Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #28

Tatapan Mata Buronan Akihabara

Siang itu, matahari menggantung tinggi di atas Akademi Seiwa, menumpahkan cahaya putih ke halaman sekolah yang dipenuhi siswa. Suara percakapan dari koridor bercampur dengan derap sepatu, bunyi pintu kelas yang dibuka-tutup, serta pengumuman singkat dari pengeras suara yang sesekali terdengar di antara jam pelajaran. Bagi sebagian besar siswa, waktu istirahat merupakan kesempatan untuk melepaskan diri sejenak dari rumus matematika, tugas bahasa, dan penjelasan guru yang terasa tidak kunjung selesai.

Namun, di salah satu sudut gedung kegiatan ekstrakurikuler, sekelompok siswa memiliki persoalan yang jauh lebih penting daripada ujian pekan depan.

Setidaknya, menurut mereka sendiri.

Ruang Klub Kebudayaan Pop Akademi Seiwa berada di ujung koridor lantai dua, tersembunyi di balik pintu kayu yang ditempeli poster anime, ilustrasi gim, dan beberapa selebaran acara budaya populer. Sebuah papan kecil di samping pintu bertuliskan nama klub dengan huruf-huruf yang mulai memudar. Di bawahnya, seseorang menambahkan tulisan tangan menggunakan spidol merah.

DILARANG MASUK TANPA IZIN. KECUALI MEMBAWA CEMILAN.

Pintu ruangan itu tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara kipas angin tua, dengung komputer, dan perdebatan dua orang yang tampaknya tidak memiliki niat untuk berakhir dalam waktu dekat.

“Tidak mungkin!”

Suara Haruki menggema di antara rak-rak figurin.

“Tidak mungkin, Tetsuya! Aku menolak menerima kesimpulan itu!”

Haruki, siswa kelas satu berusia enam belas tahun dengan tubuh tinggi kurus dan rambut yang selalu tampak berantakan, berdiri di depan meja komputer sambil menunjuk layar monitor. Matanya membelalak di balik pantulan cahaya layar, sementara kedua tangannya bergerak liar seolah-olah ia sedang menjelaskan teori konspirasi kepada sekelompok ilmuwan internasional.

Di hadapannya, Tetsuya duduk dengan punggung tegak. Tubuhnya lebih pendek, kacamata berbingkai bulat bertengger di hidung, dan sebuah buku catatan terbuka di samping papan ketik. Berbeda dengan Haruki yang mudah terbawa emosi, Tetsuya selalu berusaha menyusun setiap kesimpulan berdasarkan bukti, meskipun definisinya tentang bukti terkadang terlalu longgar untuk diterima oleh orang normal.

“Aku belum mengatakan kesimpulannya mustahil,” jawab Tetsuya tenang. “Aku hanya mengatakan bahwa kita belum memiliki cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa Kisaragi Kanade adalah Mei-chan.”

Haruki menoleh dengan ekspresi tersinggung.

“Kalimatmu itu sama saja dengan meragukan insting seorang penggemar sejati!”

“Insting bukan bukti.”

“Insting penggemar sejati adalah bukti yang belum sempat dipahami oleh ilmu pengetahuan!”

Tetsuya menghela napas panjang. Ujung pensil mekaniknya diketukkan tiga kali ke atas buku catatan sebelum ia kembali menatap layar komputer.

Di ruangan itu, poster-poster memenuhi hampir setiap bidang dinding yang tidak tertutup lemari. Ada ilustrasi karakter anime dengan kostum berwarna mencolok, kalender acara budaya populer dari tahun-tahun sebelumnya, serta foto-foto kelompok pengisi suara dan penyanyi idola. Di salah satu rak kaca, figurin edisi terbatas berjajar rapi berdasarkan tahun penerbitan. Sebuah lemari besi kecil di sudut ruangan menyimpan koleksi yang dianggap paling berharga oleh anggota klub, lengkap dengan daftar inventaris dan catatan kondisi barang.

Di antara seluruh benda tersebut, satu nama memiliki tempat khusus.

Mei-chan.

Mantan maid kafe di Akihabara yang pernah menjadi idola kecil di kalangan pelanggan tetap sebuah maid cafe, terkenal karena senyum cerahnya, sapaan khas yang ekspresif, dan kemampuannya membuat pelanggan merasa seperti tamu istimewa di dunia dongeng. Ia menghilang dari kafe itu tanpa banyak penjelasan, meninggalkan sejumlah penggemar yang masih memperdebatkan alasan di balik kepergiannya.

Bagi sebagian orang, Mei-chan hanyalah seorang pekerja kafe yang sudah berhenti bekerja.

Bagi Haruki dan Tetsuya, ia adalah sebuah misteri budaya populer yang layak diteliti sampai tuntas.

Dan sekarang, mereka memiliki dugaan yang semakin sulit diabaikan.

Murid baru kelas satu bernama Kisaragi Kanade memiliki wajah yang sangat mirip dengan Mei-chan.

