Pagi itu, limosin hitam keluarga Kisaragi meluncur melewati gerbang besi Akademi Seiwa seperti biasa. Kilau catnya memantulkan gedung-gedung sekolah yang berdiri megah di balik pepohonan, sementara ban mobil melindas jalan beraspal yang masih menyimpan sisa kelembapan embun. Di trotoar, para siswa berjalan berkelompok sambil membicarakan ujian, tugas kelas, dan rencana festival budaya yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Beberapa di antara mereka bahkan belum sempat menghabiskan roti sarapan ketika kendaraan mewah itu memasuki area penurunan penumpang.
Namun, bagi Miyauchi Mai, pagi itu terasa jauh lebih dingin daripada udara musim gugur yang menyentuh kulitnya.
Ia duduk di kursi belakang dengan kedua tangan bertaut di atas rok seragam. Di pangkuannya, tas sekolah berwarna gelap terletak rapi, tetapi jari-jarinya terus mencengkeram tali tas itu sampai buku-buku jarinya memutih. Di balik rambut hitamnya yang tertata sempurna, ia masih dapat merasakan sisa panas air mata yang semalam mengalir tanpa suara di lantai kamarnya.
Jangan duduk terlalu dekat. Jangan menggandeng tangannya tanpa alasan medis. Jangan menunjukkan ketergantungan emosional yang berlebihan di tempat umum.
Suara Saito Kazuma terus berputar di kepalanya, setajam bunyi jarum jam yang berdetak di ruangan sunyi.
Jangan lupa, kau bukan anggota keluarga Kisaragi. Kau hanya menjalankan peran yang dibayar untuk kau mainkan.
Mai menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seolah-olah ia telah menghabiskan sepanjang malam berteriak meskipun kenyataannya tak satu pun suara keluar dari mulutnya.
Di sebelahnya, Ren sedang membaca buku kecil yang dibawanya dari rumah. Cahaya matahari pagi menyentuh sisi wajah pemuda itu, menonjolkan garis hidungnya yang tegas dan rambut hitam yang sedikit berantakan di bagian depan. Ia tampak seperti biasanya: tenang, rapi, dan begitu jauh dari kesan bahwa dirinya adalah pewaris tunggal konglomerat besar.
Sesekali, Ren membalik halaman. Kemudian, seakan baru teringat sesuatu, ia menutup buku itu dan menoleh kepada Mai.
"Kanade."
Mai hampir tersentak.
"I-iya, Onii-chan?"
Senyum otomatis muncul di wajahnya. Sudut bibirnya terangkat dengan kemiringan yang sudah ia latih berkali-kali di depan cermin, dan kepalanya sedikit dimiringkan seperti adik manis yang siap mendengarkan apa pun dari kakaknya.
Sayangnya, senyum itu terasa berat bahkan sebelum Ren sempat mengatakan apa-apa.
"Kau sudah mengerjakan soal matematika yang kuberikan kemarin?"
"Sudah."
"Bagaimana dengan nomor terakhir? Bukankah kau bilang bagian itu agak sulit?"
Mai mengangguk kecil. "Aku berhasil menyelesaikannya setelah membaca ulang penjelasannya."
"Bagus. Nanti kalau ada soal lain yang membuatmu kesulitan, tunjukkan saja kepadaku."
Ren tersenyum. Senyum sederhana yang selama beberapa minggu terakhir telah menjadi salah satu hal yang paling ditunggu Mai setiap pagi.
Dahulu, ia hanya perlu membalasnya dengan senyum lebar, mengucapkan terima kasih, lalu menepuk-nepuk lengan Ren sambil mengeluh manja bahwa pelajaran sekolah terlalu sulit. Ren biasanya akan tertawa kecil sebelum menawarkan diri untuk mengajarinya. Percakapan mereka sesederhana itu, tetapi selalu berhasil membuat perjalanan menuju sekolah terasa lebih singkat.
Pagi ini, Mai hanya mengangguk.
"Terima kasih, Onii-chan."
Ia segera memalingkan wajah ke jendela, berpura-pura tertarik pada deretan toko yang mulai ramai. Pantulan wajahnya sendiri terlihat samar di kaca. Di balik pantulan itu, ia bisa melihat Ren masih memandangnya.
"Kanade, kau kurang tidur?"
