Hujan mulai turun ketika bel pulang Akademi Seiwa berbunyi.
Mula-mula hanya berupa gerimis tipis yang membentuk bintik-bintik gelap di atas halaman sekolah, lalu perlahan berubah menjadi tirai air yang mengaburkan pemandangan gedung-gedung di seberang lapangan. Suara tetesannya beradu dengan atap koridor, menciptakan irama yang bertambah rapat seiring menggelapnya langit sore. Para siswa berlarian sambil melindungi kepala dengan tas, sementara sebagian lainnya berkumpul di depan lobi, menunggu sopir atau kendaraan jemputan masing-masing.
Mai berdiri di dekat jendela kelas 1-A, memandang air yang mengalir di sepanjang kaca.
Ia lupa membawa payung.
Sebenarnya, ia bisa saja menelepon sopir keluarga Kisaragi dan memintanya menjemput tepat di depan gedung utama. Namun, ia masih harus menyelesaikan beberapa urusan kecil sebelum pulang: mengembalikan buku yang dipinjam dari perpustakaan dan mengambil lembar tugas yang tertinggal di ruang kelas. Jika ia meminta dijemput sekarang, ia harus membuat sopir menunggu lebih lama daripada biasanya.
Mai tidak ingin merepotkan orang lain untuk hal sesederhana itu.
Lagi pula, ia sudah cukup terbiasa menghadapi hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana.
Ia memasukkan buku terakhir ke dalam tas, merapikan pita seragamnya, lalu memeriksa ponsel. Tidak ada pesan dari Ren. Pesan terakhir mereka hanya berkaitan dengan jadwal pulang dan tugas sekolah, disertai pengingat Ren agar ia tidak lupa makan camilan sebelum makan malam.
Mai sempat tersenyum membaca kalimat itu.
Kemudian senyum tersebut perlahan memudar ketika ingatannya kembali pada surat hitam yang disimpannya di dalam laci kamar.
Sejak menemukannya, ia mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dianggap penting. Tatapan yang terlalu lama. Percakapan yang mendadak berhenti ketika ia lewat. Sapaan yang terdengar ramah, tetapi disertai senyum yang terasa dibuat-buat.
Ia belum mengetahui siapa pengirim surat itu. Ia juga tidak memiliki bukti bahwa dua siswi senior yang ditemuinya di koridor merupakan orang yang sama dengan penulisnya.
Namun, ia tidak bisa menyangkal bahwa keduanya telah membuatnya merasa tidak nyaman.
Kalau aku terus menghindari semua orang, mereka akan semakin mudah menganggapku bersalah.
Mai mengembuskan napas perlahan.
Ia tidak ingin menjalani kehidupan sekolah dengan terus-menerus menundukkan kepala. Ia sudah cukup lama hidup dengan identitas yang bukan miliknya. Jika ia juga harus menyerahkan setiap langkahnya kepada orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya, apa yang tersisa dari dirinya?
Ia menyampirkan tas ke bahu dan meninggalkan kelas.
Koridor lantai satu lebih lengang daripada biasanya. Sebagian besar siswa sudah bergegas menuju gerbang utama, sementara para anggota klub masih bertahan di ruang kegiatan masing-masing. Dari kejauhan, terdengar suara bola yang dipantulkan berulang kali dari dalam gedung olahraga, diselingi teriakan seorang pelatih yang mengingatkan para siswa agar berhati-hati dengan lantai yang mulai lembap.
Mai berjalan menuju perpustakaan, mengembalikan buku, lalu keluar melalui koridor samping yang mengarah ke halaman belakang.
Ia tidak mengetahui bahwa seseorang telah menunggunya di sana.
Area belakang gedung olahraga Akademi Seiwa jarang dilalui siswa yang tidak memiliki kegiatan klub. Sebuah jalur sempit membentang di antara dinding gedung dan pagar pembatas kompleks sekolah. Di sisi lainnya terdapat deretan semak yang dipangkas rapi, beberapa pohon berdaun lebat, serta pintu servis yang biasanya digunakan petugas kebersihan.
Ketika cuaca cerah, tempat itu hanya tampak membosankan.
Namun, pada sore yang diguyur hujan, suasananya terasa berbeda.
Air menetes dari talang atap yang sudah tua. Genangan kecil terbentuk di antara ubin, memantulkan warna langit yang kelabu. Suara hujan menelan sebagian besar bunyi dari lapangan utama, membuat tempat tersebut terasa terpisah dari kesibukan sekolah.
Mai baru saja melewati sudut gedung ketika tiga orang siswi berdiri di hadapannya.
Langkahnya melambat.
