Uap tipis mengepul dari dua mangkuk ramen yang baru saja disajikan. Aroma miso, kaldu, dan bawang putih menyebar di udara, membuat perut Mai semakin menyadari betapa laparnya ia setelah seharian beraktivitas.
Di sebelahnya, Ren memandang mangkuk ramen dengan keseriusan yang hampir berlebihan.
Mai meliriknya.
“Onii-chan, ada apa?”
“Tidak ada.”
“Lalu kenapa melihat ramen itu seperti sedang mempelajari soal ujian?”
Ren mengambil sepasang sumpit kayu dari wadah di atas konter. Ia memisahkan kedua batang sumpit itu dengan hati-hati, lalu menatapnya.
“Aku sedang memikirkan cara terbaik untuk memakannya.”
Mai berkedip.
Kemudian, ia menatap sumpit di tangan Ren.
Lalu kembali menatap wajahnya.
“Onii-chan...”
“Ya?”
“Jangan bilang padaku bahwa Onii-chan tidak tahu cara makan ramen dengan sumpit.”
“Aku tahu.”
Ren menjawab terlalu cepat.
Mai menyipitkan mata. “Benarkah?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, silakan.”
Ren mengangguk dengan penuh percaya diri. Ia menjepit beberapa helai mi dengan sumpitnya, mengangkatnya perlahan, lalu mencoba membawanya ke mulut.
Sayangnya, sebagian mi terlepas dan jatuh kembali ke dalam kuah.
Ren mencoba lagi.
Kali ini, mi itu berhasil terangkat, tetapi sumpitnya justru saling bergeser hingga sebagian besar mi meluncur turun. Setetes kuah memercik ke permukaan konter.
Mai menutup mulut.
Ren meliriknya dari sudut mata.
“Jangan tertawa.”
“Aku tidak tertawa.”
“Kau sedang menahan tawa.”
“Tidak, kok.”
Ren mencoba sekali lagi. Ia berhasil mengangkat beberapa helai mi, tetapi ketika hendak memakannya, helaian itu kembali terlepas dan jatuh ke mangkuk dengan suara kecil.
Mai akhirnya tidak sanggup menahan diri.
Ia tertawa.
Bukan tawa sopan yang biasa ia gunakan di hadapan keluarga Kisaragi. Bukan pula tawa kecil yang sengaja dibuat manis agar sesuai dengan sosok adik perempuan yang diharapkan semua orang.
Tawa itu keluar begitu saja, lepas dan jujur, hingga bahunya ikut bergetar.
Ren berhenti bergerak.
Mai buru-buru menutup mulut, tetapi tawanya masih lolos di sela-sela jemarinya.
“Maaf, Onii-chan! Aku tidak bermaksud—”
“Kau tertawa cukup keras untuk seseorang yang tadi mengatakan dirinya tidak tertawa.”
“Karena...” Mai berusaha menarik napas. “Karena wajah Onii-chan tadi sangat serius!”
“Ini masalah serius.”
“Ramen tidak akan kabur, Onii-chan!”
“Kalau begitu, kenapa dia terus melarikan diri dari sumpitku?”
Ucapan itu membuat Mai kembali tertawa. Kali ini ia sampai harus menunduk, menyeka sudut matanya yang sedikit berair.
Ren memandangnya dalam diam.
Ada sesuatu yang berbeda dari tawa itu.
Selama ini, ia mengenal Kanade sebagai gadis yang lembut, perhatian, dan selalu berusaha membuat orang lain merasa nyaman. Ia sering melihat gadis itu tersenyum kepadanya, tetapi senyum tersebut biasanya datang bersama kata-kata manis, gerakan yang terukur, dan perhatian yang seolah sudah dipikirkan sebelumnya.
Tawa yang baru saja didengarnya tidak seperti itu.
Mai tertawa tanpa sempat mengatur ekspresinya. Rambutnya sedikit berantakan ketika ia menunduk, dan ia bahkan tidak menyadari bahwa seorang pelanggan di ujung konter sempat menoleh karena suaranya.
Untuk pertama kalinya malam itu, Ren merasa sedang melihat sesuatu yang benar-benar tidak dibuat untuk siapa pun.
“Kanade.”
Mai masih tersenyum ketika mengangkat wajah.
“Ya, Onii-chan?”
“Ajari aku.”
Ia mengangkat sumpitnya.
Mai berkedip, lalu tersenyum lebih lebar.
“Baiklah. Sini.”
Ia menggeser tubuhnya sedikit mendekat, kemudian menunjukkan cara memegang sumpit dengan benar. Batang pertama diletakkan di antara pangkal ibu jari dan jari manis, sementara batang kedua dijepit menggunakan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah.
“Yang bawah jangan banyak bergerak. Yang atas saja yang digerakkan. Lihat, begini.”
Mai memperagakannya dengan beberapa helai mi.
“Setelah itu, ambil sedikit saja. Jangan terlalu banyak, karena nanti sulit diangkat.”
Ren memperhatikan gerakan tangannya dengan saksama.
“Begitu?”
“Ya. Coba sekarang.”
Ren mengikuti instruksinya. Kali ini, ia berhasil mengangkat mi tanpa menjatuhkannya kembali ke dalam mangkuk.
Mai mengangkat kedua tangannya dengan gembira.
“Berhasil!”
Ren menatap mi yang berhasil dijepitnya, lalu menoleh kepada Mai.
“Sepertinya aku baru saja menyelesaikan pencapaian besar.”
“Benar sekali! Pencapaian pertama Onii-chan dalam dunia ramen!”
“Apakah ada sertifikatnya?”
Mai terdiam sesaat.
Lalu ia mengangkat telunjuknya dengan wajah yang dibuat serius.
“Tentu saja. Sertifikatnya adalah satu mangkuk ramen yang harus dihabiskan sampai bersih!”