Pertanyaan itu datang begitu lembut sehingga dada Mai seketika terasa sesak.
"Tidak. Aku tidur dengan baik."
"Kau yakin? Matamu terlihat sedikit merah."
Jari Mai mencengkeram tali tas lebih erat.
"Aku hanya membaca sampai agak malam."
"Kalau begitu, malam ini jangan terlalu lama belajar. Kita bisa membahas pelajaran bersama setelah makan malam."
Ren mengatakannya tanpa kecurigaan, tanpa menuntut penjelasan lebih jauh. Ia hanya ingin membantu. Sama seperti ketika ia membuatkan pita merah muda untuk Mai, ketika ia mengajaknya makan ramen di kedai kecil, dan ketika ia berdiri di bawah hujan untuk melindunginya dari tiga siswi senior.
Semua kebaikan itu kini terasa seperti sesuatu yang diam-diam sedang ia curi.
"Baik, Onii-chan."
Mai menunduk agar Ren tidak melihat bagaimana bibirnya bergetar setelah mengucapkan jawaban tersebut.
Mobil melambat. Dari luar terdengar suara petugas keamanan yang mengarahkan kendaraan, disusul bunyi langkah para siswa yang melewati pintu masuk utama.
Limosin berhenti tepat di depan gedung akademi.
Sopir turun untuk membukakan pintu, tetapi sebelum ia sempat bergerak ke sisi Mai, Ren sudah meletakkan bukunya ke dalam tas dan berdiri.
"Ayo. Kita masuk bersama."
Ren mengulurkan tangan kepadanya.
Gerakan itu begitu wajar, begitu akrab, sampai-sampai Mai nyaris menyambutnya secara refleks. Tubuhnya bahkan sudah condong sedikit ke depan sebelum ia mengingat kembali aturan yang ditanamkan Saito ke dalam kepalanya.
Tangan Ren tetap terulur di antara mereka.
Mai menatapnya selama satu detik yang terasa terlalu panjang.
Kemudian, ia menarik tangannya sendiri ke pangkuan.
"Maaf, Onii-chan. Aku ingin berjalan sendiri hari ini."
Senyum Ren tidak langsung menghilang. Ia hanya mengerjapkan mata, seolah-olah sedang memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.
"Berjalan sendiri?"
"Iya. Aku ingin menyapa teman-teman sekelasku lebih dulu."
"Oh."
Ren menurunkan tangannya perlahan. Tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya kebingungan kecil yang segera disembunyikannya di balik senyum.
"Kalau begitu, aku tunggu di depan gedung."
"Tidak perlu."
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Mai menyadarinya sesaat setelah kata-kata tersebut meninggalkan mulutnya. Ia segera memperbaiki nada suaranya, berusaha membuat penolakan itu terdengar seperti sesuatu yang biasa.
"Maksudku, Onii-chan bisa langsung masuk ke kelas. Aku akan menyusul."
Ren memandangnya.
Mai tidak sanggup mempertahankan tatapan itu. Ia menunduk, merapikan ujung lengan seragamnya yang sebenarnya tidak perlu dirapikan, lalu meraih tas.
"Permisi."
Ia turun dari mobil tanpa menunggu jawaban.
Udara pagi menyentuh pipinya. Di hadapannya, beberapa siswa yang sedang melewati gerbang memperlambat langkah ketika melihat Mai keluar dari limosin keluarga Kisaragi. Seperti biasa, kehadiran Ren dan adiknya menarik perhatian. Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar dari antara kelompok siswa yang berdiri di dekat papan pengumuman.
Namun, kali ini perhatian mereka tidak hanya tertuju pada kemewahan mobil atau paras tampan Ren.
Mereka melihat sesuatu yang tidak biasa.
Ren keluar beberapa detik setelah Mai. Ia sempat mengulurkan tangan untuk membantunya turun, tetapi gadis itu sudah berdiri jauh dari pintu sebelum ia sempat melakukannya. Mai kemudian melangkah menuju gedung kelas satu dengan jarak beberapa meter di antara mereka.
Ren berhenti sejenak di samping limosin.
"Kanade?"
Mai mendengar panggilan itu. Ia tahu Ren sedang menunggunya menoleh.
Namun, ia terus berjalan.