Ketiganya mengenakan seragam tahun ketiga. Siswi yang berada di tengah memiliki rambut hitam panjang dan jepit perak berbentuk bunga. Mai mengenalinya sebagai salah satu gadis yang menegurnya di koridor beberapa hari sebelumnya. Dua siswi lainnya berdiri sedikit di belakangnya, satu dengan rambut dikuncir tinggi dan satu lagi dengan poni tebal yang hampir menutupi alis.
Tidak ada senyum ramah di wajah mereka kali ini.
Siswi berjepit perak melipat kedua tangan di depan dada.
“Kisaragi Kanade.”
Mai berhenti dengan jarak beberapa langkah dari mereka.
“Senpai.”
Ia membungkuk kecil secara sopan, meskipun sorot matanya tidak lagi seramah biasanya.
“Sedang apa kamu di sini?” tanya siswi itu.
“Baru selesai dari perpustakaan. Saya hendak pulang.”
“Bagus. Berarti kamu punya waktu untuk berbicara dengan kami.”
Mai mengamati ketiganya bergantian. Mereka berdiri sedemikian rupa sehingga jalur menuju koridor samping tertutup. Tidak sepenuhnya rapat, tetapi cukup untuk membuat siapa pun memahami bahwa ia tidak diharapkan melewati mereka begitu saja.
Mai memperbaiki posisi tas di bahunya.
“Apakah ada sesuatu yang ingin Senpai sampaikan?”
Siswi berjepit perak mengangkat dagu.
“Ada. Kami sudah cukup lama memperhatikan tingkahmu, dan sepertinya kamu tidak berniat mengubahnya.”
“Maaf, saya kurang mengerti.”
“Jangan berpura-pura tidak tahu.”
Suara siswi itu meninggi sedikit, lalu segera kembali rendah ketika ia menyadari betapa tajam nada bicaranya sendiri.
“Kamu selalu bersama Ren-senpai. Makan siang bersama, berjalan bersama, bahkan mengikutinya ke atap sekolah. Apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana penampilan kalian di mata orang lain?”
Mai merasakan jemarinya mengencang pada tali tas.
Jadi, ini bukan lagi sekadar peringatan samar.
Mereka memang ingin membicarakan Ren.
“Saya dan Onii-chan hanya makan siang bersama,” jawab Mai. “Kami saudara.”
“Saudara,” ulang siswi berjepit perak dengan tawa pendek. “Kamu terus mengatakan hal yang sama seolah-olah itu bisa menyelesaikan semuanya.”
Salah satu temannya melangkah maju.
“Ren-senpai baru kembali ke sekolah setelah kondisi kesehatannya membaik. Banyak orang mengkhawatirkannya. Kami tidak ingin melihat reputasinya terganggu hanya karena kamu terlalu bergantung kepadanya.”
Mai menatap gadis itu tanpa berkedip.
Ada sesuatu yang hampir membuatnya tertawa mendengar kalimat tersebut. Bukan karena perkataan itu lucu, melainkan karena ia mulai memahami cara berpikir mereka. Mereka menggunakan kepedulian terhadap Ren sebagai alasan untuk mengatur orang yang berada di dekatnya, seolah-olah hanya mereka yang berhak menentukan apa yang terbaik bagi pemuda itu.
Mereka bahkan tidak tahu bagaimana Ren menjalani hari-harinya setelah bangun dari koma.
Mereka tidak melihatnya terbangun pada malam hari dengan napas tersengal akibat mimpi buruk. Mereka tidak mendengar suara monitor yang berubah cepat ketika ingatan tertentu menyentuh bagian pikirannya yang belum pulih. Mereka tidak tahu bagaimana Ren kadang-kadang menatap tangannya sendiri, berusaha memahami mengapa tubuhnya bereaksi terhadap sesuatu yang tidak dapat diingatnya.
Mereka hanya melihat seorang pemuda tampan dari keluarga kaya yang berjalan bersama adiknya.
Dan mereka merasa berhak menuntut sesuatu darinya melalui gadis yang berdiri di hadapan mereka.
“Kalau kalian mengkhawatirkan Onii-chan,” kata Mai akhirnya, “bukankah seharusnya kalian bertanya langsung kepadanya?”
Ketiganya terdiam sesaat.
Siswi berjepit perak mengerutkan dahi.
“Apa?”
“Kalau kalian merasa ada sesuatu yang salah, kalian bisa berbicara dengan Ren. Saya tidak pernah melarang siapa pun mendekatinya.”
Nada suara Mai tetap sopan. Ia bahkan masih membungkukkan kepala sedikit ketika berbicara. Namun, ada ketegasan baru di balik kata-katanya, sesuatu yang tidak muncul ketika ia pertama kali menerima teguran mereka.
Siswi berambut ekor kuda mendengus.
“Kamu benar-benar tidak mengerti, ya? Kami tidak sedang meminta izin kepadamu untuk mendekati Ren-senpai.”
