Senja telah lama berlalu ketika limusin hitam keluarga Kisaragi memasuki gerbang besi kediaman. Lampu-lampu taman menyala dengan warna kekuningan, menerangi jalan masuk yang membelah hamparan rumput terawat dan deretan pohon yang dipangkas sempurna. Dari balik jendela mobil, Mai melihat air mancur di tengah halaman memantulkan cahaya lampu, tampak begitu tenang hingga seolah-olah tidak ada sesuatu pun di dunia yang mampu mengganggu keteraturan tempat itu.
Namun, ketenangan tersebut tidak pernah benar-benar membuatnya merasa aman.
Ia duduk di kursi belakang dengan tas sekolah di pangkuan. Jari-jarinya masih mencengkeram tali tas, sementara pikirannya melayang pada pelajaran terakhir yang baru saja selesai, tugas yang harus dikumpulkan esok hari, dan percakapan ringan bersama Yuna sebelum pulang. Sepanjang perjalanan, ia berusaha menikmati sisa-sisa hari yang berjalan cukup baik. Ren sempat mengiriminya pesan singkat dari mobilnya sendiri, menanyakan apakah ia sudah makan camilan yang dibelikan Kenji. Mai bahkan sempat tersenyum sendirian ketika mengingat jawaban Ren yang begitu polos saat ia mengatakan bahwa Kenji mungkin akan bangkrut jika terus membelikan makanan untuk semua orang.
Kenangan kecil itu perlahan memudar ketika limusin berhenti di depan pintu utama kediaman.
“Terima kasih, Pak,” ucap Mai kepada sopir sebelum turun.
Udara malam terasa sejuk. Ia merapikan rok seragamnya, membetulkan posisi tas di bahu, lalu melangkah menuju pintu masuk. Sepatunya mengetuk lantai batu dengan irama ringan. Seorang pelayan yang berdiri di dekat pintu membungkuk untuk menyambutnya, dan Mai membalas dengan anggukan sopan yang sudah menjadi bagian dari perannya.
Ia hampir mencapai anak tangga pertama ketika seseorang memanggilnya dari arah parkiran samping.
“Nona Kanade.”
Langkah Mai terhenti.
Suara itu tidak keras. Bahkan terdengar begitu datar sehingga siapa pun yang tidak mengenalnya mungkin akan menganggapnya sebagai panggilan biasa. Namun, tubuh Mai bereaksi sebelum pikirannya sempat menyusun alasan untuk merasa tenang. Jari-jarinya mengencang pada tali tas, dan senyum yang baru saja tersisa di wajahnya menghilang sedikit demi sedikit.
Ia menoleh.
Saito Kazuma berdiri di samping sebuah sedan hitam yang terparkir agak jauh dari limusin keluarga. Jasnya masih rapi meskipun hari telah larut. Satu tangannya memegang telepon genggam, sementara tangan yang lain terselip di saku celana. Wajahnya diterangi lampu parkiran dari samping, membuat garis rahangnya terlihat lebih tegas.
Ia tidak tersenyum.
“Mohon ikut saya sebentar.”
Mai menatap pintu utama di belakangnya. Hanya beberapa langkah lagi, ia sudah bisa masuk ke dalam rumah, naik ke kamarnya, melepas seragam, dan membiarkan dirinya beristirahat selama beberapa menit sebelum kembali memainkan peran sebagai Kanade.
“Apakah ada sesuatu yang perlu dibicarakan, Pak Saito?” tanyanya hati-hati.
“Ada.”
Saito melirik jam tangannya.
“Sekarang.”
Mai menelan ludah. Ia ingin bertanya apakah pembicaraan itu bisa ditunda sampai besok pagi, tetapi ekspresi Saito membuat pertanyaan tersebut terasa sia-sia bahkan sebelum keluar dari mulutnya.
Ia menundukkan kepala sedikit.
“Baik.”
Saito membuka pintu mobil belakang untuknya. Mai masuk dengan langkah kaku, duduk di kursi kulit berwarna gelap, lalu menarik tasnya ke pangkuan. Aroma kulit, pengharum mobil, dan kertas dari dokumen-dokumen yang tersimpan di kompartemen depan bercampur menjadi bau yang segera dikenalnya.
Mobil itu bukan pertama kalinya digunakan Saito untuk memberinya peringatan.
Dan setiap kali ia duduk di dalamnya, Mai selalu merasa seolah-olah pintu yang tertutup telah memisahkannya dari dunia luar.
Saito masuk dari sisi lain dan menutup pintu. Bunyi klik dari kunci otomatis terdengar kecil, tetapi cukup untuk membuat bahu Mai menegang.
Di luar, para pelayan melanjutkan pekerjaan mereka. Dari dalam mobil, suara air mancur hanya terdengar sebagai gemerisik samar. Kaca jendela yang tebal meredam suara malam hingga hampir tidak ada apa pun yang tersisa selain dengung pendingin udara.
Saito meletakkan telepon genggamnya di atas meja lipat kecil di antara mereka.
“Apakah Anda menikmati hari sekolah Anda?”
Pertanyaan itu begitu tidak sesuai dengan ekspresinya hingga Mai sempat mengira ia salah mendengar.
“Ya, Pak. Seperti biasa.”
“Tidak ada masalah?”
Mai menggeleng pelan.
“Tidak ada masalah besar.”
Saito mengangkat matanya.
“Masalah besar?”
Mai menyadari kesalahannya. Ia buru-buru meluruskan punggung, berusaha mengembalikan ketenangan pada wajahnya.