Langkah sepatunya terdengar berirama di atas jalan setapak. Satu, dua, tiga. Ia memusatkan perhatian pada bunyi itu, menjadikannya semacam hitungan agar dirinya tidak kembali berbalik.
Jangan menoleh. Kalau kau melihat wajahnya sekarang, kau tidak akan sanggup melanjutkannya.
Ren akhirnya memasukkan tangan ke saku celana dan berjalan ke arah yang sama.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa, tetapi bisikan di sekitar mereka mulai bertambah.
"Eh, mereka tidak jalan bersama?"
"Bukannya biasanya Kisaragi-senpai selalu mengantar adiknya sampai depan kelas?"
"Mungkin mereka bertengkar?"
Mai mempercepat langkah.
Ia dapat merasakan tatapan para siswa menempel di punggungnya. Biasanya, ia mampu menghadapi perhatian semacam itu dengan mudah. Sebagai mantan pekerja maid café, ia telah terbiasa tersenyum di hadapan pelanggan, menjaga sikap tubuh, dan membaca perubahan suasana hati orang lain hanya dari sorot mata mereka.
Akan tetapi, kali ini ia tidak sedang memainkan peran di hadapan pelanggan yang tidak mengenalnya.
Di belakangnya berjalan seseorang yang telah memberinya alasan untuk kembali tersenyum dengan tulus.
Dan ia sedang berusaha membuat orang itu merasa ditinggalkan.
Koridor gedung kelas satu mulai ramai ketika bel pertama belum juga berbunyi. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela besar, jatuh di lantai mengilap dan membentuk kotak-kotak terang di antara bayangan para siswa. Suara obrolan, langkah sepatu, dan pintu kelas yang dibuka-tutup bercampur menjadi dengung pagi yang akrab.
Mai baru saja meletakkan tasnya di meja ketika Yuna, teman sekelasnya, menghampiri sambil membawa buku catatan.
"Kanade, selamat pagi!"
Mai mendongak. Senyumnya muncul secara otomatis.
"Selamat pagi, Yuna."
Yuna menarik kursi di sebelahnya. "Kau sudah membaca pengumuman tentang festival budaya? Ketua kelas bilang kita akan mengadakan rapat lagi sepulang sekolah. Katanya, dekorasi untuk pameran seni perlu segera diputuskan."
"Sudah. Aku akan berusaha membantu."
"Bagus! Aku khawatir kita kekurangan orang untuk bagian dekorasi."
Yuna tertawa kecil, lalu memperhatikan wajah Mai lebih saksama.
"Ngomong-ngomong, kau tidak apa-apa? Wajahmu kelihatan pucat."
Mai merasakan tengkuknya menegang.
"Benarkah? Mungkin karena tadi pagi aku belum sempat sarapan banyak."
"Kalau begitu, nanti makanlah yang cukup di kantin. Jangan sampai sakit."
"Iya. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
Percakapan itu berjalan cukup alami. Yuna tidak menaruh kecurigaan apa pun. Bagi teman-teman sekelasnya, Mai hanyalah gadis pindahan yang anggun, sedikit pendiam pada awalnya, tetapi semakin mudah diajak bicara setelah mereka mengenalnya.
Justru itulah yang membuat kebohongan ini terasa semakin menyakitkan.
Semakin banyak orang yang menerimanya sebagai Kanade, semakin sulit bagi Mai membedakan bagian mana dari kehidupannya yang masih bisa ia sebut milik sendiri.
Ia baru saja hendak mengeluarkan buku pelajaran ketika bayangan seseorang jatuh di atas mejanya.
"Kanade."
Mai langsung mengenali suara itu.
Ren berdiri di samping pintu kelas. Beberapa siswa yang sedang mengobrol di dekatnya segera merendahkan suara. Ada yang berpura-pura sibuk merapikan buku, sementara yang lain terang-terangan melirik ke arahnya.
Kedatangan Ren ke kelas satu bukanlah hal yang luar biasa. Sejak Mai pindah ke Seiwa, pemuda itu sesekali datang untuk menjemputnya, mengantarkan buku, atau sekadar menanyakan apakah ia membutuhkan sesuatu. Perhatian itu telah menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari yang diam-diam membuat banyak siswa iri.
Karena itu, Yuna tersenyum sambil berdiri sedikit dari kursinya.