“Kalau begitu, saya juga tidak mengerti mengapa kalian meminta saya berhenti makan siang dengannya.”
“Karena kamu selalu menempel padanya!”
Bentakan itu memantul di dinding gedung olahraga.
Mai tidak mundur.
Hujan semakin deras. Beberapa tetes air yang tertiup angin mencapai ujung rambutnya, membasahi helai-helai yang terlepas dari ikatan. Ia mengusap pipinya dengan punggung tangan, lalu kembali menatap ketiga siswi itu.
“Saya tidak tahu apa yang kalian dengar tentang kami,” katanya. “Namun, saya tidak pernah memaksa Onii-chan untuk menghabiskan waktu bersama saya. Kalau dia ingin makan siang bersama teman-temannya, saya tidak akan melarangnya.”
“Lalu kenapa kamu selalu bersamanya?”
Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada menantang.
Mai terdiam.
Untuk sesaat, jawaban yang sebenarnya berdesakan di tenggorokannya.
Karena aku dibayar untuk melakukannya.
Karena aku menggunakan nama adiknya yang telah meninggal.
Karena aku tidak tahu bagaimana caranya menjauh dari seseorang yang mulai kucintai, meskipun aku tahu bahwa kedekatan ini dibangun di atas kebohongan.
Ia tidak bisa mengatakan satu pun dari semua itu.
Mai merasakan ujung kukunya menekan telapak tangan.
Lalu ia mengangkat wajah.
“Karena saya menyayanginya.”
Ketiga siswi itu membeku.
Mai sendiri terkejut mendengar betapa tenangnya suaranya.
Ia bisa saja memilih jawaban yang lebih aman. Ia bisa mengatakan bahwa Ren hanya sedang membantunya beradaptasi, bahwa mereka tidak memiliki hubungan yang istimewa, atau bahwa ia akan berusaha mengurangi waktu bersama kakaknya demi menghindari kesalahpahaman.
Namun, setelah berhari-hari menelan ancaman dan sindiran, ada sesuatu dalam dirinya yang menolak terus-menerus meminta maaf karena berada di dekat Ren.
Ia tidak ingin menyerahkan perasaan yang tumbuh di dalam hatinya kepada orang-orang yang tidak mengetahui apa pun tentang mereka.
“Dia kakakku,” lanjut Mai. “Saya menyayanginya lebih dari apa pun.”
Kalimat itu menggantung di antara mereka, bercampur dengan bunyi hujan yang menghantam atap.
Mai menelan ludah. Detak jantungnya terasa begitu keras hingga ia dapat merasakannya sampai ke ujung jari. Ia tahu kalimat tersebut memiliki arti yang berbeda di dalam dirinya daripada yang mungkin mereka pahami. Ia tidak sedang membicarakan hubungan yang sebenarnya tidak pernah ada, melainkan perasaan yang tumbuh di tengah peran palsu dan batasan yang semakin sulit dipertahankan.
Namun, ia tidak menarik kembali ucapannya.
Siswi berjepit perak menatapnya dengan wajah yang perlahan memerah.
“Jangan bicara seolah-olah kamu satu-satunya orang yang peduli pada Ren-senpai!”
“Saya tidak pernah mengatakan itu.”
“Kamu selalu membuatnya memperhatikanmu! Kamu selalu ada di sampingnya, seakan-akan tidak ada orang lain di sekolah ini!”
Mai menggeleng pelan.
“Kalau Ren ingin menghabiskan waktu bersama orang lain, saya tidak akan menghalanginya.”
“Omong kosong!”
Gadis itu maju satu langkah.
Mai tetap berdiri di tempatnya, meskipun bahunya secara naluriah menegang. Jarak di antara mereka kini cukup dekat sehingga ia dapat melihat tetesan air yang menempel pada ujung rambut siswi tersebut.
“Kamu pikir hanya karena kamu adiknya, kamu boleh melakukan apa saja?” desisnya. “Kamu pikir semua orang akan terus memaklumi tingkahmu hanya karena kamu membawa nama Kisaragi?”
“Saya tidak meminta siapa pun memaklumi saya.”
“Kalau begitu, buktikan!”
Mai mengerutkan kening.
“Dengan cara apa?”
“Mulai besok, berhenti makan siang bersama Ren-senpai di tempat umum. Jangan lagi menunggunya di depan kelas. Dan jangan berjalan menempel padanya seolah-olah kamu takut kehilangan dia setiap kali dia melangkah.”
Kalimat terakhir itu menghantam bagian dalam dada Mai dengan cara yang tidak terduga.
Ia memang takut kehilangan Ren.
Bukan seperti seorang adik yang takut kakaknya akan melupakannya, melainkan seperti seseorang yang menyadari bahwa kebahagiaan yang baru ditemukannya mungkin tidak pernah menjadi miliknya sejak awal.