Bukan sekadar mirip.

Ada sesuatu dalam bentuk mata, lekuk senyum, dan cara gadis itu memiringkan kepala ketika mendengarkan seseorang berbicara yang membuat Haruki merasa seolah-olah sedang melihat sosok yang pernah ia kenal dari balik meja kafe.

Masalahnya, Kisaragi Kanade merupakan adik perempuan Kisaragi Ren, siswa kelas tiga yang terkenal karena kecerdasannya, penampilannya yang menarik, serta statusnya sebagai putra keluarga konglomerat Kisaragi. Hubungan mereka tampak begitu wajar di mata sebagian besar siswa: seorang kakak yang sangat protektif terhadap adiknya setelah mengalami koma dan kehilangan ingatan.

Namun, bagi dua anggota klub yang menghabiskan terlalu banyak waktu membaca forum daring, penjelasan yang wajar justru terasa mencurigakan.

Haruki sudah memiliki teori bahwa Ren mungkin telah menculik Mei-chan, menyembunyikannya di kediaman keluarga Kisaragi, lalu memperkenalkannya kepada dunia sebagai adik kandungnya sendiri.

Tetsuya menyebut teori tersebut sebagai dugaan tanpa dasar.

Namun, ia tidak pernah benar-benar membatalkan penyelidikan mereka.

Dan pada siang itu, Haruki membawa sesuatu yang berpotensi mengubah segalanya.

Sebuah foto.

Foto tersebut tersimpan di dalam folder tersembunyi pada telepon genggam Haruki. Gambar itu diambil beberapa hari sebelumnya, ketika ia melihat Mai berdiri di dekat deretan loker sepatu setelah jam pelajaran berakhir. Gadis itu sedang berbicara dengan seorang teman sekelas, sedikit menundukkan kepala sambil tersenyum. Rambutnya yang panjang terselip di belakang telinga, memperlihatkan sebagian wajahnya dengan jelas.

Haruki mengambil foto itu secara diam-diam dari ujung koridor.

Awalnya, ia hanya ingin membandingkan kemiripan wajah Kanade dengan beberapa foto lama Mei-chan yang tersimpan dalam arsip pribadinya. Ia tidak berniat melakukan sesuatu yang lebih jauh. Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri ketika Tetsuya pertama kali menanyakan dari mana gambar tersebut berasal.

Sekarang, foto itu memenuhi layar komputer.

Haruki memperbesar bagian wajah Mai hingga piksel-pikselnya mulai terlihat.

“Lihat ini,” katanya, suaranya mendadak lebih rendah. “Perhatikan garis rahangnya.”

Tetsuya menggeser kursinya mendekat.

“Sudah kulihat.”

“Bukan hanya garis rahangnya. Bentuk mata, jarak antara mata dan alis, kemudian cara sudut bibirnya terangkat ketika tersenyum. Semuanya sangat dekat dengan foto Mei-chan.”

“Kesamaan wajah tidak membuktikan identitas yang sama.”

“Aku tahu!”

Haruki mengetuk meja dengan telapak tangan.

“Karena itulah kita memerlukan bukti yang lebih spesifik.”

Ia berbalik menuju lemari kaca di sudut ruangan. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka kunci kecil pada salah satu kompartemen, lalu mengeluarkan sebuah kotak transparan yang dilapisi kain lembut. Di dalamnya terdapat beberapa gantungan kunci, kartu koleksi, dan benda-benda kecil yang telah ia simpan selama bertahun-tahun.

Tetsuya mengamati kotak itu.

“Jangan bilang kau akan mengeluarkan koleksi edisi terbatasmu.”

Haruki tidak menjawab. Ia hanya membuka kotak tersebut dengan ekspresi yang nyaris khidmat.

Di antara benda-benda yang tersusun rapi, terdapat sebuah gantungan kunci berbentuk karakter perempuan dalam kostum maid klasik. Rambutnya dihiasi pita, celemek putihnya membentang di atas gaun hitam, dan senyum cerianya membuat ilustrasi itu tampak seolah-olah hendak menyapa siapa pun yang melihatnya.

Di bagian bawah gantungan kunci itu tercetak tulisan kecil:

MEI-CHAN — AKIHABARA LIMITED COLLECTION.

Tetsuya membetulkan kacamatanya.

“Bukankah itu edisi yang hanya dijual kepada pelanggan tetap?”

“Benar. Produksinya terbatas, dan aku mendapatkannya dari pelanggan yang pernah mengunjungi kafe itu pada masa Mei-chan masih bekerja.” Haruki memegang gantungan kunci tersebut dengan kedua tangan. “Benda ini adalah salah satu barang terakhir yang memiliki foto resmi Mei-chan dalam kualitas cukup baik.”

Ia meletakkannya di samping papan ketik, kemudian membuka arsip foto produk yang tersimpan di komputernya.