"Selamat pagi, Kisaragi-senpai."
"Selamat pagi."
Ren membalas salam itu dengan sopan, kemudian mengalihkan pandangan kepada Mai.
"Kau meninggalkan buku latihanmu di mobil."
Ia mengeluarkan sebuah buku bersampul biru dari tasnya dan meletakkannya di meja Mai.
Mai mengenali buku itu. Ia memang membawanya kemarin sore, tetapi setelah mengerjakan beberapa soal bersama Ren di rumah, ia lupa memasukkannya kembali ke dalam tas sekolah.
Dahulu, ia pasti akan berseru senang, lalu menggenggam lengan Ren sambil berkata bahwa kakaknya selalu menjadi penyelamat terbaik di dunia.
Sekarang, ia hanya mengambil buku itu dengan kedua tangan.
"Terima kasih, Onii-chan."
Ren memperhatikan cara Mai menerima buku tersebut. Jari-jari mereka bahkan tidak bersentuhan. Gadis itu segera meletakkan buku di atas meja, lalu menarik kedua tangannya ke pangkuan.
"Kau tidak perlu datang jauh-jauh hanya untuk mengantarkan ini," lanjut Mai. "Aku bisa mengambilnya nanti."
Ren mengerutkan alis tipis.
"Aku kebetulan melewati gedung ini."
Itu bukan jawaban yang sepenuhnya benar. Kelas tiga berada di gedung berbeda, dan jalan menuju ruang kelas Ren sebenarnya tidak melewati koridor tersebut. Ia sengaja datang lebih awal agar bisa melihat Mai sebelum pelajaran dimulai.
Namun, Ren tidak merasa perlu menjelaskan hal itu.
Ia menatap wajah gadis di hadapannya, mencari tanda-tanda keceriaan yang biasanya muncul begitu mereka bertemu. Biasanya, Mai akan mendekat dan mulai bercerita tentang sesuatu yang terjadi di kelasnya, bahkan sebelum Ren sempat menanyakan kabarnya. Terkadang ia berbicara terlalu cepat hingga Ren harus memintanya mengulang bagian yang tidak ia pahami.
Pagi ini, jarak di antara mereka terasa lebih lebar daripada ruang kosong di antara dua meja.
"Apa kau sudah memikirkan makan siang nanti?" tanya Ren.
Jantung Mai berdegup keras.
Inilah bagian yang paling ia takutkan.
Saito telah memperingatkannya bahwa perubahan sikap tidak boleh tampak seperti penolakan mendadak terhadap identitas Kanade. Ia tetap harus menjadi adik yang patuh, tetap membantu Ren ketika dibutuhkan, dan tetap menjaga citra keluarga di depan orang lain. Namun, ia juga dilarang membangun kedekatan emosional yang bisa menarik perhatian publik.
Bagi seseorang yang telah terbiasa duduk berdampingan dengan Ren, berbagi makanan, dan menggenggam tangannya tanpa berpikir panjang, aturan itu terasa seperti perintah untuk melupakan cara bernapas.
"Aku akan makan bersama teman-teman sekelasku hari ini," jawab Mai.
Ren terdiam.
"Oh. Begitu."
"Aku ingin lebih banyak bergaul dengan mereka."
Kalimat itu terdengar masuk akal. Bahkan terdengar sehat, jika diucapkan oleh seseorang yang baru saja pindah ke sekolah baru.
Ren sendiri pernah mendengar nasihat serupa dari Nakamura, guru konseling sekolah. Ia tahu bahwa Mai membutuhkan ruang untuk membangun hubungan sosialnya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar ingin menghalangi hal tersebut.
Tetapi ada sesuatu dalam cara Mai mengucapkannya yang membuatnya tidak nyaman.
"Kau bisa mengajak mereka makan bersama kita," katanya. "Meja di dekat jendela biasanya cukup luas."
Mai menunduk, merasakan kukunya menekan telapak tangan.
"Terima kasih, tetapi aku sudah berjanji kepada Yuna."
Yuna, yang sejak tadi mengikuti percakapan itu dengan senyum ramah, mendadak tampak salah tingkah. Ia tidak pernah membuat janji makan siang secara khusus. Namun, ia cukup peka untuk memahami bahwa Mai sedang mencoba menyampaikan sesuatu yang tidak ingin dikatakannya secara terbuka.