Ia takut kehilangan senyum Ren, kehangatan tangannya, dan cara pemuda itu memandangnya tanpa mengetahui bahwa orang yang berdiri di hadapannya bukanlah adik yang selama ini ia cari.
Tetapi ketakutan itu bukan urusan ketiga siswi ini.
Mai menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya.
“Maaf, Senpai. Saya tidak bisa menyetujui permintaan itu.”
Siswi berambut ekor kuda mengangkat kedua alisnya.
“Apa?”
“Saya tidak akan berhenti makan siang bersama Onii-chan hanya karena kalian tidak menyukainya.”
Kali ini, Mai tidak tersenyum.
“Saya tidak bermaksud menantang kalian. Saya juga tidak ingin membuat masalah. Namun, hubungan saya dengan kakak saya bukan sesuatu yang bisa kalian atur.”
Untuk pertama kalinya, ketiga siswi itu tampak benar-benar kehilangan kata-kata.
Mereka mungkin mengharapkan Mai menangis, meminta maaf, atau berjanji akan menjauh dari Ren. Mereka mungkin mengira gadis pendiam yang selalu tersenyum itu akan mudah ditekan jika dihadapkan pada tiga siswi senior sekaligus.
Mereka tidak tahu bahwa Mai pernah berdiri berjam-jam di hadapan pelanggan yang merendahkannya, menghadapi tuntutan yang tidak masuk akal sambil mempertahankan senyum, dan pulang sendirian ketika tidak ada seorang pun yang peduli apakah ia baik-baik saja.
Ia tidak bangga pernah menjalani kehidupan semacam itu.
Namun, pengalaman tersebut mengajarinya bahwa rasa takut tidak selalu berarti seseorang harus menyerah.
Siswi berjepit perak mengatupkan rahang.
“Jadi, kamu memilih untuk tidak mendengarkan kami?”
“Saya mendengarkan,” jawab Mai. “Saya hanya tidak setuju.”
Satu detik berlalu.
Lalu gadis itu tertawa pendek, tanpa sedikit pun kegembiraan.
“Kamu benar-benar menyebalkan.”
Mai tidak menjawab.
Hujan mengalir dari ujung atap, jatuh tepat di antara mereka seperti tirai tipis. Dari lapangan utama terdengar bunyi peluit yang samar, tetapi tidak ada seorang pun yang muncul di jalur belakang gedung olahraga.
Siswi berambut ekor kuda menoleh ke kanan dan kiri, lalu kembali menatap Mai.
“Kurasa kamu perlu diingatkan bahwa tidak semua orang akan membiarkanmu melakukan apa pun yang kamu inginkan.”
Mai merasakan tengkuknya dingin.
Ia memahami maksud kalimat tersebut. Ia juga menyadari bahwa tempat itu dipilih dengan sengaja: cukup jauh dari pintu utama, cukup sepi dari lalu lintas siswa, dan terhalang oleh sudut gedung dari pandangan langsung kamera pengawas yang menghadap halaman utama.
Ini bukan lagi percakapan biasa.
“Kalau kalian sudah selesai,” kata Mai, berusaha menjaga suaranya tetap stabil, “saya ingin pulang. Hujannya semakin deras.”
Ia menggeser langkah ke samping, mencoba melewati mereka.
Siswi berjepit perak segera bergerak menutup jalurnya.
“Belum selesai.”
Mai berhenti.
“Senpai, saya sudah menjawab semua pertanyaan kalian.”
“Dan kami belum mendapatkan jawaban yang kami inginkan.”
“Saya tidak bisa memberikan jawaban lain.”
Gadis itu mendekat hingga hanya tersisa jarak satu lengan. Wajahnya tidak lagi berusaha menyembunyikan kemarahan.
“Kamu pikir kamu siapa?”
Mai mengangkat dagu.
“Seorang siswi yang ingin pulang.”
“Jangan bermain-main denganku!”
Tangan siswi itu bergerak cepat, meraih bagian depan lengan seragam Mai.
Mai terkejut, tetapi tidak menjerit. Ia langsung menarik lengannya ke belakang, melepaskan cengkeraman tersebut sebelum jari-jari gadis itu sempat menguat.
“Jangan sentuh saya.”
Kalimat itu keluar tegas.
Bahkan Mai sendiri hampir tidak mengenali suaranya. Tidak ada intonasi manis yang biasa ia gunakan di depan teman sekelas, tidak ada nada ringan khas Mei-chan yang pernah membuat pelanggan tersenyum. Yang tersisa hanyalah suara seorang gadis yang telah mencapai batas kesabarannya.
Siswi berjepit perak menatap tangannya sendiri, lalu kembali memandang Mai.
“Apa katamu?”
“Saya bilang, jangan sentuh saya.”