“Maksud saya, kegiatan sekolah berjalan normal. Saya mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, dan berinteraksi dengan teman-teman sekelas sesuai instruksi. Tidak ada kejadian yang mengganggu tugas saya sebagai Kanade.”
Saito tidak segera menjawab. Ia mengambil telepon genggamnya, menyentuh layar beberapa kali, lalu memutar perangkat itu agar menghadap Mai.
“Kalau begitu, mungkin Anda bisa menjelaskan ini.”
Di layar terpampang tangkapan layar sebuah forum pesan pribadi. Latar belakangnya sederhana, hanya berupa percakapan dengan nama-nama pengguna dan gelembung pesan yang tersusun rapat. Namun, beberapa baris teks yang terlihat membuat perut Mai terasa jatuh.
[Pop Culture Seiwa — Diskusi Internal]
Shun: Kisaragi Kanade, murid baru kelas 1-A, memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan Mei-chan, mantan maid kafe Akihabara.
Shun: Kami menemukan detail fisik yang tampak identik. Belum terkonfirmasi, tetapi kami berencana menanyakan langsung kepadanya.
Anggota lain: Bukankah ada teori bahwa Ren menyembunyikan Mei-chan?
Anggota lain: Jangan-jangan rumor penculikan itu benar.
Mai berhenti bernapas selama satu detik.
Ia membaca baris-baris itu sekali lagi, berharap matanya telah keliru menangkap nama yang tercantum di layar. Namun, huruf-huruf tersebut tidak berubah. Nama panggung yang sudah lama ia tinggalkan kembali muncul, disandingkan dengan nama palsu yang kini menjadi satu-satunya identitas yang boleh ia gunakan.
Mei-chan.
Kisaragi Kanade.
Kedua nama itu berdampingan dalam sebuah percakapan yang tidak seharusnya ada.
“Dari mana...” Suara Mai terdengar lebih kecil daripada yang ia inginkan. Ia berdeham, lalu mencoba kembali. “Dari mana Bapak mendapatkan tangkapan layar ini?”
“Itu bukan hal yang perlu Anda ketahui.”
Saito menggeser telepon sedikit lebih dekat.
“Yang perlu Anda ketahui adalah bahwa informasi mengenai masa lalu Anda sudah mulai beredar di lingkungan sekolah. Ada siswa yang mengenali wajah Anda, menghubungkannya dengan nama panggung Anda di Akihabara, lalu menyebarkan dugaan mengenai hubungan Anda dengan keluarga Kisaragi.”
Mai menatap layar tanpa berkedip. Ujung jarinya mulai dingin.
Ia teringat dua siswa di kelasnya yang beberapa kali memperhatikannya terlalu lama. Haruki dan Tetsuya. Mereka pernah bertanya tentang maid cafe, lalu mengamati reaksinya ketika ia menjawab bahwa ia hanya mengenal tempat-tempat seperti itu dari televisi. Ia mengira penjelasan tersebut cukup meyakinkan.
Rupanya, mereka tidak berhenti di sana.
“Mereka belum memiliki bukti mengenai kontrak saya,” kata Mai cepat, berusaha mempertahankan suaranya agar tidak bergetar. “Mereka hanya menemukan kemiripan wajah. Saya bisa menangani ini sebelum rumor tersebut menyebar lebih jauh.”
“Bagaimana?”
Pertanyaan Saito singkat dan tajam.
Mai membuka mulut, tetapi jawaban yang telah ia susun di dalam kepala mendadak terasa rapuh. Ia bisa menyangkal bahwa dirinya adalah Mei-chan. Ia bisa menghindari pertanyaan mereka, mengubah topik pembicaraan, atau menjelaskan bahwa kemiripan wajah tidak membuktikan apa pun.
Namun, ia tidak bisa mengendalikan apa yang akan dilakukan orang lain.
Ia juga tidak bisa memaksa semua siswa berhenti membicarakannya.
“Saya akan berbicara dengan mereka,” jawabnya akhirnya. “Saya akan memastikan mereka tidak membuat tuduhan tanpa dasar. Kalau perlu, saya akan menjelaskan bahwa saya tidak memiliki hubungan dengan sosok yang mereka maksud.”
Saito menatapnya tanpa ekspresi.
“Dan jika mereka meminta bukti?”
Mai terdiam.
“Jika mereka menunjukkan foto lama Anda? Jika mereka memiliki rekaman, merchandise, atau arsip dari maid cafe tersebut? Jika mereka menghubungi orang-orang yang pernah bekerja bersama Anda di Akihabara?”
Setiap pertanyaan terasa seperti satu anak tangga yang mengarah semakin jauh ke dalam lubang yang tidak bisa ia panjat keluar.
Mai mengepalkan tangan di atas tasnya. Kuku-kukunya menekan telapak tangan, tetapi ia hampir tidak merasakan sakitnya.
“Saya akan berusaha mencegahnya sampai sejauh itu.”
“Berusaha?”
Saito mengembuskan napas pendek melalui hidung.
“Apakah Anda memahami posisi Anda saat ini, Miyauchi Mai?”
Nama aslinya diucapkan dengan begitu dingin hingga Mai refleks mengangkat wajah.
Saito jarang memanggilnya dengan nama itu di luar pembicaraan yang benar-benar pribadi. Biasanya, ia menggunakan nama Kanade untuk menegaskan identitas yang harus dipertahankan Mai. Menyebut nama aslinya sekarang terasa seperti sengaja membuka lapisan pertama dari penyamarannya.
“Ya, Pak.”