Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #32

Surat Izin Belajar Mandiri

Malam turun perlahan di Kediaman Kisaragi, menyelimuti bangunan megah itu dengan keheningan yang nyaris menyerupai ruang pameran setelah jam kunjungan berakhir. Dari balik jendela-jendela tinggi, taman yang tertata sempurna tampak seperti lukisan gelap dengan garis-garis lampu taman berwarna keemasan. Sesekali, angin musim gugur menggoyangkan dedaunan di luar, menghasilkan gesekan lembut yang hampir tidak terdengar menembus kaca tebal.

Di dalam perpustakaan pribadi keluarga Kisaragi, aroma kayu mahoni, kertas tua, dan kulit sampul buku bercampur menjadi satu. Rak-rak menjulang hingga langit-langit, dipenuhi ensiklopedia, karya sastra klasik, jurnal ekonomi, serta buku-buku hukum korporasi yang tampaknya lebih sering dibaca daripada novel-novel yang berjejer di sudut ruangan. Sebuah tangga geser dari kayu berdiri di antara dua rak, sementara jam antik di atas perapian berdetak teratur, mengisi kesunyian yang tidak pernah benar-benar kosong.

Di salah satu sisi ruangan, sebuah kamera pengawas kecil tertanam di sudut langit-langit. Lensa hitamnya menghadap meja belajar besar dari kayu mahoni yang ditempatkan tepat di bawah lampu gantung. Ada pula kamera kedua yang tersembunyi di balik ornamen dinding. Bagi penghuni rumah ini, bahkan kegiatan sederhana seperti membaca buku pun tidak sepenuhnya terbebas dari pengawasan.

Miyauchi Mai berdiri di dekat pintu dengan sebuah buku matematika dipeluk di depan dada. Seragam sekolahnya telah diganti dengan blus putih berlengan panjang dan rok rumah berwarna biru pucat. Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan, menyisakan beberapa helai di dekat pelipis akibat kebiasaannya menyelipkan rambut ke belakang telinga setiap kali sedang memikirkan sesuatu.

Sejak percakapannya dengan Ren di ruang penyimpanan peralatan olahraga sore tadi, dadanya belum benar-benar terasa lega.

Ren telah memberinya waktu untuk berpikir, tetapi bukan berarti pemuda itu menerima perubahan sikapnya begitu saja. Tatapan matanya masih terbayang jelas—tatapan seseorang yang tidak mengerti mengapa orang yang selama ini selalu berada di sisinya mendadak berusaha menjauh.

Mai sendiri ingin menjelaskan semuanya. Ia ingin menceritakan tentang pertemuannya dengan Saito, tentang ancaman pemutusan kontrak, tentang tenggat waktu tiga hari yang terasa seperti pisau menggantung di atas kepalanya. Namun, setiap kali membayangkan wajah Ren setelah mendengar kebenaran itu, keberaniannya langsung surut.

Bagaimana jika Ren justru semakin terluka?

Bagaimana jika ia menganggap semua perhatian Mai selama ini tidak lebih dari bagian dari sandiwara yang telah dirancang untuk mempermainkannya?

Dan yang paling menakutkan, bagaimana jika setelah mengetahui semuanya, Ren tidak lagi menginginkannya berada di dekatnya?

Mai mengembuskan napas perlahan, lalu menatap buku di tangannya.

Setidaknya, malam ini ia harus menyelesaikan latihan matematika yang diberikan guru. Itu alasan yang cukup masuk akal untuk tetap berada di perpustakaan sampai larut, meskipun ia tidak yakin mampu memusatkan perhatian.

"Kanade."

Suara yang dikenalnya membuat Mai mengangkat kepala.

Ren berdiri di dekat meja mahoni, mengenakan kemeja rumah berwarna gelap dengan lengan yang digulung sampai siku. Di hadapannya terdapat beberapa lembar dokumen, sebuah map berwarna biru tua, dan dua cangkir teh yang masih mengepulkan uap tipis.

Wajahnya terlihat tenang. Tidak ada kerutan di antara alisnya, tidak ada tanda-tanda kemarahan yang tadi sempat membuat Mai takut. Namun, matanya segera tertuju pada jarak yang masih dipertahankan gadis itu dari meja.

"Kau sudah datang," katanya.

Mai mengangguk kecil.

