Sore itu, Gedung B Akademi Seiwa perlahan kehilangan keramaiannya. Sebagian besar siswa telah meninggalkan ruang kelas untuk mengikuti kegiatan klub, sementara yang lain bergegas menuju gerbang utama sebelum lalu lintas di sekitar sekolah menjadi padat. Cahaya matahari yang mulai condong masuk melalui jendela-jendela koridor, memanjangkan bayangan meja dan lemari hingga menyentuh dinding. Dari lapangan olahraga di kejauhan, terdengar bunyi peluit pelatih, teriakan para anggota klub sepak bola, dan hentakan sepatu yang beradu dengan permukaan lintasan.
Mai berjalan menyusuri koridor lantai satu dengan sebuah bola voli di kedua tangannya.
Ia baru saja membantu Fujimoto Akari merapikan perlengkapan yang digunakan untuk persiapan festival budaya. Beberapa peralatan olahraga dipinjam untuk kegiatan kelas, dan sekarang Mai mendapat tugas mengembalikan bola yang tertinggal di ruang penyimpanan Gedung B. Pekerjaan itu sederhana, bahkan cukup menyenangkan karena memberinya alasan untuk menghabiskan beberapa menit jauh dari teman-teman sekelasnya.
Setidaknya, begitulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.
Sebenarnya, sejak meninggalkan kelas, ia terus memikirkan satu hal yang sama.
Ren.
Sejak pagi, ia belum menemukan kesempatan untuk berbicara dengan pemuda itu tanpa merasa seolah-olah sedang berdiri di hadapan seorang hakim. Ia menghindari tatapannya di koridor, menolak makan bersama di kantin, dan berulang kali menggunakan kesibukan sekolah sebagai alasan untuk menjaga jarak. Semua itu dilakukan demi mematuhi instruksi Saito, tetapi setiap penolakan meninggalkan luka kecil yang tidak terlihat oleh siapa pun selain dirinya sendiri.
Ia masih ingat wajah Ren ketika bertanya apakah dirinya telah melakukan kesalahan.
Pertanyaan itu terus mengikutinya, bahkan ketika ia mencoba memusatkan perhatian pada pelajaran di kelas.
Apakah aku melakukan kesalahan?
Mai menggigit bagian dalam pipinya.
"Jangan dipikirkan lagi," bisiknya kepada diri sendiri.
Bola voli di tangannya bergeser sedikit. Ia segera memperbaiki posisinya, lalu mempercepat langkah.
Ruang penyimpanan peralatan olahraga terletak di ujung koridor yang jarang dilalui siswa pada jam-jam seperti ini. Pintu kayunya dicat hijau tua, dengan papan kecil bertuliskan Ruang Peralatan Olahraga yang sebagian hurufnya mulai pudar. Di dekat gagang pintu terdapat daftar inventaris yang ditempel dengan selotip bening, sementara bekas gesekan benda berat meninggalkan goresan-goresan tipis di bagian bawah daun pintu.
Mai mendorongnya menggunakan bahu.
Pintu berderit pelan.
Udara dari dalam ruangan menyambutnya dengan bau kayu tua, karet, debu, dan matras yang lama tersimpan. Ruangan itu sempit dibandingkan gudang sekolah pada umumnya. Rak-rak logam memenuhi sisi kanan, berisi keranjang bola, tongkat estafet, raket, dan beberapa kotak perlengkapan yang ditumpuk hingga hampir menyentuh langit-langit. Di sisi kiri, matras senam berwarna biru tua disandarkan pada dinding, sebagian terlipat dan sebagian lainnya diikat dengan tali agar tidak bergeser.
Cahaya matahari hanya masuk melalui jendela kecil yang tinggi. Debu tampak melayang di dalam garis cahaya itu, sementara sudut-sudut ruangan tetap diselimuti bayangan.
Mai melangkah masuk dan menutup pintu dengan tumit sepatunya.
Ia menaruh bola voli ke dalam keranjang sesuai label inventaris, lalu mengambil daftar yang tergantung di samping rak untuk memastikan tidak ada perlengkapan lain yang tertinggal. Gerakannya cepat dan teratur, seperti kebiasaan seorang pekerja yang telah terbiasa menyelesaikan tugas tanpa perlu diawasi.
"Satu bola voli," gumamnya. "Sudah."
Ia membungkuk untuk merapikan keranjang yang sedikit miring.
Saat itulah pintu di belakangnya terbuka kembali.
Mai menoleh.
"Onii—"
Sapaan itu terhenti di tenggorokannya.
Ren berdiri di ambang pintu.
Ia masih mengenakan seragam sekolah. Dasi hitamnya sedikit longgar, dan beberapa helai rambut jatuh di atas dahinya, seolah-olah ia telah berjalan cukup cepat untuk mencapainya. Satu tangannya masih memegang gagang pintu, sedangkan tangan lainnya menggantung di sisi tubuh.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang telah mencarinya di berbagai sudut sekolah sepanjang sore.
Mai segera berdiri tegak. Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Onii-chan? Ada apa?"
Ren tidak menjawab pertanyaan itu.
Ia masuk ke dalam ruangan, menutup pintu di belakangnya, lalu memutar kunci dari sisi dalam.
Klik.
Bunyi kecil itu terdengar jelas di tengah kesunyian.
Mai menatap gagang pintu, kemudian kembali memandang Ren. Ia tahu ruang penyimpanan itu memiliki kunci sederhana yang biasanya digunakan agar perlengkapan tidak diambil sembarangan. Namun, melihat Ren menguncinya dengan sengaja membuat perutnya terasa dingin.
"Onii-chan?"
Ren melepaskan tangannya dari kunci.
"Kita perlu bicara."
