas di samping meja.
“Eh, kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan tersebut datang terlalu cepat.
Mai baru saja hendak menarik kursinya ketika ia menyadari bahwa Yuna sedang memperhatikannya dengan alis sedikit berkerut.
“Hm? Kenapa?”
“Wajahmu.” Yuna memiringkan kepala. “Kamu terlihat seperti baru saja melihat hasil ujian matematika yang nilainya nol.”
Mai terdiam sepersekian detik.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Separah itu, ya?”
“Tidak sampai begitu, sih.” Yuna mendekat, menurunkan suaranya agar tidak mengganggu siswa lain yang mulai memenuhi ruangan. “Tapi biasanya kamu datang dengan senyum yang lebih cerah. Hari ini kamu kelihatan... entahlah, seperti sedang memikirkan sesuatu.”
Mai menunduk untuk mengeluarkan buku pelajaran dari tasnya. Ia memastikan gerakannya tetap santai, meskipun jari-jarinya harus berhenti sejenak ketika menyentuh gumpalan surat di saku bagian dalam.
“Ah, mungkin aku kurang tidur.”
“Kurang tidur? Kamu begadang belajar?”
“Sedikit.”
Itu bukan sepenuhnya kebohongan. Malam sebelumnya, Mai memang menghabiskan cukup banyak waktu untuk mengerjakan tugas sekolah dan memastikan dirinya memahami materi yang tertinggal. Hanya saja, penyebab matanya terasa berat pagi ini bukan semata-mata karena buku pelajaran.
Yuna menarik kursi di depan meja Mai dan duduk menghadapnya.
“Kalau kamu terlalu capek, jangan dipaksakan, ya. Kamu baru pindah ke sini, dan aku tahu pelajarannya lumayan berat. Kalau ada materi yang belum kamu mengerti, kamu bisa bertanya kepadaku.”
Kebaikan yang sederhana.
Tidak ada tuntutan, tidak ada kontrak, tidak ada ancaman tentang denda puluhan juta yen apabila ia melakukan kesalahan.
Hanya seorang teman sekelas yang menawarkan bantuan.
Dada Mai terasa sedikit sesak.
“Terima kasih, Yuna-chan.” Senyumnya kali ini muncul lebih alami. “Aku akan ingat.”
“Bagus. Oh, iya!” Yuna tiba-tiba menepuk kedua telapak tangannya, teringat sesuatu. “Kamu sudah memutuskan mau ikut kegiatan apa setelah jam pelajaran? Fujimoto-san bilang panitia festival mungkin akan mengadakan rapat tambahan.”
Mai hampir menjawab bahwa ia belum tahu, tetapi suara beberapa siswa dari barisan belakang menyela.
“Bukankah kelas kita sekarang mempertimbangkan pameran seni?”
“Katanya usulan dari OSIS. Kalau jadi, kita tidak perlu mengurus kafe.”
“Syukurlah. Aku tidak punya bakat melayani pelanggan.”
Beberapa siswa tertawa.
Mai ikut tersenyum, tetapi tawa mereka terasa jauh sekali. Ia masih memikirkan surat di dalam tasnya, terutama kalimat yang menuduhnya merusak reputasi Ren.
Apakah mereka juga berpikir demikian?
Apakah sebagian siswa yang tersenyum kepadanya di kelas sebenarnya merasa kesal melihatnya berjalan bersama Ren? Apakah sapaan ramah yang ia terima selama ini hanya formalitas, sementara di tempat lain orang-orang membicarakannya dengan nada berbeda?
Pikiran itu membuat tengkuknya menegang.
Ia tidak ingin mulai mencurigai semua orang. Ia tahu betapa melelahkannya hidup dengan keyakinan bahwa setiap senyum menyimpan maksud tersembunyi. Namun, surat tersebut telah menanamkan benih keraguan yang sulit dicabut.
“Kanade-chan?”
Mai tersentak kecil.
Yuna mengangkat tangan di depan wajahnya.
“Kamu melamun lagi.”
“Maaf.” Mai buru-buru merapikan buku di atas meja, padahal susunannya sudah cukup rapi. “Aku hanya sedang memikirkan tugas.”
Yuna mengamatinya sejenak, tampaknya belum sepenuhnya percaya. Namun, ia tidak mendesak.
“Baiklah. Tapi kalau ada masalah, kamu boleh cerita kepadaku, ya?”
Kalimat itu membuat Mai kehilangan jawaban selama beberapa detik.
Ia ingin mengatakan semuanya.
Ia ingin menceritakan bahwa dirinya bukan Kisaragi Kanade, bahwa nama yang digunakan setiap hari itu adalah milik seorang gadis yang telah meninggal, dan bahwa ia dibayar untuk menjaga kebohongan tersebut tetap hidup. Ia ingin mengakui bahwa ia mulai menyayangi seseorang yang mempercayainya sebagai keluarga, padahal ia sendiri tidak tahu apakah perasaan itu pantas dimiliki.
Namun, tentu saja, tidak satu pun dari semua itu bisa ia ucapkan.