"Iya, Onii-chan. Aku membawa buku matematika seperti yang diminta."

Nada suaranya terdengar manis, tetapi terlalu formal. Ia menyadarinya sendiri begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya. Biasanya, ia akan langsung menghampiri Ren, meletakkan buku di atas meja, kemudian mengeluh tentang soal-soal sulit sambil meminta bantuan dengan suara manja.

Sekarang, ia bahkan ragu apakah boleh berdiri terlalu dekat.

Ren memperhatikan perubahan itu selama beberapa detik. Ia tidak menegurnya. Sebaliknya, ia menggeser salah satu cangkir teh ke sisi meja yang disiapkan untuk Mai.

"Letakkan bukumu di sini. Aku ingin menunjukkan sesuatu sebelum kita mulai belajar."

Mai berjalan mendekat, tetapi langkahnya berhenti sejenak ketika melihat dokumen-dokumen di hadapan Ren.

"Surat apa itu?"

"Surat persetujuan dari wali kelas."

"Persetujuan?"

Ren menarik sebuah lembar dokumen dari dalam map, kemudian memutarnya agar Mai dapat membaca bagian atasnya.

Di sana tercetak judul dengan huruf tebal:

PROGRAM BIMBINGAN AKADEMIK SENIOR-JUNIOR

Di bawah judul itu tercantum nama Kisaragi Ren dari kelas tiga dan Kisaragi Kanade dari kelas satu. Dokumen tersebut memuat keterangan mengenai kegiatan bimbingan belajar antartingkat, tujuan peningkatan prestasi akademik, jadwal pelaksanaan, serta lokasi kegiatan yang telah disetujui pihak sekolah.

Pada bagian paling bawah, terdapat tanda tangan wali kelas Ren dan wali kelas Mai, lengkap dengan cap resmi Akademi Seiwa.

Mai berkedip dua kali.

Kemudian ia membaca kembali dokumen itu, kali ini dengan lebih teliti.

"Onii-chan… ini benar-benar resmi?"

"Tentu saja."

"Tapi kapan kau mengurusnya? Kita baru membicarakan masalah belajar bersama beberapa waktu lalu."

"Setelah pulang sekolah, aku menghubungi wali kelasku. Aku menjelaskan bahwa nilai beberapa mata pelajaranmu perlu ditingkatkan agar kau bisa menyesuaikan diri dengan kurikulum Seiwa."

Mai mengangkat wajahnya dengan ekspresi tidak percaya.

"Aku tidak merasa nilaiku seburuk itu."

"Memang tidak buruk." Ren menarik kursi di sebelahnya. "Tetapi kau baru pindah, dan ada beberapa materi yang belum pernah diajarkan di sekolahmu sebelumnya. Itu alasan yang masuk akal untuk mengajukan program bimbingan."

Ia mengucapkannya dengan begitu tenang, seolah-olah tidak ada sesuatu yang istimewa dari rencana tersebut.

Namun, Mai mulai memahami apa yang sedang dilakukan Ren.

Surat itu bukan sekadar izin belajar. Itu adalah jalan keluar dari aturan yang dibuat Saito.

Setelah ancaman malam sebelumnya, Saito telah melarangnya menunjukkan kedekatan yang berlebihan dengan Ren. Tidak boleh lagi berpegangan tangan tanpa alasan, duduk terlalu dekat di tempat umum, atau melakukan gestur yang dapat membuat mereka terlihat saling bergantung. Mai harus tetap memainkan perannya sebagai adik yang baik, tetapi tidak boleh lagi bertingkah seolah-olah Ren adalah satu-satunya orang yang ia butuhkan.

Aturan itu sengaja dirancang untuk menciptakan jarak.

Dan Ren, rupanya, menemukan cara untuk menjadikan jarak tersebut tidak relevan.

"Kalau ini kegiatan akademik resmi," ujar Mai perlahan, "berarti kita memang diperbolehkan belajar bersama?"

"Ya."

"Termasuk di rumah?"

"Lokasi kegiatan sudah dicantumkan dalam surat pendampingnya. Perpustakaan pribadi kediaman ini termasuk tempat yang diizinkan."

Mai memandangi dokumen itu sekali lagi. Sudut bibirnya hampir terangkat, tetapi ia segera menahannya. Kebiasaan yang terbentuk selama beberapa hari terakhir membuatnya takut menunjukkan kegembiraan secara berlebihan.

