Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #26

Rahasia Kecil di Kedai Ramen

Malam mulai turun ketika limusin hitam keluarga Kisaragi meninggalkan gerbang Akademi Seiwa. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan warna keemasan di permukaan kaca jendela yang gelap. Di dalam mobil, suasana terasa begitu tenang hingga suara mesin dan gesekan ban di atas aspal terdengar lebih jelas daripada percakapan mereka.

Mai duduk di sebelah Ren dengan kedua tangan terlipat di pangkuan. Seragam sekolahnya masih rapi, meskipun tubuhnya mulai terasa lelah setelah seharian menjalani kehidupan ganda yang semakin sulit dipisahkan. Di sekolah, ia harus menjadi Kisaragi Kanade yang anggun dan sopan. Di kediaman keluarga Kisaragi, ia harus menjadi adik perempuan yang manis, patuh, dan selalu siap memberikan perhatian kepada kakaknya.

Bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mengajaknya bicara, Mai merasa seolah-olah masih ada mata yang mengawasinya.

Ia menoleh ke arah Ren. Pemuda itu sedang memandang keluar jendela dengan ekspresi tenang. Cahaya lampu jalan sesekali menyapu wajahnya, memperjelas garis rahangnya dan bayangan tipis di bawah matanya. Sejak kembali bersekolah, Ren memang terlihat semakin bugar, tetapi Mai masih bisa melihat tanda-tanda kelelahan yang sesekali muncul ketika ia mengira tidak ada orang yang memperhatikannya.

“Capek, Onii-chan?” tanya Mai dengan suara lembut.

Ren menoleh. “Sedikit. Bagaimana denganmu?”

“Tidak terlalu.” Mai tersenyum manis. “Kanade selalu bersemangat kalau bisa menghabiskan waktu bersama Onii-chan.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, lengkap dengan intonasi ceria yang sudah ia latih berkali-kali. Namun, alih-alih membalas dengan senyum hangat seperti biasanya, Ren justru menatapnya selama beberapa detik.

“Kau tidak harus selalu mengatakan sesuatu yang menyenangkan untukku.”

Mai terdiam.

“Aku hanya bertanya apakah kau lelah,” lanjut Ren. “Kalau lelah, katakan saja lelah. Kalau ingin diam, kita bisa diam bersama.”

Senyum Mai sedikit goyah. Ia segera menunduk, berpura-pura merapikan lipatan roknya.

“Begitu, ya. Terima kasih, Onii-chan.”

Ren tidak memaksanya melanjutkan percakapan. Ia kembali memandang jendela, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka.

Justru itulah yang membuat Mai merasa gelisah.

Ren tidak pernah memintanya menjadi adik yang sempurna. Ia tidak menuntut Mai untuk terus tersenyum, terus berbicara dengan suara manis, atau terus memusatkan perhatiannya kepada dirinya. Semakin Ren menunjukkan kebaikan seperti itu, semakin sulit bagi Mai untuk mengingat bahwa hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak yang seharusnya hanya berlangsung selama 365 hari.

“Pak,” panggil Ren tiba-tiba kepada sopir di depan. “Bisakah kita berhenti sebentar di kawasan pertokoan?”

Sopir itu melirik melalui kaca spion. “Apakah Tuan Ren ingin membeli sesuatu?”

“Buku. Aku melihat toko buku di daerah ini beberapa hari lalu.”

Mai mengerjapkan mata. Ia tidak ingat pernah mendengar Ren membicarakan toko buku mana pun.

“Apakah ada buku yang Onii-chan inginkan?” tanyanya.

“Mungkin.” Ren tersenyum tipis. “Aku akan melihat-lihat dulu.”

Limusin berbelok menuju kawasan pertokoan yang masih ramai meskipun malam telah tiba. Berbeda dengan lingkungan kediaman Kisaragi yang luas, sunyi, dan tertata sempurna, kawasan itu dipenuhi suara manusia, kendaraan yang berlalu-lalang, serta aroma makanan dari kios-kios kecil di sepanjang jalan.

Lampu papan nama toko berwarna-warni memantul di genangan air dekat trotoar. Seorang pedagang sedang merapikan keranjang sayur, sementara dua pegawai kantor berdiri di depan kedai takoyaki sambil tertawa membicarakan sesuatu. Di seberang jalan, sekelompok anak muda berdebat mengenai film yang baru mereka tonton.

Pemandangan itu sederhana. Bahkan sedikit berantakan.

Namun, bagi Mai, suasana seperti itu terasa begitu akrab hingga dadanya mendadak menghangat.

Sopir menghentikan limusin di dekat toko buku yang masih buka.

“Saya akan menunggu di sini, Tuan Ren.”

“Tidak perlu terlalu lama menunggu,” jawab Ren sambil membuka pintu. “Kami hanya akan melihat-lihat sebentar.”

Mai turun setelahnya. Udara malam menyentuh wajahnya, membawa serta aroma makanan yang bercampur dengan bau aspal dan angin dari jalan raya. Ia menarik napas tanpa sadar, menikmati kebebasan kecil yang jarang ia dapatkan sejak memasuki rumah keluarga Kisaragi.

Ren berdiri di sampingnya.

“Kanade.”

“Ya?”

“Temani aku sebentar.”

Ren mengulurkan tangan.

Mai memandang tangan itu, kemudian wajahnya. Tidak ada kamera yang terlihat di dekat mereka, tetapi ia tahu pengawasan keluarga Kisaragi tidak selalu bergantung pada sesuatu yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Sopir mereka pun mungkin akan melaporkan ke mana saja mereka pergi.

Namun, sebelum Mai sempat memikirkan semua kemungkinan itu, Ren sudah menggenggam tangannya dengan lembut.

“Ayo.”

Ia membawanya berjalan melewati toko buku, lalu berbelok ke sebuah jalan kecil di antara dua bangunan. Mai sempat menoleh ke belakang, memastikan limusin masih berada di tempatnya. Ketika Ren terus berjalan tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun, ia mempercepat langkah untuk mengikutinya.

“Onii-chan, toko bukunya ke arah sana.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu, kita mau ke mana?”

Ren tidak segera menjawab. Ia hanya menuntunnya melewati gang yang semakin sempit, tempat cahaya lampu jalan tidak lagi menjangkau setiap sudut. Di satu sisi terdapat pintu belakang sebuah toko kelontong; di sisi lain, beberapa kotak kardus ditumpuk dekat dinding. Suara kendaraan dari jalan utama terdengar semakin jauh, digantikan bunyi peralatan dapur dan percakapan samar dari bangunan-bangunan di sekitar mereka.

Mai menatap punggung Ren dengan curiga.

“Onii-chan, jangan bilang kita sedang kabur.”

“Menurutmu?”

“Menurutku, ini sangat mirip dengan adegan ketika tokoh utama menculik seseorang untuk membawanya ke tempat rahasia.”

Ren menoleh dengan wajah datar.

“Kalau begitu, kau boleh berteriak.”

Mai memandangnya tidak percaya.

“Bagaimana aku bisa berteriak kalau yang menculikku adalah kakakku sendiri?”

“Benar juga.”

Ren menjawabnya dengan keseriusan yang begitu tidak masuk akal hingga Mai hampir tertawa. Ia buru-buru menutup mulut, berusaha mempertahankan sikap anggun yang telah menjadi kebiasaannya selama beberapa minggu terakhir.

Akan tetapi, Ren sudah melihatnya.

Lihat selengkapnya