"Ah, iya," sahut Yuna cepat. "Kami memang berencana makan bersama beberapa teman."
Ren melirik Yuna sekilas, kemudian kembali memandang Mai.
"Kalau begitu, tidak apa-apa."
Senyumnya masih ada, tetapi kali ini tidak mencapai matanya.
"Aku akan menunggumu kalau kau sudah selesai."
"Jangan menunggu," kata Mai.
Suasana di sekitar meja mereka seolah kehilangan suara selama sesaat.
Mai sendiri hampir tidak percaya bahwa ia baru saja mengatakannya. Ia ingin menarik kembali kalimat itu, meminta maaf, lalu mengubah semuanya menjadi lelucon kecil seperti yang biasa ia lakukan ketika suasana menjadi canggung.
Namun, ia sudah mendengar suara Saito di kepalanya.
Jarak. Kendalikan jarakmu.
"Pelajaranmu juga pasti sibuk," lanjutnya dengan nada yang sengaja dibuat formal. "Lebih baik Onii-chan menggunakan waktu istirahat untuk urusanmu sendiri."
Ren tidak langsung menjawab.
Tatapannya bergerak dari wajah Mai ke buku latihan yang baru saja ia serahkan. Kemudian, ia mengangguk pelan.
"Baiklah."
Ia berbalik dan meninggalkan kelas tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Mai tetap duduk tegak, kedua tangan terlipat di atas meja. Ia baru berani menarik napas panjang setelah suara langkah Ren menghilang di ujung koridor.
Yuna duduk kembali dengan hati-hati.
"Kanade..."
Mai membuka buku latihan birunya, lalu menatap halaman pertama seolah-olah ia baru menyadari keberadaan benda itu.
"Maaf, Yuna. Aku perlu memeriksa pekerjaan rumah."
Yuna tidak mendesak. Ia hanya mengangguk kecil dan kembali ke tempat duduknya.
Mai membalik halaman.
Tulisan tangannya sendiri terlihat rapi, baris demi baris, tetapi angka-angka di hadapannya perlahan kabur. Ia menekan ujung pensil ke atas kertas sampai meninggalkan titik hitam kecil.
Bagus. Kau berhasil.
Ia mengulang kalimat itu di dalam hati.
Sekarang dia tidak akan terlalu dekat denganmu. Saito tidak akan punya alasan untuk mengancammu lagi.
Namun, semakin keras ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, semakin jelas ia mengingat wajah Ren ketika meninggalkan kelas tadi.
Senyum yang meredup.
Alis yang berkerut.
Tatapan seseorang yang tidak mengerti kesalahan apa yang telah dilakukannya.
Mai menggigit bagian dalam pipinya sampai rasa nyeri kecil muncul. Ia tidak boleh menangis. Tidak di sini. Tidak ketika teman-teman sekelasnya bisa melihatnya kapan saja.
Ia menunduk lebih dalam dan mulai mengerjakan soal matematika yang bahkan tidak ia pahami.
Menjelang tengah hari, kantin Akademi Seiwa dipenuhi suara yang lebih riuh daripada biasanya. Aroma kari, sup miso, dan nasi hangat mengambang di udara, bercampur dengan wangi roti panggang dari kios kecil dekat pintu masuk. Cahaya matahari menyusup melalui jendela tinggi, menyinari meja-meja panjang tempat para siswa duduk sambil berbincang.
Mai berdiri dalam antrean bersama Yuna dan dua teman sekelas lainnya. Ia berusaha mengikuti obrolan tentang tugas festival budaya, sesekali tertawa ketika salah seorang dari mereka melontarkan lelucon. Senyum yang ia berikan cukup meyakinkan bagi orang-orang yang tidak mengenalnya secara mendalam.
Namun, setiap kali pintu kantin terbuka dan suara langkah terdengar dari arah koridor, matanya bergerak ke sana tanpa sadar.
Ia tahu Ren biasanya makan siang sekitar waktu ini.
Ia juga tahu bahwa selama beberapa hari terakhir, Ren selalu mencari dirinya lebih dahulu sebelum memilih tempat duduk.
Kebiasaan-kebiasaan kecil itu telah tumbuh begitu alami sehingga kini Mai harus bekerja keras untuk tidak menoleh setiap kali mendengar suara yang mirip dengannya.