Foto Mei-chan yang tercetak pada kartu koleksi di belakang gantungan kunci itu memperlihatkan sang maid sedang tersenyum sambil sedikit memiringkan kepala. Rambutnya disisir ke belakang salah satu telinga, menampakkan sisi wajah yang biasanya tertutup helaian rambut.

Haruki memperbesar foto tersebut.

Lalu ia kembali membuka foto Mai.

Dua gambar itu kini berdampingan di layar monitor.

Untuk beberapa saat, ruangan klub hanya diisi dengung kipas angin dan suara samar aktivitas siswa dari koridor luar.

Haruki tidak lagi bergerak liar seperti biasanya. Ia membungkuk mendekati layar, mengatur tingkat pembesaran, kemudian menggeser kedua gambar agar bagian wajah yang hendak dibandingkan berada pada posisi serupa.

“Kalau kita hanya membandingkan mata dan bentuk wajah, hasilnya masih bisa diperdebatkan,” gumamnya. “Tetapi ada satu detail yang selama ini belum kuperiksa dengan benar.”

Ia menunjuk area di dekat telinga Mai.

“Di sini.”

Tetsuya mendekatkan wajah ke layar.

“Apakah itu tahi lalat?”

“Ya. Tahi lalat kecil di dekat telinga.”

Haruki kembali membuka foto resmi Mei-chan, memperbesar bagian yang sama, lalu menggeser tampilan gambar beberapa kali. Ia bahkan mengambil kaca pembesar kecil dari laci meja, meskipun benda itu hampir tidak membantu ketika yang diperiksanya adalah foto digital.

“Lihat posisinya,” katanya.

Tetsuya menahan napas, lalu membungkuk semakin dekat.

Pada foto Mai, sebuah titik kecil tampak di dekat telinga, sebagian terlihat di antara helaian rambut yang terselip ke belakang. Pada foto Mei-chan, titik serupa muncul pada posisi yang hampir sama.

Haruki memperbesar kedua gambar hingga wajah mereka memenuhi sebagian besar layar.

“Jaraknya dari daun telinga,” katanya cepat. “Posisinya terhadap garis rambut. Ukurannya relatif terhadap bagian wajah di sekitarnya. Semuanya cocok.”

Tetsuya tidak langsung menjawab. Ia mengambil buku catatannya dan menuliskan beberapa poin, lalu membandingkan keduanya sekali lagi.

“Sudut pengambilan gambar berbeda,” katanya. “Pencahayaan juga tidak sama. Kita tidak bisa menyatakan identitas seseorang hanya berdasarkan satu ciri fisik.”

Haruki menatapnya tajam.

“Tetsuya.”

“Apa?”

“Lihat sekali lagi.”

Tetsuya mengembuskan napas, lalu kembali memeriksa kedua foto tersebut. Ia memperhatikan posisi titik kecil itu, bentuk telinga, dan beberapa ciri wajah yang terlihat di sekitar rambut Mai.

Beberapa detik berlalu.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Kemudian Tetsuya perlahan melepas kacamatanya dan membersihkan lensanya dengan ujung kain seragam.

“...Ini sangat mencurigakan.”

Haruki menepuk meja.

“Benar, bukan?!”

“Jangan berteriak! Kita sedang melakukan analisis!”

“Analisis macam apa yang membutuhkan suara pelan kalau kebenaran sudah berada di depan mata?!”

“Analisis yang tidak ingin membuat seluruh sekolah menganggap kita berdua gila!”

Haruki tidak mendengarkan. Ia kembali menatap layar, memperbesar gambar sekali lagi, lalu menyandingkannya dengan foto resmi yang telah ia simpan.

Titik kecil di dekat telinga itu terlihat pada kedua gambar.

Letaknya nyaris identik.

Bentuk wajah mereka pun memiliki kemiripan yang sulit diabaikan.

Haruki menelan ludah. Jari telunjuknya berhenti di atas meja, gemetar kecil karena kegembiraan yang mendadak berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.

“Kalau ini benar...” bisiknya.

Tetsuya menatap foto murid baru itu dengan wajah pucat.

“Kalau ini benar, berarti Kisaragi Kanade bukan sekadar mirip dengan Mei-chan.”

Haruki mengangguk perlahan.

“Dia adalah Mei-chan.”

Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.

Kemudian Haruki berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser dan menabrak lemari di belakangnya.

“AKHIRNYA!”

Tetsuya tersentak.

“Jangan berteriak di dekat koleksi!”

“Kita menemukannya! Setelah sekian lama, kita akhirnya menemukan Mei-chan!”

“Belum! Kita baru menemukan kemiripan yang sangat kuat!”

“Perbedaannya hanya masalah administrasi!”

“Itu bukan masalah administrasi!”

Haruki berjalan mondar-mandir di antara meja dan rak figurin, kedua tangannya mengepal di depan dada. Wajahnya memerah, dan ia tampak kesulitan memutuskan apakah harus tertawa, menangis, atau segera berlari ke luar ruangan untuk mengumumkan penemuannya kepada dunia.

Lihat selengkapnya