Ren melihat gerakan kecil itu.

"Kau tidak senang?"

"Bukan begitu."

"Lalu?"

Mai menunduk, memainkan ujung sampul buku matematikanya dengan ibu jari.

"Aku hanya… tidak ingin menimbulkan masalah lagi untuk Onii-chan."

Untuk sesaat, hanya bunyi jam antik yang terdengar di antara mereka.

Ren tidak langsung menjawab. Ia mengambil surat tersebut, merapikan tepinya, kemudian meletakkannya kembali ke dalam map.

"Kanade, kegiatan ini tidak menimbulkan masalah."

"Tapi Saito-san—"

"Saito-san sudah memeriksanya."

Mai langsung mendongak.

"Dia sudah tahu?"

"Ya."

Jawaban singkat itu justru membuat perut Mai terasa mulas.

Ia membayangkan Saito berdiri di ambang perpustakaan dengan wajah tanpa ekspresi, menatap mereka seperti seorang auditor yang menemukan penyimpangan dalam laporan keuangan. Lelaki itu mungkin telah membaca setiap baris surat tersebut, mencari celah sekecil apa pun untuk membatalkannya.

"Dan dia menyetujuinya?" tanya Mai hati-hati.

"Dia tidak punya alasan akademik yang sah untuk menolaknya."

Ren menyandarkan punggung ke kursi. Ada ketenangan yang aneh dalam suaranya, bukan ketenangan seorang pemuda yang sekadar mengandalkan keberuntungan, melainkan seseorang yang sudah menghitung kemungkinan-kemungkinan sebelum mengambil langkah.

"Program ini disetujui oleh pihak sekolah. Tujuannya jelas, jadwalnya tercatat, dan kegiatan kita bisa dipertanggungjawabkan. Aku tidak meminta izin untuk melakukan sesuatu yang dilarang. Aku hanya menggunakan izin yang memang tersedia."

Mai menatapnya tanpa berkedip.

Di balik wajah lembut yang sering membuatnya tampak seperti pemuda polos yang baru pulih dari tidur panjang, Ren masih memiliki kecerdasan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia dapat bersikap santai ketika berbicara dengannya, tertawa karena hal-hal sepele, bahkan tampak kebingungan ketika menghadapi sesuatu yang sederhana. Namun, ketika berhadapan dengan aturan, ia mampu membedakan dengan tajam mana kewajiban yang benar-benar harus dipatuhi dan mana batasan yang hanya dibuat untuk mengendalikan orang lain.

Dan malam ini, ia menggunakan kemampuan itu untuk membuka ruang kecil bagi mereka berdua.

"Bagaimana reaksi Saito-san?" tanya Mai.

Ren melirik salah satu lembar tambahan di dalam map.

"Dia membaca dokumennya dua kali."

Mai dapat membayangkan ekspresi dingin pengacara itu.

"Lalu?"

"Dia bertanya apakah aku memahami bahwa kegiatan bimbingan ini harus mengikuti jadwal dan ketentuan yang tercantum."

"Dan Onii-chan menjawab apa?"

"Aku mengatakan bahwa aku bisa membaca dokumen yang kutandatangani."

Mai menutup mulutnya dengan punggung tangan.

Sebuah tawa kecil hampir lolos.

Ren mengangkat sebelah alis. "Apa?"

"Tidak ada."

"Kau tertawa."

"Aku tidak tertawa."

"Bahu kau bergerak."

Mai segera menurunkan bahunya, tetapi kali ini senyumnya telanjur muncul. Ia mencoba menyembunyikannya dengan menunduk, namun pipinya justru semakin terangkat.

"Maaf, Onii-chan. Aku hanya membayangkan wajah Saito-san."

"Dia tidak terlihat senang."

"Kurasa itu sudah menjadi ekspresi alaminya."

Ren terdiam sesaat, lalu mengembuskan napas pendek yang menyerupai tawa.

Mai menatapnya.

Sudah beberapa hari sejak ia terakhir kali melihat Ren tertawa seperti itu di hadapannya. Bukan senyum tipis yang diberikan kepada orang lain, bukan ekspresi sopan yang dipasang di hadapan staf rumah, melainkan reaksi spontan yang muncul karena sebuah lelucon kecil.