“...Iya,” jawab Mai akhirnya. “Terima kasih.”
Yuna tersenyum, lalu kembali ke tempat duduknya ketika bel pertama berbunyi.
Mai memandang punggungnya beberapa saat sebelum menunduk ke buku pelajaran.
Di bawah meja, tangannya perlahan meremas ujung rok seragam.
Ia sudah terbiasa menyimpan rahasia. Selama bekerja sebagai Mei-chan, ia belajar bahwa pelanggan tidak selalu perlu mengetahui bagaimana perasaan seorang maid yang tersenyum kepada mereka. Di rumah Kisaragi, ia belajar bahwa setiap kata dapat diawasi dan setiap gerakan dapat dinilai.
Tetapi menyimpan rahasia dari orang yang ingin menolongnya ternyata terasa berbeda.
Jauh lebih menyakitkan.
Pada jam istirahat pertama, Mai memutuskan pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan sebuah buku referensi yang dipinjamnya. Ia membutuhkan udara yang lebih tenang setelah menghabiskan hampir satu jam duduk di kelas sambil berpura-pura tidak memikirkan surat hitam itu.
Koridor lantai dua dipenuhi siswa yang bergerak menuju mesin penjual minuman dan ruang klub. Cahaya matahari menembus jendela-jendela besar, menciptakan bidang terang di atas lantai yang mengilap. Dari lapangan di bawah, terdengar peluit guru olahraga dan teriakan para siswa yang sedang menjalani latihan.
Mai berjalan sambil memeluk buku di depan dada.
Ia baru saja melewati tangga ketika dua siswi berseragam tahun ketiga muncul dari arah berlawanan.
Keduanya berjalan berdampingan, membawa tas kecil yang tampak mahal. Salah seorang memiliki rambut panjang yang jatuh lurus melewati bahu, sementara yang lain mengenakan jepit rambut perak berbentuk bunga. Dari lambang kelas di dada mereka, Mai langsung mengetahui bahwa mereka adalah siswi senior.
Mai menepi untuk memberi jalan.
“Permisi.”
Ia membungkukkan kepala kecil.
Kedua siswi itu tidak segera membalas. Mereka justru memperlambat langkah, dan salah seorang di antaranya menatap wajah Mai dengan perhatian yang membuatnya sulit berpura-pura tidak menyadarinya.
“Kamu Kisaragi Kanade, bukan?”
Mai berhenti.
“Ya.”
Siswi berambut panjang itu tersenyum tipis. Senyum yang rapi, terlatih, dan sama sekali tidak mencapai matanya.
“Adiknya Kisaragi Ren-senpai.”
Cara ia menyebut nama Ren membuat Mai merasa seolah-olah ada sesuatu yang sedang ditimbang di antara mereka.
“Benar,” jawab Mai hati-hati.
“Oh, tidak perlu tegang begitu.” Siswi itu terkekeh pelan. “Kami hanya penasaran. Kamu cukup terkenal belakangan ini.”
“Terkenal?”
“Yah, sulit untuk tidak memperhatikanmu ketika kamu selalu bersama Ren-senpai.”
Siswi yang mengenakan jepit perak melirik temannya, lalu mengeluarkan tawa pendek.
“Apalagi kalau sampai makan bersama di tempat-tempat yang tidak bisa dimasuki siswa lain. Aku dengar kalian sering pergi ke atap.”
Mai merapatkan buku ke dadanya.
“Tempat itu kebetulan sedang sepi.”
“Begitu, ya?”
Siswi berambut panjang mengangkat alis. Ia melangkah sedikit mendekat, membuat Mai secara naluriah mundur setengah langkah.
“Ren-senpai orang yang sangat baik. Semua orang tahu itu. Dia selalu sopan, pintar, dan tidak pernah mempermalukan siapa pun. Jadi, tentu saja, banyak orang yang ingin dekat dengannya.”
Nada suaranya masih terdengar manis. Tidak ada satu kata pun yang secara langsung menghina Mai. Namun, cara ia menekankan setiap kalimat membuat maksud sebenarnya perlahan terlihat.
“Karena itu, kamu sebaiknya berhati-hati,” lanjutnya. “Jangan sampai orang-orang salah memahami sikapmu.”
Mai menatapnya.
Untuk sesaat, ia merasa kembali berdiri di depan loker, membaca tulisan tangan yang menyuruhnya mengetahui posisi diri.
Kalimatnya berbeda, tetapi nadanya serupa.
“Saya tidak bermaksud membuat siapa pun salah paham,” jawab Mai. Ia menjaga suaranya tetap halus, meskipun tenggorokannya mulai terasa kering. “Ren... Onii-chan hanya sedang membantuku beradaptasi di sekolah.”
Kata Onii-chan keluar begitu saja, dengan intonasi manis yang selama ini menjadi bagian dari perannya.
Kedua siswi senior itu saling berpandangan.
Ada sesuatu yang berubah di wajah siswi berambut panjang. Senyumnya tidak sepenuhnya hilang, tetapi sudut bibirnya menegang.
“Ya, tentu. Dia kakakmu.”