Nada suaranya rendah. Tidak ada sapaan lembut, tidak ada pertanyaan tentang bagaimana harinya berlangsung, dan tidak ada senyum kecil yang biasanya muncul ketika ia berusaha membuat Mai merasa nyaman.
Mai meremas ujung rok seragamnya.
"Tentang apa?"
Ren menatapnya lekat-lekat.
"Tentang kenapa kau terus menghindariku."
Mai merasa seolah-olah udara di dalam ruangan tiba-tiba menipis.
"Aku tidak—"
"Jangan."
Satu kata itu memotong jawabannya.
Ren sendiri tampak terkejut oleh ketegasan suaranya. Rahangnya mengeras, lalu ia menarik napas melalui hidung, berusaha menahan sesuatu yang sejak pagi terus menekan dadanya. Ia bukan orang yang terbiasa meluapkan emosi. Bahkan ketika berhadapan dengan orang-orang yang meremehkannya, Ren biasanya memilih diam dan menyimpan penilaiannya sendiri.
Namun, setiap kali ia mengingat wajah Mai yang menunduk di kantin, sesuatu di dalam dirinya terasa semakin sulit dikendalikan.
"Aku sudah mendengar alasanmu berkali-kali," lanjutnya. "Kau ingin mandiri. Kau ingin bergaul dengan teman-temanmu. Kau tidak ingin merepotkanku."
Ia mengulang setiap alasan itu dengan suara yang semakin berat, seolah-olah kata-kata tersebut telah memenuhi kepalanya sepanjang hari.
"Semua terdengar masuk akal, Kanade. Aku mengerti bahwa kau tidak harus selalu bersamaku. Aku juga tidak pernah meminta agar kau menghabiskan setiap menit waktumu untukku."
Ren berhenti sejenak.
"Tapi kau bahkan tidak mau menatapku."
Mai menurunkan pandangan.
Di balik bulu matanya, ia dapat melihat sepatu Ren yang berhenti beberapa langkah di hadapannya. Ia ingin menjawab. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah bermaksud membuatnya terluka, bahwa semua penolakan itu bukan berasal dari keinginannya sendiri.
Tetapi ancaman Saito kembali terdengar di kepalanya.
Jangan menyimpang dari instruksi. Jangan membuat hubungan itu semakin sulit dikendalikan.
Jika ia mengungkapkan kebenaran sekarang, ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Ren mungkin akan marah kepada Saito. Ia mungkin akan mempertanyakan keluarganya sendiri, membongkar kontrak yang selama ini disembunyikan, atau melakukan sesuatu yang membuat seluruh rencana keluarga Kisaragi runtuh sebelum Mai sempat menemukan jalan keluar.
Ia tidak sanggup menyeret Ren ke dalam masalah itu.
"Aku hanya ingin belajar mandiri," jawabnya akhirnya.
Ren memejamkan mata sesaat.
"Jadi, itu lagi."
"Memangnya ada yang salah dengan itu?"
Pertanyaan tersebut keluar lebih tajam daripada yang ia rencanakan. Mai langsung menyesalinya. Ia mengangkat kepala, tetapi Ren sudah bergerak mendekat.
Bukan dengan gerakan kasar yang tidak terkendali, melainkan dengan langkah-langkah tegas yang menunjukkan bahwa ia tidak berniat membiarkan percakapan mereka berakhir dengan jawaban kosong sekali lagi.
Mai mundur secara refleks.
Punggungnya menyentuh tumpukan matras yang disandarkan di dinding.
Ren berhenti tepat di hadapannya.
"Kalau memang hanya itu masalahnya, kenapa kau terlihat seperti sedang takut kepadaku?"
Mai membeku.
"Aku tidak takut."
"Kalau begitu, lihat aku."
Ia mengangkat wajah, tetapi tatapannya hanya bertahan sesaat sebelum beralih ke sisi bahu Ren.
Ren mengembuskan napas pendek. Kedua tangannya terangkat dan bertumpu pada dinding di sisi kepala Mai, satu di sebelah kiri dan satu lagi di sebelah kanan. Ia tidak menyentuh tubuh gadis itu, tetapi posisi tersebut membuat Mai sadar betapa sempitnya ruang di antara mereka. Matras di belakang punggungnya tidak memberinya banyak ruang untuk mundur, sementara tubuh Ren menghalangi jalan menuju pintu.
Jarak mereka hanya beberapa puluh sentimeter.
Mai dapat mencium aroma sabun dari seragam Ren, bercampur dengan udara ruangan yang berbau kayu dan karet. Ia mendengar napas pemuda itu, sedikit lebih cepat daripada biasanya. Di dekat pelipisnya, jemari Ren menekan dinding begitu kuat hingga buku-buku jarinya memucat.
"Onii-chan..." bisik Mai.
Ren menunduk sedikit agar wajah mereka sejajar.
"Jawab aku, Kanade."
Suaranya bergetar.
Getaran itu begitu halus hingga Mai hampir mengiranya sebagai gema dari ruangan sempit tersebut. Namun, ketika ia melihat mata Ren, ia menyadari bahwa pemuda itu sedang berusaha keras menahan emosinya sendiri.
"Apakah kau benar-benar ingin menjauh dariku?"
Mai merasa dadanya diremas.
"Tidak..."
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Ren langsung menatapnya lebih tajam.
"Apa?"
Mai menelan ludah. Ia baru saja mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan semua alasan yang ia susun sejak pagi.
"Maksudku..." Ia berusaha menarik napas dengan tenang. "Aku tidak ingin menjauh karena membencimu. Aku hanya ingin belajar mengurus diriku sendiri. Selama ini Onii-chan sudah terlalu banyak membantuku."
Ren tidak bergerak.