Perasaan hangat merambat ke dada Mai.

Namun, begitu menyadari dirinya sedang menatap Ren terlalu lama, ia segera mengalihkan pandangan.

"Jadi…" Ia berdeham pelan. "Kita benar-benar boleh belajar bersama malam ini?"

Ren menarik kursi di sampingnya sedikit menjauh dari meja, memberi ruang agar Mai bisa duduk tanpa perlu ragu.

"Itulah tujuan suratnya."

Mai memandang kursi tersebut.

Kemudian ia memandang Ren.

"Kalau begitu, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh."

"Bagus. Aku sudah menyiapkan beberapa soal."

Senyum Mai memudar sedikit ketika melihat tumpukan kertas latihan yang berada di dekat siku Ren.

"Beberapa?"

"Materi yang perlu kita ulas tidak terlalu banyak."

"Berapa banyak?"

Ren memiringkan kepala, seolah-olah sedang mempertimbangkan jawaban.

"Kalau kita selesai sebelum tengah malam, berarti kau belajar dengan baik."

"Onii-chan!"

Kali ini, protes Mai keluar dengan nada yang jauh lebih alami daripada suara manis yang selama ini dipaksakannya. Ia bahkan sempat memukul pelan lengan Ren dengan sampul buku sebelum buru-buru menarik tangannya kembali, teringat bahwa ia sedang berusaha menjaga jarak.

Gerakan itu membuatnya membeku.

Ren melirik tangan Mai yang sudah kembali memeluk buku di depan dada.

Lalu ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat.

"Jangan khawatir," katanya lembut. "Kita sedang belajar."

Kalimat sederhana itu membuat Mai terdiam.

Ia tahu Ren sedang memberinya izin untuk berhenti memikirkan setiap gerakan kecilnya. Untuk malam ini, setidaknya, ia tidak perlu terus-menerus menghitung jarak antara tubuh mereka, menimbang apakah sebuah senyuman terlalu lebar, atau bertanya-tanya apakah ia telah melanggar salah satu aturan Saito hanya karena ingin berada di dekat orang yang dicintainya.

Mai menarik napas perlahan, lalu duduk di kursi yang telah disediakan.

"Baiklah. Tolong ajari aku, Onii-chan."

Kali ini, nada suaranya terdengar lebih ringan.

Ren membuka buku matematika dan menarik selembar kertas kosong ke tengah meja.

"Mulai dari sini. Kau sudah memahami persamaan kuadrat, bukan?"

"Sudah."

"Kalau begitu, coba jelaskan bagaimana kau akan menyelesaikan soal ini."

Ia menuliskan sebuah persamaan di atas kertas, lalu menyerahkan pensil kepada Mai.

Gadis itu membungkuk untuk membaca soal. Beberapa helai rambutnya jatuh menutupi sisi wajah, tetapi ia tidak segera merapikannya. Matanya bergerak dari satu angka ke angka lain, sementara ujung pensil mengetuk meja pelan-pelan mengikuti irama pikirannya.

"Pertama, kita pindahkan semua suku ke satu sisi," gumamnya. "Lalu faktorkan… tetapi kalau koefisiennya seperti ini, hasil faktornya tidak langsung terlihat."

"Bagus. Apa yang bisa kau lakukan kalau pemfaktoran langsung tidak berhasil?"

Mai menggigit ujung bibir bawahnya.

"Menggunakan rumus kuadrat?"

"Tepat."

Ren tidak segera mengambil alih pensil. Ia membiarkan Mai mencoba sendiri, sesekali memberikan petunjuk ketika gadis itu mulai tersesat dalam perhitungan. Saat Mai salah menyalin tanda negatif, Ren hanya mengetuk bagian tersebut dengan ujung jarinya.

"Periksa lagi di sini."

Mai menunduk lebih dekat.

"Oh!"

Ia segera menghapus bagian yang salah dan memperbaikinya. Beberapa menit kemudian, ia berhasil mendapatkan jawaban yang benar.

"Berhasil!"

Suaranya terdengar lebih nyaring daripada yang ia maksudkan. Mai buru-buru menutup mulut, tetapi senyum puas sudah terlanjur merekah di wajahnya.

Lihat selengkapnya