"Kanade, kau mau duduk di mana?" tanya Yuna setelah mereka menerima nampan makanan.
"Di sana saja."
Mai menunjuk meja untuk empat orang di dekat jendela. Ia sengaja memilih tempat yang cukup ramai, jauh dari sudut yang biasanya dipilih Ren ketika ingin makan dengan tenang. Setidaknya, jika mereka berada di tengah kerumunan, Ren mungkin tidak akan menghampirinya.
Ia tahu itu harapan yang kekanak-kanakan.
Ren bukan orang yang mudah mengabaikan seseorang hanya karena orang tersebut berusaha menghindarinya.
Mereka baru saja duduk ketika kegaduhan kecil muncul di dekat pintu kantin.
"Oi, Ren! Kau akhirnya datang juga!"
Suara Kenji terdengar bahkan sebelum sosoknya terlihat. Siswa kelas tiga itu berjalan dengan nampan di satu tangan dan ekspresi ceria yang seolah tidak pernah mengenal kelelahan. Begitu melihat Ren, ia langsung menepuk bahu sahabatnya dengan keras.
"Ke mana saja kau tadi pagi? Aku mencarimu di kelas, tetapi kau sudah menghilang. Jangan bilang kau menghabiskan waktu istirahat untuk mengunjungi adik kesayanganmu lagi."
Ren tidak membalas lelucon itu seperti biasanya.
Ia hanya melihat ke arah meja Mai.
Kenji mengikuti arah pandangannya. Senyum lebar di wajahnya perlahan berubah menjadi kebingungan.
"Eh? Bukannya biasanya kalian makan bersama?"
Ren tidak menjawab. Ia mengambil nampannya, lalu berjalan melewati barisan meja menuju tempat Mai duduk.
Kenji mengangkat alis. "Oho. Ada apa ini?"
Ia segera mengikuti dari belakang, rasa ingin tahunya mulai mengalahkan rasa laparnya.
Di meja dekat jendela, Mai sedang mencoba memotong sepotong telur dadar ketika bayangan seseorang jatuh di atas nampannya.
"Kanade."
Pisau makan kecil di tangannya berhenti.
Ren berdiri di samping meja, memegang nampan dengan satu tangan. Ia tidak terlihat marah atau tersinggung. Justru ketenangan itu membuat Mai semakin sulit menahan dirinya sendiri.
"Bolehkah aku duduk di sini?"
Pertanyaan tersebut sederhana. Ren tidak memerintah, tidak mengasumsikan bahwa Mai akan selalu menyediakan tempat untuknya. Ia bahkan menunggu jawabannya, memberi kesempatan kepada gadis itu untuk menentukan sendiri apa yang diinginkannya.
Mai ingin menggeser nampannya.
Ia ingin menarik kursi kosong di sebelahnya, menyuruh Ren duduk, lalu membagi lauk yang dibawanya seperti yang biasa mereka lakukan.
Tetapi, di sudut matanya, ia dapat melihat Kenji berdiri beberapa langkah dari meja. Sejumlah siswa lain juga mulai melirik. Salah seorang siswi bahkan berhenti berbicara di tengah kalimat demi memperhatikan mereka.
Mai teringat ancaman Saito.
Tiga hari.
Hanya tiga hari untuk mengendalikan situasi sebelum identitasnya menjadi masalah yang lebih besar. Jika Saito melihat bahwa ia masih bersikap terlalu dekat dengan Ren, pria itu mungkin akan memperketat pengawasan. Lebih buruk lagi, ia mungkin menggunakan Ren sebagai alasan untuk menghentikan kontrak dan menyeret Mai kembali ke kehidupan yang tidak dapat ia kendalikan.
Mai tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika Ren mengetahui seluruh kebenaran sekarang, ketika dirinya belum siap menghadapi konsekuensinya.
Ia menurunkan pandangan ke nampan.
"Maaf, Onii-chan."
Ren menunggu.
"Hari ini aku ingin makan bersama teman-teman sekelasku."
Yuna yang duduk di seberang Mai langsung berhenti mengunyah. Dua teman mereka saling bertukar pandang, tidak yakin apakah sebaiknya berpura-pura tidak mendengar atau justru ikut bicara.
Ren melirik kursi kosong di samping Mai.